Silampukau di Cikini, saya berceloteh.

Dua ribu empat belas saya menghadiri 2 pagelaran berkelas. Di atas rata-rata dan Ariah. Bukan film, hanya musik asik dan pertunjukan teater di monas. Atau dua ribu tiga belas? Entahlah memori saya mulai terbatas.

Dua ribu lima belas. Saya habiskan tenaga dan biaya mendaki 2 puncak tertinggi di dua pulau di luar Jawa. Menyelam yang dalam. Dan berkelana di luar negara.

Dua ribu enam belas. Sepertinya saya sudah malas. Awal tahun menonton twilite orchestra yang brilian. Baru menghadiri perhelatan Silampukau sendirian. Bertajuk “Bermain di Cikini: Silampukau Dan Kawan-Kawan”. Atas dasar pelampiasan hijrah kota dan waktu yang jahanam. Sebagai pelarian. Rutinitas pekerjaan linier yang membunuh ‘roso’ perlahan-lahan.

Mereka semua berdendang. Dengan suara manusia dalam dan alat musik beriringan. Gitar, bass, terompet, trombon dan drum. Suling, biola, cello, ukulele, dan klentingan. Mereka bersahutan. Membentuk irama folk yang nyaman. Tak ragu seluruh jenis senyuman saya tampilkan. Dan berulang tepuk tangan.

Kejutan. Banyak kejutan. Mereka bergantian. Memainkan musik dengan asih. Membentuk komposisi yang berbeda tiap babaknya. Ada yang hanya akustik. Ada dangdut yang membuat hati saya berdeyut kiyut. Komposisi yang berbeda tiap babaknya. Tidak seperti yang saya dengarkan di youtube atau empetiga entah dari mana.

Aksi panggung yang menggoda untuk terus menggoyangkan kepala. Ke atas ke bawah ke kiri dan ke kanan. Sambil menggoyangkan telor berisi beras. Tata lampu sederhana yang kreatif tidak berbatas. Membantu mereka di panggung menciptakan suasana penuh otentisitas.

Sebuah celoteh iman yang terjebak di linieritas tanggal tiga puluh satu maret dia ribu enam belas

——————–

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, anggur sama memabukkannya,
entah Merlot entah Cap Orang Tua
(Silampukau-Puan Kelana, 2014)

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on March 31, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: