Laura & Marsha (2013)

Satu lagi film yg memberikan kesan yang berbeda saya tonton di bioskop. Alasannya? 1. Ini adl film indonesia, 2. Nanti saya ceritakan stl bbrp baris berikut ini. Laura & Marsha adalah film yg diproduksi oleh Inno Maleo Films tahun 2013 dan  diproduseri oleh Leni Lolang. Film ini disutradarai oleh Dinna Jasanti, dan dari berbagai sumber yg saya baca (wikipedia, filmindonesia.or.id, dll) Laura & Marsha adalah film pertama yg dia sutradarai. Film ini dibintangi oleh 2 gorgeously woman: Prisia Nasution (yg pernah memerankan Ronggeng Dukuh Paruk di sang Penari)  dan Adinia Wirasti (yg pernah memerankan sbg Carmen sahabat Cinta di aADC dan -my fav- memerankan Rudi di Tentang Dia). Naskah Laura & Marsha ditulis oleh Titien Wattimena yang juga menulis skenario untuk Mengejar Matahari, Tentang Dia, Love, Badai Pasti berlalu, Cinta Pertama, dll (wikipedia).

image

Alasan 1
Sebagai penonton Indonesia menonton film negri sendiri, menonton Laura & Marsha yg bersetting di Belanda, Jerman, Austria dan Italia tentang wanita Indonesia yg sedang berjelajar disana, membawa cerita tersendiri, wow, mengagumkan. Mengingatkan kembali bahwa (bagi saya) menguatkan motif-motif untuk menonton film indonesia di bioskop. Nama-nama yg sudah saya sebutkan tadi, Jasanti, Prisia, Adinia, Titien plus satu lagi, Leni lolang sbg produser,  mereka semua adalah wanita indonesia, membuat film indonesia, yg bersetting di luar negeri. Ini adalah salah satu value tersendiri yg patut saya kasih jempol, karenz, apayg mereka kerjakan di mata saya cukup berhasil. Saya sangat terhibur dangn film ini tidak hanya setting film ini di bbrp negara eropa dengan ke-khas-an landscape kota dan alam yg “authentic”.
Saya sangat bersemangat menjelaskan ttg “authentic” ini. Ini dia. Kita tahu bbrp spot eropa yg sangat terkenal, misalnya menara eifel di paris, rumah kincir angin di belanda, coliseum di roma italia, dan banyak tempat-tempat yg menjadi point of interest (poi) para wisatawan ke benua itu. Namun, namun! Tempat2 sekelas yg saya sebutkan tadi malah tidak begitu dieksplor di film ini (dan ini adalah sebuah berita bagus). Artinya, tidak perlu membawa-bawa ke-khasan poi-poi di eropa untuk membuat jalan cerita film ini menjadi menarik. Tidak perlu lah ada scene Laura dan Marsha foto2 di depan menawa eifel, atau tempat lain. Malah yg diperlihatkan hal-hal yg tidak terpikirkan, mulai dr tempat prostitusi di di ansterdam, tempat penyimpanan bir, patung yesus di pinggirjalan, mengendarai vespa melewati pegunungan entah apa namanya, hingga sebuah scene yang menggambarkan kota kecil yg menjadi scene penting sabagai salah satu penutup film ini (lihat gambar diatas, itu yg saya maksudkan).
Saya membayangkan berapa lama/ribet riset yang mereka lakukan untuk menerjemahkan naskah dan menemukan tempat2 tersebut di tempat yg bukan mereka sebut sebagai rumah..?? So, itu (salah satu) yg patut saya kasih jempol utk film ini, tim movie maker para wanita indonesia yg membuat film di luar negri dan membuahkan hasil yang sangat memuaskan.

Alasan 2
Telah saya katakan di atas, saya akan menyebutkan alasan kedua mengapa saya sbg penonton awam menyukai film ini. Saya susah lama mendengar promosi yang baik ttg film ini dan sudah lama ingin menontonnya bahkan sejak pertama diputar di festival Arte. Sayangnya krn jam kerja sy skip, dan bersabar menunggu rilis bioskop reguler. Kenapa? Sebagai penyuka kegiatan travel, backpaker, dan adventuring film ini lumaya  menyentil saya krn “tema traveling”-nya. Eropa. Dua wanita Indonesia yg berkeliling Eropa. Akan tetapi, saya cukup percaya diri mengatakan tema utama film ini bukan sesempit traveling, namun lebih dari itu. Film ini menyinggung ttg persahabatan, kekeluargaan, conflict-resiliency, dan lain-lain. Setting di eropa menguatkan ‘keberadaan sang tokoh’ dan ‘bagaimana para tokoh’ melakukan resiliensi konflik di tempat yg jauh dr rumah.
Selanjutnya, akting para tokohutama yg berada dalam peforma maksimal. Dua karakter hang digambarkan denga  sangat berbeda, tidak hanya memperlihatkan prlk dan habit yg berbeda, namun jg bagaimana mereka berfikir, menyikapi sebuah objek (masalah), bagaimana mereka experiencing sebuah kejadian, menjadi sangat menghibur untuk ditonton. ? Last but not least, alasan kedua, yaitu ‘keberanian’ sutradara dan tim menggambil gambar2 sensual yg sangat jauh dari definisi murahan. Mungkin kalian yg sudan nonton tahu apa yg saya maksud. Ada gambar2 yg cukip ‘berani’ ditayangkan, namun karena kecerdasan situasi dan sudut pengambilan gambar, saya sebagai penonton lebih beropini apresiatuf timbang keluar pikiran kotor.

Namun tidak terlepas dari kritikan saya, ada beberapa hal yang membat saya mengeluarkan reaksi “kok gitu”.0, yaitu timeline dr film ini entah yg terlalu terburu2 atau memang ada bagian yg dipotong, rasanya menjadi kurang lengkap. Pertama, saat Laura kecelakaan, koma, dan dg jangka waktu yg sangat pendek, dia sdh puluh dan afika masih terlihat mungil dan imut. Kedua, saat mereka berdua bekerja sbg partimer di restoran, entah tdk jelas digambarkan berapa lama, tiba2 mrk sdh seperti sangat beradaptasi dg lingkungan barunya. Rasional saya 3-5 minggu, namun film itu tdk menunjukkan demikian.

Overall, saya dk akan menarik kata-kata saya mengenai apresiasi yang saya berikan setelah menonton film ini. Outstanding!

Advertisements

~ by imankurniadi on June 17, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: