somehow, those are just a coping (note for: 1 café + 1 hill + 2 waterfall + home)

Rancana kali ini berawal dari “ONANI DI KASOR” kepanjangan dari “OBROLAN SANA SINI DI KAMIS SORE”, pada hari kamis tgl 10 februari 2011 di depan BNI. “Ayo siapa ikut trakking ke coban talun, aku sama yudi rencannae numpa’ speda”. Begitu awalnya. Dan beberapa teman akhirnya tertarik ikut, Alex dan Adhi. Yes !! tambah rame !!

Hari jumat berlalu…… seperti biasa: spesial, karena smeuanya spesial, yang spesial rasanya biasa ….

Hari sabtu, 12 Feb 2011, beragkat ke kantor pukul 6 kurang, langusng menuju ruanganku, my other passion corner. Sudah terdengar suara music house, tanda senam akan dimulai. sementara teman-teman dan para pengemudi idolaku bersenang-senang dg instruktur senam yang seksi, saya di ruangan membuat absensi, menyortir lamaran untuk kesekian kalinya, mengitung alat tes, dll. Bagus rekanku akhirnya datang membantuku. Pukul 8 kurang, semuamuamuanya sudah disiapkan, mulai dari In Focus, hingga menyalakan kipas aingin dan AC. Dan psikotespun dimulai. Sebagai instruktur, saya merasa masih sangat jauh dari sempurna. Intonasi suara saya masih terlalu cepat, kadag melesat, atau memberikan instruksi yang cendering mengarahkan dg contoh yang saya berikan. Payah !

Antara pukul 9 – 10 – 11, saya harus naik-turun-naik-turun untuk mengurusi karyawan baru yang baru masuk hari pertama, dan calon karyawan baru untuk mengatakan kepadanya “ini jumlah yang ditawarkan oleh perusahaan, ada pertanyaan?”

Bukan permasalahan organizational citizenship behavior yang sedang menjamur di tubuh saya, atau perilaku di luar job-description utk meningkatkan organizational performance. Tetapi permasalah, apakah aku “menyukai apa yang sedang aku lakukan ini”.

Sabtu si penghujung minggu seharusnya aku pulang pukul 12.00. Ya, karena jamur OCB itu tadi, ini itu ini dan itu harus aku kerjakan agar tidak menumpuk di minggu berikutnya. Pukul 14.30 aku tiba di rumah setelah menempuh perjalanan plus minus 30 menit dari kantor.

Tidurlah aku di couch bau, gatal, dan nyaman.

Dan sms pun tiba mengganggu tidurku, bahwa Alex dan Adhi masih mencari opportunity di Satrbucks, oh.. doa saya menyertai, semoga mereka sukses. Seperti rencana beberapa minggu lalu yang saya batalkan terhadap Yudi, akhirnya sekitar pukul 5 lebih, Yudi datang. Dia membawa molen keju, enak ! Kami menonton film di laptop, saya pun nyambi bersih-bersih rumah karena rumah ketintang ini sudah seperti kapal karam. Akhirnya Adhi dan Alex datang sekitar pukul 8 malam, sambil membawa kado titipanku, sebuah kado untuk Candika. saya ucapkan terimakasih banyak, kalian rela hujan-hujanan untuk membawa hadiah itu. Terimakasih.

Memang impulsive-traveler the best plan is no plan. Dengan cuaca hujan diluar, kita kebingungan apakah memakai motor, bis, atau mobil pribadi. Tetapi opsi ketiga tidak mungkin, karena saya tidak mau membawa Altis. Akhirnya pukul 9 kami naik sepeda motor ke bungur, motor kami parkir, dan ke Malang naik bus. Intinya, sya aharus pulang malam itu, karena di kulkas Ketintang ada dua obat suntik utnuk ayahku di Malang.

Dan rencana pun ditetapkan: Smapai malang, ambil mobil APV, langusng ke payung, ngopi dan makan malam, cangkruk sampe pagi, sebelum pagi ke gunung banyak, menikmati sunrise.

Setiba di malang sekitar pukul 11 malam. Baiknya mas Yanto menjemput kami di Arjosari. Setiba di Permata Jingga, kukeluarkan obat suntuk dan segera kutaruh ke freezer. cuci muka sebentar, pamitan kepada ibuku yang maish mengantuk, dg APV “Pavlov’s Dog”, kami langsung menuju Payung. Sekilas bercerita sahabatku Pavlov’s Dog, dia sudah mengantarkan ku hingga Patulding (ijen), Dieng Plateu, dan Yogyakarta.

Tiba di salah satu café di Payung, pukul 00 lebih. Saya pesen nasigoreng lumayan enak, dg harga cukup sangat murah, 6000. Dengan kopi jahe yang diseduh panas pun kami sruput pelan-pelan sambil melakukan ‘obrolan sana sini’ atau Onani.

Aku kenal Alex, aku kenal Adhi, Adhi kenal Alex, aku kenal Yudi, Alex nggak kenal Yudi, Adhi nggak kenal Yudi. Setelah beronaninani, saling mengenalnya kita berempat. Obrolan mulai dari pendakian Arjuna yangakan kita laksanakan bulan maret (saya semakin ragu ikut), hingga mengenap kejadian-kejadian konyol PC, tempat-tempat PC, yang kami share-kan bersama Yudi.

Mata mulai kriyep-kriyep, sesekali saya merebahkan badan dan mengantuk, sesekali pula teman-teman saya usilnya kumat soro! anc*k !! hahahahaha

Pukul 03.30, kami mulai menuju Gunung Banyak. Melawati jalan tembusan dari Pujon, bukan dari Songgoriti. Karena memang ya begitu itu, yo’opo maneh. Jalan desa yang maish sepi, gelap, dan sempit. Sempet roda selip saat menanjak yang membuat kemu berempat khawatir. alhamdulillah, Pavlov’s Dog masih dalam keadaan prima.

Tiba di parkiran, keluar dari mobil, angin dingin menusuk-nusuk. Itu sama sekali tidak jadi masalah saat kami melihat keindahan kota Batu yang masih gelap dengan lampu gemerlapan. Ironi bukan? bukan lah…. Ambil foto, karena tangan agak tremor kedinginan, hasilnya seperti ini:

DSC01524

Langit kami lihat saat itu mendung, dan kami menduga tidak bisa melihat sunrise. Karena mulai dari Surabaya dan semalaman beronani dan belum tidur, kami berempat memutuskan untuk kembali ke mobil untuk tidur. berbeda dg saya, saya mengokodisikan agar tetap terjaga. Langit mulai terlihat, saya pun kelaur dari mobil, dan benar, mendung menghalangi matahari yang mulai menyapa, “halooooo mister… tangi !!!”

DSC01530   

Melihat cahaya sudah mulai mendominasi langit, saya memaksan teman-teman banyun, untuk foto2 dulu, dan melanjutkan perjalanan berikutnya.

DSC01538

Perjalanan pulang kami lanjutkan via Songgoriti dengan hutan pinus yang sangat khas dengan bau pinus. Lalu saya bertanya degan sangat sederhana “nang ndi rek?”, dan teman-teman menjawab “terserah”. Dan kuputuskan untuk membawa mereka ke Coban Rois. Sebuah air terjun dan bimi perkemahan dengan tiket masuk 2000 per orang. Silahkan baca catper saya pertamakali saya kesini, [disini].

Parkir, ke warung, ngopi lagi, dan memang kami belum sarapan, memutuskan untuk trekking menuju coban rais. Jalur trek di pagi itu mungkin kami pertama yang melaluinya, karena terlihat sarang laba-laba melintas di tengah-tengah jalur itu, dan menghalangi kami yang akan lewat. Maaf pak laba-laba, kami harus merusak sarang anda….. maaf ya …

Jalan-jalan santai melalui hutan, kali, pepohonan, menginjak tanah becek, menembuh alang-alang yang menutupi setapak, itulah yang kami cari. Dan perjalanan itu kurang lebih kami tenmpuh dalam waktu 1 jam untuk menuju air terjun. yang membuat suasnaa semakin asik adalah, tidak ada pengunjung lain selain kita, mulai menempuh jalur itu, hingga sampai di air terjunnya.

DSC01542

DSC01556

DSC01560

Perjalanan kembali ke tempat parkir tentunya memakan watu lebih sedikit. Lalu saya oun melontarkan pertanyaan sederhaba lagi “mangan nang ndi rek?” Mereka pun menjawab “terserah”. Sekitar pukul 10.00 kami mampir alun-alun kota Batu untuk sarapan sejenak. Nah, nasi pecel, kamu membuat perut saya bergairah…..

Kenyang, lanjut ke Coban Talun, sebuah area bumi perkemahan juga dan air terjun. Sebagai catatan, Coban Talun memberikan kenangan tersendiri bagi saya, Adhi, dan Alex. Pada tahun 2004, tahun pertama kami memiliki junior, Coban Talun adalah lokasi perkemahan yang kami pilih untuk menyelenggarakan ospek.

Jalur menuju spot air terjun cukup mudah, bahkan terus menurun. hati-hati tersesat, karena petunjuk jalan minim sekali. Kita pun tersesat. dibawah adlaah foto adhi yang tersesat.

13022011544

Sesampainya di spot air terjun Coban Talun, wow, overwhelming, esp the stones !!! ini fotonya:

13022011549

13022011547

jadi, saya masih berada di spot yang terbawah, mengambil foto ini. Nah, di foto diatas, bisa dilihat, adhi sudah berada agak tinggi, dan untuk mencapai ke tempat itu, harus melewati bebatuan yang awas, otot kaki anda bisa “kecekluk”. Apalagi spot yang telah dicapai oleh alex (pria baju hitam di samoir air terjun siatas, lihat kan…), sama juga, harus memanjat bebatuan, yang cukup berbehaya. Saya peringatkan, cukup berbahaya. Terimakasih kepada Alex, Adi, dan Yudi, yang sudah mau memegangi saya, mendorong pantat saya, menarik lengan saya, ketika dalam proses pemanjatan. Foto  dibawah bukan rekayasa…..

DSC01577

Akhirnya, kami berempat bisa mencapai titik yang terdekat dengan air terjun itu. Kami pun menemukan pelangi yang sesekali muncul. Cukup menantang !!! dan mengagumkan !!

DSC01580

Ada yang menggelitik ketika sahabatku berkata dalam perjalanan kali ini. “Sebisa mungkin iman itu sebentar saja di rumah”. Ya saya membenarkan, saya ingin tetap memiliki rumah, agar terminologi kata “pulang” masih asli melekat pada diri saya. Saya pulang ke malang dg alasan, pertama, mengantarkan obat ayah saya yang perlu dimasukkan ke dalam freezer, kedua, menengok keponakan saya, candika. Menggelitik pula, alasan apa aku sering kelayapan seperti ini. Otherwise, there are such a self coping, for certain reason 🙂

Untitled

Dimana lagi bisa makan semangkan kaya’ gini selain di rumah sendiri :) 

DSC01614

have an awesome day

Advertisements

~ by imankurniadi on June 20, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: