Moneyball (2011)

Directed by Bennett Miller (Capote) | Steven Zaillian (screenplay) and Aaron Sorkin (screenplay), Stan Chervin (story), Michael Lewis (book “Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game”) | Cast : Brad Pitt (Billy Beane), Jonah Hill (Peter Brand), Philip Seymour Hoffman (Art Howe), Robin Wright (Sharon)

Saya telah menonton film ini sekitar beberapa minggu yang alu, dan film yang bagus adalah film yang sulit diungkapkan dengan kata-kata untuk mengomentarinya. Seperti film ini. Saya pribadi menilai cinmatic orgasm rate 90/100, excellent! Bukan karena Brad Pitt, bukan karena Seymor Hofman, dan bukan karena based on true story, especially biography of Billy Beane. Tetapi film ini memang benar-benar bagus. Namun saya tetap memuji akting Brad Pitt, di film ini dia memerankan Billy Beane dan Pitt benar-benar mengeluarkan personality Beane dengan sangat extraordinary (penilaian saya sendiri sebagai orang yang benar-benar tidak mengenal Billy Beane). Jonah Hill yg memerankan Peter Brand sebagai “statistic-geek” menaikkan level dia sebagai aktor hollywood. Film yang masih saya ingat diperankan oleh Jonah, adalah sebagai aktor pendukung di film The Invention of Lying dan so so saja. Bennet Miller, sang sutradara, masih belum akrab di telinga saya. Setelah saya search lewat IMDB, ternyata dia adalah sutradara film Capote, film ini cukup jenius, terutama menggunakan Seymor Hoffman juga di film Capote ini (sebagai penulis novel). Sedangkan Philip Seymour Hoffman, si aktor serba bisa, dia memerankan Art Howe di Moneyball ini, seorang pelatih baseball yang tetap mengandalkan insting untuk melatih para pasukannya. Untuk aktingnya? seperti biasanya.

Kembali ke Brad Pitt, 100% i’m absolutely agree dia mendapatkan nominasi aktor terbaik di The Academy. Dan mengingat film Brad Pitt yang lalu-lalu, sebagai Rusty di Ocean’s 11, sebagai Benjamin di the Curious Case of Benjamin Button, sebagai Tyler Durden di Fight Club, saya membandingkan, performanya paling hebat memerankan Billy Beane ini. Hey, di Moneyball ini Brad Pitt selain menjadi aktor leading, dia juga memiliki peran penting, yaitu sebagai produser juga. Jadi saya punya dugaan, seseroang bernama Pitt, memiliki hobby bermain dan menonton baseball. Lalu pada suatu saat, dia menjadi saksi kehebatan Billy Beane seorang manager klub baseball Oakland Athletics yang menang berturut-turut selama 20 kali. Lalu dia jadi aktir besar dan sudah memproduseri beberpaa film, da Pitt berfikir, “aku harus membuat film ttg Billy Beane, aku akan memproduserinya, dan sekalian saja menjadi aktor memerankan Billy Beane di film itu”. Hahaha, hanya dugaan.

Di paragraf awal, saya sempat mengatakan, bukan karena Brad Pitt saya menilai film ini 90 dari 100. Akan saya kupas satu persatu mengapa seprti itu. Pertama, film ini adalah film based on true story, khususnya biography Billy Beane (seorang manager klub baseball Oakland Athletics). dari awal hingga akhir, sekitar 85 % film ini hanya menfokuskan pada Billy Beane saja. Dia menjadi pusat perhatian di film ini. untuk membuat film seperti itu si sutradara dan tim harus benar-benar hati-hati, karena bisa terjadi dua akibat, 1. membosankan karena berlebihan, 2. menjadi film bagus, tetapi agak menyombongkan karakter. Nah, film Moneyball ini tidak seperti itu. Walaupun 85% bahkan lebih film ini hanya terfokus pada Billy Beane saja, tetapi si sutradara dan tim bisa membutanya dengan sangat cantik. Bagaikan sebuah brownies, menjadi brownies kukus yang matang sperpurnha di seluruh bagiannya. Karena karakter Billy Beane yang diungkap dan digambarkan di film ini sangat ideal, holistic, dan equilibrium :p. Bagaimana konflik batin (ekspresi wajah) saat menghadapi kegagalan, bagaimana dia berfikir, bagaimana dia mengambil keputusan, bagaimana sikap egois menjadi ciri khasnya, dan bagaimana dia mempercayai pasukannya untuk memenangkan sebuah pertandingan baseball. Ini alasan pertama.

Kedua, film ini memiliki editing gambar dan suara yang sangat konvensional, tidak berlebihan, perlahan, sederhana, pasti, tapi mengagumkan. Hal ini berhubungan dengan alur atau plot cerita yang digiring di film ini dari awal hinga akhir. Coba perhatikan, editing gambar film ini itu sangat biasa saja, tetapi pengambilan gambar, “peramuan”, dan mixing terlihat sangat mengagumkan. Nah, alasan kedua ini yang saya bingung harus berkata apa. Kalau saya simpulkan, walaupuan konvensional dan sederhana, tetapi editing gambar dan suara film ini tetap memunculkan jiwa dan value apa yang dibawa dari film ini. Ini alasan kedua.

Ketiga, film ini adalah film yang bertemakan ttg baseball, khususnya bagaimana mengelola atau memanage tim baseball untuk mengatur komposisi tim dan memenagkan pertandingan. Billy Beane adalah soerang manager, dan Jonah Hill adalah asisten yg dikenal “statistic-geek”. Tiga kata kunci, ‘baseball’, ‘tim management’, ‘group dynamics’. Menurutku, i my humble opinion, tiga kata kunci ini yang menjadi “soul” dari film ini, sebuah “soul” yang membuat film ini bagus untuk ditonton. PERTAMA, ‘baseball’. Baseball adalah olah raga. Dalam olah raga pasti ada kompetisi. Dalam kompetisi pasti ada menang dan kalah (dan juga draw yang jarang muncul). KEDUA, ‘tim management’. Sepengetahuan saya dalam manajemen pasti berkutat issue-issue sbb: kepemimpinan (manajer, pelatih), objectives/tujuan-tujuan (memenangkan pertandingan, memperoleh pemain bagus), resources/sumberdaya (lapangan, fasilitas,uang, dana), pengambilan keputusan (penyusunan komposisi tim). Ada POAC (planning, organizing, action, controlling) disitu. KETIGA, ‘group dynamics’ atau dinamika kelompok. Teringat mata kuliah Dinamika Kelompok yang diajar oleh bu Ike beberapa tahun yang lalu, “konflik meningkatkan peforma”, terlihat juga di film ini. Siapa saja yg terlibat? manager, para pencari bakat, asisten manager, coach, dan tentunya para pemain. Ini alasan ketiga.

Keempat, hal ini langsung saya tweet setelah menonton film ini. Kalo tidak salah seperti ini : “klimaks film ini keren banget, scene yang menggambarkan klimaksnya seakan diputar 359 derajat”. Maksud saya adalah, saya sangat suka bagaimana Moneyball menggambarkan klimaksnya, terutama bagaiaman ekspresi dan perilaku Billy Beane digambarkan. Kenapa saya mengatakan 359 derajat, karena walapun datar, tanpa ada tepuk tangan, atau latar belakang suara yang bergemuruh, klimaks film ini sangat orisinil dan mengagumkan. Dan juga, anti klimaks yang disajikan di film ini juga tak kalah macho. Ini alasan keempat.

hehehehehe

cinematicorgasm rate 90/100

Advertisements

~ by imankurniadi on January 29, 2012.

3 Responses to “Moneyball (2011)”

  1. Bang Iman, nih film rekom banget, aku nonton sampai 2 kali dalam satu hari. Asli kereeeen nih film, buat para decision maker sepertinya film ini patut jadi salah satu bahan acuan. hahaha…

  2. Kalau menurut saya, klimaks film ini ada di endingnya. Ketika Billy sedang menyetir mobil sembari matanya berkaca-kaca karena mendengarkan rekaman anaknya yang sedang bermain gitar sambil menyanyi. Youre such a fool dad!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: