2 jam terakhir mencari scene si youtube Mahar sedang menjemur baterai yg diletakkan di tap rumah, namun tidak ketemu juga…
Malah mendapati kutipan…”hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.”

Laskar Pelangi tidak hanya menginspirasi dan menghibur, namun juga penting. Sebagai sebuah film, Laskar Pelangi menuturkan Indonesia dengan jujur. Heterogenitas disajikan dengan segar. Perbedaan itu tidak hanya indah, namun juga seru.

Lalu saya berfikir (ulang; merecall LTM)….

Penuturan-penuturan di dalam film Indonesia dapat dijadikan rekam sejarah. Seperti Janji Joni. Ada satu percakapan saat di produser musik berkata kepada Joni (diperankan oleh Nicolas Saputra) “memangnya kamu punya hape?”. Sebuah percakapan yang hanya dipahami terakhir oleh generasi 90an.

Atau contoh lain seperti film Sang Penari ttg budaya ronggeng. Di mana ronggeng menjadi media untuk menarik simpatisan partai politik tertentu (saat itu adalah PKI). “tubuh saya menari tapi hati saya tidak kang…”

Dokumentasi kehidupan orang Indonesia dengan jujur dapat juga ditemukan di film-film pengdek lokal yang tidak terdistribusi secara nasional. Misalnya yang agak baru adalah Sepatu Baru tentang kepercayaan melempar celana dalam ke atap rumah agar tidak turun hujan. Film-film.anak-anak Smp satu atap karangmoncol Purbalingga yang menceritakan uang receh yang langka, lawuh boled karena buta huruf, kepercayaan terhadap pohon tua, dan lain-lain.

#acak

View on Path

Advertisements

~ by imankurniadi on January 14, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: