The Sunset Limited (2011)

“this place is a moral lepra colony..” (The Sunset Limited)

Director: Tommy Lee Jones | Writers: Cormac McCarthy, Cormac McCarthy (play) | Stars: Samuel L. Jackson and Tommy Lee Jones

Biasanya, sebuah film yang terkesan sangat megah, pasti mengeluarkan banyak biaya untuk memperlihatkan adegan-adegan mahal, scene dengan landscape maupun landmark yang orisinil, studio yang megah, kostum dan makeup yang ribet, kamera HD yang mahal, atau mungkin yang akan terus berkembang adalah memperlihatkan scene dengan special effect yang sangat rumit. Sebut saja film-film yang digarap oleh Michael Bay seperti Armageddon dan Transformer, atau film-film lain bertemakan sci-fi yg mengambil latar belakang luar angkasa. Film-film itu biasanya akan sangat laris, karena untuk itulah sebuah film dibuat, untuk penontonnya, dimana para penontonnya–juga manusia biasa– adalah makhluk yang haus akan suplemen otak yaitu hiburan maupun imajinasi, dan para produser bisa menyedikan itu di sebuah tempat yang bernama bioskop, tv, layar monitor, LCD atau lainnya. Sebelum teknologi TV dan sebagainya ditemukan, manusia juga sudah menemukan bagaimana memenuhi rasa haus yang saya sebutkan tadi, yaitu menuangkan ide dalam sebuah naskah dialog, dan aktor artis bermain peran di dalamnya, saling berakting di sebuah panggung yang sama, atau disebut sebagai ‘play’ atau di Indonesia akrab dengan sebutan ‘teater’.

Film ini diambil dari naskah “play” yang saya maksudkan, oleh Cormac McCarthy.

Satu film dengan dialog yang luar biasa, seakan akan dialog itu sendiri menggambarkan dua orang yang saling memukul, atau ledakan mobil, atau adegan action di film-film action. Terkadang naskah/screenplay yang membuat dialog dalam sebuah tak kalah seru dengan menonton adegan action yang menegangkan. The Sunset Limited mengingatkan film yg berjudul Frost/Nixon {disini review saya} sebuah film based on true story mengkisahkan reporter bernama Frost mewawancarai presiden as yg baru saja terkena skandal Water Gate, Presiden Nixon. Dialog-dialog di film itu sangatseru, seperti juga di film The Sunset Limited ini. The Sunset Limited menceritakan dua orang, kulit putih (White) dan kulit hitam (Black) di sebuah ruang apartemen milik Black yang sednag berbincang-bincang. Selama kurang lebih 90 menit 99% film ini hanya berbincang-bincang saja, tidak keluar dari situ, tidak ada orang lain yang disotor, dan juga tidak menyorot tempat lain pula kecuali kamar apartemen milik Black itu. Mereka membincangkan banyak hal. Inti permbicaraan mereka adlaah mengenai faith and believes, apa yang dipercayai si White dan apa yang dipercayai si Black. Apa yang mereka percayai sering bertolak belakang.

Kalau kalian menyukai film yang “ngomong thok” atau “hanya berbicara”, film ini bagus!

White: The darker picture is always the correct one. When you read the history of the world you are reading a saga of bloodshed and greed and folly the import of which is impossible to ignore. And yet we imagine that the future will somehow be different.

Black: The light is all around you but you don’t see nothing but shadow. And you’re the one causing it. It’s you. You’re the shadow! That’s the point.

Cinematicorgasm rate 80/100

Advertisements

~ by imankurniadi on February 5, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: