Hortus (2014) Part 1-4

Part 1.

Suatu hari salah satu cinemapoetican memberitahu saya dengan sebuah text, seperti ini:

“info pemutaran, Mas. Kali aja tertarik.

Jonathan dan Edwin berkolaborasi bikin pemutaran eksklusif HORTUS, film tesis doi di Belanda 2 tahun lalu.

HORTUS dioperasikan memakai 2 buah proyektor 16 mm yg menghasilkan 2 imaji terpisah dalam satu layar berukuran standar 35 mm. Imaji kanan berisi footage sejarah milik Belanda seputar kehidupan sosial orang Hindia Belanda semasa penjajahan, sementara imaji kiri berisi adegan ML antara perempuan Hindia Belanda dengan botanis asal Belanda”…dst.

Kemudian dengan sangat cekatan saya cari apa itu Hortus, dg kata kunci googling Hortus Edwin, dan saya menemukan ini:

“For ‘Hortus’, Edwin combines newly shot sexually explicit material with ethnographic archival footage in order to address notions of explicitness, repetition, voyeurism and exploitation in both colonialism and porn. As an image-maker, Edwin’s interest lies with the sensuality of cinema: experience, imagination, memory are a result of the sensory experience of hearing, smelling, sight, taste and touch. For ‘Hortus’, he is exploring colonial imagery, which he believes to convey messages of desire based on the attraction to “the foreign other”. In a multi-screen 16 mm projector installation he will show his first shot on site porn film, juxtaposed with ethnographic archival footage clips from EYE. The rhythm of the two sources is synchronized, with the images affecting each other and molding their energy, forcing the audience to reflect on their own ideas of colonialism, sensuality, intimacy, nostalgia and guilt.”
Sumber: http://www.ahk.nl/filmacademie/master/master-film/graduation-shows/graduation-edwin-2013/

Dan kira-kira wajahku seperti di atas ketika menonton Histus untuk kedua kalinya. Nanti saya jelaskan mengapa.

Bikin popmie dl, laper.

Iya karena ada bokepnya.

Eh nanti nanti penjelasannya.

View on Path

Part 2

Part 2

Sungguh, sungguh pengalaman luar biasa. Datang ke sebuah pemutaran alternatif yang diinisiasi oleh Jonathan dan Edwin. Edwin sebagai host. Dan dia memberikan gerak-gerik welcoming behavior kepada kami. Itu Wow sih. Selama ini saya hanya mendapatinya sebagai pembicara atau tamu diskusi. Dia memastikan projector terpasang dengan sesuai. Memastikan setiap undangan (termasuk saya 😙) sudah mendapatkan kopi. Memastikan posisi tempat duduk sedemikian rupa agar setiap penonton dapat mendapatkan tempat yang enak untuk menonton, tanpa terhalangi. Menimbang kinosaurus adalah tempat pemutaran alternatif bergaya kafe yg bisa disulap menjadi ruang pemutaran film.

Edwin memberikan pembukaan, “yak kita masih menunggu satu undangan lagi ya, dia dari Bandung soalnya, masih naik travel”. Kemudian mengatakan basa-basi kecil sebelum memulai memutar projector 35mm. Orang-orang dari Lab Laba Laba juga sudah bersiap sedia memutar projector tsb. Dia bercerita latar belakang film ini, saat dibuatnya di Belanda, dipresentasikan untuk syarat kelulusannya di sekolah film untuk gelar master. Celetukan dari penonton “bagus nggak nilainya”, dan Edwin menjawab “gue lulus kok”.

Tamu dari Bandung belum juga datang, dan akhirnya Edwin memutuskan untuk memulai film ini tanpa menunggu. Sudah telat 20 menit soalnya.

Gorden hitam pekat mulai ditutup. Lamou dimatikan, dan klik, suara projector 35mm nyaring pelan berbunyi. Kemudian dan 2 cahaya kotak bersudut tumpulpun tertangkap layar yang ada di depan kami.

Film dimulai.
🎥🎥🎥🎥🎥🎥🎥🎥
Film selesai.

Tepuk tangan 👏👏👏.

Lalu dibuka sesi diskusi oleh Edwin sendiri.

Mbak Ucu Agustin yang memulai
(mbak ini bikin film dokumenter judulnya Di Balik Frekuensi, KEREN BHANGET).

Trus diskusi lagi.

Trus tamu dari bandung akhirnya datang.

Diskusi lanjut.

Trus Edwin bilang, “ya udah kita luter sekali lagi ya”

Gorden di tutup, lampu dimatikan, klik, suara projector nyaring pelan berbuyi…

Beruntung banget tuh tamu dari Bandung….

View on Path

 

Part 3

Part 3.
(spoiler alert ⚠ ya…)

Jika kalian penggemar film Indonesia fanatik garis keras, kalian pasti mengenal Edwin. Beliau adalah sutradara beberapa film panjang dan pendek (dan juga dokumentet): Kara Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Ingin Terbang, Postcard From Zoo, Switbosh (someone’s wife in the boat of someone’s husband), dayang sumbi yang dikawini anjing, dan satu lagi pokoknya settingnya Ladya Cheryl diajak ngomong di bis kosong trus anunya dipegang-pegang, lupa judulnya. Dll.

Pengan tau soal Edwin googling aja atau buka aja ini http://cinemapoetica.com/mencari-babi-buta-di-kebun-binatang-tentang-film-film-pendek-edwin/

Saya tidak punya latar belakang film, literasi saya di bidang film juga minim, lebih banyak baca Manga, dan yang saya bisa cuman nonton dan nonton. Sebagai penonton kebanyakan film-filmnya bisa dibilang absurd, saya sendiri juga bisa beranggapan ke situ, namun saya belokkan dikit, saya lebih suka mengatakan film2 Edwin itu film2 yang memberikan kebebasan buat saya untuk “membaca dan mencernanya”. Itu maksud saya pas saya bilang ke Tunggul, “aku seneng karo film (Liburan Keluarga)mu, tapi aku gak ngerti senenge iku nang ndi”.
Hortus berdurasi 10 menit, tanpa suara, dan berfornat Black and white. Menampilkan dua scene, yang kiri scene film pornografi bisu. Yang sebelah kanan film footage2 Indonesia di jaman kolonial. Kedua layar dimulai dg scene judul film ini, Hortus, dengan desain typography yang berbeda. Seingetku yg seperti kugambar di atas.

Kanan ⬜⬜👈.
Layar sebelah kanan memperlihatkan footage Indonesia di masa kolonialisme: ada anak-anak sekolah yang sedang bersenam SKJ dengan disiplin, Noni dan Meneer benada di sebuah restoran dilayani oleh banyak pelayan pribumi, suku-suku pedalaman di Indonesia Timur, dan lain-lain. Intinya footage tersebut hanya memperlihatkan Indonesia di jaman itu. Di masa kolonialisme oleh Belanda, namun tanpa ada kegetiran-kegetiran sedikitpun.

Kiri 👉⬜⬜.
Seperti film bisu pada umumnya, film ini dibuka dengan sebuah narasi text, kurang lebih seperti ini “Jan berada di sebuah taman, kenudian dia melihat bunga yang cantik”, lalu diperlihatkan Jan yang mengamati bunga tersebut. Kenudian tiba-tiba ada wanita cantik memetik bunga itu. Kemudian Jan marah. Kenudian si wanita mengatakan bahwa dia memiliki bunga yang lebih cantik. Kemudian dia menyuruh jan berlutut dan tutup mata. Saat membuka mata, jan melihat bunga yg dipetik tsb berada di vagina wanita itu. Kenudian mereka melakukan hubungan seksual.

Bersambung ke Part 4…

View on Path

part 4 – end

Gambar diambil di http://cinemapoetica.com/hortus-jukstaposisi-kecabulan-dan-reka-apologia/
Silahkan baca juga untuk tambahan referensi tentang film ini.
Jangan tulisan saya ❗ sesat soalnya✔

Part 4.
(masih spoiler alert ⚠)

Saat diskusi ada beberapa kata kunci yang dibicarakan saya cermati sangat menarik, ‘kekuasaan’ dan ‘kenikmatan’. Kemudian saya pun melakukan interpretasi sendiri terhadap film ini. Setelah menontonnya dua kali. Dan film pertama yang saya tonton rasanya berbeda dengan film kedua. Karena ada perbedaan momentum saat memulai putaran projector 35mm. Yang pertama, sebelah kanan mulai lebih dulu, setelah sekitar 3 detik baru yang kiri dimulai. Pemutaran yang kedua, waktunya hampir bersamaan. Jadi sebetulnya kesan yang bisa diberikan dari film ini bisa sangat beragam. Tergantung momentum putaran dari 2 projector yang digunakan.

Footage kanan memeprlihatkan gambar-gambar kolonialisme. Di sini memang diperlihatkan eksploitasi Belanda terhadap tanah air. Tidak hanya sebuah penguasaan terhadap sumber daya (alam: rempah, kapas, dll), dan dominansi tata cara, custom, sikap dan perilaku yang sesuai dengan mereka (Belanda). Cara berpakaian, budaya disiplin, cara melayani, dan lain-lain. Sedangkan. Di scene yang kiri. Awalnya seorang wanita yang berkuasa atas pria. Dia yang memulai duluan, membuat pria ‘kalah’/terlena dengan sex appeals-nya dan akhirnya si pria rela untuk berhubungan sex. Namun di tengah babak, si pria mulai menyukainya dan ‘mengambil alih’ manuver-manuver sex tersebut. Hingga mereka mencapai puncak kenikmatan. Meminjam salah satu komentar penonton, “adegan sexnya udah pake rumus umum, cium-buja baju-sepong-tusuk-ganti2 posisi-crot, sebetulnya ga ada yang spesial”. Iya, tapi mata saya harus beroindah2 ke Scene kana kiri kanan kiri untuk mendapatkan kesan secara keseluruhan walau celana ini mulai sesak.
Saya pribadi (in my corny opinion) melihat sebuah pertentangan antara dua layar tersebut. Satu layar (kiri) memberitahu bahea penguasaan yang sama-sama memberikan kenikmatan, sedangkan yang kanan mengungkapkan sebuah eksploitasi di mana kenikmatan hanya dirasakan satu pihak. Hortus seperti sebuah ‘sindiran nakal’ dari Edwin kepada Belanda (Belanda jaman kolonial). Seolah berkata, “ayo lah…sama-sama enak, jangan gue terus yang diperes sampe kering!”. Jika melihat film-film Edwin sebelumnya, unsur adegan seksualitas memang terus ada. Seperti di film Postcard From Zoo, di mana Ladya Cheryl diajarkan untuk handjob para klien di sebuah panti pijat. Nah, Hortus ini dibuat di Belanda, dan sepertinya dijadikan momen yang tempat untuk memberikan sindiran yang sangat nakal itu. Sambil bikin film untuk thesis. Pendapat saya yang corny ini sebetulnya baru muncul setelah, ternyata ending film yg kanan itu adalah narasi pembuka film yang kiri (yang bokep). Tapi dengan karakter yang berbeda. Yang kiri menggunakan ‘bunga’ dalam artian sebenarnya (yaitu tumbuhan). Di ending yang kanan, Jen melihat ‘bunga’, dan bunga dalam ending yg kanan ini memiliki lerbedan makna, yaitu wanita yang sangat cantik. Kemudian film selesai.

Itu aja sih yang pengen kuomongin.

View on Path

 

Advertisements

~ by imankurniadi on March 10, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: