Everest (2015)

Berikut review Everest yg saya tonton minggu lalu, hari ini sdh premiere, bisa disaksikan di bioskop kesayangan anda.

Everest (2015) menceritakan kisah nyata tragedi pendakian Everest pada tanggal 10 mei 1996. Beberapa orang berhasil ke puncak tertinggi di dunia tersebut namun beberapa dari mereka tidak berhasil pulang dengan selamat. Film ini sebetulnya hampir mirip dengan Into Thin Air (1998) yang menceritakan kisah yang sama. Perbedaannya Into Thin Air naskahnya dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh Krauker (berjudul sama)- salah satu pendaki (jurnalis) yang selamat dari tragedi tersebut. Sedangkan Everest screenplay-nya ditulis oleh William Nicholson dan Simon Beaufoy (penulis berkelas Oscar, sering mendapat nominasi dan juga memenagkannya), cerita diambil dari beberapa wawancara kepada survival pendakian di masa itu. Cmmiw, perbedaan lain terletak pada pusat certanya. Into Thin Air cerita berpusat pada tokoh Scott Fischer sedangkan Everest cerita berpusat pada tokoh Robert Hall. Scoot Fischer di Everest (2015) diperankan oleh Jake Gyllenhaal dan Rob Hall diperankan oleh Jason Clarke.

Robert Hall adalah guide professional, organizer Adventure Consultant, yang menawarkan jasa pendakian ke puncak Everest bagi para pendaki non professional. Mereka menawarkan (semacam) “open trip” bagi orang-orang yang memiliki mimpi mencapai tempat tertinggi di dunia. Adventure Cunsultant menjadwalkan open trip tersebut dan beberapa orang berminat untuk bergabung. Antara lain adalah: Frank Fischbeck, Doug Hansen, Stuart Hutchison, Lou Kasischke, Jon Krakauer, Yasuko Namba, John Taske, Beck Weathers. Beberapa dari mereka belum pernah memiliki pengalaman mendaki gunung di ketinggian 8000 m di atas permukana laut. Namun Adventure Consultant bukanlah satu-satunya hike-organizer/tim yang berencana mendaki di tanggal yang sama. Ada juga tim yang lain: yaitu tim Imax (kalo ga salah tim Afrika Selatan), tim Mountain Madnees yang dipimpin oleh Scott Fischer (Jake Gyllenhaal), dan tim Taiwan.

Saya sendiri belum menonton dan membaca Into Thin Air yang ditulis oleh salah satu survival, Krauker, wartawan majalah Outpost. Namun tragadi ini juga meng-encourage survival lain untuk menulis. Anatoli Boukreevsalah satu tim Mountain Madness juga menulis buku The Climb, menceritakan kejadian tragdi 10 mei 1996 menurut versinya. Saya telah mendownload buku Into Thin Air, dan sekilas membaca kemudian ada beberapa kalimat yang kutip sebagai berikut: “..and the memories of the survivors had been badly distorted by exhaustion, oxygen depletion, and shock. At one point during my research I asked three other people to recount an incident all four of us had witnessed high on the mountain, and none of us could agree on such crucial facts as the time, what had been said, or even who had been present. The unreliability of the human mind at high altitude made the research problematic.”.

Kabarnya isi dari Into Thin Air menjadi perdebatan,dan Anatoli menuis The Climb untuk menceritakan versinya. Jika saya mengambil persepsi saya sendiri setelah mnonton Everest, saya menyimpulkan tragedy 10 Mei 1996 tidak perlu memakan korban banyak karena kesalahan-kesalahan yang terjadi selama pendakian. Mencoba untuk tidak spoiler (toh ada di trailernya), factor alam bukan yang menyebabkan satu-satunya trageri itu terjadi. Ada hal-hal lain yang masih bisa “dikontrol” oleh manusia. Termasuk sifat manusia itu sendiri. Sedikit mengutip dialog dari film ini, “The problem isn’t altitude, but attitude.” (masalahnya bukan terletak pada ketinggian, namun sikap)

Film ini pasti menarik banyak penonton. Teman saya saja men-japri saya untuk dibelikan 11 tiket via mtix, sayangnya saya tidak mempunyai saldo sebanyak itu. Apalagi mengingat ‘hype’ pendakian yang sedang ‘anget-anget-tai-kucing’ di Indonesia. Film ini sangat bagus dijadikan referensi menajemen perjalanan, khususnya bagi para organizer yang mencari profit di bidang pendakian gunung. Hal-hal yang berkaitan dengan safety prosedur juga sedikit disinggung. Filmnya menurut saya tidak terlalu wow. Tapi suatu saat nanti pengen sih hanya sekedar berkunjung ke EBC atau ABC.

Cc fandy, tolong diaudit typo2nya – with Ajeng and Fandy

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on September 16, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: