Hortus (2014) – Part 4

Gambar diambil di http://cinemapoetica.com/hortus-jukstaposisi-kecabulan-dan-reka-apologia/
Silahkan baca juga untuk tambahan referensi tentang film ini.
Jangan tulisan saya ❗ sesat soalnya✔

Part 4.
(masih spoiler alert ⚠)

Saat diskusi ada beberapa kata kunci yang dibicarakan saya cermati sangat menarik, ‘kekuasaan’ dan ‘kenikmatan’. Kemudian saya pun melakukan interpretasi sendiri terhadap film ini. Setelah menontonnya dua kali. Dan film pertama yang saya tonton rasanya berbeda dengan film kedua. Karena ada perbedaan momentum saat memulai putaran projector 35mm. Yang pertama, sebelah kanan mulai lebih dulu, setelah sekitar 3 detik baru yang kiri dimulai. Pemutaran yang kedua, waktunya hampir bersamaan. Jadi sebetulnya kesan yang bisa diberikan dari film ini bisa sangat beragam. Tergantung momentum putaran dari 2 projector yang digunakan.

Footage kanan memeprlihatkan gambar-gambar kolonialisme. Di sini memang diperlihatkan eksploitasi Belanda terhadap tanah air. Tidak hanya sebuah penguasaan terhadap sumber daya (alam: rempah, kapas, dll), dan dominansi tata cara, custom, sikap dan perilaku yang sesuai dengan mereka (Belanda). Cara berpakaian, budaya disiplin, cara melayani, dan lain-lain. Sedangkan. Di scene yang kiri. Awalnya seorang wanita yang berkuasa atas pria. Dia yang memulai duluan, membuat pria ‘kalah’/terlena dengan sex appeals-nya dan akhirnya si pria rela untuk berhubungan sex. Namun di tengah babak, si pria mulai menyukainya dan ‘mengambil alih’ manuver-manuver sex tersebut. Hingga mereka mencapai puncak kenikmatan. Meminjam salah satu komentar penonton, “adegan sexnya udah pake rumus umum, cium-buja baju-sepong-tusuk-ganti2 posisi-crot, sebetulnya ga ada yang spesial”. Iya, tapi mata saya harus beroindah2 ke Scene kana kiri kanan kiri untuk mendapatkan kesan secara keseluruhan walau celana ini mulai sesak.
Saya pribadi (in my corny opinion) melihat sebuah pertentangan antara dua layar tersebut. Satu layar (kiri) memberitahu bahea penguasaan yang sama-sama memberikan kenikmatan, sedangkan yang kanan mengungkapkan sebuah eksploitasi di mana kenikmatan hanya dirasakan satu pihak. Hortus seperti sebuah ‘sindiran nakal’ dari Edwin kepada Belanda (Belanda jaman kolonial). Seolah berkata, “ayo lah…sama-sama enak, jangan gue terus yang diperes sampe kering!”. Jika melihat film-film Edwin sebelumnya, unsur adegan seksualitas memang terus ada. Seperti di film Postcard From Zoo, di mana Ladya Cheryl diajarkan untuk handjob para klien di sebuah panti pijat. Nah, Hortus ini dibuat di Belanda, dan sepertinya dijadikan momen yang tempat untuk memberikan sindiran yang sangat nakal itu. Sambil bikin film untuk thesis. Pendapat saya yang corny ini sebetulnya baru muncul setelah, ternyata ending film yg kanan itu adalah narasi pembuka film yang kiri (yang bokep). Tapi dengan karakter yang berbeda. Yang kiri menggunakan ‘bunga’ dalam artian sebenarnya (yaitu tumbuhan). Di ending yang kanan, Jen melihat ‘bunga’, dan bunga dalam ending yg kanan ini memiliki lerbedan makna, yaitu wanita yang sangat cantik. Kemudian film selesai.

Itu aja sih yang pengen kuomongin.

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on March 10, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: