Departures (Okuribito – 2008)

Director: Yôjirô Takita | Writer: Kundô Koyama | Casts : Masahiro Motoki, Ryôko Hirosue and Tsutomu Yamazaki

Tulisan ini saya buat setelah berturut-turut menonton tiga film Indonesia istimewa di bulan April-Mei, yaitu Sanubari Jakarta, Modus Anomali, dan Lovely Man. Saya menjadi teringat film ini, karena film ini bisa menjadi sebuah contoh, sebuah ide cerita yang sangat movie-minded dipadukan oleh “resiliensi budaya” yang cukup teguh dalam sebuah film. Yang saya maksudkan adalah, film ini adalah sebuah contoh, bahwa sebuah peraduan ide cerita/skenario/screenplay/naskah film yang masih berpijak pada budaya asli (ie budaya tata cara rias jasad yg baru meninggal atau Nokanshi/encoffineer di Jepang) namun dunia tetap bisa menerima apa maksud dan pesan film ini yang tidak terlepas dari nilai inti dari budaya tersebut. Bukti bahwa penonton dunia menerima dengan baik film ini karena film ini mendapatkan penghargaan Academy Awards (piala Oscar) pada kategori Best Foreign Language Film of the Year. Saya yakin beberapa sutradara Indonesia telah melakukan hal ini, membuat film dg “resiliensi budaya asli pada sebuah film”, akan tetapi rekognisi dunia (contohnya piala Oscar) juga perlu, sebagai sebuah lecutan maupun viagra agar perfilman Indonesia semakin maju. Sebagai contoh, Ifa Isfansyah di filmnya Sang Penari, Garin Nugroho dg filmnya Opera Jawa, Drupadi oleh Riri Riza, dan lain-lain.

Departures menceritakan seorang pria dengan idealis yang cukup tinggi dengan profesinya sebagai pemain cello professional, bernama Daigo Kobayashi. Suatu hari grup orchestranya bubar dan terpaksa akhirnya dia kehilangan pekerjaan. Ibunya baru meninggal, dan dia bersama istrinya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman sang suami dan menetap di rumah ibunya dulu. sebagai pengangguran dia tidak menemukan pekerjaan yang sasuai di kampung halamannya sebagai pemain cello. Pada akhirnya dia tertarik pada sebuah iklan bertuliskan “perusahaan departure/keberangkatan”, “gaji besar”, dan “tidak membutuhkan keahlian khusus”. Ternyata itu adalah sebuah perusahaan yang mengurusi riasan orang yang baru saja meninggal untuk upacara pemakaman. Film ini sangat menarik, karena periasan jasad tersebut dilakukan dengan tehnik yang sangat tinggi, artistik, memiliki nilai seni, karena akan mempengaruhi bagaimana suasana pada upacara pemakaman yang dilakukan oleh keluarga yang ditinggalkan.

Saya sangat menyukai bagaimana dinamika emosi pada konflik-konflik yang disajikan di film ini. Sang perias jasad diwajibkan untuk tetap stabil saat di tengah-tengah anggota keluarga yang menangis sedu. Periasan harus dilakukan dengan sangat khidmat, tanpa kesalahan, dan dengan tata cara yang mengandung nilai budaya yang tinggi. Film ini tidak hanya menceritakan “profesi menakjubkan” di dunia, namun lebih dari itu. Film ini juga mengandung nilai baik dari sebuah forgiveness, belajar dari sebuah kesalahan dalam hidup, dan bagaimana penerimaan diri kita bahwa kita harus menjalani hidup jauh dari passion yang sudah ada di dalam diri kita. Film ini tergolong film yang memberikan kesan sangat slow, dialog yang cukup minim, dengan scoring yang cukup minim pula. Penggambaran emosi ditampilkan tidak muluk-muluk namun tetap sejalan dengan plot cerita dengan sedikit maju dan mundur.

Cinematicorgasm rate 85/100

selamat menonton

Advertisements

~ by imankurniadi on May 15, 2012.

2 Responses to “Departures (Okuribito – 2008)”

  1. film yg bikin wow….
    apalagi pas akhirya si tokoh utama “memberangkatkan” org yg berarti di hidupnya…TT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: