Kreuzweg (2014)

Maria hidup di antara dua dunia. Di sekolah ia gadis berusia 14 tahun dengan minat khas anak remaja. Di rumah, di tengah keluarga, ia mengikuti ajaran Persaudaraan Pius XII yang sangat konservatif dalam menafsirkan agama Katolik. Segala sesuatu yang dipikirkan dan dilakukan oleh Maria harus dapat melewati ujian di hadapan Tuhan. Dan karena itu ia selalu dibayangi ketakutan salah langkah. Sementara Ibu Maria selalu memaksakan kehendaknya agar anaknya mengikuti jalan iman, ayahnya justru lebih sering diam dan tidak berbuat apa-apa di saat yang genting. Keadaan semakin meruncing ketika terjadi benturan dengan para guru dan dokter. Maria berusaha keras menyenangkan semua orang, tetapi malah diserang dari semua arah. Bagaimana mungkin ia menyelaraskan perasaannya terhadap seorang teman sekolah dengan kewajiban untuk semata-mata mencintai Tuhan? Mungkinkah Tuhan menuntut pengorbanan luar biasa agar adik laki-laki Maria dapat sembuh dari penyakitnya?

Dietrich Brüggemann memaparkan derita batin protagonis mudanya melalui 14 tahapan Jalan Salib – dari “Yesus dihukum mati” sampai “Tubuh suci Yesus dimakamkan”.

Sumber : www.kreuzweg-derfilm.de /http://www.goethe.de/ins/id/lp/prj/gci/flm/idindex.htm

Awalnya saya merasa kesal saat opening remarks disampaikan pleh panitia German Cinema, dia (she) berkata kurang lebih seperti ini, “filmnya single take”, argh! Kesal. I’s ruin the fun.

“Kreuzweg” artinya “jalan salib”.  Saya penganutagam yang berbeda, dan setelah saya googling, berikut adlaah 14 jalan salib:

1.   Yesus di hukum mati
2.   Yesus memanggul salib
3.   Yesus Jatuh untuk pertama kalinya
4.   Yesus berjumpa dengan ibu-Nya
5.   Yesus ditolong oleh simon dari Kirine
6.   Wajah Yesus diusap oleh Veronika
7.   Yesus jatuh untuk kedua kalinya
8.   Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya
9.   Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
10. Pakaian Yesus ditanggalkan
11. Yesus disalibkan
12. Yesus wafat di kayu salib
13. Yesus diturunkan dari salib
14. Yesus dimakamkan

(sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Salib)

Film menceritakan sebuah kejadian di kehidupan manusia biasa, dalam 14 babak. Kejadian di kehidupan manusia biasa itu mengambil perspektif utama si Maria, si tokoh utama. Sudah tertulis di atas, siapa Maria itu. Awalnya saya nggak ngeh, ternyata 14 babak jalan salib itu adalah  tradisi agama Khatolik yang dimulai abad ke 14. Film ini memiliki 14 babak/bagian, setiap bagian diwalai dengan judul 14 jalan salib tersebut. Namun karena saya amsih dangkal, saya kesulitan mencernanya. Misalnya saat babak pertama “Yesus di hukum mati”, menggambarkan scene Maria dan beberapa anak lainnya sedang berdiskusi dengan seroang Pastur. Berdiskusi tentang Tuhan, kematian, pengorbanan, dan lain-lain. Setiap bagian di film ini pengambilann gambarnya single take, sehingga totalnya ada 14 take. Filmnya didominasi dengan dialog-dialog panjang, yang terkadang tidak berarah, kamera tidak bergerak sama sekali, satu kali shot. Beberapa cerita dominan menggambarkan Maria yang sedang konflik dengan diri sendiri. Maria banyak bertanya, mungkin dia ragu atau itu adalah cara meningkatkan keyakinannya. Lingkungannya memberikan respon yang berbeda: Teman-temannya mengolok-olok dia. Ibunya selalu melihat banyak kesalahan di diri Maria. Pastur di bilik pengakuan dosa mencoba memberikan pencerahan. Bernadette, relativesnya yang berasal dari Prancis yang selalu bersikap manis. Dan juga anak laki-laki yang mungkin menyukai Maria. (yang saya tangkap) film ini mengambarkan perkembangan psikologis seorang remaja. Di usia 14, di masa pubertas, di masa menuju dewasa, Maria mengalami sebuah tahap perkembangan operasional formal (ini menurut teori perkembangan kognitifnya Piaget). Di dalam perkembangan ini seorang anak (remaja) mulai bisa berfikir abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya (sumber: baca lagi Wikipedia). Jika ditinjau dari teori perkembangan ego-nya Erik Erikson, pada masa ini seorang anak (remaja) mulai mencari identitas. Ego anak (remaja) membuat lebih peka terhadap perasaan bahwa dirinya adalah unik. Krisis identitas memang akan dilalui, untuk membentuk identitas yang lebih stabil. (correct me if I wrong, udah lama banget nggak belajar psikologi perkembangan soalnya).

Dari synopsisnya, sepertinya memang sang sutradara punya pengalaman pribadi yang sangat meninggalkan kesan tersendiri, dan dia ingin menungkannya di media film.

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on September 14, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: