Yogjakarta di Akhir Tahun 2016

•December 27, 2016 • Leave a Comment

cip

Belum mampu menghilangkan sifat sombong karena merasa satu-satunya yang mewakili kantor jakarta. Belum mampu menghilangkan kekecewaan thd diri sendiri karena masih banyak ruang untuk bisa berusaha lebih maksimal. Belum mampu menghilangkan rasa minder setelah melihat tim lain menyajikan “a good idea is an idea that happened” dan energi merekea yang jauh berlipat daripada kami. Tidak mampu menghilangkan kesan excitement!!! karena banyak tamparan, pembelajaran, dan inspirasi yang kami peroleh selama mengikuti sharing session. Saya dikelilingi oleh rekan hebat, tim lain hebat, dan ambience kompetisi yang membuat ketagihan untuk kembali lagi tahun depan. Alhamdulillah atas hasil yang telah kami peroleh. Sebuah pengalaman pertama yang asik. .
.
.
.
Asik.
.
Jogja, 14-16 des 2016.
.
.
.
Di dalam foto, pak Kusaheri, moderstor stream C yang sangat menghidupkan suasana sharing session. Karena belajar yang paling asik adalah dengan bersenang-senang. Tabik. Hormat saya untuk beliau.

Advertisements

Flight To The Darkness (2016, dir by Wong Kwan Han, Singapore )

•December 7, 2016 • Leave a Comment

Flight to the Darkness merupakan film berdasarkan naskah pementasan teater yg di-banned di singapore. Film ini juga sangat terbatas pemutaraannya di negara tersebut. Bahkan si sutradara sendiri bilang, merupakan keajaiban film ini bisa diputar di Jaff Jogja. Film ini menceritakan tentang Bryan dan Daphne, dimulai dengan sebuah hubungan seks yang tidak tuntas. Kemudian mereka binbincang tentang apa saja. Pertanyaan dan frase kata tanya yang saling mereka lontarkan di awal film merupakan hal yang penting ditonton sampai ending. Percakapan berganti topik, membuat saya kelelahan untuk fokus dan bertahan tetap mengikuti. Tidak hanya capek, film ini cenderung membuat tidak nyaman dan stress. Terbukti beberapa orang keluar satu-persatu sebelum filmnya selesai. Namun setelah selesai menontonnya, kemudian menyimak diskusinya yg dimoderasi oleh mas budi irawanto, insight kecil muncul satu-satu. Wong Kwan Han pun menyatakan, akan ada dua kubu penonton setelah menonton film ini: suka vs benci. (Berdasarkan diskusi) Film ini adalah usaha wong kwan han untuk mencoba “telanjang”, agar kita (saya), tahu wajah (orang-orang) Singapore, tanpa baju (dan topeng). Saya rasa sama juga dg orang-orang jakarta. (Sebagian) mereka terlihat tampan, cantik, terlihat sangat amat bahagia di sosial media. Mereka terlihat sangat rapih, ‘gaul’, luwes, narcissism, sanguin, mencoba dengan berusaha keras tampak baik di depan orang lain. Tapi saya jarang sekali tahu seperti apa wujud mereka sebenarnya di dalam kamar, di atas kasur, sebelum tidur.

8/10.

Ada keinginan menonton lagi, dengan energiyang cukup banyak. Saya berharap dengan nonton film-film seperti ini bisa meningkatkan kompetensi (knowledge, skill, attitude) untuk menonton diri saya sendiri.

Still-Photo-3.png

DIY Short 2016, @ Jaff Jogja, Desember 2016

•December 3, 2016 • Leave a Comment

DIY Short 2016, Jaff Jogja, Desember 2017. ini link nya

Terdiri dari beberapa film fiksi dan dokumenter, saya akan membahas salah dua nya.

Happy-Family-800x434

Happy Family (2016, eden j).
“Apaan sih film ini, sok instagram, pake rasio 1:1”, pemikiran jujur yg terlintas di kepala saya saat nonton beberapa detik awal Bunga dan Tembok. Tapi setelah menonton sampai selesai, film tsb berhasil membanting dengan telak pemikiran remeh temeh saya tadi. Bunga dan Tembok salah satu film pendek yang sangat berbeda dari film pendek kebanyakan. Eden memberikan kemasan dan identitas yang authenticity, imo. Ini yg memotivasi saya nonton Happy Family di program DIY Short 2016 jaff tadi malam. Happy Family tipikal film dengan dialog-dialog kuat dan mendalam (tonton saja). Gambarnya berdialog: bagaimana kamera merekam suasana, merekam ruangan, merekam suara, merekam atribut, dan merekam gesture dan gaze para pemain, termasuk kucing. 1 quote yg paling saya ingat di film ini, 1 kata: “piro?”.

 

 

maxresdefault.jpg
Jamu, Saking Wingking Mengajeng (2016, nur wucha wulandari).
Saya bertanya kepada nindi dan wulan, kenapa memakai gaya observational?
Saya teringat menonton 3 trilogi dokumenter observational, Negeri di Bawah Kabut, Denok & Gareng, dan Layu Sebelum Berkembang. Mereka menyajikan banyak gambar dan footage tanpa di direct. Seakan tidak ada kamera di sana. Sekaan ada teknologi mutakhir dimana kamera bisa camouflage dan tidak terlihat oleh subjek. Menonton film dokumenter seperti ini sebetulnya sensasinya seperti nonton film 4D. Kita seakan-akan bener2 masuk, ikut rapat, ikut beli dan minum jamu, ikut marut kunyit, dsb. Tentang apa yg akan kita simpulkan nanti setelah selesai menonton ya itu urusan nanti. Urisan nanti ini yg buat saya penting. Sutradara dokumenter dengan bahan baku ratusan jam footage ini yang harus terampil menyusun footage2 tsb agar penonton tidak hanya sampai pada level “oh saya tahu”, tapi lebih pada pencapaian “oh saya mengerti/paham”. Untuk film jamu, saya: “oh manis sekali”.

Singsot (2016)

•December 2, 2016 • Leave a Comment

Baru 3 film Wahyu Agung Prasetyo, salah satu sutradara film pendek favorit. 1. MAK CEPLUK, sebuah film tentang permainan tradisional anak-anak memperlihatkam betapa ASIKNYA melakukan petmainan itu. Mak Cepluk memberikan pencerahan bahwa untuk bersenang-senang tidak perlu teknologi, hanya kompetisi dengan lermainan tradisional dan imajinasi liar yang tinggi. 2. NILEP, di film ini wahyu agung mulai membuat film dengan naskah yang tidak lagi bermain di permukaan. Nilep adalah otentik menceritakak konflik batin si anak saat melakukan hal yang tidak benar. Film yang seru apabila dikaji dengan teori Piaget tentang perkembangan kognitif, masih ada komedi tentu yg sangat menghibur. 3. SINGSOT, diputar di Jaff kmrn, lebih ke tema mitos lokal urban legend. Ada film pendek yang agak serupa, Sandekala. Singsot memberikan suasana yg cukup menyeramkan, simpel tapi serem. Dibandingkan dg 2 film sebelumnya, saya tidak menemukan sesuatu yang baru dan asik seperti Mak Cepluk dan Nilep. Namun Singsot masih cukup menghibur. 7/10.

Light of Asia 5 (Jaff, Desember 2016)

•December 2, 2016 • Leave a Comment

Light of asia 5.

Terdapat 5 film pendek yg saya tonton di program ini. The Baby (Ali Asgari/Iran), Musim Berpergian (Arie Surastio/Indonesia), Fata Morgana (Amelie Wen/US, China), Maria (Jaime Habac/Philippines), dan Ruah (Makbul Mubarak/Indonesia). Satu pun tidak ada yang mengecewakan. Efek kejutan akhirnya saya alami kembali di Jaff tahun ini, karena menonton Maria, di program ini. Saya sangat senang sekali. Maria mencerminkan masyarakat kelas bawah. Sebagai film pendek, film ini sangat padat menggambarkan konflik vs kebersamaan, amarah vs komedi, rasa cinta vs benci, kepedulian vs acuh, dalam 1 film sekaligus. Adegan2nya sangat efektif menyampaikan maksud. 9/10.
.
Film lain yang ingin sedikit saya ulas adalah Ruah nya Makbul. Saya termasuk mengikuti semua film pendek makbul. Mulai dari Sugih, Wabah, dan Ruah, masih konsisten dengan muatan dark comedy yang membuat saya ingin misuh-misuh dan tergelitik dalam saat yang sama. Makbul sangat asik membuat film yg ‘menyindir’. Seperti yang dia sendiri omongkan, “siang demo menentang amerika, malamnya makan McD”. Keren. 8/10

Ziarah (2016), sutradara BW Purbanegara.

•December 2, 2016 • Leave a Comment

Ziarah-Movie

 

Sinopsis: mbah sri (95 tahun) mencari kuburan suaminya yang telah lama hilang dengan satu tujuan: ia ingin beristirahat dengan tenang. .
.
Barusan. Baru saja. Beberapa detik lalu, saya bari sadar kalo opening scene Ziarah ditaruh di layar IMAX, dg format 3D, maka akan memberikan kesan yang lebih dahsyat daripada seminar Emotional Spiritual Quotient (ESQ) 165. Ziarah adalah film panjang pertama mas BW Purbanegara. Saya panggil mas, karena saya memang secara pribadi menghormati beliau. Mas Ifan sobat festival yg saya temui di yogyakarta bnb berkata, film ini bikin “baper”. Setelah saya menontonnya, malah saya menjadi “marah”. Kenapa mas BW menciptakan karakter Prawiro seperti itu. Namun tepatkah jika empati dan simpati saya berikan kepada mbah Sri? (Nonton film kok sampe segitunya tho maaannn…man….). Salah satu serunya datang ke festival film adalah diskusi seusai penayangan. Dari diskusi setidaknya kita tahu dapur dari ziarah. Salah satunya bagaimana cara mendirect mbh sri yg memang sudah 95 tahun dg penglihatan yg kurangm kemudian mereka menggunakan tehnik beo (atau mendikte) agar mbah sri bisa hafal dg dialognya. Mas Garin berkata film yang bagus adalah film dengan ide sederhana dengan komplesitas (cerita) masa kini dan masa lampau yang bisa berjalan bersama. Sebagai film panjang yang dibuat dengan dedikasi olah rasa, raga, dan olah pikir secara totalitas, Ziarah adalah karya yang pantas mendapatkan rekognisi kualitas dan moral (dari saya, sebagi penonton). Jika diputar di bioskop, saya pasti nonton lagi. .

Kompilasi film pendek ReelozInd (2016)

•September 22, 2016 • Leave a Comment

14026733_1581879322118609_323545477_n.jpg

Kineforum kali ini memutar beberapa film pendek yang terpilih dari program Reloozind: Australia Indonesia ShortFilm Festival. Kurang lebih saya sepakat dengan apa yang disampaikan panelis kemaren malam, Wregas dan Nick, para short-movie-maker yang telah mengicipi penghargaan internasional. Ada 2 film yang sangat menarik perhatian saya untuk saya ingat, dengan catatan kecil dan remeh sebagai berikut ini:
1. Jembatan Sibuk, David Darmadi, 2006.
Film yang bergenre short DailyDocumentary ini merekam sibuknya sebuah jembatan di kota Padang. Shot-shot ditaruh di tempat-tempat yang tidak mengintervensi para pengguna jembatan tersebut, memperlihatkan framing yang ‘yo wes ngono kui’, jujur, dan tidak berlebihan. Sudut pandang yang sangat menarik hanya dari merekam jembatan dari kanan, kiri, bawah, depan, belakang, samping, dan juga merekam manusia-manusianya sebagai objek yang sama derajatnya dengan jembatan itu sendiri. Mantap.

2. Amelis, Dery Prananda, 2016.
Media hitam putih membuat film ini mempersilahkan saya untuk mengolah semua informasi yang saya terima dengan tidak berprasangka. Sebagai film fiksi pendek plotnya cukup jelas: seorang pemuda yang bingung bagaimana membawa jasad ayah/kakek/kerabatnya dari rumah sakit. Mimik dan perilaku setiap manusia yang muncul di film ini membuat film ini banyak bercerita walau tidak ada dialog satu detikpun. Mantap (juga).

 
%d bloggers like this: