Taksi, Onlinee, dan Nganu

Beberapa bulan lalu jonan melarang gojek beroperasi, netizen marah, hingga jokowi turun tangan berbicara di twiternya. Akhirnya pelarangan dicabut.

Dikarenakan kemajuan teknologi, maka muncul alternatif subtitusi angkutan/transportasi seperti gojek, grab bike, grab car. Kemajuan teknologi ini menawarkan sesutu yg sangat menggiurkan: MUDAH DAN MURAH. Maka terdapat perubahan perilaku konsumen. Anggap saja ada 3 golongan konsumen:
A adl konsumen yg terbiasa menggunakan angkutan umum, karena murah.
B adalah konsumen yang bisa menggunakan taxi, karena kenyamanannya.

Karena munculnya gojek/grabbike/grabcar/Uber, maka muncul alternatif/subtitusi produk yg dapat dinikmati konsumen, mengakibatkan shifting / konsumen berpindah, atas alasan mudah dan murah.
Konsumen A yg biasa menggunakan angkutan umum yg murah pindah ke gojek, uber, grabcar karena tarif murah, promo dll. Konsumen B (secara ekonomi di atas konsumen A) yg biasa menggunakan taxi yg mencari kenyamanan, pindah ke uber dan grabcar, krn lebih murah dg kenyamanan yg sama dg naik taksi. Para pengguna gojek/Uber/grabcar/grabbike ini sebut saja konsumen Z.

Salah satu dampak perpindahan konsumen A dan B ke konsumen Z ini mempengaruhi pendapatan para supir plat kuning (angkutan umum dan taxi). Lebih khusus untuk para plat kuning yg sistemnya masih konvensional, yg masih menggunakan sistem setoran. Di mana pendapatan mereka dipengaruhi oleh banyak/sedikitnya penumpang pada hari tsb. Masih ada istilah “tekor” buat mereka karena penumpang yg dikit, dan untuk pembelian bbm. Belum lagi pengeluaran2 “tidak jelas”, contohnya “setoran preman halte”. Mereka juga harus mengantongi ijin trayek. Dan tidak murah juga. Saya pernah dengat, trayek ABG itu ternyata lebih mahal daripada trayek AMG (org malang pasti ngerti). Hal ini mulai diperbaiki dg adanya alternatif angkutan umum busway/teansjakarta. Pengemudi mereka tidak perlu memikirkan setoran, karena mereka sudah digaji fix. Untuk masalah bbm, maintenance, dll jg tidak perlu dipikirkan oleh pengemudi lagi.

Plat kuning taxi juga demikian, sama resahnya dg angkutan umum konvensional. Di dunia pertaksian ada perusahaan yg menggunakan sistem setoran minimal ada juga yg menggunakan sistem komisi. Yg menggunakan sistem setoran minimal lebih mendapatkan tekanan daripada yang menggunakan komisi. Konsumen mereka mulai berpindah dan mereka juga resah.
Perusahaan taksi memberlakukan tarif setoran/persentase komisi tersebut juga dg memperhitungkan biaya2 infrastrukturnya: bengkel, mess, pool, radio, cuci, dll. Dan biaya-biaya lain seperti keur, ijin pangkalan, ijin bandara, dll. Beberapa perusahaan taxi juga memikirkan kesejahteraan pengemudinya dengan memberikan benefit seperti: beasiswa anak sekolah, asuransi kesehatan, dll. Tentu jelas, kenapa grabcar dan uber bisa lebih murah daripada taxi, karena mereka plat hitam, bukan kuning.

Ambil cobtoh perbedaan plat hitam dan kuning ini terletak pada kuer. Plat hitam tidak butuh keur, karena tidak butuh di’asses’ ulang apakah masih layak operasi atau tidak. Angkutan umum harus memiliki kuer agar mendapatkan sertifikasi bahwa kendataan tsb layak digunakan sebagai angkutan umum. Pengemudi plat hitam tidak perlu ber sim umum, sedangkan pengemudi taksi dan angkutan umum harus memiliki sim umum (AU, B1U, B2U). Dan saya rasa ini (keur dan sim umum) bukan hal yg jelek.

Hari ini sangat disayangkan terjadi sebuah situasi yang tidak diharapkan. Demo disertai perilaku anarkis oleh para oknum pengemudi taksi yang menuntut penutupan angkutan umum online. Pengemudi taksi yang memiliki keyakinan berbeda–lebih memilih bekerja daripada demo– juga menjadi korban, pengrusakan atau penumpangnya dipaksa turun. Secara sederhana dan dangkal saya pahami, mereka marah karena mereka lapar. Mungkin ada pendapat lain?

Kembali membahas konsumen Z. Dengan adanya shifting ini, maka konsumen Z terpenuhi demand-nya. Semakin banyak konsumen A dan B yg beralih ke konsumen Z, maka supply utk grabbike/grabcar/Uber/gojek — yang adalah plat hitam — juga semakin banyak. Mereka juga didukung dg “mata uang data”, dimana semkin banyak aplikasi mereka digubakan, maka semakin kaya data mereka, dan data adalah uang. Perilaku konsumen Z ini juga sangat dimudahkan (atau dengan kata lain “malas”), di mana mereka tinggal pesan, menunggu, dijemput, diantar, sampai. Berbeda dg konsumen A yg harus berjalan ke halte atau ke stasiun tertentu utk mendapatkan angkutan umum, tiba di tujuan, jalan kaki lagi. Bayangkan semakin banyak konsumen Z ini bertambah, dan semakin banyak juga armada plat hitam yang ‘asesman terhadap kelayakan’nya tidak ada. Dampaknya juga pada kemacetan. Utuk mengurangi macet, gunakanlah angkutan umum,jadilah konsumen A yg baik. Dan jangan malas untuk jalan kaki.

Pendapat saya ini masih dangkal. Informasi yg saya terima juga masih terbatas. Pengalaman yabg saya alami juga tidak banyak. Saya cuman mencoba berfikir agar kemarahan saya tidak saya tempatkan kepada pihak yang tidak seharusnya.

“mikir~~!!”
(cak lontong)

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on March 22, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: