Vaastu – Fadaelo – Homeland

Kurang dari 24 jam saya telah berulang kali menonton video yang berjudul Vasstu. Dan berulang kali saya membuat catatan-catatan kecil sebagai reaksi spontan yang terlintas di otak kiri saya, otak kanan saya, dan berkembanglah menjadi sebuah review video ini pada paragraf-paragraf dibawah. Ternyata catatan kecil saya semakin berkembang, karena secara tidak sengaja membandingkan video yang lain oleh moviemaker yang sama, rekan-rekan saya, Ayos, Mbah, Putri, Giri, Luki dari Hifatlobran. Sayangnya, tidak hanya menulis dan mereview, saya juga masih kurang menonton sebuah video/klip sejenis. Yah, setidaknya lewat blog dan kalian para pembaca, ini meluangkan kesempatan yang saya ciptakan sendiri untuk memikirkan hal lain disamping peekrjaan. Selamat membaca.

Kemarin TL saya dipenuhi oleh tweet dari @Hifatlobran mengenai video mereka yang terbaru, Vaastu, dan berulang kali saya menontonnya di vimeo. Video yang bertajuk “Vaastu” ini kata mereka adalah sebuah video perjalanan. Saya pun masih bingung dan tidak yakin, Vaastu yang berdurasi 2 menit 18 detik ini lebih tepat dimasukkan ke dalam kategori film pendek, atau dokumenter, atau videoklip, atau iklan sebuah produk atau perusahaan tertentu, atau kategori lainnya. Bukan kategorisasi yang saya utamakan dalam pembahasan ini, karena entah kenapa saya cukup merasa terus-menerus haus dan lapar untuk menikmati sebuah karya audio-visual berbentuk/berkategori apapun. Pertanyaannya, apakah video semacam Vaastu (atau karya Hifatlobrain sebelumnya, Homeland) dapat memenuhi rasa haus dan lapar saya?

Para comrades Hifatlobrian Travel Institue telah melansir beberapa ‘video perjalanan’ pada site mereka, yakni, Homeland, Fadaelo, Vaastu, dan lain-lain. Sebagai situs yang unggul dengan brand ‘travel documentary’, saya cukup menikmati video-video mereka. Entah video itu memang ‘pure dokumenter’ no-editting yang mereka shot dengan peralatan sederhana (seperti digicam) atau yang lebih modern (seperti DSLR), maupun video yang dikonsep dengan storyboard atau naskah yang rapih dan editing yang cermat. Saya akan memposisikan diri saya sebagai penggemar film, dari ketiga video yang saya sebutkan diatas, maka saya akan menyebutkan bahwa Homeland adalah yang terbaik. Karena, unsur cerita dan ‘dramaturgi’ di film ini sangat jelas. Yaitu, seorang fotografer yang sedang melakukan perjalanan dan teringat dengan seserang yang menunggunya di rumah. Saya sangat menyukai jalan ceritanya, plot, dan bagaimana scene-scene yang sangat indah tersajikan dengan sangat elok dan outsanding. Saya kagum dengan bagaimana mereka memperlihatkan Bromo di video ini padahal saya sudah pernah kesana lebih dari tiga kali. Scoringnya pun yang didominasi oleh suara gitar sangat mampu menghayutkan penonton untuk mesuk kedalam film tersebut. Satu , ada satu hal yang sangat saya suka di video Homeland ini, yaitu ‘human-interest photography‘. Selain scene alam yang indah, saya kagum dengan bagaimana Homeland memperlihatkan dan menangkap gesture-gesture maupun ekspresi wajah-wajah di video ini, gesture dan wajah para penduduk lokal serta para talent. Itulah salah satu bentuk nyata dari sebuah kreativitas.

Tadi saya sebagai penggemar film, sekarang saya akan memposisikan diri saya sebagai pelaku traveler. Cek di blog ini, ada kategori “pembelajar di atas aspal”, itu adalah catatan-catatan perjalanan-perjalanan yang pernah saya lakukan. Tidak semua perjalanan yang saya lakukan saya buat catataannya memang, namun jika memang perjalanan itu sangat menarik untuk diceritakan kembali, mengapa tidak membuat catatannya?. Toh saya traveling untuk coping. Sebagai pelaku traveler, saya harus bilang Fadaelo adalah juaranya. Yup, video yang sangat rapih editting, scoring, dan sinematografi yang outstanding. Video ini bisa dikatakan video dokumenter singkat dengan sebuah pengolahan lebih lanjut yang fantastis. Saya tidak melihat sesuatu yang memiliki kecenderungan sengaja untuk di-direct pada Fadaelo yang berdurasi 3 mneit 20 detik itu. Scene-scene video ini dipenuhi oleh gambar-gambar landscape yang sangat mempesona, saking indahnya menumbuhkan iri hati pada diri saya yang belum pernah berkunjung ke tempat itu. Diperlihatkan pula para pelaku traveler bagaimana cara mereka menikmati perjalanan mereka dan interkasi mereka dengan budaya lokal.

Nah, video terbaru yang mereka buat, bersama Wego Indonesia, adalah Vaastu. WOW, dan saya ingin menjlentrehkan apa maksud saya dengan berkata WOW yang artinya positif. Tetapi karena permintaan admin Hifatlobrain sendiri untuk mengomentari Vaastu ini dg cadas, maka saya mencoba untuk menjadi kritikus yang kejam. Hahahahaha

Bukan bloopers, tetapi sedikit kejanggalan. Pertama, carrier hitam si cewek, bermerek Norwand, hei ini bukan iklan tas merek tertentu kan. Kedua, carrier hitam jelas seperti tidak ada isinya. Biasanya carrier traveler itu isinya penuh, biasaya terdaoat botol air mineral di kantong kiri/kanan. Kalo carrierku biasa kuisi permen. Ketiga, dilihat warna wadrobe-wadrobe yang dipakai si cewek sepanjang film, tidak mungkin dia membeli carrier warna hitam. Keempat, di pasar diperlihatkan si cewek dikepang, jika memang dia solo-traveling, lalu siapa yang mengepang rambutnya? Kelima, sekarang berbicara tentang time line plot film itu. Jika time line film itu berbeda (ditandakan oleh si cewek memakai baju yang berbeda dan berada di tempat yang berbeda pula), tidak dalam satu garis lurus yang maju, maka tidak masalah. Jika time line nya sama, yaitu pada saat si cewek sedang melakukan traveling, maka menimbulkan lagi kejanggalan lainnya. Keenam, jadi di dalam carrier hitam ada beberapa tas yang berbeda.

Tadi baru sebagian kecil komentar cadas saya, nah berikut komentar utamanya. Saya cukup menyukai video ini, akan tetapi saya yakin video ini bisa lebih bagus lagi. Karena setelah melihat ‘behind the scene’-nya disini, ada beberapa scnee yang sangat bagus kelihatannya tetapi tidak muncul. Kedua, untuk extras (figuran), sepertinya perlu di-direct lebih bagus, karena sepertinya kurang natural memerankan sebagai sosok yang ditanyai oleh cewek yang sedang traveling.

Cukup komentar cadasnya, sekarang saya memposisikan sebagai movie-reader. Mencoba menjadi seorang movie-reader yang baik, maka saya akan menjlentrehkan maksud saya atas WOW di atas. Hifatlobran dan Wego sukses berkolaborasi untuk membuat video ini, menciptakan sebuah “awareness” yang sangat berhasil membuat penontonnya untuk “menoleh”. Seperti sebuah advertising/iklan produk yang sering ditayangkan di televisi, kebanyakan iklan tersebut tidak hanya memberitahu tentang apa produk tersebut, keunggulan produk itu, dll. Namun yang paling krusial adalah bagaimana dengan media iklan itu bisa “mencep/menclok” ke dalam memory atau bahkan unconsciousness para penontonnya. Mancep/menclok itulah yang saya maksud dengan ‘awareness’. Setelah ‘awareness’ lalu apa? Nah, mungkin maksud Wego juga mempromosikan Vaastu di site mereka dengan imbalan hadiah IPad adalah untuk maksud ‘campaign’. Ada beberapa yang bisa disampaikan dlm sebuah ‘travel campaign’ yang dikampanyekan di Vaastu ini. Diantaranya, Jember punya pantai tersembunyi yang indah, penduduk lokal adalah petunjuk jalan terbaik, jangan takut kesasar, jangan takut ber-solo-traveling, temukan kejutan-kejutan dalam bertraveling, interaksi dengan penduduak lokal saat bertraveling, dan lain-lain. Sesuai dengan yang dituliskan oleh editor Wego Indonesia disini:,

Barangkali pepatah klasik yang dilontarkan oleh seorang filsuf dan theologis Latin, St. Augustine, tepat menggambarkan pesan yang ingin disampaikan oleh video Vaastu ini: “Hidup bagaikan sebuah buku; mereka yang tak pernah bepergian hanya membaca satu halaman saja”.
Bepergian lah, dan temukan sendiri arahmu. Tak perlu gentar, justru sebaliknya, sambut lah kejutan-kejutan tersebut dengan tangan terbuka sebagai sebuah pengalaman baru. Bermimpi. Berkemas. Berangkat.

Saya suka dengan inti cerita cewek yang sedang melakukan perjalanan, berinteraksi dengan penduduk lokal untuk bertanya arah, dan memperlihatkan dia sedang membuat catatan perjalanan. Cukup sederhana dan tidak terlalu lebay, apalagi didukung dengan pemilihan talent dan cast saya rasa sangat tepat. Lagi-lagi Samuel Respati menciptakan karya yang tidak cukup diacungi 2 jempol. Sebagai music director Vaastu, video ini diiringi oleh musik yang cukup sederhana namun bisa me-reinforce ‘awarness’ yang saya katakan tadi. Tidak hanya music director, Giri Prasetyo sebagai DOP tidak diragukan lagi kemampuannya. Banyak shot-shot CU yang cantik, terutama bagimana dia melakukan editing shot-shot tersebut yang secara sadar atau tidak mampu memunculkan ‘awareness’ yang dicari-cari oleh otak kanan penontonnya. Dari sebuah ‘awareness’ yang berlanjut pada ‘travel campaign’, video ini juga menciptakan impact ‘brain wash’. Nah, ini sudah masuk/menclok/mancep pada level ‘unconsciousness’. Caranya mudah untuk melihat apakah impact ini muncul atau tidak muncul pada seseorang yang menonton. Jika penontonnya hanya berkata “keren!”, maka hanya pada level consciousness. Namun, jika penontonnya hanya berkata “wuih.. kapan ya aku bisa kayak gitu…”, atau “pengen kesana deh”, atau muncul perilaku solo-traveling setelah menonton Vaastu, maka dia sudah menanamkan sedikit (atau beberapa/banyak) ‘travel-campaign’ di level ‘unconsciousness’-nya.

So, pantaskah saya dapet seporsi siomay dari mimod Hifatlobrain ? :p

Advertisements

~ by imankurniadi on June 7, 2012.

4 Responses to “Vaastu – Fadaelo – Homeland”

  1. reviewmnya mantap, saya seneng juga liat travel dokumenter dari hifatlobrain, overal ketiga video vaastu, fadaelo dan homeland memang patut diacungi jempol, eh! dua jempol 🙂

  2. hihi. setuju ama carrier kosong ituh, mas. tapiiii mas.. cewek tuh bisa loh ngepang rambut sendiri. Suer deh! hehehe..
    bagaimanapun, ini ulasan cadas yang manis pedas. #halah

    Salam kenal yaks 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: