4th XXI Short Film Festival: Semakin Nikmat di Tahun Ke-Empat

•April 2, 2016 • Leave a Comment

Tiga tahun lalu sejak 2013, saya tidak pernah absen berkunjung ke XXI Short Film Festival. Dua ribu enam belas, tahun keempat XXI Short Film Festival kembali diselenggarakan tanggal 16 s/d 20 Maret masih di venue yang sama dengan 3 tahun berturut-turut yang lalu: XXI Epicentrum. Di tahun ini mereka memutar 46 film pendek yang terbagi menjadi beberapa program sebagai berikut:

  1. Enam film pendek program Focus On Joko Anwar,
  2. Tujuh film pendek program International Shorts,
  3. Lima film pendek program Out Of Competition,
  4. Tiga film pendek program Pitching Forum Premiere
  5. Enam film pendek program Short Animation
  6. Enam film pendek program Short Documentary
  7. Tujuh film pendek program Short Fiction Action/Thriller/Fantasy
  8. Enam film pendek program Short Drama/Comedy

Tahun keempat ini ada yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelunya, di mana saya berniat untuk cuti untuk dapat menonton smeua film yang diputar di XXI Short Film Festival. Bahkan pemutaran di weekdays saya sengaja pulang cepet dari waktu yang seharusnya demi mengejar waktu tiba di XXI Epicentrum dari slaah satu gedung di TB Simatupang.

XXI Short Film Festival sementara adalah satu-satunya : festival memberikan ‘panggung’ yang hebat untuk film pendek, khususnya film pendek fiksi & dokumenter Indonesia. Di acara penutupan, karya-karya mereka diputar dengan studio yang megah, berkapasitas 502 kursi, di mana studio 1 XXI Epicentrum merupakan salah satu studio terbesar di Indonesia (selain IMAX tentu). Tidak hanya teknologi sound system Dobly Atmos terkini, Barco Flagship 6P Laser Projector membuat indera penonton menerima ‘stimulus-stimulus sinema’ memberikan impresi yang berlipat ganda. Saya sendiri cukup puas dengan para pemenang XXI Short Film Festival, dan berkesempatan menonton mereka lagi kemarin di studio 1 itu. Nikmat bukan?!

Dari berkunjung ke sebuah festival saya bisa langusng berinterasi orang-orang pembuat film-film pendek itu. interaksi sengaja saya lakukan, tidak hanya memberikan apresiasi, namun sekalian mengkonfirmasi. Mengkonfirmasi apakah ide yang mereka komunikasikan sama dengan yang saya tangkap. Seperti Sandekala yang sangat ‘wow’ tata suara filmnya, sebuah film pendek yang menempatkan kasta film horor di tempat yang tinggi. Berangkat dari sebuah ide sederhana ‘urban legend’ kepercayaan masyarakat lokal – khususnya masyarakat Indoensia – mengenai  mitos keluar rumah saat jam-jam magrib. Kemudian Sugih yang berangkat dari sebuah ide nakal ‘ritual aneh’ penyiksaan diri untuk mendapatkan uang yang jatuh dari langit. Sebuah film pendek yang menyajikan humor satire dengan ironi dan parodi yang membuat saya ketawa sambil cemberut. Atau ide yang berangkat dari rumus “what if” / bagaimana-jika, seperti Tunai, salah satu favoritku. Sebuah proses olah pikir saya lakukan sendiri, bahwa ide Tunai berangkat dari “bagaimana jika kita masuk ke dalam ATM kemudian kita dimanipulasi oleh uang dan mesin ATM tersebut sekaligus?”. Sebuah film pednek dengan rumus what-if dengan ide yang agak nakal membuat .

Dokumenternya juga tidka kalah menarik. Film Kesan Pertama adalah film yang membuat saya tergerak untuk konfirmasi ke orang tua saya “bu, dulu aku juga dipaksa minum jamu cekok pas masih kecil?” ibuku menjawab “iya, kamu sampe nangis”. Nah, artinya film dokumenter ini valid! bahkan di generasi yang berbeda (saya anak 90an kelahiran 80an). Film dokumenter tidak hanay sekedar memberi tahu, tidak hanya sekedar mencekoki informasi. Ada sebuat pernyataan.statement yang diutarakan oleh sutradara dalam film dokumenter mereka yang membuat film ini terasa personal. Wasis dan Pak Tjipto Sang Desainer Tipografi Vernakuler memberikan kesan ini. Saya menerima kesan yang sama dari menonton dua film dokumenter pendek ini: perubahan jaman tidak ada urusannya dengan passion. Pak Tjipto masih bertahan pada proses kerja manual dalam sebuah desain grafis yang saat ini sudah didominasi teknologi terbaru. Begitu pula dengan Pak Wasis seorang pencetus Jam Belajar Masyarakat beberapa puluh tahun lalu, setelah dicetuskannya kembali (JBM) oleh pemerintah, dengan semangat yang sama Pak Wasis mensosialisasikan JBM kepada masyarakat maka sini yang sudah terlalu majemuk tingah lakunya.

Independen, bebas, dan ekspresi yang snagat luas bisa diwijudkan oleh filmaker dalam membuat animasi. Favorit saya adalah Kapur Ade. Film ini sangat dekat dengan apa yang saya rasakan sehari-hari: bergelut dengan kemacetan ibukota. Kapur Ade merupakan animasi yang sangat menyentuh (cie). Memberikan pesan yang dalam dan sindiran terhadap sebuah masalah sosial di ibukota. Ruang publik yang semakin berkurang sebagai lahan bermain untuk anak-anak, kesenjangan sosial dari kelas sosial yang terbentuk secara alamiah, dan lainnya.  

Mood menonton XXI Short Film Festival juga disegarkan oleh Focus On Joko Anwar dan juga International Short. Sebetulnya semua film Joko Anwar sudah khatam kutonton, namun hype penonton kemaren itu gila banget. baru kali ini studio yang dipakai di XXI Short Film Festival benar-benar full hingga penonton rela duduk di tangga untuk menonton film-film pendek Joko Anwar. Diskusi seusai nonton juga tidak kalah seru. Yang sangat menyegarkan juga adalah film-film yang diputar di International Shorts. Di Program ini XXI Short Film Festival membawa film-film pendek Oscar (Ave Maria, Stutterer) dan juga beberapa film pendek lainnya. Dan tidak ada satu pun yang mengecewakan. Animasi The Orchestra dengan kedalam cerita yang sangat menyentuh, serta film pendek berkonsep experimental Ten Meter Tower yang juga jenaka.

Menonton film pendek sudah menjadi special-pleasure buat saya sendiri. Hype festival film yang sangat membuat semakin bersemangat. Bertemu, bersapa, dan berbincang orang-orang sesama penikmat film pendek spontan tanpa direncanakan, atau juga berbagi pengalaman dengan para ‘penonton baru’ .

Advertisements

Silampukau di Cikini, saya berceloteh.

•March 31, 2016 • Leave a Comment

Dua ribu empat belas saya menghadiri 2 pagelaran berkelas. Di atas rata-rata dan Ariah. Bukan film, hanya musik asik dan pertunjukan teater di monas. Atau dua ribu tiga belas? Entahlah memori saya mulai terbatas.

Dua ribu lima belas. Saya habiskan tenaga dan biaya mendaki 2 puncak tertinggi di dua pulau di luar Jawa. Menyelam yang dalam. Dan berkelana di luar negara.

Dua ribu enam belas. Sepertinya saya sudah malas. Awal tahun menonton twilite orchestra yang brilian. Baru menghadiri perhelatan Silampukau sendirian. Bertajuk “Bermain di Cikini: Silampukau Dan Kawan-Kawan”. Atas dasar pelampiasan hijrah kota dan waktu yang jahanam. Sebagai pelarian. Rutinitas pekerjaan linier yang membunuh ‘roso’ perlahan-lahan.

Mereka semua berdendang. Dengan suara manusia dalam dan alat musik beriringan. Gitar, bass, terompet, trombon dan drum. Suling, biola, cello, ukulele, dan klentingan. Mereka bersahutan. Membentuk irama folk yang nyaman. Tak ragu seluruh jenis senyuman saya tampilkan. Dan berulang tepuk tangan.

Kejutan. Banyak kejutan. Mereka bergantian. Memainkan musik dengan asih. Membentuk komposisi yang berbeda tiap babaknya. Ada yang hanya akustik. Ada dangdut yang membuat hati saya berdeyut kiyut. Komposisi yang berbeda tiap babaknya. Tidak seperti yang saya dengarkan di youtube atau empetiga entah dari mana.

Aksi panggung yang menggoda untuk terus menggoyangkan kepala. Ke atas ke bawah ke kiri dan ke kanan. Sambil menggoyangkan telor berisi beras. Tata lampu sederhana yang kreatif tidak berbatas. Membantu mereka di panggung menciptakan suasana penuh otentisitas.

Sebuah celoteh iman yang terjebak di linieritas tanggal tiga puluh satu maret dia ribu enam belas

——————–

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, anggur sama memabukkannya,
entah Merlot entah Cap Orang Tua
(Silampukau-Puan Kelana, 2014)

View on Path

Vampire – Short (2014)

•March 29, 2016 • Leave a Comment

Yg saya suka dari film pendek adl sepertinya naskah ditulis dg sangat amat padat, produksi yg hemat, & akurat utk menyindir’ tema tertentu

alhamdulillah akhir2 ini mengupload banyak film pendek indonesia (fiksi), & bbrp diantaranya sangat padat, hemat, akurat itu tadi.

bbrp film tsb telah sy tonton di sebuah festival / pemutaran alternatif. & sy berkesempatan mendengar diskusi ttg film tsb seusai pemutaran

film pendek akan sangat menarik sekali jk cerita yg diberikan sangat dekat di sekitar kita. ini contohnya: VAMPIRE

anak kos, malam2 kelaparan, cari warung, makan bareng. trus ‘ngriwik’/bergunjing di sambil makan. yo kui, aku yo ngelakoni pas kuliah biyen

riset akurat & tim ttg film ini jg penting. contoh: bgmn cara cak iwan memperlakukan lele yg masih segar utk digoreng

& sinar lewat di langit adl santet, bersiul manggil setan, pelihara tuyul biar laris, drpd anonton film horor indonesia mending nonton bokep

plus gimmick/guyonan orisinil ygentahlah….idenya dtg dr mana… “koen tenang ae, nang HPku wes onok playlist ayat kursi”. wasyuu 😀

a kinda funny-scary-story of friendship between Kecap and Kipli, VAMPIRE dir via

 

Taksi, Onlinee, dan Nganu

•March 22, 2016 • Leave a Comment

Beberapa bulan lalu jonan melarang gojek beroperasi, netizen marah, hingga jokowi turun tangan berbicara di twiternya. Akhirnya pelarangan dicabut.

Dikarenakan kemajuan teknologi, maka muncul alternatif subtitusi angkutan/transportasi seperti gojek, grab bike, grab car. Kemajuan teknologi ini menawarkan sesutu yg sangat menggiurkan: MUDAH DAN MURAH. Maka terdapat perubahan perilaku konsumen. Anggap saja ada 3 golongan konsumen:
A adl konsumen yg terbiasa menggunakan angkutan umum, karena murah.
B adalah konsumen yang bisa menggunakan taxi, karena kenyamanannya.

Karena munculnya gojek/grabbike/grabcar/Uber, maka muncul alternatif/subtitusi produk yg dapat dinikmati konsumen, mengakibatkan shifting / konsumen berpindah, atas alasan mudah dan murah.
Konsumen A yg biasa menggunakan angkutan umum yg murah pindah ke gojek, uber, grabcar karena tarif murah, promo dll. Konsumen B (secara ekonomi di atas konsumen A) yg biasa menggunakan taxi yg mencari kenyamanan, pindah ke uber dan grabcar, krn lebih murah dg kenyamanan yg sama dg naik taksi. Para pengguna gojek/Uber/grabcar/grabbike ini sebut saja konsumen Z.

Salah satu dampak perpindahan konsumen A dan B ke konsumen Z ini mempengaruhi pendapatan para supir plat kuning (angkutan umum dan taxi). Lebih khusus untuk para plat kuning yg sistemnya masih konvensional, yg masih menggunakan sistem setoran. Di mana pendapatan mereka dipengaruhi oleh banyak/sedikitnya penumpang pada hari tsb. Masih ada istilah “tekor” buat mereka karena penumpang yg dikit, dan untuk pembelian bbm. Belum lagi pengeluaran2 “tidak jelas”, contohnya “setoran preman halte”. Mereka juga harus mengantongi ijin trayek. Dan tidak murah juga. Saya pernah dengat, trayek ABG itu ternyata lebih mahal daripada trayek AMG (org malang pasti ngerti). Hal ini mulai diperbaiki dg adanya alternatif angkutan umum busway/teansjakarta. Pengemudi mereka tidak perlu memikirkan setoran, karena mereka sudah digaji fix. Untuk masalah bbm, maintenance, dll jg tidak perlu dipikirkan oleh pengemudi lagi.

Plat kuning taxi juga demikian, sama resahnya dg angkutan umum konvensional. Di dunia pertaksian ada perusahaan yg menggunakan sistem setoran minimal ada juga yg menggunakan sistem komisi. Yg menggunakan sistem setoran minimal lebih mendapatkan tekanan daripada yang menggunakan komisi. Konsumen mereka mulai berpindah dan mereka juga resah.
Perusahaan taksi memberlakukan tarif setoran/persentase komisi tersebut juga dg memperhitungkan biaya2 infrastrukturnya: bengkel, mess, pool, radio, cuci, dll. Dan biaya-biaya lain seperti keur, ijin pangkalan, ijin bandara, dll. Beberapa perusahaan taxi juga memikirkan kesejahteraan pengemudinya dengan memberikan benefit seperti: beasiswa anak sekolah, asuransi kesehatan, dll. Tentu jelas, kenapa grabcar dan uber bisa lebih murah daripada taxi, karena mereka plat hitam, bukan kuning.

Ambil cobtoh perbedaan plat hitam dan kuning ini terletak pada kuer. Plat hitam tidak butuh keur, karena tidak butuh di’asses’ ulang apakah masih layak operasi atau tidak. Angkutan umum harus memiliki kuer agar mendapatkan sertifikasi bahwa kendataan tsb layak digunakan sebagai angkutan umum. Pengemudi plat hitam tidak perlu ber sim umum, sedangkan pengemudi taksi dan angkutan umum harus memiliki sim umum (AU, B1U, B2U). Dan saya rasa ini (keur dan sim umum) bukan hal yg jelek.

Hari ini sangat disayangkan terjadi sebuah situasi yang tidak diharapkan. Demo disertai perilaku anarkis oleh para oknum pengemudi taksi yang menuntut penutupan angkutan umum online. Pengemudi taksi yang memiliki keyakinan berbeda–lebih memilih bekerja daripada demo– juga menjadi korban, pengrusakan atau penumpangnya dipaksa turun. Secara sederhana dan dangkal saya pahami, mereka marah karena mereka lapar. Mungkin ada pendapat lain?

Kembali membahas konsumen Z. Dengan adanya shifting ini, maka konsumen Z terpenuhi demand-nya. Semakin banyak konsumen A dan B yg beralih ke konsumen Z, maka supply utk grabbike/grabcar/Uber/gojek — yang adalah plat hitam — juga semakin banyak. Mereka juga didukung dg “mata uang data”, dimana semkin banyak aplikasi mereka digubakan, maka semakin kaya data mereka, dan data adalah uang. Perilaku konsumen Z ini juga sangat dimudahkan (atau dengan kata lain “malas”), di mana mereka tinggal pesan, menunggu, dijemput, diantar, sampai. Berbeda dg konsumen A yg harus berjalan ke halte atau ke stasiun tertentu utk mendapatkan angkutan umum, tiba di tujuan, jalan kaki lagi. Bayangkan semakin banyak konsumen Z ini bertambah, dan semakin banyak juga armada plat hitam yang ‘asesman terhadap kelayakan’nya tidak ada. Dampaknya juga pada kemacetan. Utuk mengurangi macet, gunakanlah angkutan umum,jadilah konsumen A yg baik. Dan jangan malas untuk jalan kaki.

Pendapat saya ini masih dangkal. Informasi yg saya terima juga masih terbatas. Pengalaman yabg saya alami juga tidak banyak. Saya cuman mencoba berfikir agar kemarahan saya tidak saya tempatkan kepada pihak yang tidak seharusnya.

“mikir~~!!”
(cak lontong)

View on Path

sampai ketemu tahun depan xxi short film fest!

•March 20, 2016 • Leave a Comment

Kamis kmrn pulang lebih awal ngiberrr ke epicentrum trus lsg nonton 21 short film festival. Jumat sengaja cuti, nonton Full day dari siang sampe jam 11 malem krn ngiberrrr ke kinosaurus. Sabtu Full dari siang sampe jam 10 malam. Minggu tadi dari siang sampe closing/awarding

Ngikutin 21 short film festival mulai 2013 sampe sekarang, baru tahun ini ada pemutaran yang penontonnya rela duduk di tangga. Hype tahun ini sangat terasa. Banyak teman nonton baru yang kenal dari ngantri tiket dan nunggu studio 2 dibuka. Ngobrolin tentang film nggak pernah habis bahan pembicaraannya. Diskusi dg para movie makernya juga yg bikin semangat datang ke festival ini sampe rela nggak makan siang dan makan malam. Kena ac terus sampe masuk angin, oles2 minyak kayu putih.

Dari semua pemennag saya pribadi sepakat kecuali Bibi Siti SWITI. Seneng banget Sugih jd film terbaik kategori thriller fantasy dan juga Kapur Ade yang dapet 2 piala. Semalam Anak Kita pulang juga membuktikan aktor film pendek/film indie sekelas Adi Marsono bisa bikin film yg sangat menghanyutkan.

Dan yang paling penting saya sudah bersalaman dg mb Ima dan memperkenalkan diri saya adalah @cinematicorgasm.

Terimakasih atas kesempatan menonton film pendek di layar bioskop, sampai ketemu tahun depan.

Next: Film Musik Makan dan EOS

View on Path

😣😣😣😣😣 ttg don’t talk love

•March 18, 2016 • Leave a Comment

Saat mendengar diskusi film Don’t Talk Love, Edwin memberikan komentarnya :
“..bla…bla…bla…sebuah film yang menyajikan komunikasi lewat indera (oleh para disabilitas indra)…bla..bla..bla…film ini berhasil memberikan bau (aroma), dan saya nyium bau (aroma itu),…bla..bla..bla…seperti pada saat Edo merokok, baunya seperti rokok…”

Kemudian saya di deretan belakang berkespresi spt ini:
“😣😣😣😣😣”

View on Path

36 (thailand)

•March 15, 2016 • Leave a Comment

la

Googling poster film ini yang beresolusi rendah aja susah. Ya udah screen capture tweet saya 3 tahun lalu. Maaf, ⚠Spoiler alert ⚠ ya, film yang akan saya tulis ini berjudul 36 karya sutradara Thailand Nawapol Thamrongrattanarit.
Jadi masih sama alasannya kenapa saya menukis, agar saya ingat pernah menonton ini, agar saya ingat rasa dan kesannya.
Jadi di acara Know Your Neighbors Minggu lalu, film ini diputer di Qubicle Senopati. Motivasi saya sih hanya mencoba tempat pemutaran alternatif baru. Trus entah kenapa, ah, saya baru ingat pernah menonton film ini sebelumnya, 3 tahun lalu di Arte. Sayangnya seperti Jiffestdan Fest film solo, Arte sudah parkir entah kapan akan jalan kembali. Padahal di Arte saya bisa melihat film2 sekelas Pieta, Jiesoul, Stray Dog, 36, Apa Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta, dan The Raid 2.
Jadi, ini kali kedua saya menonton 36. Dan sepertinya kesan yang berbeda saya dapatkan setelah menontonnya dua kali. Kalinpertama. Saya tidak mendapatkam kesan ini: sebuah kisah jatuh cinta senderhana olelh seroang pria terhadap wanita. Sederhana atau tidak, ketika kita tidak mendapatkan cinta itu, rasa perih sama terasa. Ah, sudah tiga kali saya mengatakan ‘jadi’.
Jadi 36 ini bercerita tentang seorang wanita yang sedang survey tempat yang akan dijadikan tempat shooting, kemudian bertemu seorang pria yang membantunya. A young location scout meets the art director of her project in a day they will keep in their memories for a while, each for their own reasons (imdb). Mereka saling berbicara tentang ini itu, itu ini. Dan si pria menunjukkan ketertarikan kepada wanita tersebut. Si wanita tetap cool, hingga suatu hari (beberapa tahun kemudian) si wanita merasakan hal yg sama (terlambat, bodoh!). Dengan sebuah alasan kuat, si wanita sangat berjuang untuk bertemu si pria tersebut. Film ini berdurasi hanya 68 menit, da dibagi dlam 36 scene no cut, di mana setiap scene film ini memiliki judulnya masing-masing. Eh salah, memiliki ceritanya masing-masing.
Jadi setelah menonton yg kedua, saya baru sadar, ternyata tidak ada satu Scene pun yg menampakkan wajah sinpria. Seolah menyampaikan sikap wanita tersebut pada hari itu: tidak peduli. Dan saya juga bari sadar setelah menonton 36 yg kedua kalinya ini bahwa film ini memiliki ending yang sangat epic. Sederhana atau tidak…rasanya…seperti itu…..

Jadi gitu.

View on Path

 
%d bloggers like this: