Indonesia Kirana (2016) by Embara Film

Semalam saya berkesempatan menonton film dokumenter berjudul Indonesia Kirana. Motivasi yang menggerakkan saya menoton film ini tidak lain adalah reputasi Embara Films: Febian, Galih, Denny dan kawan-kawan atas film mereka sebelumnya: Epic Java. Menyinggung sedikit Epic Java sebelum Indonesia Kirana, Epic Java tentu tidak bisa dibandingkan secara apple to apple dengan film-film(dokumenter)nya Ron Fricke, Yann Arthus-Bertrand, atau bahkan Wim Wenders dan atau juga Werner Herzog. Akan tetapi setidaknya membantu saya memberikan banyak referensi mengenai film-film dokumenter, untuk apa mereka dibuat, bagaimana mereka menyampaikannya, apa statement mereka tenteng objek dokumenter tersebut. Tentu pemahaman saya masih di permukaan, namun akan saya coba menggunakan referensi tersebut untuk membahas film ini.

Indonesia Kirana merupakan sebuah film dokumenter berdurasi 90 menit, menceritakan perjalanan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Padjajaran (PSM Unpad) yang mendapatkan undangan berkompetisi di International Choir Competition Gallus–Maribor di Slovenia. Kompetisi ini merupakan satu dari beberapa rangkaian kompetisi European Gran Prix for Choral Singing, “ini panggung gran prix, olimpiadenya paduan suara”, mengutip salah satu dari yang mereka katakan. Di kompetisi tersebut PSM Unpad adalah satu-satunya wakil dari benua Asia. Mereka harus berkompetisi dengan grup-grup choir yang sangat ‘kuat’.

Kali ini Embara mencoba hal baru…… hm….tapi mungkin ‘mencoba’ bukan istilah yang tepat. ‘Menantang’. Mereka ‘menantang’ diri mereka dengan melakukan hal baru. Jika kalian menonton semua video yang ada di youtube mereka, semua video yang ada di situ didominasi oleh gambar-gambar ‘tanpa-ada-interkasi’. Gambar yang mereka rekam mereka sangat bagus, epic, gorgeous. Dikuatkan dengan tata/latar suara/musik yang membantu menggiring emosi dan mood penonton akan di-adjust ke arah mana. Untuk Indonesia Kirana, Embara melakukan hal baru dengan ‘ayo-kita-pakai-interkasi-dengan-apa/siapa yang-kita-rekam’. Mereka mencoba ‘menantang’ diri mereka dengan hal itu, namun akhirnya kesan yang saya peroleh, ternyata mereka masih ‘mencoba’.

Dari menonton film-film dokumener lokal maupun luar luar, saya berpendapat ada sebuah usaha dan kerja keras yang tidak biasa, aktivitas fisik dan otak yang tidak biasa, brainstorming terhadap struktur dan alur cerita, dan juga ‘kepekaan’ terhadap sebuah objek yang tidak biasa juga. Menurut saya ‘kepekaan’ filmmaker terhadap objek yang ingin dieksplorasi adalah krusial dan sangat penting. Membuat film dokumenter seperti membuat penelitian kualitatif. Penelitian diawali dengan membuat proposal, bab 1 sampai dengan dengan 3. Kemudian data diambil di lapangan terhadap objek/subjek penelitian. Kemudian diolah dengan cermat. Dan bisa jadi apa yang diperoleh/ditemukan dari pengambilan dan pengolahan data merubah bab 1 sampai dengan 3 (atau 4) yang telah ditulis sebelumnya. Saya buat perumpaan seperti ini. Saya buat perumpaan seperti ini : Judul penelitian adalah Indonesia Kirana. Kirana (sansekerta) artinya terang, bercahanya. Umumnya digunakan untuk nama seorang anak perempuan. Jika Indonesia adalah ibu pertiwim maka ‘Kirana’ adlaah kata yang tepat untuk membentuk phrase judul film ini. Subjek atau ojek penelitian nya adalah : PSM Unpad dan International Choir Competition Gallus-Maribor. Tehnik pengambilan data: observasi dan wawancara. Dari beberapa perumpaan ini saya bisa membedakan antara : film dokumenter mana yang hanya sekedar membuat saya tahu, atau film dokumeter mana yang bisa membuat saya mengerti dan paham.

Dalam melakukan pengambilan data menggunakan observasi dan wawancara butuh kepekaan yang tinggi si pengambil data. Masih banyak ruang yang bisa di-efisienkan-kan untuk menyampaikan pesan Indoensia Kirana dalam jangka waktu durasi di 90 menit film ini. Mengulang kata kata ‘kepekaan’, kepekaan filmmaker penting agar statement yang ingin disampaikan diterima oleh penonton dengan baik. Dari kepekaan yang dimiliki akan berpengaruh pada panduan observasi dan struktur pertanyaan wawancara yang akan disampaikan. Panduan observasi dan struktur wawancara ini memang tidak selalu harus tertulis, namun ini harus ada ‘di kapala’ filmmaker, merupakan sebuah kemampuan untuk meng-inquiry tentang “kirana”-nya PSM Unpad di Belanda, Slovakia, dan negara Eropa lainnya. Hasil dari inquiry ini akan memberikan seberapa terang intensitas cahaya PSM Unpad di film Indoensia Kirana ini.

Saya mendapatkan kesan struktur observasi dan wawancara kurang di-inquire dengan cermat. Menonton film ini seprti menonton 3 bagian besar yang tidak seimbang. 70 % memberikan tentang sebuah proses, usaha, kerja keras PSM Unpad mempersiapkan kompetisi, 20 % tentang momen-momen sebelum-saat-sesudah kompetisi (saya anggap sebagai klimaks). Dan 10 persen tentang aktivitas misi kebudayaan di Eropa (anti-klimkas). Bagaimana jika, beberapa rangkaian beberapa detik lanskap statis di eropa dikurangi? Diganti dengan lebih banyak gambar manusia dan wawancara? saya sendiri ingin melihat lebih banyak observasi tentang itu, tentang PSM Unpad di sana, sekelompok anak muda Indonesia yang sedang berada di  negara orang, berjuang untuk sesuatu. Sudah disajikan scene-scene yang membuat saya tersenyum lepas : scene ‘seblak goes to Europe, scene ‘Lisoi” di ruang makan saat PSM Unpad memberikan peforma di meja makannya kemudian grup chor lain mengabadikan lewat hp, scene ‘Rambe Yamko’ saat latihan di ruang publik dan ada beberapa anak dan orang tua mengikuti gerakan mereka, itu keren banget kontennya!! dan saya ingin melihat lebih!. Observasi lainnya yang bertolak belakang dengan kesenangan juga dibutuhkan. Sebagai contoh observasi menunjukkan galaknya sikap kang Arvin Zaenullah kepada anak didiknya. Atau observasi perilaku covert (tidak kasat mata) maupun overt (kasat mata) para anggota PSM Unpad menjalani latihan, menghadapi tekanan, adaptasi, stress dan juga stressor-nya. Untuk mendapatkan scene-scene itu sangat butuh usaha yang keras dan kepekaan tinggi, kerena momen tidak bisa diulang dua kali, dan film dokumenter adalah seni/kemampuan merangkai obervasi tingkat tinggi terhadap sebuah genuine moment(s) yang hanya terjadi satu kali.

Selain observasi, Indonesia Kirana juga menyajikan sebuah hasil wawancara dengan subjek film ini, para anggota PSM Unpad. Wawancara juga sama sulitnya dengan observasi. Persamaan lain dari dua tehnik ini adalah dibutuhkannya rapport. Dalam istilah psikodiagnostik, rapport merupakan sebuah usaha dalam menciptakan kondisi di mana komunikasi antara dua pihak bisa berlangsung dengan baik. Jika diartikan komunikasi adalah sebuah penyampaian ide oleh satu komunikan dan penerimaan ide dengan komunikan yang lain. Dalam Indonesia Kirana, rapport dan proses komunikasi sudah berjalan dengan baik, ide tersampaikan. Namuan bagaimana dengan kedalaman ide/pesan/informasi yang diberikan? Saya rasa juga masih banyak ruang yang bisa di isi di bagian ini. Stuktur pertanyaan harus dibuat sedemikian rupa, agar dapat meng-inqury lebih dalam. Mulai dari pertanyaan ringan sampai dengan pertanyaan yang sangat menggali. Kedalaman wawancara lagi-lagi dipengarhui oleh kepekaan pewawancaranya (dalam hal ini adalah filmmaker). Memang melakukan hal ini sulit, tapi bisa dilatih. Embara bisa belajar banyak dari subjek/objek filmnya sendiri. Khususnya bagaimana mereka “nggethu” latihan untuk menghadapi Gran Prix.

Saya ambil satu contoh, saat ada salah satu anggota PSM Unpad (senior) berkata, “rasanya saya ingin berontak!”, saya udah bereaksi “nah ini ni, menarik”. Tapi akhirnya tidak berlanjut. Saya berharap ada jawaban selanjutnya dari dia, sebelum dia mengatakan “sebagai senior saya bertanggung jawab untuk membantu adik-adik saya lebih kuat dari saya” (kurang lebih seperti itu yang saya ingat). Saya merasakan apa yang harus disampaikan belum benar-benar holistik. Referensi saya yang agak mirip dengan desain Indoensia Kirana (untuk bagian-bagian wawancaranya) adalah Human sutradara Yann-Atrhus Bertrand. Formatnya agak sama, latar bekanag hitam dan close up wajah, mata melihat kamera dan sekaran subjek berbicara dengan kita lewat layar lebar. Wawancara-wawancara di Human dan jawaban-jawabannya adalah salah satu contoh depth interview. Saya tidak tahu bagaimana rapport struktur pertanyaan, dan proses wawancara dilakukan. Di film Human orang biasa bisa bercerita dengan sangat jujur, hingga keluar jawaban-jawaban yang sangat susah digali. Sebuah struktur wawancara yang baik bisa dilakukan dengan cara yang cukup mudah. Pertama-tama pertanyaan-pertanyaan mengenai kejadian, sebuah pertanyaan untuk mendapatkan jawaban ‘menceritakan kembali’. Kemudian dilanjutkan pertanyaan mengkonfirmasi dengan disusupi pertanyaan yang lebih menggali emosi. Nah, saat subjek memberikan jawaban dengan kondisi emosi – tertawa, menagis, senym sambil meneteskan air mata- dimana kondisi emosi itu adalah replica dari kejadian nyata apa yang mereka rasakan, maka buat saya film dokumenter akan menjadi sangat menarik ditonoton. Me-recall memory yang sudah berlalu dan meng-inquiry lebih dalam, ini yang sulit. Jikapun sebuah wawancara dilakukan dengan snagat mendalam, dan mendapatkan puluhan jam rekaman, untuk memampatkan menjadi 1,5 jam juga menjadi tantangan buat Embara. Stok video kalian yg 80an jam itu dibuat menjadi 1,5 jam saja saya sudah sangat apresiasi.

Salah satu subjek wawancara yang sangat kurang di film ini adalah kang Arvin Zaenulllah. Maaf jika saya menyampaikan bahwa ini agak menganggu saya. Saya rela tidak menonton rangkaian-rangkaian time lapse lanskap kota-kota di eropa tsb digantikan dengan apa yang kang Arvin utarakan, ceritakan, sharing-kan, tentang PSM Unpad dan kompentisi tersebut. Rasanya kok saya nggak terima film ini selesai jika belum ada satu pun scene pun yang menampakkan wajah kang Arvin mengutarakan idenya kepada saya (penonton). Padahal sebelumnya embara sudah bisa men-capture jawaban dan wajahnya dengan sangat baik tentang Indonesia Kirana. Dia berkata “Bagi saya paduan suara adalah kerja keras. Kerja keras, dan kerja sama. Saya sebetulnya senang melihat proses. Proses yang dialami oleh orang yang tidak bisa, menjadi bisa. Tidak semangat menjadi semangat. Tidak memiliki tujuan, kemudian mereka mencipatakan tujuan dan cita-cita masing-masing. Itu bisa terlihat di paduan suara”. Wow, Kang Arvin mengatakan ‘kerja keras dua kali. Dua kali. Apa yang dikatakan Kang Arvin ini masih sebuah prototype simulasi keren tentang apa film dokumenter Indonesia kirana. Dan sisi egois saya menginginkan lebih. Lebih banyak.  Embara sudah punya potensi ini sebetulnya, mereka tahu bagaimana cara menggali dengan baik, dengan menciptakan situasi yang mendukung. Jika memang ada, wawancara terhadap Kang Arvin memang harus dilakukan di ruang dan waktu yang terpisah antar dia dengan para anggota PSM Unpad, agar rapport bisa berjalan baik dan jawaban yang mereka utarakan adalah jujur bukan faking good.

Saya tidak bohong, tidak sekedar lip service. Indonesia Kirana adalah film dokumenter yang bagus. Tata suara dan musik Indonesia Kirana sangat standout. Honestly the sounds made me overwhelmed. Tapi saya sedang menulis tentang film dokumenter dan saya akan tetap pada jalur tsb, konten. Dari desain produksinya film ini bisa ditonton oleh siapa saja, oleh yang tidak pernah menonton film dokumenter, atau yang tidak pernah menonton sekalipun. Segmentasinya bisa luas, untuk penonton yang heterogen  khususnya dari usia atau generasi yang berbeda. Semoga apa yang saya sampaikan di paragraph atas bisa memberikan manfaat walau hanya sedikit. Saya masih berharap Embara masih rajin membuat film khususnya dokumenter. Dan saya pasti juga bersemangat untuk menontonnya.

Untuk paragraph terakhir ini saya persembahkan khusus untuk Kang Arvin dan PSM Unpad. Kalian hebat!. Mungkin kita berbeda kohort, tapi tema ‘human-interest’ memang tidak pernah membosankan untuk ditonton. Dari menonton Indonesia Kirana saya menjadi tahu, bahwa PSM Unpad itu ada, mereka bernyanyi bersama-sama, mereka pergi ke Eropa untuk berkompetisi di Gran Prix, mereke berlatih keras, keluar dari zona nyaman daripada anak muda lain kebanyakan, dan akhirnya mereka tidak berhasil memenangkan kompetisi tersebut. Namun bukankah itu adalah sebuah cerita yang kalian alami sendiri, a story that can be great to be retold? Jangan hanya terbatas dari dokumenter ini. Terus ceritakan kisah kalian ini, dan buat juga cerita-cerita kalian yang lain that can be great to be retold.

Tabik.

7/5/2016

@cinematicorgasm

Advertisements

~ by imankurniadi on May 7, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: