Fun and Mental is Fundamental, Sebuah Catatan Kecil Tahun 2013.

Tulisan ini saya tulis tidak karena saya sedang berfikir sesuatu, tapi juga mengingat. Jarang sekali saya berfikir mengenai kehidupan pribadi saya — yang selama ini saya tulis di kategori “low voltage jumbo freezer” — lalu saya tulis di blog dengan tidak mempedulikan jari ini mengalir menghantam tuts-tuts keyboard notebook dengan banyak miss-type/typo. Tapi setidaknya, saya memaksimalkan teknologi informasi ini karena memang kapasitas otak saya benar-benar terbatas untuk mengingat apa saya yang menyebabkan “voltasi” hidup saya lebih tegang atau sebaliknya.

Apa salahnya membicarakan masa lalu. apa salahnya membicarakan dengan mundur ke belakang.

New Year’s Eve – 31 Desember 2013

Rencana perayaan tahun baru sudah ada sejak beberapa minggu sebelum 31 Desember 2013, dipelopori oleh Mas Fajar. Dan akhirnya mas Fajar menawarkan untuk berkumpul di rumahnya (Perumahan Duta, Bekasi) untuk sekedar berkumpul dan menikmati ledakan-ledakan petasan. Sepuluh kawan berkumpul pada hari itu, saya, Mas Fajar, Kak Ikka, Mas Ecki Kak Afni dan putra mereka Rai, Mas Angga dan Putri, Mas Ukon, Kak esta. Cara mudah menikmati malam tahuan baru adalah dengan makan, main petasan, dan nonton film hingga pagi. Kita membuat makanan-makanan eksperimen, seperti salad dan ketan mangga. Bermian petasan di sekitar pukul 00:00, dan menonton film hingga pagi. Kita membangun sebuah mini home theather. Hari itu kita menonton 3 film panjang (Intouchables, Fright Night, dan Madagascar 2) dan belasan film pendek. Dari acara ini saya termotivasi untuk menabung membeli infocus/projector dan speaker, build my own home theater.

Path 2014-01-01 14_18

photo taken by myself. menonton film pendek di tahuan baru

Solo Trip ke Kota Kelahiran, Bandung, 25-26 Desember 2013 

Ada dua aalsan saya melakukan trip ini. satu, saya ingin ke Ciwidey, untuk melengkapi experience saya tentang “berkunjung ke tempat-tempat yang menjadi objek cerita di film-film indonesia”. Kedua, saya ingin makan seurabi Oncom, di Lembang. Ada dua alasan pula mengapa saya melakukannya perjalanan ini sendirian. Pertama, saya ingin menyewa sepeda motor sendirian, karena saya gemuk dan membaca keril sehingga tidak mungkin membonceng. Kedua, kenapa tidak? . Bangun, mengepack barang seadanya di keril, jalan ke TB Simatupang dan mendapatkan Koantas yang langka (saya bayar 5.000 lalu mendapat kembalian 2000). Di terminal Lebak Bulus gerimis pada pagi natal itu. Bus Prima Jasa tidak terlalu penuh berangkat menuju bandung, dan sebelum saya terlelap, saya mencari informasi tentang penyewaan sepeda motor di Bandung. Googling sana googling sini, telepon sana telepon sini akhirnya saya mendapatkan persewaan motor yang bersedia mengantarkan motornya ke Leuwi Panjang. Sewa motor perhari di libur hari raya itu Rp 75.000 tidak termasuk bensin dengan biaya antar Rp. 15.000. Untuk sewa motor, saya menghabiskan Rp. 125.000 untuk penggunaan motor tgl 25-26, sekitar 27 jam lebih dikit. Tiba pukul 11 siang di leuwi panjang, motor telah datang diantarkan oleh anak usia SMP yang mencari recehan dari antar jemput motor rental. Saya berikan dia ID card kantor dan KTP, lalu sesegera saya berangkat menuju Bandung Selatan. Destinasi pertama adalah Ciwidey. Kehebatan teknologi informasi mengarahkan saya pergi kamana. Saya hanya mengikuti google map dan tibalah saya di Ciwidey sebelum pukul 1 siang. Menrut saya Ciwidey adalah lokasi wisata yang terkelola dengan sangat baik. Bersih, tidak banyak sampah. Cukup 20 menit di sekitra kawah lalu saya melanjutkan perjalanan ke kota Bandung. Di tengah perjalanan saya singgah untuk mandi air hangat alami, lupa nama tempatnya.

DSCN1274

you can tell a lot about a guy by look into his back

Sekitar pukul 4 saya tiba di Braga, lalu jalan-jalan. Banyak sekali objek yang menarik, gedung, dan manusia (maksudnya cewek-cewek yang pake baju ketat dan celana mini sekali). Bandung hujan cukup lebat sore itu, saya berteduh di CircleK, hingga benar-benar reda. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke Padasuka, destinasi berikutnya adalah bukit Moko. Oke, saya membuat rencana: tanggal 26 malam saya akan membangun tenda di Bukit Moko hingga melihat matahari terbit di pagi hari. Realisasi: batal. Alasan: kotor dan ramai. Sambil menyeruput kopi susu jahe saya berfikir, “kenapa nggak langsung ke tangkuban perahu saja, toh saya bawa tenda”. Utak-utik google map sekali lagi, dan pukul 8 malam saya berangkat ke Lembang. Google map memberikan rute jalan ecil yang cukup rumit untuk mengantarkan saya hingga tiba di jalan Setiabudi. Nah, saatnya mencontreng wishlist saya untuk makan seurabi. Cuek bebek memikul keril, saya masuk ke warung (atau lebih tepat cafe) seurabi, dan memesan seurabi yang sangat original: rasa oncom. 2 porsi. Kenyang dan puas, saya lanjutkan berkendara malam itu ke Tangkuban Perahu. Mio matic tahun 2008an saya geber lewat jalan yang meliku akhirnya saya tiba di gerbang utama dan akhirnya saya tidak bisa masuk ke lokasi karena gerbangnya di tutup. Sebelum gerbang itu ada sebuah warung, yang sepertinya buka 24 jam. Pesan mie instant dan kopi jahe susu, saya bersikap sok kenal dan sok dekat kepada pemiliknya. Hingga tiba di sebuah pembicaraan “pak, bu, kalo saya nginep di sini, tidur di situ, sampe nunggu matahari terbit boleh tidak?”

IMG-20131226-WA0003

fasilitas: TV, AC (angin cendela), kopi, mie, gorengan, air putih, WC. dan dipan yang agak keras tapi tdk masalah buat saya

Tenda dan nasteng yang masih terpack di keril-ku belum terpakai. Tidur benar-benar nyenyak. Setelah sholat subuh, saya berangkat dan mengikuti saran si bapak, “lewat pintu keluar aja, motor bisa lewat samping portal”. Mie instant, kopi 2, bala-bala 3, aqua botol 1, dan sumbangan ala kadarnya karena saya mendapat kebaikan, saya beri si bapak lima puluh ribu rupiah. Pagi itu juga saya berkendara sejauh 6 km dari gerbang menuju spot Tangkuban Perahu. Saat masih ingusan dulu, say apernah kesini, dan sekarang tempat itu sangat jauh berbeda sekali. Banyak bangunan dan lahan sudah tidak asli. Tersemen dan teraspal. Ini adalah view pagi di tangkuban perahu.

20131226055638

adalah sebuah candu, melihat pemandangan matahari pagi, dengan hawa dingin dan angin yang menggigit di dataran tinggi.

Di dataran tinggi itu saya benar-benar sendirian. Benar-benar sendirian. Hawa dingin dan angin kencang membuat hidung saya meler. Hngga di sebuah pojokan bangunan saya memutuskan untuk masak air panas dan membuat teh. Untung WCnya tidak dikunci. Saya pub. Pukul 8 saya turun dari tangkuban perahu menuju lembang untuk mencari bubur ayam dengan rasa khas sunda. Setelah itu saya mencari Boscha, dan bari kali ini saya tertipu oleh Google map. Boscha tidak berhasil saya kunjungi, dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke luewi panjang, mampir ke pombensin di lembang dulu untuk mandi pagi, dan pub sekali lagi. Kenapa saya melakukan perjalanan ini sendiri, seperti yang saya katakan sebelumnya, alasan kedua: kenapa tidak.

Rafting di Pengalengan Plus Camping, Sungai Palayangan 14-15 Desember 2013

Saya, Ipey, Trisca, Suryaks, dan Lidya. Trip ini adalah trip Adverlisious. Menu utama yang ingin kita santap adalah rafting. Kami berangkat sabtu siang dari Jakarta dan tiba sore di bandung. Lalu dengan menggunakan ELF yang berdesak-desakan kami menuju Pengalengan, lalu kamping di gazebo pinggir situ Cileunca. Sekitar hari-hari itu hari-harisaya sangat stressfull sekali. Yang saya butuhkan adalah sansak untuk pelampiasan kejenuhan. Aktivitas air di dataran tinggi mungkin obatnya. Hari minggunya, pukul 7 pagi kami sudah bersiap-siap, dan pukul 7.30 kami sudam memulai pengarungan sungai Palayangan di Pengalengan. Grade nya tidak terlalu tinggi, antara 2-3, lebar sungai sempit, namun banyak jeram yang khas. Waktu pengarungan hanya sekitar 2 jam, selesai. Ahhirnya kami lanjutkan menyewa kapal untuk keliling situ Cileunca, memetik arbei, dan akhirnya mandi.

pengalengan ipey

Salah satu jeram yang benar-benar menekuk. Diambil dari facebooknya Ipey.

Gerimis Bubar (Misbar) Kineforum, 13 Desember 2013

Saat rajin-rajin menghadiri Jakarta International Film Festival (JIFFest) saya bertemu dengan seorang kawan AJP, sedikit canggung berbincang, ternyata dia membocorkan bahwa akan diadakan nobar layar tancep oleh Kineforum dan DKJ (cmiiw). Setelah jadwal keluar, rasanya ingin datang setiap malam, namun karena sibuknya pekerjaan, yang saya targetkan datang adalah tanggal 14 Desember 2013. Hari itu yang diputar adalah Janji Joni, Belkibolang, Macabre. 2 dari 3 film sudah saya tonton, dan saya benar-benar ingin menonton yang Belkibolang. Musim hujan mengadakan acara layar tancap di monas, ruang terbuka, benar-benar terbuka tanpa atap, itu gila!

Iman Kurniadi

Misbar Kineforum is the most beauty film-fest-venue I ever visit. photo taken by myself. After rain.

Acara Misbar Kineforum ini bukan acara bisasa, yang membuat adalah orang-orang yang luar biasa, demikian pula dengan penontonnya. Malam tanggal 14 Des kala itu hujan benar-benar turun. Dan penonton masih benar-benar bertahan menonton dengan menggunakan jas hujan plastik portable. Saya sudah bawa dari kosan, warna kuning. Niatnya, saya datang sendiri ke acara ini. Entah kenapa tanpa rencana, ternyata saya bertemu dengan teman-teman, ost of them are indonesian-traveler. Haha. Good people attract another good people too.

BbYgc8NCcAE8xY6

dari ki ke ka: Murni indohoy, Atre, eerr belum kenal, Giri, saya, erwin, bawah Vira Indohoy. Yang kefoto: Tekno Bolang. Yang gak ikut foto: Jeri, dan Zya GetAceh

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2013 & Festival Sinema Perancis 2013 5-6 Desember 2013

Sejak list film Jaff keluar, saya putuskan cuti! demi festival ini!. Kamis malam  5 Desember 2013 saya berangkat ke Jogja. Pagi tiba lalu langsung ke Kalasan, sebagai basecamp saya di kota ini, rumahnya Bulek Sri, adik dari ibu saya. Selama dua hari penuh saya menonton film-film festival. Ini adalah soal passion. Soal suplemen pikiran untuk saya. Soal kenikmatan-sinematik (cinematicorgasm). Beberapa film yang saya tonton di festival ini membuat saya cinematic-orgasm. Film-film “langka” yang sulit untuk ditemui pemutarannya. Karena film-film ini tidak disitribusikan di bioskop. Sehingga festival film adalah sedikit dari sedikit opportunity untuk menonton film jenis ini. Atas motivasi itulah saya berani tanpa teman dari jakarta pergi ke jogja hanya untuk nonton film. Ternyata banyak juga para “banci featival” (i’d prefer say “festival hunter” yg datang dari kota lain. Saya berkenalan dengan Chris dari surabaya. Kamu baru saling kenal di twitter saja. beberapa film yang ‘nakal’ dan ‘menyentil’ yang membuat saya tidak menyesal datang jauh-jauh dari Jakarta. Yaitu: Rocket Rain [review] oleh Anggun Priambodo, Something In The Way oleh Teddy Soe, Pingitan [review] oleh Orizon Astonia, Gazebo [review] oleh Senoaji Julius, Lembar Jawaban Kita.  Lah da lah di waktu yang sama juga sedang terselenggara Festival Sinema Prancis. Atas rekomendasi dari Litani, saya lebih memilih menonton Mood Indigo oleh sutradara Michel Gondry (Tokyo! segment “Interior Design”, Eternal Sunshine of the Spotless Mind), daripada gala premiere Soekarno. Pilihan tepat yang tidak salah. Menonton film (apalagi sambil berpergian) adlaah salah satu suplemen pikiran saya untuk menaikkan tegangan ‘voltasi’.

mtf_YEIJT_293

potongan tiket Jaff dan Festival Sinema Prancis pada hari yang sama. Yang satu bayar yang satu gratis. Kepuasan over expected 😀

 Jakarta International Film Festival 15-30 November 2013

Salah satu yang kita dapatkan saat berburu festival adalah ambience nya. Setiap festival memiliki ambience tersendiri. Beruntunglah jakarta memiliki festival film yang cukup membahana dan memutarkan film-film yang layak dimaratonkan hingga mempending makan dan mandi. Dari list film yang sudah dipublish, beberapa judul film menjadi target operasi saya di festival film ini. Salah satunya adalah Lady Cady Who Never Saw Hole In One karya Yosep Anggi Noen. Mengapa? adakah alasan lain selain alasan menonton film yang memperoleh penghargaan film pendek terbaik di Busan Internasional Film Festival (Korea)? Ya film ini satu dari banyak film indonesia (panjang dan pendek) yang direkognisi internasional, namun masih dipertanyakan kepopulerannya bagi penonton-penonton dalam negri. Mencoba kembali mengingat, belasan film saya tonton di Jiffest, berikut adalah film-film yang sangat memorable in my opinon: Toilet Blues [review], Lady Cady Who Never  Saw Hole In One, Kamu Di Kanan Aku Senang, Touch Of Sin, 12 Years Of Slave, Madeo/Mother, Ilo Ilo.

IMG-20131123-WA0008

#buktivisual. Saya berasa jadi calo hari itu. Tapi saya bahagia banyak temannya.

Ada 4 segmen acara di 4 venue yang berbeda di Jiffest kemaren. Pop Up di Gallery Indonesia Kaya, Restopective Bong Joon Ho di Blitz GI, Wolrd Cinema di Epicentrum, dan Open air Cinema di Monas. Sebagain gratis dan sebgaian bayar. Sampai ketemu di tahun 2014.

20131129184756

megah.

Trip Pulau Pari, 26-27 Oktober 2013

Trip ini satu dari sekian trip yang rencananya dadakan. Aats ajakan Kak Uchiet, akhirnya saya batalkan solo trip say ake bandung tgl itu (yang akhirnya terrealisasikan tgl 25-26 Des seperti yang telah saya ceritakan di atas). Sepertinya trip ini adalah trip reuni para anggota pendakian Papandayan Yang terakhir. By the way, tahun 2013 ini saya mendaki papandayan 4 kali, iya, 4 kali. Nanti dibawah saya ceritakan. Saya, Kak Uchiet, Ami, Jafar, Erwin, Louis, Chacha adalah alumni tersbeut, plus Ayah, Rusdi, dan Bang Togi dari Gebrakers akhirnya ikut meramaikan. Ini adalah trip ngere, alias pengeluaran smeinim-menimnya. Hampir semua gear yang saya miliki kubawa. Nasteng lengkap dengan kompor spirtus, 2 flysheet, 2 tenda, pisau gerber, dan lain-lain. Lous juga membawa hammock yang sangat cozy untuk bermalas-malasan, dan ayah membawa pancing.

DSCN0598

dari cara memegang pancing, orang ini hanya bergaya saja untuk difoto, tidak ada bukti otentik dia berhasil mendapatkan ikan.

Tahun 2013, 4 kali Mendaki Gunung Papandayan

Biasanya kalo ditanya, tipe anak traveler seperti apa kamu, saya mungkin lebih menyukai jawaban “saya termasuk traveler dataran tinggi”. Tapi untuk menyandang “iman sang traveler” menurut saya terlalu lebay. Saya hanya melakukan hal-hal yang membuat saya lebih hidup. Entah dengan cara traveling, atau menulis, atau menonton film, atau bahwan zonk-out (istulah melamun di film The Secret Life of Walter Mitty). Pertama kali mendaki Papandayan saat bulan puasa 2012 bersama Irwadi, saya sangat menyukai lokasi ini. Jika Bromo adalah tempat escape saya dari rutinitas di Surabaya dulu, maka saya sudah menetukan bahwa Papandayan adalah lokasi escape saya dari rutinitas di jakarta. Mudah dan Murah. Kita hanya perlu naik bis ke Garut, kemudian naik pickup ke pos pendakian, dan pendakian hanya memakan tidak lebih dari 3 jam santai. Pendakian kedua mendaki Papandayan atau pendakian pertama saya kalukan sekitar bulan februari. Saat itu rencannaya saya diajak andis, dyfa, dan nisa untuk menemai pendakian Papandayan setidaknya menjadi navigator. Oke, kita sudah ada 4 orang anggota. Dikarenakan kita akan sewa pickup untuk memaksimalkan penghematan,  maka saya mencari anggota lainnya. Saya publish di twitter dan menyahutlah Aris dan Zen. Dan juga 5 orang rombongan dari UI Alfian dan kawan-kawan. Februari masih musim hujan kala itu, gerimis jatuh membasahi pondok saladah hampir sepanjang hari.

papandayan aris feb

Pendakian kedua Papandayan, ini adalah suasana kawah seusai hujan. Photo diambil dari facebooknya Aris

Pendakian ketiga atau pendakian kedua Papandayan di tahun 2013 adalah pendakian tek-tok. Artinya kami pagi mendaki, hingga siang, lalu kembali, tanpa menginap. Pendakian kali ini bersama rekan-rekan kantor, mas Rasyid dan Mas Guruh, dengan satu teman SMA mas Rasyid. Kami mengenudi bergantian dari jakarta – garut – jakarta. Tracj terberat yang kami lalui tentunya jalur Cisurupan – Base Camp Camp David. Jalan rusah parah alhamdulillah avanza mas Rasyid bisa melaluinya. Pendakian papandayan kali ini adlaah pendakian berkabut sangat tebal dari semua pendakian yang pernah saya lakukan. Pemandangan kawah tidak terlihat, apalagi saat kami ke Tegal Alun. Hamparan edelweisnya tidak terlihat sama sekali. Kami tidak berani terlalu jauh karena tersesat karena terbatasnya pandangan sangat memungkinkan.

IMG_20130406_084403

Saya sangat suka jika spot hutan mati masih berkabut seperti ini. Seperti di planet lain. Seperti menjelajahi luar angkasa. Foto diambil dr Hpnya Mas Guruh.

Pendakian keempat atau pendakian ketiga ke Papandayan di tahun 2013, saya lakukan dengan impulsive. Sebetulnya tidak ada rencana apapun untuk memperingati 17 Agustus 2013, akhirnya saya putuskan ke papandayan, lagi. Ada 3 rombongan yang berbeda mendaki bersama saat itu. Rombongan Zen bersama Rahman (sang koki professional) dan teman-temannya, rombongan saya (agung dan bita), rombongan Frans (yosye, fitri, dan teman fitri). Tgl 17 agustus pagi kami tiba, dan kami tidak ikut upacara. Kemudian kami mendaki. Pondok Salada benar-benar sangat amat ramai. Lalu kami mencari spot  lain, yaitu Guberhut. Pohon rindang, tanah gambut, dan sepi. Guberhut adalah lokasi yang nyaman untuk camping.

1230019_10202138566492705_971158208_n

ini adalah spot camping Guberhut. Foto diambil dari facebooknya Zen.

Pendakian kelima atau pendakian keempat ke Papandayan di tahuan 2013, sebetulnya rencana awal adalah pendakian reuni. Reuni para alumni psikologi Unair di Jakarta. Ada beberpaa orang yang sudah konfirm ikut saat itu, ternyata hanya 3 dari 10 orang yang mendaki saat itu adalah alumni Psikologi Unair, saya, penjor, dan dian. Tak masalah, a good idea is an idea that happens. Kalian pengen ke Papandayan? Mau kutemani, don’t hesitate to contact me. Kalo jadwalnya pas 😀

papandayan louis

Ini adalah spot persimpangan, yang dibelakang kami adalah jalur ke Pondok Salada lewat Guberhut. Sedangkan kami nanjak langusng lewat Hutan Mati. Foto ini diambil dari kameranya Louis.

Explore Gunung Kidul, Trip Adverslicious 8-10 Novemner 2013

Saya masih ingat benar, hari pertama saat masuk liburan lebara 2013, saat itu pekerjaan masih lenggang, dan dikantor saya disibukkan membeli tiket KA ekonomi online teman-teman adverslicious untuk trip ke Jogja awal November. Ini adalah trip lumayan besar karena yang ikut banyak. 16 orang ikut dalam trip ini. Kami naik KA ekonomi, menyewa 2 mobil Inova, penginapan murah meriah, dan prinsip kita adlaah all share cost. Sehingga tidak ada TL-TLan yang mencari untung dan itenary sangat amat fleksibel. Sebetulnya tujuan trip ini ada dua: merayakan 2 tahun persahabatan Adverlicious, dan launching kaos baru. Destinasi yang kami kunjungi di dua hari itu adalah: Gua Rancang Kencono, Air Terjun Sri Gethuk, Pantai Pok Tunggal, Pantai Jogan, Pantai Kukup, Pantai Siung, Candi Ratu Boko, dan Gudeg Wijilan. Sebagai pengemudi, trip ini adalah trip yang menyebabkan sakit pinggang cukup signifikan seusai trip. Sekitar 3 hari saya bekerja dengan pinggang yang melinu. Saya rasa bukan karena saya terlalu lama mengenudi, tapi karena KA ekonomi itu memang less-comfortable. Saya belajar untuk menerima sebuah konsekuansi, saat kamu melakukan sebuah perjalanan, tidak hanya konsekuensi waktu dan materi, namun juga fisik dan kesehatan.

1472969_10202973166678484_1536025766_n

Kaos pertama Adverlicious, saya yg mendesain. Foto ini diambil menggunakan kamera Ajeng dan diedit oleh dia.

Trip @nebengers dan Ray Of Light Gua Jomblang, 5-6 Oktober 2013

Satau hari saya dihubungi oleh ibu, beliau meminta tolong agar mengantarkan mobil mbak Rina dari Jakarta ke Jogja. Karena seminggu setelahnya akan dipakai untuk transportasi acara pernikahan Mbak Rina di Jogja. Saya mengiyakan. Belum pernah mencoba mengemudi dari Jakarta ke Jogja. Lalu saya mencari teman, dan salah satu sensasi yang belum pernah saya rasakan adalah berkendara dengan orang-orang tidak dikenal. Lalu saya mempost tweet ke @nebengers untuk memberitahukan bahwa saya menyediakan menyediakan kendaraan untuk ke Jogja, gratis. Belasan mention dan retweet memenuhi TL saya, dan akhirnya positif Seno, Debby, dan Siwi menjadi companions saya dalam perjalanan ke jogja kali ini. Mengemudi. Tak disangka, foto kami masuk koran Kontan. Kabarnya, juga masuk Kick Andy.

BZfZEJ3IUAArkMs

Suatu hari tiba-tba Seno mention saya di twitter dan attached foto ini.

Sekitar pukul 10 malam kami berangkat dan karena mengemudi sendiri, pukul 12 siang baru tiba di Yogyakarta. Kami berhenti beberapa kali karena saya benar-benar mengantuk. Safety first indeed. Hari kedua, masih ada waktu luang antara pagi-hingga-sore, dan saya putuskan untuk ke gua jomblang. Menghubungi mas cahyo pemilik wisata tersebut, saya diintruksikan sudah hadir di basecmap pukul 8 karena penjelajahan gua akan dibarengi oleh rombongan lainnya. Jam 8 saya tiba, rombongan ternyata baru datang jam 11. Oke tak masalah. Lalu kami turun dan menikmati cahaya-surga di gua itu. Subhanallah.

1390657_10202033404574799_300961529_n

indah kan ?!?!?!

1383333_10202033402814755_1870319674_n

Eh maksud saya indah cahayanya, buka kakinya :p

Trip Adverslicious ke Gunung Padang 21 September 2013

Berkat koneksi dari Mbak Dewi, kami menyewa 2 Avanza dengan lumayan murah. Kami pergi ke daerah cianjur menuju ke 2 destinasi: Curug Cikodang dan Gunung Padang. Gunung padang adalah salah satu destinasi yang sering bikin aku penasaran, karena riwayatnya. Gunung padang sebetulnya terdiri dari tata-tata batu-batu bersisi polygon memanjang, membentuk gundukan seperti bukit. Tidak usah jauh-jauh ke mesir untuk melihat piramida, di Cianjur juga ada, sejuk lagi banyak pohonnya.

gn padang - ipey

di gunung padang

Trip Gunung Prau, 30 Agustus – 1 September 2013

Langsung saja, trip ini trip “diagram venn”. Saya bersama kelompok saya mendaki Gunung Prau dan ternyata di puncak sana bertemu dengan beberapa teman dari kelompok-kelompok lain. Ada bertemu dengan Irwadi (teman saya saya mendaki pertama kali ke Papandayan), bertemu dengan Ferdinand (rombngan Denz) bertemu dengan Ayah, Bayu, Esta, Erna, Hari anak-anak Gebrakers yang ikut  kelompok Narkopian, bertemu dengan Ratna dari kelompok lainnya juga. Seperti sebuah diagram venn, ada kita itu seperti berada di dalam irisan-irisan, lingkaran-lingkaran yang berbeda. Gunung Prau adalah contoh dari S (semesta) -nya. Sejak Cyntia Andis Dyfa dkk memamerkan foto mereka di Gunung Prau, saat itu saya sudah ditawarkan Aris, namun sangat amat berhalangan, saya semkain termotivasi ingin ke sana. Gagal menjadi salah satu rombongan narkopian, akhirnya saya mencari companions saya sendiri untuk mendaki. Saya ajak teman-teman adari Advers dan Gebrakers. Akhirnya berkat Ajeng dan Mas Aw, kelompok kami genap 14 orang untuk berangkat.  Saya, andyn, ury, ipey, ajeng, AW, adrian, azzam, sakti, mita, leha, maul, ira, ami. Di pos pendakian kami pertemu dg Pay, dan malamnya Erwin, Laura dan temannya juga menyusul. jalur berangkat dan pulang menuju ke dan dari puncak kami lalui rute yang berbeda. Prau memang menyajikan pemandangan yang sangat megah. Sunrisenya benar-benar epic. beberapa gunung terlihat dari puncak gunung Prau. Merapi, Slamet, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan dataran tinggi lainnya. Oleh-oleh ter-ungkit-ungkit dari perjalann ini adalah woiii, jangan sampai celana merah lepaaaasss…” hahahahahaha. Mendaki dengan model majalah dewasa, unbelievable.

prau maul 2

Foto keluarga sebelum pulang, nama kelompok kami adalah Gudir. Artinya, otak yang kopyor. Foto diambil dari facebokknya Maulana Marjuki. Sedikit dari banyak fotografer landscape yang bisa mencapture gambar-gambar surga.

Beli Teh Ke Bromo, 9 Agustus 2013

Mulai merasa bosan, paska lebaran dirumah terus menggemukkan badan. Akhirnya saya tawarkan kepada teman-teman “ad ayang mau teh Christine Hakim atau teh Candi Wayag tidak?” dan beberpa ateman menitipkan kepada say auntuk membeli teh tersebut. Teh yang dijual di kawasan wisata Gunung Bromo. Ah, akhirnya saya memiliki alasn untuk ke dataran tinggi lagi, kalo ini ke Bromo. Mengecek kondisi Spacy Matic bapakku yang hanya dipakai di masjid, tanggal 9 Agustus 2013 pukul 05.30 pagi saya berangkat ke Bromo. Jalur yang saya lewati adalah jalur Lawang-Purwosari-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan. Bermodal insting, keyakinan, dan bahasa indonesia untuk menayakan arah di persimpangan, saya tiba di penanjakan. Menikmati lautan pasir dan kawah promo dari atas sejenak, lalu saya turun lewat turunan yang sangta curam itu. Destinasi selanjutnya setelah Penanjakan adalah Pasir Berbisik, favorit saya. Berkali-kali ban motor selip karena pasir yang sangat labil. Kemudian saya menuju ke desa Cemoro Lawang, desa yang populer sebagai starting point untuk menuju kawasan wisata Bromo. Di Desa itu baru saya membeli teh Candi Wayang, kemudian pulang. Pada hari itu saya PP ke Bromo: 06.30 s/d 15.00.  Ke bromo cuman buat beli teh? nikmatnyah!

20130810_093920

Ini motornya bapak. Spacy, tehnya aku masukkin ke bagasi karena bagasinya gede.

Berbagi Bersama Anak-Anak Walaupun Sejenak

Senangnya memiliki teman-teman di jakarta yang suka traveling denngan tidak mengenyampingkan jiwa sosial. Diajak oleh beberapa teman, maka saya ikut dalam beberapa kegiatan sosial yang mengajak anak-Anak untuk lebih memiliki semnagat positif. kegiatan pertama yang saya ikuti adalah kegiatan Kertas (Kelompok Berbagi Tanpa Batas, judulnya Petualanganku ke dunia laut. Sebagai volunteer kami diajak untuk mendampingi anak-anak berkeliling Sea World. Anak-anak tersebut berasal dari kelompok belajar Jati Asih (maaf jika salah).

petualangan sea world tika

Senangnya saya diberi kaos. ada yg ukuran XXL lagi. Foto diambil dari facebook mbak Tika.

Acara kedua yang saya ikuti, adalah acara yang dipelopori Kak Esta. Acara ini juga mengajak anak-anak berennag bersama, lalu nonton film. Tentunya film-film yang tepat konsumsinya. Kami memutarkan film-film pendek Piar, Boncengan, Say Hello To Yellow, dll. Benar-benar tak disangka, ternyata ada destinasi lain steelh nobar tersebut. Yaitu ke Priuk mengunjungi Rainbow Ship milik Greenpeace yang sedang merapat. Wow! saya bertemu langsung dengan para superman di atas kapal itu!

greenpecae 8 juni ari suqmawati

itu aku didepan huruf G

 Acara ketiga, adalah buka bersama yang dilakukan oleh teman-teman Adverslicius. Kami mengumpulan dana, dan menyelenggarakan acara buka bersama, sambil memberikan sedekah yang tidak banyak dan sederhana.

bukber bita

anak-anak konsentrasi menonton film yang memiliki value positif, foto diambil oleh bita, itu saya dari belakang.

Konser Di Atas Rata-Rata 15 Juni 2013 dan Pementasan Ariah 29 Juni 2013 

Juni adalah bulan spesial dan saya harus memberi hadiah kepada diri saya sendiri karena saya ulang tahun. Saya selalu menabung untuk bulan juni. Saya membeli tablet, dan saya membeli dua tiket pertunjukkan yang nantinya saya anggap sebagai pesta ulang tahun saya. Tanggal 15 Juni 2013 saya membeli tiket pertunjukkan Di Atas Rata-Rata sebuah projek yang digarap oleh keluarga Gutawa. Di Atas Rata-Rata menghadirkan penyanyi-penyanyi cilik dengan bakat  mereka yang luar  biasa. Mereka menggubah beberapa lagu lama, lagi legenda, dan lagu anak-anak. Sebuah atraksi panggung yang tak terlupakan. Coba deh cari di youtube. Mereka pantas diidolakan oleh anak-anak sepantaran mereka. Minimbang akhir-akhir ini banyak sekali tayangan yang tidak appropiate untuk anak-anak indonesia. 644076_10201935088436957_1148380966_nTanggal 29 Juni 2013, saya, Cyntia, Suci, dan temannya menonton pementasan Ariah. Di Monas. alasannya, ini adalah pentas teater yang dipadukan oleh seni teknologi video mapping. Monas benar-benar “menyala” pada malam itu. Dengan teknologi visual yang benar-benar mengagumkan. Pementasan sebuah treatikal yang mengagumkan pula oleh aktor dan artis yang saya tahu mereka benar-benar bekerja keras untuk dapat membuat pementasan seperti itu. Saya tidak begitu paham dengan seni teater, namun dalam pementasan teater, tidak sepeti film yang bisa di cutting dan di edit semaunya. Teater adalah live. Semangatnya yang saya rasakan juga live.

1236512_10201935039475733_1313714704_n

video mapping monas di Ariah

Trip Pulau Sempu Kesekian Kali, Februari 2013

Sebetulnya agak enggan trip ke Sempu. Pertama, karena sudah pernah berkali-kali saat saya masih berdomisili di jawa timur dulu. Kedua, takut dimarahi Mas Jerry. Karena Sempu memang cagar alam yang harus dilindungi bukan untuk dijadikan tempat wisata. Saat ini sepertinya malah semakin dikomersialkan. Trip ke Sempu ini bersama-sama para alumni trip semak daun, Chyntia, Tiar, Suci, Bonar, Mifta, Andis, Fitri, dan kawan-kawan.  Mereka melakukan trip panjang, explor sempu dan bromo. Sedangkan saya aji mumpung pulang ke malang, menyusul mereka ke Sendang Biru, naik motor. Ada sebuah berita duka. Sebelum tiba, say amenelepon pak Di. Pak Di ini adalah pemilik kapal langganan saya untuk nyebrang ke Pulau Sempu. Saat saya telepon, “pak Di wonten bu? ” “ooo mas sinten nggih? pak Di sampun seda…” innalilahi. Akhirnya saya tetap mampir ke rumah pak di, bertemu dengan keluarga pak Di, sekalian numpang mandi, nitip barang, dan makan menu/rasa masakan rumah. Ke Sempu musim hujan memang ide buruk. Sebelumnya saya sudah 5 kali ke sempu, dan pada bulan februari itu adalah trackking terpayah yang pernah saya alami. Saya terakhir ke sempu tahun 2010, 3 tahun lalu, ini catatan perjalanannya: [link]. Dengan penuh kesopmbongan dan kebelaguan saya berkata bahwa saya tidak perlu menyewa sepatu khsuus, cukup sandal gunung yang saya kenakan. Namun, akhirnya saya merasa malu, ternyata dengan sandal gunung gerakan saya menjadi sangat rapuh, mudah sekali terpeleset. Sepertinya bukan hanya musim hujan yang menyebabkan track di Sempu rusak seperti tiu, namuan juga semakin banyak pengunjung yang pergi kesana. Mas siapa saya lupa, guide yang mengarahkan kita lewat jalur yang belum pernah saya lalui, berbaik hati meminjamkan sepatunya untuk saya. Dan dia akhirnya nyeker. Kurang lebih 2-3 jam kami tiba di Segara Anak, tenda telah berdiri, namun ternyaa sebagai besar dari kami lebih memilih untuk tidur beratapkan langit dan bintang. Untung saja saya membawa terpal, karena ini sudah saya prediksi.

sempu maret 2013 - kutux

Foto diambil dari facebooknya khutux. Lokasi: Segara Anak

Trip Sawarna, Februari 2013

Atas ajakan dari Ade (member Adverslicious juga) kami ber 8 ke desa Sawarna atas ajakan mas Dedi. Saat itu mas Dedi yang menjadi TLnya, kami menggunakan mobil probadi mas dedi dan saya menjadi co-drivernya. Beberapa spot kami kunjungi di desa itu, dan memnag karena kami “ngere” maka perjalanan ini kami rencanankan untuk tidur di tenda. Pantai memang tempat yang asik untuk bersantai, anginnya sepoi-sepoi sepanjang hari. Saat kami pulang,  setiba di jakarta, Mas Dedi memberikan uang kembalian kepada saya, sebagai balas jasa menjadi co driver. Mungkin, tidak leboh dari 150 rb pengeluaran saya untuk trip murah ini.

sawarna 26-27 jan ade

trip sangat amat murah ke Sawarna. Photo diambil dari facebooknya ade

Festival Film Solo, XXI Short Flm Festival, German Cinema, dan Arkipel

Awal mei adalah bulannya festival film pendek. Saya cuti dan pergi ke Solo. Di atas sudah saya ceritakan sebelumnya tentang bagaimana saya menghadiri festival film di Yogyakarta. Di Solo ini sama, tapi lebih gila. Saya datang di staisiun Solo Balapan, tanya sana-sini akhirnya dapat petunjuk ke ISI Solo. ISI adalah venue festival ini. Lalu saya berjalan-jalan di kampung belakang ISI, banyak kos-kosan disana. Tanya sana tanya sini, akhirnya saya mendapatkan kos-kosan untuk bermalam dua hari. Sehari hanya 35 ribu dengan fasilitas yang sangat cukup buat saya.

1374126_10201935018195201_1985065137_n

Ifa Ifansyah – Andra Febrianto – Anggi. Di diskusi antara movie maker dengan penontonnya seusai menonton.

Festival lainnya adalah XXI Short Film Festival dan Arkipel oleh Forum Lenteng. Keduanya diselenggarakan di Jakarta. Khususnya di XXI, ada kalanya dalam sehari dari pukul 10 pagi hingga 22 malam, nonstop menonton film-film pendek. Seperti juga yg saya alami di Jaff, festival ini mempertemukan kami yng berkenalan di twitter. Di sini sya bertemu dg Litani dari Semarang dan Damar dari jawa tengah. Dan juga sultan serta sari yg sama-sama berdomisili di jakarta. Kami hanya baru berkomunikasi di twitter, dan karena festival film saya dapat bertemu mereka semua secara langsung. Meminjam tagline movigores, “movie unite all of us” (or something). Beberapa bahkan saya tonton dua kali. Banyak film pendek epic saya tonton di festival ini, dan beberapa diaantaranya saya juga membuat reviewnya. Yaitu: Boncengan [review], Wan An [review], Jumprit Singit [review], How To Make Perfect Xmas [review].

1240127_10201935005954895_1551637241_n

Acara penutupan XXI Short Film Festival. Selamat untuk para pemenang.

German Cinema adalah salah satu festival film berbahasa foreign yang senang mengunjunginya. Tahun 2012 saya menonton di Surabaya sebelum pindah ke Jakarta, dan pada tahun 2013 ini saya tidak ingin absen. Dan seperti biasa dan saya tidak bosa, namanya film Jerman, apsti ada David Bruhl yang bermain sebagai aktor. Dia sangat epic memerankan Niki Lauda di film Rush basutan sutradara Ron Howard.

1237092_10201935069596486_315592666_n

Venue German cinema ini di Bltz GI. Gratis.

—————————————————

Sebuah catatan kecil dan sederhana saya tuliskan di paragraf-paragraf di atas. Tulisan ini hanya sebagian kecil dari kisah saya yang saya ingin share-kan selama tahuan 2013. Saya tidak menceritakan hal-hal pribadi lainnya dan banyak  hal lain-lainnya. Saya berharap di tahun 2014 ini saya lebih bermanfaat dan meningkatkan kapasitas saya membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama makhluk. Lebih percaya diri. Lebih tersuplemen pikirannya dengan menonton film. Lebih banyak tempat asing yang belum pernah disinggahi. Lebih banyak tulisan lain yang akan saya ketik di awal tahun 2015, seperti dua hari ini menulis ini.

Lets create story that can be great to be retold.

Advertisements

~ by imankurniadi on January 2, 2014.

2 Responses to “Fun and Mental is Fundamental, Sebuah Catatan Kecil Tahun 2013.”

  1. Menjabat erat tangan seorang adam yang mengantarkan saya pada salah satu sunrise terbaik seumur hidup, tepatnya di Gunung Prau. Namanya Iman Kurniadi. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: