Mualaf Itu

Mualaf itu ibuku sendiri

Story by Kurniasih (for certain reason, edited by Kurniadi)

Seorang gadis, cantik, bernama Tuti. Lahir di Kuningan, Sunda, lalu dibesarkan di Cirebon, Jogja dan Semarang. Tuti adalah ‘aktivis’ Katolik, pembaca al Kitab setiap ibadah di Gereja. Gadis ini sudah yatim piatu sejak kelas 6 SD, anak ke sembilan dari sepuluh bersaudara itu lalu dibesarkan oleh adik dari ibunya di Semarang. Tuti tak kuliah, hanya tamat setingkat sma, lalu melajutkan sekolah di asrama katolik rumah sakit Panti Rapih di Jogja. di sana tugasnya mengurus kehidupan para perawat rumah sakit itu, membuatkan makanan, mencucukan pakaian, bersih-bersih…

Masa SMP-nya ia habiskan sambil berjualan pisang goreng, apem, es dan makanan kecil lainnya yang dibuatnya sendiri… sepatunya hanya satu, itu sudah butut, tasnya juga, tas lungsuran, tasnya ibu-ibu lagi. Rumahnya jauh dari sekolah, tapi ia tidak pernah bolos, selalu masuk. Setiap hari berjalan kaki sambil membawa jajanan itu untuk dijual… tidak malu.

Tuti punya sahabat, anak orang kaya, Agnes namanya. Tasnya banyak, sepatunya banyak, cantik, modis, dan ramah… Agnes anak pejabat TNI, jadi harus sering pindah-pindah ikut dinas Ayahnya, ketika suatu saat dia harus pindah, Agnes ke rumah Tuti, dan memberikan semua tas dan sepatu miliknya pada Tuti. Itu kenangan bersama Agnes yang tidak terlupakan, entah dimana sekarang Agnes berada… 

Ayah Tuti, sebenarnya warga sipil biasa, tapi ketika masa penjajahan, warga sipil juga dituntut untuk berperang. Tuti tidak mengalami, tapi kakak-kakaknya mengalami harus mengungsi masuk ke hutan, menyebrang sungai, bahkan sampai bersembunyi di jurang…

Pemuda, jodoh Tuti, adalah pemuda desa di Jogja, tepatnya di Bantul, yang punya cita-cita besar untuk menjadi orang sukses. Begitu tekun, rajin dan jujur dia. Baru kuliah di FT UGM setahun, kemudian mendapat tawaran untuk sekolah di STT TELKOM. Diterimanya tawaran itu, dan merantaulah pemuda itu ke Bandung.

Namanya Hardi.

Dalam perjalanan di kereta, Hardi bersebelahan dengan seorang nenek yang membawa dua cucunya,

Di sana ia punya banyak ‘guru’, bahkan terkadang pemudia itu tekun belajar sampai bermalam di rumah ‘guru’-nya itu…

Kembali pada si gadis, gadis 10 bersaudara, 3 sudah meninggal. Jadi tinggal 3… dari keenam saudara yang lainnya, hanya ia dan adiknya yang belum menikah. Adiknya dibesarkan oleh kakak perempuannya yang nomor 2, di Bandung…kakak perempuannya itu telah masuk Islam, ikut agama suaminya..

Ya, pertemuan mereka di sana. si pemuda besar di lingkungan desa yang agamanya masih abangan. beberapa anggota keluarganya, meskipun Islam tapi jarang sholat. Tapi syukurlah, pemuda itu hanya mengerti bahwa ibadah itu hanya sholat. Maka, paling tidak, meskipun mungkin masih ada yang bolong, dia menjalankan sholat.

Suatu ketika, pemuda itu bermalam di rumah salah satu ‘guru’-nya. dan ketika waktu sholat tiba, dia pun sholat di kamar, dan pintu kamar tidak ditutupnya…

Di hari yang sama, si gadis sedang bermain ke Bandung, mengunjungi kakak dan adiknya. ketika ia di sana, seorang pemuda, murid dari kakak iparnya juga sedang bermalam di sana. ketika gadis itu hendak masuk ke kamar, ia melihat seorang pemuda sedang sholat ( sedang melakukan gerakan ruku’). Gadis bertanya-tanya, siapakah orang itu. Gadis itu tahu pemuda itu sedang melaksanakan ibadahnya, tapi dalam benaknya, kenapa ibadah haurs dengan gerakan-gerakan seperti itu, selain itu, dia pun berdecak kagum, rajin benar pemuda ini…

Mereka berkenalan di sana. dan akhirnya, menjalin hubungan percintaan. meskipun beda agama, keluarga gadis maupun pemuda, tidak menentang. Orang tua angkat gadis mengetahui bahwa pemuda sudah mapan (waktu itu sudah bekerja di Telkom). Meskipun beda agama, tapi dia setuju dengan harapan, pemuda mau diajak masuk ke agama di gadis. Orang tua si pemuda pun tak masalah, karena pengetahuan agama Islam keluarga itu kurang dalam. Orang tuanya memberikan kebebasan, bahkan kakak tertua si pemuda itu pun sudah masuk nasrani mengikuti agama suaminya.

Setelah saling cocok dan merasa yakin untuk akhirnya menikah, maka mereka pun segera menikah. Dengan komitmen, mereka tetap pada agama mereka masing-masing, tidak ada yang saling memaksa untuk pindah agama. bahkan si pemuda berkata, ” Dek, kita sekarang tetap pada agama kita masing-masing dulu, nanti berjalan saja apa adanya, apakah adek yang masuk agama saya, atau saya yang masuk agama adek. kalau sudah punya anak, biarkan mereka bebas memilih.”

Bahkan, pernikahan mereka berlangsung secara Katolik, di gereja…

keluarga itu harmonis, sang suami terus bekerja keras untuk keluarganya. Ada semangat tersendiri begitu berkeluarga. Ia semakin tekun dan kariernya pun semakin meningkat. Dan ia pun mendapat kesempatan untuk sekolah lagi.

Sang istri begitu lembut dan tangguh. menerima semua apa adanya, tidak suka mengeluh, perhatian dengan kebersihan, setia dan mendukung penuh suaminya.

Mereka menetap di Bandung.

Anak pertama mereka, meninggal ketika masih janin. Laki-laki…
kemudian lahirlah anak pertama perempuan..jadilah mereka ayah dan ibu…

Tiga tahun kemudian, ketika hamil anak kedua… sang ayah mendapat kesempatan sekolah di luar Bandung, jadilah ia jarang pulang. sang ibu, yang sedang hamil pun akhirnya tetap ada di Bandung. Tapi justru karena kesendirian itulah, sang ibu banyak merenung.. rumahnya dengat Masjid dan setiap hari ia mendengar suara adzan berkumandang. bergetar hatinya mendengar itu. tetangga sebelah rumahnya seorang muslim yang taat, begiru adzan berkumandang, keluarga Mamah (panggilan untuk keluarga di sebelah rumahnya) langsung mengambil wudlu lalu sholat. Ketika mereka mengambil wudlu itulah, sang ibu yang pintu rumah belakangnya tembus/jadi satu dengan pintu rumah belakang rumah Mamah, mendengar begitu indahnya suara air wudlu mengucur…

karena penasaran, pada kesempatan berikutnya, diintiplah keluarga Mamah yang sedang berwudlu itu… hatinya pun bergetar…

Keluarga mamah juga sering mengaji, dalam hatinya berdecak kagum pada umat muslim, bagaimana bisa, tulisan arab yang rumit itu bisa dibaca begitu lancarnya oleh orang Islam…

Sering ia merenung, sampai suatu saat, Allah memberinya petunjuk… seorang ibu-ibu, yang biasanya jual baju dan mukena/rukuh ke rumah-rumah, bertamu ke rumahnya. Karena tidak tahu bahwa sang ibu beragama non muslim, ibu penjual itu menawarkan rukuh pada sang ibu. merasa terketuk hatinya, dan seperti ada yang menyuruh, maka ia pun membeli rukuh itu… dalam hatinya sudah berniat, ‘aku ingin sholat seperti orang islam…’

Sejak saat itulah, sang ibu yang suaminya masih di luar kota itu, mulai melakukan sholat. meski tak paham apa yang dibaca dan bagaimana gerakan detailnya, tapi sang ibu tetap sholat dengan menirukan gerakan-gerakan seingatnya…

sang ibu ketakutan bila hal itu diketahui orang lain. masih ada rasa malu pada dirinya… sampai pada akhirnya, ia pun menceritakan maksudnya untuk masuk Islam pada kakak perempuannya yang lebih dulu menjadi muslim.

Begitu suaminya pulang, begitu senangnya ia mengetahui maksud istrinya untuk masuk ke agamanya, dan bahkan sudah berusaha melakukan sholat. Karena selama ini belum bersyahadat, maka sang istri pun bersyahadat di hadapan suaminya… terlahirnya dia seperti bayi, yang dosa-dosa sebelumnya dihapuskan… diberi lah nama keduanya itu (laki-laki) dengan nama……….

Mualaf itu Ibuku sendiri…

by Kurniasih on April 13, 2007

Advertisements

~ by imankurniadi on August 1, 2012.

One Response to “Mualaf Itu”

  1. Subhanalah, Tuhan akan membimbing setiap orang yg baik pribadinya ke jalan yg lurus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: