Wan An (short movie)

396394_239172606159945_1690889341_n

Puji syukur akhirnya saya dapat menonton film pendek di layar lebih lebar kembali setelah 7 bulan tinggal di kota metropolitan ini. Kesibukan bekerja di perusahaan oil gas services membuat saat petang selama weekdays tidak bisa kemana-kemana kecuali masih menghadap di komputer. Namun, hari sabtu 1 Desember 2012 adalah weekend yang sempurna walaupun saya tidak membakar lemak sama sekali karena berjam-jam duduk untuk menonton 13 judul film.

Satu judul berjudul Wan an, (yang artinya selamat malam).

Wan An

Film ini adalah “sebuah karya tugas akhir” oleh para mahasiswa Institut Kesenian Jakarta Fakultas Film dan Televisi. Mungkin, artinya, film ini dibuat sebagai persyaratan untuk lulus dan menempatkan gelar tertentu di nama para penyusunnya oleh institut pendidikan tersebut. Teringat saat saya melakukan penelitian skripsi dan thesis untuk sebuah tugas akhir, tidak lain dan tidak terkecuali seluruh waktu, energi dan pikiran tercurahkan untuk tugas akhir itu. “Yak tugas saya selesai”, setelah berhasil menyelesaikan tugas akhir tersebut. Mendapatkan masing-masing skripsi dan thesis dengan nilai cukup baik saya sudah puas. Namun, Wan An sebagai tugas akhir ini, tidak hanya waktu, energi, dan pikiran yang mereka curahkan, namun juga passion dan hasrat untuk membuat tugas akhir mereka tidak hanya sekedar “yak, tugas akhir kita selesai”. Saya paham mengenai ini, karena emosi itu menular emosi film ini kepada saya. Beberapa orang memang memilih untuk bersekolah dan menempuh pendidikan sebagai pembuat film, beberapa orang memilih untuk menontonnya, dan beberapa orang memilih untuk menulisnya sekaligus mengacungkan jempol.
Untuk sebuah tugas akhir, two thumbs up!, ok mari lanjutkan menulisnya

Saya katakan tadi, emosi menular. Itulah megapa saya sering mengalami “cinematicorgasm” saat menonton film dengan stimulus-stimulus (rangsangan yang maksimel (ie layar lebar, ruang gelap, sound memukau). Pemutaran Wan An di IIC tgl 1 Desember 2012 adalah salah satu film yang sangat menyampaikan emosi yang digiring kepada penontonnya, saya. Salah satu yag lain yang berjudul Senyawa oleh Raphael. Salah satu yang lain berjudul Merindu Mantan oleh Andri Cung. Namun hanya Wan An yang dpaat mengembalikan hasrat menulis review film pendek saya yang sudah lama tidak dipancing.

Wan An salah satu tipikal film pendek yang memenuhi persyaratan “film pendek outstanding”. Sebagai catatan, persyaratan “film pendek outstanding” yang akan saya kemukakan adalah versi saya sendiri :p. Pertama, mengenai set atau lokasi pengambilan gambar. Sangat “pendek”. Beruntungnya saya siang tgl 1 Desember 2012 seusai pemutaran 10 film pendek, panitia EOS menampilkan para movie makernya. Dan diskusi ringan dilakukan. Tenryata pemilihan set/lokasi pengambilan gambar yang “pendek” itu sama sekali tidak mengeluarkan usaha yang “pendek”, bahkan totalitas. Itulah perlunya sebuah passon atau hasrat dalam membuat film/tugas akhir ini. Diceritakan sutradara menginginkan sebuah set harus sangat cocok dengan script yang ada. Siang malam siang malam berkendara sepeda motor tidak ketemu. Akhirnya semua tim diinturksikan untuk berhenti bekerja dan bersama-sama mencari set yang diminta. Lokasi (rumah) sudah ditemukan, hambatan lain bermunculan. Ternyat apemilik rumah memiliki penyakit lansia akut: pikun.

Kedua, script. Aduh, berusaha tidak spoiler. Saya membayangkan naskah film ini adalah “pendek”. Namun saya yakin waktu yang dibutuhkan untuk me-review / me-brainstorming / me-kritisi atau istilah yang lain untuk merevisi berulang kali naskah film ini. Mungkin seperti ini diskusi antara penulis dan sutradaranya: “menurutku yang bagian ini jangan seperti ini, terlalu datar” | “nggak ah, sudah cukup kok, malah jangan muluk-muluk, gini aja kan sudah manis” | “kalo bagian ini, konfliknya harus kerasa, plot emosinya jangan terlalu meninggi, segini aja” | “endingnya gimana, gini aja ya?” | “gimana kalo begini, endingnya di beginikan, lalu dibeginikan setelah ini” | “sip, seru itu!” (*sotoy, maaf). Intinya, saya sarankan, kalian tidak membuka fan page Wan An di facebook, karena terdapat script simple film ini. Kalo kalian baca, takutnya emosi yang sya akatakan sbelumnya tidak akan kalian alami :p.

Ketiga, sepeti film pendek pada umumnya, biasanya terpusat pada satu atau dua cast saja. Untuk Wan An, pemain yang bermain peran adalah Hengky Solaiman dan Maria Dentoe sebagai pasangan suami istri. Dan teman akrab mereka yang dipernakan oleh Ferdinandus Suryono. Hanya 3 aktor, pendek kan?!?! Untuk akting, sepertinya tidak perlu dikomentari para aktor artis senior ini. Untuk film pendek, akting “pendek” mereka sangat luar biasa. Menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar untuk membawa mood dan emosi penontonnya.

So, untuk short film manis sebagai tugas akhir, i put cinematicorgasm for Wan An rate 90/100

393953_239174972826375_170525205_n

*Semua informasi dan foto teknis diambil dari fan page Wan An di FB > http://www.facebook.com/pages/WAN-AN-the-short-movie/189237731153433?sk=info saya menyarankan agar anda tidak membukannya, agar saat menonton film ini tetap dalam keadaan zero :))

Advertisements

~ by imankurniadi on December 7, 2012.

One Response to “Wan An (short movie)”

  1. […] ini, dan beberapa diaantaranya saya juga membuat reviewnya. Yaitu: Boncengan [review], Wan An [review], Jumprit Singit [review], How To Make Perfect Xmas […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: