Perjalanan yang Normal

#hari pertama, rabu, 21 Maret 2012

Pukul 9 kurang saya telah tiba di stasiun Gubeng lama, dengan tas berisi pakaian, laptop, dan benda-benda lain, plus juga tas selempang kecil pemberian dari kak Ecki dan Kak Afni. Saya pun sangat siap untuk long weekend ini, destinasi Yogyakarta dan sekitarnya. Kereta Logawa telah tiba, jam 9.20 tepat kereta dari Jember ini berangkat menuju pemberhentian terakhirnya, Purwokerto. Logawa, gerbong 1 bangku 7C, adalah dimana saya akan menghabiskan kurang lebih 7 jam kedepan. Sudah ada seorang ibu-ibu dari Surabaya dan Ibu-ibu berkacamata bersama anak kecilnya berusia 3 tahun yang membawa cukup banyak barang. Yang satu menuju Kroya, yang satu menuju Ngawi. Yang satu adalah guru yang sedang menempuh pendidikan S2 di Unesa Surabaya, yang satu hanyalah ibu rumah tangga dengan hobi menanam pohon. Kereta berhenti di stasiun Sepanjang, dan rombongan ibu-bapak-bayi-si nenek-si kakek pun memenuhi bangku kami. Mereka menuju Solo, untuk pindahan. Tak jarang pembicaraan secara sengaja terjadi, dimulai dari pertanyaan: “badhe teng pundi mas..?“, dan dilanjutkan dengan jawaban dan pertanyaan pula: “badhe teng Yogyo, njenengan teng pundi..?“. Wajar memang seperti itulah tipikal penumpang kereta ekonomi, sebuah interaksi pasti terjadi, karena para penghuninya akan merasa sederajat. Dan pembicaraan pun dilanjtkan dengan hal-hal yang tidak lazim, seperti si ibu dengan anaknya berusia 3 tahun membawa sebuah bibit pohon akan menjadi sebuah oembicaraan tentang pohon. “Wit nopo niku bu?“. Ternyata dia membawa pohon matoa atau kelengkeng Irian yang didapatkan dari kerabatnya yang menjadi TNI di sana. Dia akan tanam di kampung halamannya di ngawi karena menurut dia Ngawi adalah tanah yang cocok untuk pohon sejenis itu. Begitu pula dengan rombongan keluarga besar yang cukup ramai saling berbincang dan menyantap bekal mereka. Tak urung saya ditawarkan dan saya langsung dibagi makanan kecil yang mereka bawa.

Rasa ngantuk pun tidak menghinggap di mata saya, apalagi memperhatikan oerang-orang yang berlalu-lalang mengais rejeki halal di atas Logawa. Mulai yang berjualan kopi-pop-mie, berjualan segala jenis makanan berat hingga ringan, berjualan suara (ngamen), berjualan mainan, buku, asesoris, hingga pengemis yang meminta tetapi tetap memberi, yaitu doa. Satu pengemis tua yang buta saya letakkan kepingan 500 rupiah di tangannya, dan dia sigap beterimakasih dan mendoakan saya agar saya panjang umur. Amin.

Pukul 15.30 Logawa tiba di Lempuyangan, sebuah stasiun yang wajib disinggahi oleh kereta ekonomi dari manapun. Turun dari kereta, segera saya mengirim pesan kepada Erwin sepupu saya dari Kalasan untuk menjemput. Sambil meunggu, syaa nikmati bakso gerobak di depan stasiun dan hanya saya habiskan 5000 rupiah lumayan untuk mengganjal perut.

Sengaja saya berpergian sendirian untuk perjalanan saya kali ini, karena mengunjungi sebuah ‘point-of-interest‘ bukan destinasi utama, melainkan hal-hal lain yang ingin saya temukan, salah satunya bersilaturahmi, dan, menemukan kembali diri saya yang dulu. Setiba di Kalasan, sebuah kecamatan kecil di kabupaten Sleman-Yogyakarta, di rumah adik dari ibu saya, bulek Sri, yang akan menjadi base-camp perjalanan saya 4 hari kedepan. Tentunya, aktivitas obrolan dan perbincangan tentang kabar baik keluarga saya di Malang (dan sebaliknya di Kalasan) menjadi topik utama. Malam itu juga setelah santap malam, naik motor pinjaman paman saya segera mengunjungi sepupu saya yang juga tinggal di wilayah Kalasan, keluarga mbak Erry dan Mas Yanto. Rasa kangen terbayarkan ketika saya bertemu dengan trio Ilham, Fariz, dan Tama, 3 putra mbak Erry yang masih kelas 1 SD, TK, dan playgroup. Walau usia mereka sudah bertambah banyak sejak terakhir kali bertemu, namun perilaku mereka sebagai anak kecil tetap menyenangkan apa-adanya. Kembali perbincangan bagaimana kabar baik dan kabar lain antara keluargaku dan keluarga Mbak Erry tetap menjadi topik utama, terlebih lagi dipenuhi suasana yang menyenagkan tentang tingkah laku 3 bersaudara itu saat menonton “Tendangan si Midun”. Filmnya dipenuhi dengan humor-humor garing seperti tendangan ‘kamehameha’, tapi terasa sangat menyenangkan ketika menontonnya dan tertawa bersama mereka bertiga.

#hari kedua, kamis, 22 Maret 2012

Pukul 6.30 saya sudah bersiap dan berangkat menuju Solo, hotel Wisata Indah, naik sepeda motor Skywave matic ber plat AB. Jalanan Yogya-Solo pagi hari yang cukup ramai dengan bisa maupun kendaraan pribadi, merupakan sebuah sensasi bersepeda motor yang layak dinikmati. baru pertama kali say amelakukan ini. Sebetulnya saya menghubungi mbak Mey, panitia acara seminar ini, detik-detik terakhir sebelum saya berangkat ke Yogya. Bahwa, ya, say bisa menghadiri acara seminar ini dan pembayaran tidak akan saya lakukan via transfer, namun saya bayarkan penuh di lokasi acara. Seminar ini memang saya incar jauh hari dan dan sangat berminat untuk mengikutinya, karena iming-iming “overhaul sistem pengupahan menggunakan berbagai global grading system (HAY, MERCER, FES, dll)”. Hay dan Mercer, itulah ilmu yang ingin saya dapatkan pada seminar ini. Cukup luar biasa ilmu praktis tentang payroll saya dapatkan satu hari ini, bersama pak Bima sebagai fasilitator yang memiliki pengalaman outstanding tentang sistem pengupahan. Berikut saya lampirkan salah satu slide sabgai pengantar seminar ini :

#hari ketiga, Jumat, 23 Maret 2012

Serupa seperti hari kedua, setiap subuh anjing Erwin bernama Omponk selalu menyapa saya dengan gonggongannya yang beda tipis antara mengancam/menakuti dengan ungkapan rasa takut, bahwa terdpaat orang asing hitam gendut sedang berada di wilayahnya. Selamat merayakan hari raya Nyepi untuk umat Hindu. Hari kedua, adalah jalan-jalan mengunjungi beberapa point-of-interest dimana tujuan utama saya kali ini adalah wilayah Gunung kidul atau Wonosari, salah satu kabupaten yang cukup luas di wilayah selatan dan timur Yogyakarta. Kita berempat (Iman, Erwin, Esti, Ervan) sudha bersiap, dan berangkat pukul 7.30 untuk #destinasi pertama: cave-tubing di gua Pindul. Perjalanan Kalasan-Pindul cukup memakan waktu, sekitar 1 jam kami tempuh, melintasi pedesaan dengan aspal yang mulus dan lalu lintas yang snagat fresh. Biaya perorang adalah Rp. 30.000, sudah termasuk sepatu karet (yg membutuhkan), ban, pelampung, dan pemandu. Wisata ini baru 1 tahun berdiri resmi, dan point-of-interest-nya adalah petualangan menyusuri sungai di dalam gua dengan media ban. Air sungai terlihat keruh, dan kami memasuki gua dengan penjelasan dari pemandu mengenai asal mula gua ini dan apa saya yang ada di gua ini. Kami mulai menyaksikan banyak stalaktit dan stalakmit yang sudah mati maupun yang masih ‘tumbuh’. di tengah perjalanan, di spot tertentu si pemandu mematikan lampu mereka dan membimbing kita untuk merenung atas segala anugrah dari Dia yang telah memberikan indra yang sempurna. Sensasi ‘kegelapan abadi’ benar-benar sensasional. Ada spot lain dimana kita bisa main air sepuasnya, dan melakukan lompatan dari ketinggian 2 meter. Sayangnya ada yang kurang dari caving Pindul ini, yaitu kurang lama, kami di dalam hanya sekitar 35 menit.

Setelah mengeringkan badan dan nyemil bakso, kami menuju destinasi berikutnya, yang lumayan dkat dr Pindul. Air terjun Sri Gethuk. Plng menunjukkan air terjun Sri Gethu dan Pantai Ngomaran mengharuskan kami belok kiri (dari arah Pindul). Lalu berkendaralah selama kurang lebih 30 menit dan sampailah kita pintu loket air terjut. Tiket masuk hanya 2000 dan parkir motor hanya 1000. Sayangnya, saya tidak tahu ada plang “lewat darat”, sehingga kami terlanjut beli tiket kapal 7500 each. Dan mengantrilah kami untuk menunggu kapal. Setibanya di spot air terjun, wow. Air terjun ini terdiri dari sekumpulan air terjun, saya hitung ada 3 air terjun besar dan beberapa air terjun kecil. Mungkin karena musim hujan dan debit air tinggi, maka terbentuk pula air terjun kecil-kecil. Puas sekali, menjelajah air terjun satu ke air terjun yg lainnya. Sensasi memanjat-manjat batu yg licin dengan guyuran air itu sangat seru sekali. Tak lupa sensasi pijat alami, dimana punggung saya hadapkan langusng pada air terjun.

#hari keempat, Sabtu, 24 Maret 2012

Pantai Banyunibo : Purwodadi, Tepus
Pantai Baron : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Busung : Purwodadi, Tepus
Pantai Butuh : Karambilsawit, Saptosari
Pantai Drini : Banjarejo, Tanjungsari
Pantai Gesing : Girikarto, Panggang
Pantai Grigak : Giriwungu, Panggang
Pantai Jagang Kulon : Purwodadi, Tepus
Pantai Jogan Wetan : Purwodadi, Tepus
Pantai Karangtelu : Girikarto, Panggang
Pantai Kelosirat : Purwodadi, Tepus
Pantai Kesirat : Girikarto, Panggang
Pantai Klampok : Girijati, Purwosari
Pantai Klumpit : Purwodadi, Tepus
Pantai Krakal : Ngestirejo, Tanjungsari
Pantai Krokoh : Songbanyu, Girisubo
Pantai Kukup : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Lambor : Purwodadi, Tepus
Pantai Langkap : Karambilsawit, Saptosari
Pantai Muncar : Purwodadi, Tepus
Pantai Nampu : Giriwungu, Panggang
Pantai Ngandong : Sidoharjo, Tepus
Pantai Ngetun : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngobaran : Kanigoro, Saptosari
Pantai Ngondo : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngrenehan : Kanigoro, Saptosari
Pantai Nguluran : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngungap : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngunggah : Giriwungu, Panggang
Pantai Nguyahan : Kanigoro, Saptosari
Pantai Pakundon : Purwodadi, Tepus
Pantai Parangedong : Girijati, Purwosari
Pantai Parangracuk : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Sadeng : Pucung, Girisubo
Pantai Sawahan : Purwodadi, Tepus
Pantai Sepanjang : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Siung : Purwodadi, Tepus
Pantai Slili : Sidoharjo, Tepus
Pantai Songlibeg : Purwodadi, Tepus
Pantai Sundak : Sidoharjo, Tepus
Pantai Timang : Purwodadi, Tepus
Pantai Torohudan : Kanigoro, Saptosari
Pantai Watugupit : Giricahyo , Purwosari
Pantai Watutogok : Purwodadi, Tepus
Pantai Wediombo : Jepitu, Girisubo
Pantai Weru : Purwodadi, Tepus
[sumber]

Yap, hari keempat adalah target-target pantai di atas. Ternyata — yang telah berhasil di daftar — terdapat 46 pantai di Kabupaten Gn Kidul. Sebelumnya saya telah mengetahui, bahwa memang banyak sekali pantai bagus di gn Kidul. Ada yang bilang 10, ada yang bilang belasan, ada yang bilang dua-puluhan, dll. Yg syaa tahu, akses untuk kesana cukup sulit, sehingga akan lebih cerdas jika membawa kendaraan sendiri. Tentunya kendaraan bermotor roda dua tetap pilihan yang paling bijak. Dari sumber yang telah saya cantumkan di atas ternyata terdapat lebih dari 46 pantai di Gn Kidul. Tepatnya 46 pantai. Yak, target hari keempat adalah ke pantai-pantai tersebut.

Pukul 04.30 saya sudah terbangun dan si Omponk tetap menggonggong saya, padahal ini hari keempat saya di Kalasan, pagi dianggap musuh, malam bersahabat, hehehe. Pukul 05.30 saya sudah berangkat, mengendarai sepeda motor roda dua milik om kris. Memang tujuan utama adalah keliling pantai, tetapi mumpung, terdapat rekan-rekan traveler yg mengabarkan bahwa mereka mendaki dan camping di Gunung Api Purba Nglanggeran. Maka tidak ada salahnya untuk berencana untuk mampir dan say hallo. Mereka adalah Mas Dwi, Bunda Ranting, pak Dady, tiga teman traveler dimana pertama kali syaa traveling bersama mereka saat ke Pulau Sempu. Plus rekan mereka Erwin dan Mas Kiting. Tiba di pos pendakian Nglanggeran pukul 6.15, hanya membayar 2000 untuk parkir motor dan 5000 untuk perijinan, saya mulai mendaki. Berbekal hanya 1 botol aqua dan permen Hexos saya pun mulai mendaki Nglaggeran seorang diri. Tidak khawatir, karena saya sebelumnya sudah pernah mendaki gunung ini bersama Pandu dan Yudi pada tahun 2010an. Ini foto 2 tahun lalu saya mendaki Nganggeran, foto diambil di puncak tertinggi :

Kurang lebih satu jam saya mendaki, dan tibalah di puncak tertinggi. Pukul 7 puncak masih diselimuti kabut tebal, dan kulihat kawan-kawan di sana yang sedang membereskan tenda. Dan kami pun saling menyapa. Belum sempat melihat pemandangan di atas, kami turun menuju spot camping yang cukup nyaman, dimana Dwi dan ibunda Ranting menderikan tenda. Kami gelar jas hujan sebagai alas, dan mulai memasak sesuatu untuk mengganjal perut yang lapar. Di spot yang lebih rendah itu pun pemandangan tak kalah indahnya:

Ok, gini aja, saya sudha malas mengetik….
Sebelum saya lanjutkan cerita saya, tidak seperti perjalanan-perjalanan lain yang pernah saya lakukan, perjalanan kali ini sangat bernuansa individual. Apakah saya sendiri nyaman dengan hal ini?, YA dan TIDAK. Tidak: Yang menjadi masalah adalah perkembangan jaman yang sangat cepat dengan dirasakannya perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat pula. Ada satu kawan yang menginginkan live report perjalanan saya, ya, dengan sedikit kesombongan dan ego yang tinggi aku berfikir “mengapa tidak? mengapa tidak aku melakukan sebuah live tweet?”. Ya, kuputuskan untuk melakukan live tweet pada malam hari sepulang perjalanan (karena live tweet tdk dpt dilakukan secara live krn buruknya sinyal) selain alasan untuk memenuhi permintaan kawan saya itu, juga untuk menunjukkan siapa saya dan seberapa besar kesombongan saya hingga ada yang menyadarkan saya bahwa live tweet seperti itu juga mengganggu kenyamanan orang lain, khususnya kenyamanan timeline orang lain. TIDAK: banyak prasangka yang muncul di kepala saya mengenai teman-teman saya. Mengapa saya tidak diajak traveling oleh mereka, cukup kesal, jengkel, dan sakit hati ketika mengetahui mereka pergi entah kapan dan saya tidak diajak tidak tahu. Apalagi di sebuah komentar, menyindir sikap saya yang terlalu perhatian dan saya akui saya melakukan kesalahan untuk bersikap yang berlebihan, pada waktu itu, waktu itu sudah lama. Seperti yang sedang saya lakukan di wordpress ini. Saya salah, sekaligus saya bingung. Mengungkit kesalahan masa lalu utk lelucon itu sangat lucu sekali. Saking lucunya sukses membuat orang tersinggung. Saya salah dan saya tersinggung. Cuih!

YA : saya menjadi merasa normal, dan itu terdengar seperti kabar buruk. YA : sebuah perjalanan saya jadikan sebagai bentuk “coping”. Seperti ke karimun jawa sebagai bentuk coping atas stressnya saya di tempat kerja. Atau bereuni bersama teman2 Gebrakers sebagai bentuk coping bahwa saya sedang merasa kesepian. Nah, coping kali ini adalah untuk bentuk perilaku pecundang yang saya tunjukkan dan mengatasi sebuah argumentasi pada diri saya bahwa ada kalanya saya membenci diri saya sendiri. setidaknya melakukan traveling adalah sebuah bentuk coping yang positif. Tetapi saya tau yang lebih positif, yaitu share/berbagi/curhat egan teman atau sahabat. Tapi saya malas sekali begitu, dan itu terdengar seperti kabar buruk.

Maaf tidak saya lanjutkan ceritanya, intinya aku singgah di 7 pantai, liat aja foto2ku di FB, sekian.

Advertisements

~ by imankurniadi on April 10, 2012.

One Response to “Perjalanan yang Normal”

  1. Waaaaahhh……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: