Pendakian Gunung Rinjani: Sebuah Catatan Kaki dan Hati Yang Tinggi (2014)

Pendakian Rinjani, kali ini.

Saya mengikuti trip yang dikoordinir oleh seorang teman. Tanggal 30 agustus pukul 16 kami berkumpul di bandara Lombok. Dari total 13 org dlm tim, hanya 3 org yg saya kenal, Erwin, Ami, dan Denz si ketua rombongan. Setelah bersalaman saling memperkenalkan diri singkat, kami berangkat. Di tengah perjalanan kami mampir ke sejenak di basecamp para pendaki Rinjani, Menikmati teh hangat dan atau kopi, sekalian makan malam, nasi ayam sambal dan sayur tempe lezat dengan pedas yg pas. Pukul 10.30 malam kami tiba di rumah keluarga mas endra (porter), istirahat utk mempersiapkan diri esok pagi. Pukul 5 pagi sebagian dari kami sudah bangun, dan me re-packing gear-gear pribadi maupun kelompok. Pukul 8 pagi kami berangkat. 1 tim terdiri dari 13 pendaki dan 5 porter. (To be continued..) View on Path Part 2. 31 juli pukul 08.00 kami berangkat dr rumah mas endra. Porter akan brgkt duluan, krn mereka masih mempack barang2 spt bahan makanan utk 4 hari, alat masak, tenda2, matras2, barang2 pribadi seperti sleeping bag (milik anggota tim perempuan). Trak rinjani sangat amat panjang. Dengan kondisi 70% jalur savana yg cukup landai, namun berjalan di musim kemarau dg matahari yg sangat terik lumayan menguras keringat, emmbakar kulit, dan mengecangkan dahaga. Tiba di pos 1 pukul 10.00 saya pun masih bersemangat. Kelompok sudah terpisah menjadi 2, depan, belakang. Saya termasuk kelompok depan. Para porter yg brgkt belakangan sudah menyusul kami. Kemudian beriringan dengan para turis asing dan porter dan guide mereka, kami melanjutkan perjalanan dg santai dan tiba di pos 2 pukul 11. Dengan kelompok belakang kami terpisah sekitar 30 menit, dan kami makan siang lebih awal. Para porter telah menyajikan masakan yg luar biasa lezat lengkap, dengan teh hangat dan buah nanasnya. Semangat saya masih terjaga dan saya ingin tetap seperti itu. Akhirnya saya memutuskan utk berangkat duluan, tidak ingin istirahat terlalu lama. Dan beberapa anggota tim jg menyusul dan juga akhirnya menyalip saya. Kami tiba di pos 3 sekitar pukul 14.30. Saat ini sepertinya kelompok terpisah menjadi 3 grup, depan, tengah, belakang. Grup depan, terdiri dari saya, erwin, ami, dan 4 anggota pria. Tengah, 3 anggota perempuan, dan sisanya tertinggal di grup belakang. Sebetulnya saya sempat khawatir apakah pendakian kali ini akan terkelola dg baik krn kami baru saling mengenal satu sama lain. Namun, jika boleh memberikan teguran yg positif, pengelolaan pendakian rinjani kemaren mungkin saya kasih nilai 60 saja. 60 untuk pengelolaan waktu dan komunikasi antara tim. Saya pun merasa agak cenderung egois, krn ingin berjalan terus tanpa menunggu teman yg tertinggal. Saya hanya berfikir, “ah kan di belakang ada ketua grupnya sweeper”. (To be continued…) View on Path Part 3. Pukul 15 saya brgkt dari pos 3 menuju plawangan sembalun. Keadaan trek nanjak terus dg elevasi bervariasi 45-60 derajat. Ada yg bilang ini adalah “tanjakan penyesalan”, “bukit penyesalan”, atau “7bukit penyesalan”. Grup depan terpisah mjd 2. Grup paling depan terdiri dr erwin dan 3 anggota pria, dan saya serta ami yg mendaki dengan lambat karena tanjakan dan bukit yg panjang. Musim kemarau membuat trek sangat kerjng dan sangat berdebu. Beberapa lintasan jg merupakan pasir tanah yg menguji kemampuan kita untuk berjalan 3 langkah turun 2 langkah. Hari mulai gelap, dan angin dingin mulai menusuk. Di pertengahan jalan perut sy “sundu’en”. Di tengah trek menanjak saya memaksa mengunyah 1 batang soyjoy dan 1 sachet madurasa untuk mengisi lambung. Terdapat sesama pendaki beristirahat yg memberi sy kurma. Alhamdulillah saya ngentut beberapa kali dan perut terasa kembali normal. Untuk mencapai Plawangan Sembalun dari pos 3 saya dan ami membutuhkan waktu 4,5 jam. Pukul 19.30 kami tiba, tenda sudah berdiri dan kami beristirahat denan segelas teh hangat. Rasa khawatir hadir saat 2 rekan kami tiba sekitar pukul 20.30. Ternyata masih ada 3 yang tersisa di belakang. Ketua grup dan 2 org peserta wanita. Salah satu anggota kami, ternyata baru pertama kali mendaki gunung. Ya, pertama kali. Ya, dan langsung gunung rinjani. Setelah mengetahui hal ini, spontan saya berfikir, gila! Dia tidak kebayang bakal akan berjalan dengan kondisi jalur trekking seperti ini. Dia jg tidak kuat mengangkat tasnya sendiri hingga akhirnya dibawakan oleh si sweeper. Kloter terakhir tiba pukul 10 malam. Artinya mereka membutuhkan waktu sekitar 14 jam. Salah satu persiapan sebelum mendaki saya harus mendapatkan banyak informasi ttg jalur pendakian tsb. Saya bertanya kepada kak esta, cyntia, agung, dan teman lainnya mengenai trek di rinjani. Saya cari tahu dr sumber2 internet, catatan lerjalanan, travel blog. Dr kumpulan informasi ini saya mempersiapkan: makanan ringat padat berprotein dan berkarbohidrat, air minum, buff sbg masker, kaos dryfit, trekkingpole. Menurut saya si EO jg harus mengumpulkan informasi mengenai latar belakang para peserta pendakian. Minimal dg mengumpulkan info tsb, dapat membuat plan A B C sbg antisipasi dan sekaligus memberikan gambaran kepada peserta bagaimana kondisi trek nanti, apa yg harus dipersiapkan, dan untuk mempersiapkan mental. Saa rasa komunikasi pra-pendakian ini belum dilakukan dengan maksimal, masih amat sangat banyak yg perlu dibenahi. Secara fisik saya tergolong obesitas. Tapi saya melakukan persiapan yg cukup lama demi pendakian ini. Saya rutin bersepeda untuk melatih nafas dan stamina. Dan saya rutin naik (dari lantai 10-14) dan turun (dari lantai 14-1) tangga kantor saya untuk menguatkan persendian. Salah satu tujuan melakukan persiapan mendaki adalah agar kita tidak menyusahkan orang lain saat melakukannya. Prepare the best for the worst. (To be continued..) View on Path Part 4. Semakin kita terlambat dari jadwal, konsekuensinya ada 2. Pertama, waktu istirahat yg semakin sedikit. Kedua, jadwal yg semakin molor. Atau konsekuensi lainnya: membatalkan salah satu agenda. Saya, erwin, ami, satu denda, berusaha tidur lelap pukul 10, hingga tengah malam ami terbangun dan mengaku merasakan nafas yg sesak dan jantung berdetak kencang. Dia meminta oksigen namun tyt tabung tsb tidak ditemukan. Mgkn terjatuh. Saya dan erwin terbangun. Porter juga demikian. Porter menyiapkan air hangat sedangkan saya coba memijit2 pundaknya agar membuat dia semakin rileks. Ami cukup histeris dg keadaannya malam itu, tentu membuat kita berdua khawatir. Akhirnya pertolongan pertama dg membuat minuman hangat dan menghirup bau balsem geliga agar nafasnya terasa lega. Alhamdulillah dapat mengatasi dispute fisik ami malam itj. Pagi itu pukul satu saya tidak bisa tidur. Saya melihat senter2 sudah mulai berjalan meninggalkan plawangan sembalun, menuju puncak. Saya pun semakin gelisah ingin segera mempersiapkan diri untuk muncak. Lalu terdengar tenda sebelah berkata “kita muncak bareng, jam 1/2 3”. Tetap, saya tidak bisa tidur walau sudah mencoba. Pukul 2 kurang saya memutuskan keluar dr tenda, memaksa tubuh menyesuaikan diri dg suhu dingin, dan bersiap-siap: memakai celana summit, jaket windproof, sepatu boot dan lengkap dg geiternya, head lamp, dan memasak air panas. Dengan air panas itu saya seduh bubur instant, minimal karbohidrat harus masuk ke dalam tubuh saya sebagai energi dan kalori. Sebagian air panas saya masukkan ke dalam termos kecil, lalu saya seduh teh dg gula yg sangat banyak. Saya masukkan barang2 ke dalamtas daypack 12lt: termos air teh manis, jas hujan (jaket cadangan), soy joy, madu, telor rebus, alumunium blanket, p3k, gopro, monopod. Erwin sibuk menghampiri tenda satupersatu membangunkan teman2 yang ingin naik ke puncak. Dan porter telah menyiapkan bekal untuk kami dengan sebutir telor rebus. Persiapan selesai, briefing dimulai. Ketua grup berkata, “kita akan muncak, perjalanan mungkin antara 3-4 jam”. Hal ini bertentangan dengan informasi2 yg saya ketahui sebelumnya, yaitu 6-8 jam. Pagi itu, saya, erwin, ami, asa, denz, dian, rendra, gino, roby, ahmad, 10 org dari 13 naik ke puncak. Sisanya, tari, sarah, dan septi, yang juga termasuk tiba terlambat di plawangan sembalun, memutuskan melanjutkan peristirahatan mereka. Kami mulai berjalan pelan, saya dan erwin berada di belakang. Langkah saya konsisten, konsisten lambat, dan kami berdua lumayan agak tertinggal. Akhirnya kelompok depan memutuskan berhenti utk istirahat, namun saya sendiri tetap melangkah dg konsisten lambat dan meninggalkan mereka. Dr plawangan sembalun terdapat tanjakan yg sangat menyiksa dengan tanah kering berpasir yg membuat sulit melangkah. Beberapa orang bilang naik 3 langkah turun 2 langkah, sedangkan saya terkadang naik dua langkah turun 2 langkah alias tidak bepindah tempat. Akhirnya kita kembali berjalan bersama, hingga pukul 6 pagi, kami tiba di jalur yg lumayan landai. Saat itu semangat kami terobati oleh lanskap matahari terbit yg mewarnai langit dengan warna oranye keemasan. Subhanallah. Saat menyaksikan pemandangan itu, sepertinya kami belum mencapai setengah jalan. Kami melanjutkan perjalanan, dan jalur trek kembali meyiksa. Beberapa pendaki lokal maupun luar melewati kami. Beberapa saya sapa, dan beberapa mengaku tidak sampai puncak. Melihat matahari nongol sudah cukup buat mereka, katanya. Angin masih bertiup kencang, suhu dingin semakin menusuk. Hoody saya pasang rapat, dan dengan buff saya tutup sebagian wajah dan telinga untuk menahan dingin pagi itu. Hari semakin siang, saya tahu penglihatan bisa sangat menipu. Puncak seakan dekat, namun jauh. Atau sebaliknya. Bahkan masih sangat jauh. Percuma melihat, percuma mengukur dan memperkiraan kapan kami akan tiba. Banyak pendaki juga turun dg langkah terburu2, sehingga tidak jarang kami sangat terganggu dengan debu pasir yg bertebaran. Trekking pole membantu saya untuk memberikan pijakan kuat, agar setiap dua langkah yg saya lakukan tida sia-sia. Kami masih berjalan. Berjalan. Berjalan. Menunduk. (To be continued…) View on Path   Seharusnya tetap sepeti itu, terus menunduk, dengan semangat yang terus terjaga, kami berjalan perlahan. Saya berjalan perlahan, sangat perlahan. Pukul 11. 30 kami mencapai puncak. 376 mdpl. Ya saya berhasil. Kami foto-foto mendokumentasikan kegembiraan kami. Cukup lama disana, setelah kami sholat dhuhur, pukul 1 kami mulai turun. Saya tiba pukul 3, belum sarapan dan makan siang yang mumpuni, say alangusng makan dengan lahap. Paling akhir seoranng teman baru tiba jam 5 sore. Kami beristirahat dan rencana itinerary benar-benar berubah. Seharusnya siang itu kami sudah turun dan sampai tenda. Setelah makan siang direncanakan bersiap-siap untuk turun ke Segara anak, ngecamp semalam di sgera anak, dan esoknya turun via jalur senaru. Dikarenakan pengelolaan waktu yang kurang pas, kami harus menginap semalam lagi di plawangan sembalun, dan direncanakan besok pagi ke segara anak, pulang dan pergi langusung.   hari beganti, dan sudha hari ke 3. Kami bangun, dan teman-teman yang ingin….   masih bersambung

Advertisements

~ by imankurniadi on August 3, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: