Hortus (2014) – Part 3

Part 3.
(spoiler alert ⚠ ya…)

Jika kalian penggemar film Indonesia fanatik garis keras, kalian pasti mengenal Edwin. Beliau adalah sutradara beberapa film panjang dan pendek (dan juga dokumentet): Kara Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Ingin Terbang, Postcard From Zoo, Switbosh (someone’s wife in the boat of someone’s husband), dayang sumbi yang dikawini anjing, dan satu lagi pokoknya settingnya Ladya Cheryl diajak ngomong di bis kosong trus anunya dipegang-pegang, lupa judulnya. Dll.

Pengan tau soal Edwin googling aja atau buka aja ini http://cinemapoetica.com/mencari-babi-buta-di-kebun-binatang-tentang-film-film-pendek-edwin/

Saya tidak punya latar belakang film, literasi saya di bidang film juga minim, lebih banyak baca Manga, dan yang saya bisa cuman nonton dan nonton. Sebagai penonton kebanyakan film-filmnya bisa dibilang absurd, saya sendiri juga bisa beranggapan ke situ, namun saya belokkan dikit, saya lebih suka mengatakan film2 Edwin itu film2 yang memberikan kebebasan buat saya untuk “membaca dan mencernanya”. Itu maksud saya pas saya bilang ke Tunggul, “aku seneng karo film (Liburan Keluarga)mu, tapi aku gak ngerti senenge iku nang ndi”.
Hortus berdurasi 10 menit, tanpa suara, dan berfornat Black and white. Menampilkan dua scene, yang kiri scene film pornografi bisu. Yang sebelah kanan film footage2 Indonesia di jaman kolonial. Kedua layar dimulai dg scene judul film ini, Hortus, dengan desain typography yang berbeda. Seingetku yg seperti kugambar di atas.

Kanan ⬜⬜👈.
Layar sebelah kanan memperlihatkan footage Indonesia di masa kolonialisme: ada anak-anak sekolah yang sedang bersenam SKJ dengan disiplin, Noni dan Meneer benada di sebuah restoran dilayani oleh banyak pelayan pribumi, suku-suku pedalaman di Indonesia Timur, dan lain-lain. Intinya footage tersebut hanya memperlihatkan Indonesia di jaman itu. Di masa kolonialisme oleh Belanda, namun tanpa ada kegetiran-kegetiran sedikitpun.

Kiri 👉⬜⬜.
Seperti film bisu pada umumnya, film ini dibuka dengan sebuah narasi text, kurang lebih seperti ini “Jan berada di sebuah taman, kenudian dia melihat bunga yang cantik”, lalu diperlihatkan Jan yang mengamati bunga tersebut. Kenudian tiba-tiba ada wanita cantik memetik bunga itu. Kemudian Jan marah. Kenudian si wanita mengatakan bahwa dia memiliki bunga yang lebih cantik. Kemudian dia menyuruh jan berlutut dan tutup mata. Saat membuka mata, jan melihat bunga yg dipetik tsb berada di vagina wanita itu. Kenudian mereka melakukan hubungan seksual.

Bersambung ke Part 4…

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on March 10, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: