Im Labyrinth des Schweigens (Labyrinth of Lies) – 2014

Im Labyrinth des Schweigens (Labyrinth of Lies)

Ini film di Festival Film Jerman yabg saya tonton. Beruntung saya bisa menonton film ini dan belajar hal baru.

Labyrinth of lies, based on true story, menceritakan tentang Johann Radmann (Alexander Fehling) seorang jaksa baru, muda, dan memiliki ambisi yang terlibat dalam penyelidikan kasus “Auschwitz”. Film ini dimulai dari seroang seniman mantan penghuni Auschwitz yang secara tidak sengaja mengenai seorang guru yang dulunya adalah penjaga camp concentration tersebut. Radmann tidak mengatahui masa lalu, tidak mengetahui Auschwitz. Orang-orang tidak membicarakannya, orang-orang yang hidup di masa lalu. Dalam penyelidikannya Radmann masuk dalam kebohongan-kebohongan yang rumit seperti sebuah labirin. Sebagai geenrasi muda, dia mendapatkan penyangkalan, pengabaikan, penolakan dari orang-orang masa lalu yang ingin melupakan atau menghapus sejarah. Sebiah sejarah Auschwitz yang sangat tabu untuk dibicarakan. Ada satu scene yang menarik, saat Thomas Gnielka (jurnalis) berdepat dengan Radmann, “anda seorang jaksa tidka tahu Auschwitz?” (lalu dia bertanya kepada anak-anak muda yang melewatinya dan menanyakan pertanyaan satu-persatu “anda tahuAuschwitz?” “anda tahu Auschwitz?” “anda tahu Auschwitz? Usiamua sekitar 20 tahun kan?”, tidak ada yang menjawab tahu. Seprtinya generasi Radmann (yang lahir sekiar tahun 1950an) memang tidak mengetahui sejarah kelam Auschwitz tersebut. Orang-orang tidak membicarakannya, entah malu, atau menyesal. Namun dia tidak berhenti, dan terus melakukan penyelidikan hingga terbuka fakta satu-persatu, untuk ‘keadilan’. Dan film ini menceritakan latar belakang mengenai peristiwa pengadiilan terbesar dan terpanjang yang mengadili para pelaku-pelaku camp concentration Auschwitz.

Saya sendiri kurang akrab dengan istilah “Auschwitz”. Setelah saya goongling ternyata Auschwitz adalah nama dari Nazi camp concentration itu sendiri. Saya teringat cerita-cerita ayah saya saat tinggal sementara di Jerman, dia pernah berkunjung ke situs camp “holocaust” tersebut. Sebuah situs yang menjadi warisan dunia oleh UNESCO, yang juga merupakan sebuah monumen peringatan semangat manusia yang dalam kondisi mengerikan kesulitan menolak upaya dari suatu rezim yang menekan kebebasan dan menghendaki lenyapnya keseluruhan suatu ras manusia. Bangunan ini adalah tempat penting untuk dikenang seluruh umat manusia atas pembantaian karena kebijakan rasis, kegelapan dalam sejarah kemanusiaan, tanda peringatan dan konsekuensi tragis dari ideologi ekstrim dan penolakan martabat manusia (sumber: Wikipedia).

Film ini merupakan film yang mewakili Jerman dalam ajang Academy Awards (Oscar) untuk nominasi Best Foreign Language.

Tidak jarang saya menonton film dengan tema Nazi dan peristiwa Holocaustnya, dibuat oleh Jerman atau Hollywood. Menonton film ini kita belajar sejarah. Saya berasumasi generasi muda di Jerman pasca perang dunia 2 tumbuh tanpa mengetahui sejarah, karena mungkin generasi sebelumnya merasa malu dan menyesal denngan masa lalu kelam yang mereka buat. Namun, Radmann sebagai generasi baru tersebut mencoba membuka kembali tabu-tabu masa lalu generasi orangtuanya. Kata pak Adi guru sejarah SMA 3 Malang, “buat apa kita belajar sejarah? Agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama”

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on September 14, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: