Silampukau di Cikini, saya berceloteh.

•March 31, 2016 • Leave a Comment

Dua ribu empat belas saya menghadiri 2 pagelaran berkelas. Di atas rata-rata dan Ariah. Bukan film, hanya musik asik dan pertunjukan teater di monas. Atau dua ribu tiga belas? Entahlah memori saya mulai terbatas.

Dua ribu lima belas. Saya habiskan tenaga dan biaya mendaki 2 puncak tertinggi di dua pulau di luar Jawa. Menyelam yang dalam. Dan berkelana di luar negara.

Dua ribu enam belas. Sepertinya saya sudah malas. Awal tahun menonton twilite orchestra yang brilian. Baru menghadiri perhelatan Silampukau sendirian. Bertajuk “Bermain di Cikini: Silampukau Dan Kawan-Kawan”. Atas dasar pelampiasan hijrah kota dan waktu yang jahanam. Sebagai pelarian. Rutinitas pekerjaan linier yang membunuh ‘roso’ perlahan-lahan.

Mereka semua berdendang. Dengan suara manusia dalam dan alat musik beriringan. Gitar, bass, terompet, trombon dan drum. Suling, biola, cello, ukulele, dan klentingan. Mereka bersahutan. Membentuk irama folk yang nyaman. Tak ragu seluruh jenis senyuman saya tampilkan. Dan berulang tepuk tangan.

Kejutan. Banyak kejutan. Mereka bergantian. Memainkan musik dengan asih. Membentuk komposisi yang berbeda tiap babaknya. Ada yang hanya akustik. Ada dangdut yang membuat hati saya berdeyut kiyut. Komposisi yang berbeda tiap babaknya. Tidak seperti yang saya dengarkan di youtube atau empetiga entah dari mana.

Aksi panggung yang menggoda untuk terus menggoyangkan kepala. Ke atas ke bawah ke kiri dan ke kanan. Sambil menggoyangkan telor berisi beras. Tata lampu sederhana yang kreatif tidak berbatas. Membantu mereka di panggung menciptakan suasana penuh otentisitas.

Sebuah celoteh iman yang terjebak di linieritas tanggal tiga puluh satu maret dia ribu enam belas

——————–

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, anggur sama memabukkannya,
entah Merlot entah Cap Orang Tua
(Silampukau-Puan Kelana, 2014)

View on Path

Vampire – Short (2014)

•March 29, 2016 • Leave a Comment

Yg saya suka dari film pendek adl sepertinya naskah ditulis dg sangat amat padat, produksi yg hemat, & akurat utk menyindir’ tema tertentu

alhamdulillah akhir2 ini mengupload banyak film pendek indonesia (fiksi), & bbrp diantaranya sangat padat, hemat, akurat itu tadi.

bbrp film tsb telah sy tonton di sebuah festival / pemutaran alternatif. & sy berkesempatan mendengar diskusi ttg film tsb seusai pemutaran

film pendek akan sangat menarik sekali jk cerita yg diberikan sangat dekat di sekitar kita. ini contohnya: VAMPIRE

anak kos, malam2 kelaparan, cari warung, makan bareng. trus ‘ngriwik’/bergunjing di sambil makan. yo kui, aku yo ngelakoni pas kuliah biyen

riset akurat & tim ttg film ini jg penting. contoh: bgmn cara cak iwan memperlakukan lele yg masih segar utk digoreng

& sinar lewat di langit adl santet, bersiul manggil setan, pelihara tuyul biar laris, drpd anonton film horor indonesia mending nonton bokep

plus gimmick/guyonan orisinil ygentahlah….idenya dtg dr mana… “koen tenang ae, nang HPku wes onok playlist ayat kursi”. wasyuu 😀

a kinda funny-scary-story of friendship between Kecap and Kipli, VAMPIRE dir via

 

Taksi, Onlinee, dan Nganu

•March 22, 2016 • Leave a Comment

Beberapa bulan lalu jonan melarang gojek beroperasi, netizen marah, hingga jokowi turun tangan berbicara di twiternya. Akhirnya pelarangan dicabut.

Dikarenakan kemajuan teknologi, maka muncul alternatif subtitusi angkutan/transportasi seperti gojek, grab bike, grab car. Kemajuan teknologi ini menawarkan sesutu yg sangat menggiurkan: MUDAH DAN MURAH. Maka terdapat perubahan perilaku konsumen. Anggap saja ada 3 golongan konsumen:
A adl konsumen yg terbiasa menggunakan angkutan umum, karena murah.
B adalah konsumen yang bisa menggunakan taxi, karena kenyamanannya.

Karena munculnya gojek/grabbike/grabcar/Uber, maka muncul alternatif/subtitusi produk yg dapat dinikmati konsumen, mengakibatkan shifting / konsumen berpindah, atas alasan mudah dan murah.
Konsumen A yg biasa menggunakan angkutan umum yg murah pindah ke gojek, uber, grabcar karena tarif murah, promo dll. Konsumen B (secara ekonomi di atas konsumen A) yg biasa menggunakan taxi yg mencari kenyamanan, pindah ke uber dan grabcar, krn lebih murah dg kenyamanan yg sama dg naik taksi. Para pengguna gojek/Uber/grabcar/grabbike ini sebut saja konsumen Z.

Salah satu dampak perpindahan konsumen A dan B ke konsumen Z ini mempengaruhi pendapatan para supir plat kuning (angkutan umum dan taxi). Lebih khusus untuk para plat kuning yg sistemnya masih konvensional, yg masih menggunakan sistem setoran. Di mana pendapatan mereka dipengaruhi oleh banyak/sedikitnya penumpang pada hari tsb. Masih ada istilah “tekor” buat mereka karena penumpang yg dikit, dan untuk pembelian bbm. Belum lagi pengeluaran2 “tidak jelas”, contohnya “setoran preman halte”. Mereka juga harus mengantongi ijin trayek. Dan tidak murah juga. Saya pernah dengat, trayek ABG itu ternyata lebih mahal daripada trayek AMG (org malang pasti ngerti). Hal ini mulai diperbaiki dg adanya alternatif angkutan umum busway/teansjakarta. Pengemudi mereka tidak perlu memikirkan setoran, karena mereka sudah digaji fix. Untuk masalah bbm, maintenance, dll jg tidak perlu dipikirkan oleh pengemudi lagi.

Plat kuning taxi juga demikian, sama resahnya dg angkutan umum konvensional. Di dunia pertaksian ada perusahaan yg menggunakan sistem setoran minimal ada juga yg menggunakan sistem komisi. Yg menggunakan sistem setoran minimal lebih mendapatkan tekanan daripada yang menggunakan komisi. Konsumen mereka mulai berpindah dan mereka juga resah.
Perusahaan taksi memberlakukan tarif setoran/persentase komisi tersebut juga dg memperhitungkan biaya2 infrastrukturnya: bengkel, mess, pool, radio, cuci, dll. Dan biaya-biaya lain seperti keur, ijin pangkalan, ijin bandara, dll. Beberapa perusahaan taxi juga memikirkan kesejahteraan pengemudinya dengan memberikan benefit seperti: beasiswa anak sekolah, asuransi kesehatan, dll. Tentu jelas, kenapa grabcar dan uber bisa lebih murah daripada taxi, karena mereka plat hitam, bukan kuning.

Ambil cobtoh perbedaan plat hitam dan kuning ini terletak pada kuer. Plat hitam tidak butuh keur, karena tidak butuh di’asses’ ulang apakah masih layak operasi atau tidak. Angkutan umum harus memiliki kuer agar mendapatkan sertifikasi bahwa kendataan tsb layak digunakan sebagai angkutan umum. Pengemudi plat hitam tidak perlu ber sim umum, sedangkan pengemudi taksi dan angkutan umum harus memiliki sim umum (AU, B1U, B2U). Dan saya rasa ini (keur dan sim umum) bukan hal yg jelek.

Hari ini sangat disayangkan terjadi sebuah situasi yang tidak diharapkan. Demo disertai perilaku anarkis oleh para oknum pengemudi taksi yang menuntut penutupan angkutan umum online. Pengemudi taksi yang memiliki keyakinan berbeda–lebih memilih bekerja daripada demo– juga menjadi korban, pengrusakan atau penumpangnya dipaksa turun. Secara sederhana dan dangkal saya pahami, mereka marah karena mereka lapar. Mungkin ada pendapat lain?

Kembali membahas konsumen Z. Dengan adanya shifting ini, maka konsumen Z terpenuhi demand-nya. Semakin banyak konsumen A dan B yg beralih ke konsumen Z, maka supply utk grabbike/grabcar/Uber/gojek — yang adalah plat hitam — juga semakin banyak. Mereka juga didukung dg “mata uang data”, dimana semkin banyak aplikasi mereka digubakan, maka semakin kaya data mereka, dan data adalah uang. Perilaku konsumen Z ini juga sangat dimudahkan (atau dengan kata lain “malas”), di mana mereka tinggal pesan, menunggu, dijemput, diantar, sampai. Berbeda dg konsumen A yg harus berjalan ke halte atau ke stasiun tertentu utk mendapatkan angkutan umum, tiba di tujuan, jalan kaki lagi. Bayangkan semakin banyak konsumen Z ini bertambah, dan semakin banyak juga armada plat hitam yang ‘asesman terhadap kelayakan’nya tidak ada. Dampaknya juga pada kemacetan. Utuk mengurangi macet, gunakanlah angkutan umum,jadilah konsumen A yg baik. Dan jangan malas untuk jalan kaki.

Pendapat saya ini masih dangkal. Informasi yg saya terima juga masih terbatas. Pengalaman yabg saya alami juga tidak banyak. Saya cuman mencoba berfikir agar kemarahan saya tidak saya tempatkan kepada pihak yang tidak seharusnya.

“mikir~~!!”
(cak lontong)

View on Path

sampai ketemu tahun depan xxi short film fest!

•March 20, 2016 • Leave a Comment

Kamis kmrn pulang lebih awal ngiberrr ke epicentrum trus lsg nonton 21 short film festival. Jumat sengaja cuti, nonton Full day dari siang sampe jam 11 malem krn ngiberrrr ke kinosaurus. Sabtu Full dari siang sampe jam 10 malam. Minggu tadi dari siang sampe closing/awarding

Ngikutin 21 short film festival mulai 2013 sampe sekarang, baru tahun ini ada pemutaran yang penontonnya rela duduk di tangga. Hype tahun ini sangat terasa. Banyak teman nonton baru yang kenal dari ngantri tiket dan nunggu studio 2 dibuka. Ngobrolin tentang film nggak pernah habis bahan pembicaraannya. Diskusi dg para movie makernya juga yg bikin semangat datang ke festival ini sampe rela nggak makan siang dan makan malam. Kena ac terus sampe masuk angin, oles2 minyak kayu putih.

Dari semua pemennag saya pribadi sepakat kecuali Bibi Siti SWITI. Seneng banget Sugih jd film terbaik kategori thriller fantasy dan juga Kapur Ade yang dapet 2 piala. Semalam Anak Kita pulang juga membuktikan aktor film pendek/film indie sekelas Adi Marsono bisa bikin film yg sangat menghanyutkan.

Dan yang paling penting saya sudah bersalaman dg mb Ima dan memperkenalkan diri saya adalah @cinematicorgasm.

Terimakasih atas kesempatan menonton film pendek di layar bioskop, sampai ketemu tahun depan.

Next: Film Musik Makan dan EOS

View on Path

😣😣😣😣😣 ttg don’t talk love

•March 18, 2016 • Leave a Comment

Saat mendengar diskusi film Don’t Talk Love, Edwin memberikan komentarnya :
“..bla…bla…bla…sebuah film yang menyajikan komunikasi lewat indera (oleh para disabilitas indra)…bla..bla..bla…film ini berhasil memberikan bau (aroma), dan saya nyium bau (aroma itu),…bla..bla..bla…seperti pada saat Edo merokok, baunya seperti rokok…”

Kemudian saya di deretan belakang berkespresi spt ini:
“😣😣😣😣😣”

View on Path

36 (thailand)

•March 15, 2016 • Leave a Comment

la

Googling poster film ini yang beresolusi rendah aja susah. Ya udah screen capture tweet saya 3 tahun lalu. Maaf, ⚠Spoiler alert ⚠ ya, film yang akan saya tulis ini berjudul 36 karya sutradara Thailand Nawapol Thamrongrattanarit.
Jadi masih sama alasannya kenapa saya menukis, agar saya ingat pernah menonton ini, agar saya ingat rasa dan kesannya.
Jadi di acara Know Your Neighbors Minggu lalu, film ini diputer di Qubicle Senopati. Motivasi saya sih hanya mencoba tempat pemutaran alternatif baru. Trus entah kenapa, ah, saya baru ingat pernah menonton film ini sebelumnya, 3 tahun lalu di Arte. Sayangnya seperti Jiffestdan Fest film solo, Arte sudah parkir entah kapan akan jalan kembali. Padahal di Arte saya bisa melihat film2 sekelas Pieta, Jiesoul, Stray Dog, 36, Apa Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta, dan The Raid 2.
Jadi, ini kali kedua saya menonton 36. Dan sepertinya kesan yang berbeda saya dapatkan setelah menontonnya dua kali. Kalinpertama. Saya tidak mendapatkam kesan ini: sebuah kisah jatuh cinta senderhana olelh seroang pria terhadap wanita. Sederhana atau tidak, ketika kita tidak mendapatkan cinta itu, rasa perih sama terasa. Ah, sudah tiga kali saya mengatakan ‘jadi’.
Jadi 36 ini bercerita tentang seorang wanita yang sedang survey tempat yang akan dijadikan tempat shooting, kemudian bertemu seorang pria yang membantunya. A young location scout meets the art director of her project in a day they will keep in their memories for a while, each for their own reasons (imdb). Mereka saling berbicara tentang ini itu, itu ini. Dan si pria menunjukkan ketertarikan kepada wanita tersebut. Si wanita tetap cool, hingga suatu hari (beberapa tahun kemudian) si wanita merasakan hal yg sama (terlambat, bodoh!). Dengan sebuah alasan kuat, si wanita sangat berjuang untuk bertemu si pria tersebut. Film ini berdurasi hanya 68 menit, da dibagi dlam 36 scene no cut, di mana setiap scene film ini memiliki judulnya masing-masing. Eh salah, memiliki ceritanya masing-masing.
Jadi setelah menonton yg kedua, saya baru sadar, ternyata tidak ada satu Scene pun yg menampakkan wajah sinpria. Seolah menyampaikan sikap wanita tersebut pada hari itu: tidak peduli. Dan saya juga bari sadar setelah menonton 36 yg kedua kalinya ini bahwa film ini memiliki ending yang sangat epic. Sederhana atau tidak…rasanya…seperti itu…..

Jadi gitu.

View on Path

Hortus (2014) – Part 4

•March 10, 2016 • Leave a Comment

Gambar diambil di http://cinemapoetica.com/hortus-jukstaposisi-kecabulan-dan-reka-apologia/
Silahkan baca juga untuk tambahan referensi tentang film ini.
Jangan tulisan saya ❗ sesat soalnya✔

Part 4.
(masih spoiler alert ⚠)

Saat diskusi ada beberapa kata kunci yang dibicarakan saya cermati sangat menarik, ‘kekuasaan’ dan ‘kenikmatan’. Kemudian saya pun melakukan interpretasi sendiri terhadap film ini. Setelah menontonnya dua kali. Dan film pertama yang saya tonton rasanya berbeda dengan film kedua. Karena ada perbedaan momentum saat memulai putaran projector 35mm. Yang pertama, sebelah kanan mulai lebih dulu, setelah sekitar 3 detik baru yang kiri dimulai. Pemutaran yang kedua, waktunya hampir bersamaan. Jadi sebetulnya kesan yang bisa diberikan dari film ini bisa sangat beragam. Tergantung momentum putaran dari 2 projector yang digunakan.

Footage kanan memeprlihatkan gambar-gambar kolonialisme. Di sini memang diperlihatkan eksploitasi Belanda terhadap tanah air. Tidak hanya sebuah penguasaan terhadap sumber daya (alam: rempah, kapas, dll), dan dominansi tata cara, custom, sikap dan perilaku yang sesuai dengan mereka (Belanda). Cara berpakaian, budaya disiplin, cara melayani, dan lain-lain. Sedangkan. Di scene yang kiri. Awalnya seorang wanita yang berkuasa atas pria. Dia yang memulai duluan, membuat pria ‘kalah’/terlena dengan sex appeals-nya dan akhirnya si pria rela untuk berhubungan sex. Namun di tengah babak, si pria mulai menyukainya dan ‘mengambil alih’ manuver-manuver sex tersebut. Hingga mereka mencapai puncak kenikmatan. Meminjam salah satu komentar penonton, “adegan sexnya udah pake rumus umum, cium-buja baju-sepong-tusuk-ganti2 posisi-crot, sebetulnya ga ada yang spesial”. Iya, tapi mata saya harus beroindah2 ke Scene kana kiri kanan kiri untuk mendapatkan kesan secara keseluruhan walau celana ini mulai sesak.
Saya pribadi (in my corny opinion) melihat sebuah pertentangan antara dua layar tersebut. Satu layar (kiri) memberitahu bahea penguasaan yang sama-sama memberikan kenikmatan, sedangkan yang kanan mengungkapkan sebuah eksploitasi di mana kenikmatan hanya dirasakan satu pihak. Hortus seperti sebuah ‘sindiran nakal’ dari Edwin kepada Belanda (Belanda jaman kolonial). Seolah berkata, “ayo lah…sama-sama enak, jangan gue terus yang diperes sampe kering!”. Jika melihat film-film Edwin sebelumnya, unsur adegan seksualitas memang terus ada. Seperti di film Postcard From Zoo, di mana Ladya Cheryl diajarkan untuk handjob para klien di sebuah panti pijat. Nah, Hortus ini dibuat di Belanda, dan sepertinya dijadikan momen yang tempat untuk memberikan sindiran yang sangat nakal itu. Sambil bikin film untuk thesis. Pendapat saya yang corny ini sebetulnya baru muncul setelah, ternyata ending film yg kanan itu adalah narasi pembuka film yang kiri (yang bokep). Tapi dengan karakter yang berbeda. Yang kiri menggunakan ‘bunga’ dalam artian sebenarnya (yaitu tumbuhan). Di ending yang kanan, Jen melihat ‘bunga’, dan bunga dalam ending yg kanan ini memiliki lerbedan makna, yaitu wanita yang sangat cantik. Kemudian film selesai.

Itu aja sih yang pengen kuomongin.

View on Path

 
%d bloggers like this: