Star Wars Episode VII : The Force Awakens (review by Yusron Fuadi)

Review ini saya copas dari note facebook-nya mas Yusron Fuadi. dengan alasan, saya tidak tahu bagaimana meng-copy link note di facebook untuk saya sebarkan.

Review Star Wars Episode VII by Yusron Fuadi

Facebook : https://www.facebook.com/MasYos | twitter : 

spoiler alert, dan selamat membaca.

———————————————-

The Force Awakens A DAMN LONG FULL SPOILER REVIEW FOR THOSE WHO HAS SEEN IT
> > > > > > > > >
Sebagai orang yang cukup gila untuk memberi nama anaknya “Akasacara” yang dalam Bahasa Jawa Kawi artinya “Yang Berjalan Di Angkasa”, ada kemungkinan review kali ini sangatlah subyektif. So thats my positioning.. Still reading? Fine Its not a perfect movie. Berangkat dari premis yang sama seputar “turn-of-the-age”, sebuah tema yang sudah pernah kita lihat sebelumnya di American Graffiti (1973) dan Star Wars Episode 4 : A New Hope (1977). Perjalanan Rey (Daisy Ridley) bisa dianalogikan dengan perjalanan awal Luke Skywalker. Kalau ada yang bilang The Force Awaken ini back bone ceritanya mirip dengan A New Hope, maka pendapat itu tidak bisa disalahkan. Wait, jangan lupa juga kisaran tahun 70 atau 80an sudah ada film bagus tentang perjalanan seorang petinju muda atau pengendara Interceptor yang membantu sekelompok orang di sebuah truk tanki dan kebetulan dua film itu juga muncul tahun 2015 ini, reinvigorated, reloaded, revisioned, reawaken it or whatever you want to call it. Jadi jika familiarity Creed, Fury Road ataupun The Force Awaken dengan pendahulunya dianggap mencegahnya dari film bagus ya monggo. And those three are GREAT MOVIE, familiar, yet fresh. Ini adalah film Star Wars paling emosional (jangan lupa kalimat pertama saya). Koreksi, ini adalah film paling emosional yang saya tonton tahun ini. Kalau diingat ingat hanya ada beberapa film yang bisa bikin keparat seperti saya ini menangis seperti anak 10 tahunan, ET, Forest Gump, Grave of Fireflies, My Neighbor Totoro, Life is Beautiful,The Departure, The Intouchibles adalah beberapa diantara mereka. Dan ini ada hubungannya dengan akting dan storytelling. Wait? Akting? In Star Wars? Yes. Isnt that weird? Pertama, casting department sangat berhasil menemukan trio penerus Han-Leia-Luke, plus bonus. Kali ini kita punya Finn (John Boyega), Rey (Daisy Ridley), Poe (Oscar Isaac), plus bonus Kylo Ren (Adam Driver). I mean who the hell are Daisy Ridley, John Boyega (hanya Attack The Block yang pernah saya tonton), and the asshole dude in Ex Machina? And Adam Driver with his weirdly-distracting-unsymmetrical face? Its like weirdest ingredient you can expect. Well, trust my words that Rey can make you forget sour after taste of Katniss Everdeen. And you dont wanna fuck with her. Or do you? Nevermind. Rey adalah gadis yang tangguh, independen, sekaligus rapuh dan kesepian. Saat kecil dia ditinggalkan orang tuanya di planet Jakku dan tumbuh menjadi scavenger (ternyata diartikan sebagai pebangkai). Nasib mempertemukan dia dengan Finn, seorang Stormtrooper galau yang mempertanyakan arti kehidupan, haissyyyyyyhhh…. Finn dan Rey is awesome. Not in a sense of Robert De Niro or Meryl Streep is awesome. Reyi-Finn adalah dynamic duo yang luar biasa, mereka main dengan sangat jujur dengan ekspresi yang original. Rey adalah tokoh pertama yang bilang “Shhhhhh !!!!!” pada atromech droid, kita tahu bahwa droid kadang berisik, dan seingatku belum ada yang mengekspresikannya dengan sangat genuine. Reyi bisa switch antara cewek tangguh ke rapuh dalam hitungan detik. And his vulnerable will make you love her more. Finn adalah sumber utama humor di film ini, tenang, dia begitu presisi memastikan tidak jatuh ke cheesy-awkward-comedy yang semakin menjangkiti Hollywood. Dalam hitungan detik pula dia bisa berubah menjadi seserius Denzel Washington saat Maz Kanata (Lupita Nyong’o) meragukan keberaniannya. “You dont know me.. You dont know the First Order like I did”. Dengan screen time yang terbatas kita tahu karakter Poe itu seperti apa, saat dia menginisiasi percakapan dengan Kylo Ren, ” So, I talk first or do you talk first”. He is reckless, and dont give shit… Ada tema father-son, father-daughter, bahkan bromance yang efektif berkat chemistry yang luar biasa berhasil dibangun oleh Rei-Han-Finn-Poe plus Kylo Ren. Dan mungkin ini adalah penampilan terbaik Harrison Ford sejak Witness ataupun The Fugitive. Dia lebih tua, lebih bijaksana (sedikit), tapi egonya tetap sama. Lihat ekspresinya saat Rei dengan senyum penuh kebanggaan menunjukkan bahwa dia berhasil memperbaiki Millenium Falcon. Beberapa karakter yang kurang mendapat perhatian justru Supreme Leader Snoke (Andy Serkis), Captain Phasma (Gwendolyn Cristine) dan General Hux (Dohmnall Gleeson). Menurut bocoran di Episode 8 baru tokoh tokoh ini . Saya sih berharap justru captain Phasma yang duel dengan Finn dipertengahan film. I wish they have more screen time DISCLAIMER : Saya Sudah Mengingatkan Bahwa Ini Full Spoiler Lho Ya. So, Kylo Ren adalah anak Han Solo dan Leia. Pertama kali itu disebutkan. This is it? A gimmick twist? Yes it is a gimmick twist. Tapi letak jenius Abrams adalah cara menampilkan sekuens sekuens selanjudnya. And yes, Kylo Ren is one of the great villain in Star Wars Universe. Dia hanyalah anak muda yang tersesat. Ada kebimbangan yang luar biasa dihatinya. Apapun yang dia lakukan adalah cara dia untuk memastikan The Light Side of The Force tidak membuatnya goyah. Saat Han memutuskan untuk melakukan usaha terakhir membawa kembali Ben kembali ke Leia, jujur , I had a bad feeling about this, somehow masih berusaha meyakinkan diri “JJ is not going to do this, this cant be”. And… Bzzztttttttttttnggghhhtttt… One of the most iconic-likable character in movie history is dead, in the hand of his own son, even Kylo Ren himself cannot resist the tears, gesture dan ekspresi Han Solo setelahnya itu adalah kuncinya, saat dia mengusap wajah anaknya seolah ngomong, “Ra popo le, Bapak ikhlas…”. Dammmnnnnn !!!!!!! Air mata ini tidak terbendung…. (sumpah, istri saya saksinya) What a beautiful acting on a tragic, great death in a great sequence in a great movie. Jadi ingat beberapa fanboy diluar negeri yang komen “Shame on you Whedon !!!” saat Quicksilver mati. Kalau fanboy di Indonesia saya yakin lebih dewasa dari itu. Right?. Ini adalah film yang progresif, tokoh utamanya cewek, dibantu oleh negro dan latino. Abrams memutuskan untuk tidak peduli saat ada ancaman boikot bahwa Star Wars haruslah caucasian-male. He took risk, and it paid handsomely. Bukan itu saja resiko yang diambil Abram, dia memutuskan untuk mengacuhkan Expanded Universe yang terlanjur “nemplok” di otak beberapa ratus ribu penggemar setia. Dia juga mengambil resiko untuk melakukan improvisasi terhadap apa yang bisa dilakukan The Force. Belum pernah ada karakter yang sanggup menghentikan blaster di udara. But when that happen, with enhance of quick editing dan distinctive sound editing. We got, “Whoa !!”, tanpa sempat protes. JJ took risk, confidently, sama persis seperti George Lucas saat dulu membuat film “aneh” berjudul Star Wars. Dan saat lightsaber terbang melintasi Kylo Ren dan jatuh ke tangan yang lebih berhak. Thats what cinema is all about. Cheering on something you didnt think possible before.
Oke lets get technical. Its soooo good to see Star Wars back in 35 mm and 70 mm again. It feels like a movie again. Buat yang belum terlalu ngeh, kebetulan di bioskop saya diputar trailer Civil War sebelum TFA, itu diambil dengan ARRI Alexa dengan format digital. Tanpa terlalu bernafsu untuk membandingkan, tolong lihat bedanya. At least you know… Kalaupun nggak cukup peka, yo ra po po. Bersama Nolan dan Tarantino, JJ Abram tetap setia pada selulloid. Dari cara pengambilan gambar, JJ Abram seperti mendapat bisikan dari mendiang Jedi John Ford atau Sith Lord Akira Kurosawa. Dia akhirnya belajar untuk tidak selalu menggerakkan kamera seperti di Star Trek. Some of the greatest moment di TFA adalah saat kameranya stil, seperti saat Rey diambil Extreme Long Shot dengan background reruntuhan Star Destroyer. Saat kamera bergerakpun kita masih tahu harus melihat kemana, seperti di sekuen kamera bergerak mengelilingi Finn yang sedang melihat Poe menghabisi beberapa Tie Fighter di angkasa. Kita tahu pasti bahwa kita tidak punya pilihan selain HARUS melihat X-Wing 2.0 di kejauhan. Thats a great cinematography is all about. JJ Abram tahu bahwa dia punya segala fasilitas untuk membuat shot mengelilingi dan tracking mendekati Starkiller Base seperti penyakit Peter Jackson akhir akhir ini. But no, he keep it simple, hampir kayak matte painting di tahun 80, sekaligus tetap menjaga fakta bahwa Starkiller base itu besar lho, patut diapresiasi juga tekad Abrams untuk menggunakan praktical effect,sangat banyak animatronics yang masih diterapkan disini. Apa karena tidak kuat membayar animasi? Mengingat Lucasfilm sendiri memiliki Industrial Light and Magis, tentu bukan itu jawabannya. Makhluk celeng raksasa di Jakku cukup mengundang senyum, kita tahu bahwa itu boneka yang digerakkan oleh banyak orang, but its still more real and tangible daripada “sekedar” animasi. And the Millenium Falcon,saya sebagai praktisi film amatiran yang kadang menganalisa VFX-By-Frame, kelihatan sekali kalau JJ memastikan Millenium Falcon tidak jatuh ke level “ah itu animasi”. Sepertinya mereka melakukan reverse engineering, mereka buat miniaturnya seperti aslinya, trus discan perbagiannya. Satu satunya informasi yang mengatakan Millenium Falcon ini adalah animasi adalah gerakannya. The texture, aging, details,unperfection, dirtiness, are perfect. Dan melihat JJ mengkoreografi Millenium Falcon, terutama saat Rey masih berlatih menerbangkannya, saya seperti melihat JJ kecil menabrak nabrakkan kapal ikonik itu di pasir depan rumah sambil mulutnya mengeluarkan suara, “Bbzzrrhhhhhhhh”. Just like I did. It felt so personal and playful. Lightsaber is a special weapon. Disini JJ membuatnya spesial lagi. Tidak ada lagi duel lightsaber (dengan manusia, alien, ataupun droid) setiap 10 menit. Diceritakan bahwa Kylo Ren pun belum belum terlalu sempurna menguasainya. Apalagi Finn atau Rei yang baru pertama kalinya memegang senjata itu. Ada ketakutan dan keragu raguan, sekaligus kenekatan di tiap tebasan, mengingatkan pada duel realistik di film Rashomon. Film ini juga memperbaiki apa kelemahan di OT maupun PT, Stormtrooper maupun Clonetrooper cannot shot cannot shoot a damn thing and no more than a minions. Here, Stormtrooper is dangerous again. Film bahkan dibuka dengan adegan pembantaian masal yang jarang ditampilkan di film sebelumnya, sekaligus ngeset tone bahwa, “No one safe, its the real character with the real sense of danger now”. They even have consciousness. Yayan Ruhian dan Iko Uwais muncul lumayan singkat, namun cukup untuk membuat sorak sorai di kalangan penonton Indonesia , Mad Dog bahkan punya beberapa dialog dengan Han Solo. Mad Dog mengintimidasi Han Solo. How Cool Is Thatttt !!!!!! The Force Awaken seperti pendahulunya di tahun 80an, dipenuhi dengan karakter yang tidak sempurna, mereka bukanlah pahlawan super, namun orang orang (atau alien, droid) biasa yang diliputi keraguan, ketakutan dan ketidakpercayaan diri, dan kadang mengambil keputusan yang salah, just like the rest of us. Which is exactly the reason why among all of the flashy-scifi-alien-starship-things Star Wars is a story about humanity itself that we can easily related to. It had ups and down. But endure for four decades nonetheless. It is a cultural phenomenon. And for the unexpected emotional impact, The Force Awaken is ranks among the best Star Wars movie and I can safely say Its one of the best movie in 2015. Ex Machina, Mad Max and The Force Awaken. Its been a great year to be a GEEK. NB: Saya nonton di hari pertama (untuk menghindari spoiler), dan kemungkinan nonton bersama afficionados yang lain, karena anehnya, untuk pertama kalinyas Star Wars mendapat applause di Indonesia. Did that happen also in your theater?
Advertisements

~ by imankurniadi on December 21, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: