#catatanrantemario part 9

#catatanrantemario part 9

Kurang lebih selama satu jam kami di puncak, untuk ber-eforia atas pencapaikan kami hari itu. Lalu kami kembali turun ke pos 7, dan pukul 09.00 kami telah selesai berkemas dan pulang. Kami tidak akan lupa dengan kesan dan pengalaman kami saat naik menggapai pos 7, karena kami harus pulang dengan selamat, maka kami juga akan bersiap untuk menghadapi trek turun. Perjalanan ke pos 6 sampai dengan pos 3, alhamdulillah masih saya sanggup dan fit. Jalur masih tertutup pepeohonan, tidak terik, tiupan angin juga kadang masih terasa. Dari pos 3 ke pos 2 adalah tantangan yang lebih berat. Dengan kondisi fisik yang sydah terkuras lebih dari setengah, saya berusaha untuk berjalan lebih hari-hari, karena pos 3 ke pos 2 trek turunan sangat terjal, labil, dan berdebu. Hampir setiap 20 langkah saya berhenti, engkel dan lutut saya cukup nyeri. Pijakan kaki harus sangat hati-hati, terkadang saya menginjak batu yang labil dan terjatuh untuk saja teman-teman sudah jauh di depan, saya jalan sendirian, sehingga batu tsb tidak menimpa teman-teman saya.

Teman-teman sudah tiba duluan di pos 2, saya termasuk yang terakhir tiba. Beristirahat sekitar 30 menit, e refill botol minuman, dan kami melanjutkan perhalanan k epos 1. Dari pos 3 ke pos 2 juga memiliki tantangan otentik. Jalan naik turun melipir tebing, hutan , dan jalanan dipenuhi denngan akar pohon. Kemudian rtiba di jalur yang terbuka (menuju pos 1), yaitu jalut pekerbunan kopi. Terk matahari dan debu mendominasi. Di jalur menuju basecamp ini saya lumayan stress. Karena rasanya kok tidak sampai-sampai, rasanya kok perjalanan sangat amat jauh, tidak kunjung tiba,, berbeda saat saya awal mulai mendaki 2 hari lalu.

Akhirnya saya bertemu dengan segerombolan warga, anak-anak, dan beberapa orang tua, yang sedang bermain motor. Lalu saya duduk mengistirahatkan pantat, dan mencoba menjadi tamu yang baik dengan memberikan senyuman ramah walau sudah 4 hari tidak mandi.

Senyuman memang bahasa yang universal.

Saya permisi, dan kemudian saya membagikan permen kepada anak-anak tersebut. Saya juga mengobrol dengan salah satu ibu-ibu yang sedang menggendong bayinya. Akhirnya obrolan tiba pada sang ibu menawarkan saya untuk mampir ke rumahnya untuk secangkir kopi (dan ternyata itu bukan cangkir, namun gelas bbsi yang sangat besar seperti gayung) (bersambung)

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on October 23, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: