Chaotic Love Poems (2015) part 2

Ini tulisam saya yanh kedua tentang film ini. Untuk membaca tulisan saya yang pertama, silahkan cek momen saya tadi pagi.

Jumat malam lalu saya kembali ke bioskop untuk menonton film ini yang kedua kalinya. Dua hari berturut-turut. Bioskop yang berbeda dengan tempat duduk yang sama: D7, karena alasan tertentu sudah menjadi lokasi yang favorit.
———————————-
Celotehan saya di bawah ini akan sangat mengandung spoiler. Jika kalian belum nonton dan memang menunggu kejutan-kejutan rom-com ini sebaiknya berhenti sampai di sini membacanya.
———————————-
Tulisan ini bukan review, apalagi dikatakan kritik. Saya hanya penonton film biasa, penonton kebanyakan. Alasan saya menulis alasannya hanya saya ingat. Itu saja. Dan karena keterbatasan kompetensi (knowledge, skill, attitude) saya dalam menulis tentnag film, maka seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, saya hanya akan berbicara di permukaannya saja.

Belum semua film Garin Nugroho saya tonton. Sejauh yang saya ingat hanya: opera Jawa, daun di atas bantal, cinta dalam sepotong roti, mata tertutup, Soegija, Tjokroaminoto, dan ach aku jatuh cinta. Dari beberapa film yang sudah saya tonton tsb, sejauh yg saya ingat salah satu signature Garin di filmnya adalah: ada Scene kamera diam, kemudian aktor berakting, sebuah kesan bahwa layar bioskop tsb adalah sebuah panggung (yang tidak bergerak). Signature yg lain adalah sebuah dialog puitis dan Scene treatikal. Maaf dengan ke-sok-tauan saya.

Ach Aku Jatuh Cinta ini juga masih mengandung signature yang sama, bahkan lebih banyak. Jika dalam seni pertunjukkan panggung, film ini memiliki plot pada 4 babak utama: saat Rumi dan Yuli masih anak-anak, saat mereka Sma, saat mereka kuliah, dan saat mereka sdh dewasa. Setiap babak dihubungkan dengan kata-kata yang tertuang di diary Yuli. Kata-kata tersusun dg sangat puitis. Selain itu dialog antara Rumi dan Yuli juga sebuah dialog yang sangat “dibuat”, tidak alami. Saya sangat memahami tujuannya, ini adkaah salah satu seni pertunjukkan. Garin sebagai penulis terlihat sangat bekerja keras menyusun cerita di dialog ini. Kata teman saya, “sepertinya Garin sedang mengalami puber kedua”.

Seperti yang saya katakan di awal, ada Scene di mana kamera diam, dan para aktor berakting. Kesan yang diberikan seperti pengadegan di atas panggung, dan saya berada tepat di depan panggung. Sebagai contoh, saat Rumi mengejar Yuli menggunakan sepeda setelah kejadian Rumi dan Yuli dihukum di sekolah karena masalah lipstik. Mereka memakirkan sepeda mereka. Lampu sorot sepeda Rumi berbentuk cinta. Saat Rumi berbicara dan mengatakan isi hatinya, dia disorot oleh lampu, yanh berbentuk cinta. Scene ini keren sekali! Scene dg model yang sama, saat Rumi dan Yuli bertemu di latihan teater. Mereka bercakap-cakap dengan latar belakang gimmick animasi bunga dan kupu-kupu. Lalu si sutradara teater bilang “ini adalah percakapan tentang kehidupan”. Sialan, 2 kali saya menjambak rambut saya di bagian Scene ini. Dari desain seperti ini (imo) saya lebih melihat pertunjukkan teater di atas panggung daripada sebuah film. Sebuah kesan otentik yang belum oernah diberikan oleh banyak film yang pernah saya tonton. Gila!

(sepertinya bakal nyambung lagi) – at Pelabuhan Gilimanuk

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on February 7, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: