i’m 25 years old, thanks GOD you’ve created time and space

passion corner, 29 juni 2010, sekitar 21.30 (*edited)

Jadi…….saya akan mengucapkan terimakasih bayak kepada anda semua yang telah menyapa saya malam sebelum tanggal 27 Juni 2010 dan pagi hari tanggal 27 Juni 2010, diantaranya:
1. Bapak dan ibu
2. Dek asih, dan mbak yuni terimakasih atas hadiah bukunya
3. Adhi Kurniawan
4. Iman Santoso
5. Nur Yuli
6. Ginta Naufal
7. Nurcahya Budi Utama
8. Meta Istiqomah
9. Endah Setyarini
10. Dyah Aulia
11. Mas Fatoni
12. Mas Yanto, Mbak Eri dan tiga bersaudara Ilham, Fariz dan Tama

Semoga apa yang anda ucapkan menjadi sebuah energi positif bagi diri saya sendiri untuk mengeluarkan sebuah usaha yang lebih manjadi manusia seutuhnya, berkehendak, makhluk sosial yang tak tergantikan, menjadi seorang kakak yang memberikan pencerahan, menjadi adik yang selalu dibicarakan, dan manjadi satu-satunya putra yang dibanggakan, dan memiliki masa depan dimana saya bisa terus bercerita dan berbagi mengenai apa saja yang membuat orang-orang di sekitar saya terinspirasi.

amin….

Haha, sifatku yang selalu usil adalah mengedit account info FB-ku terutama di tanggal ulang tahun, agar tidak keluar di birthday remainder teman-temanku yang memiliki account di situs jejaring sosial yang sama. Bukan untuk alasan menghindari notifications yang terlalu banyak, tetapi alasan khusus lainnya…

Tanggal 26 juni malam pukul 11 kami satu mobil, saya, mas yanto, mbak erry, ilham, fariz, tama, kulkas, lemari baju plastik, dan barang-barang lainnya berangkat menuju yogyakarta. Tujuan utama mas yanto adl boyongan dan saya membantunya, dan tujuan utama saya adalah menghadiri resepsi pernikahan Pak Fatah, rekan kerja saya.

aku dan tiga bersaudara, ilham, fariz, dan tama (tama sedang dipangku ibunya jadi nggak kelihatan)


Tanggal 27 Juni 2010 subuh kami tiba di rumah Om Kris, dan sesuai rencana sebelumnya, mobil APV Pavlov’s Dog dibawa mas yanto ke rumahnya untuk menurunkan barang, dan saya menunggu erwin bangun untuk meminjam sepeda motornya pergi ke Kulon Progo menghadiri resepsi pernihakan. Karena lelah mengemudi bergantian semalam, setelah sholat saya tidur kembali.

Sebenarnya saya melewatkan sebuah kesempatan yang jarang ada. Jika tidak jadi ke Jogja tanggal 26 Juni malam hari, mungkin saya sudah makan malam bersama soerang wanita cantik., hahahaha, tapi janji untuk membantu mas yanto dan keluarganya lebih dahulu, family things first..

Pukul 7.30 saya terbangun, mandi, dan membangunkan Erwin yang masih terlelap. Setelah mendapatkan kunci sepeda, STNK, dan sepeda motornya, pukul 8 lewat saya segera pergi ke Kulon Progo. Sebelum saya berangkat, saya sudah tahu ancer-ancer dimanakah daerah itu, tidak jauh dari kampung jalaman ayahku, sehingga saya sudah benar-benar mengenal daerah itu.

Jarum indikator bensin menunjukkan di area merah, dan mesin motor automatic berhenti secara tiba-tiba, dan terpaksa menenteng hingga berteemu dg penjual bensin eceran atau pom bensin. Bertemu dg penjual pom bensin eceran, Yogyakarta telah menunjukkan keramah-tamahan masyarakatnya. Merasa kesulitan bagaimana cara membuka jok untuk membuka kap bensin, si penjual langung berusaha membantu. Suzuki Skywave memang berbeda dg motor pada umumnya, car amembuak joknya berebda, saya mengetahuia setelah menelepon si pemilik.

BANTUL-SRANDAKAN-KULON PROGO
Jalan-jalan berkendara sepeda motor di pedesaan memberikan kesan tersendiri bagi saya, walaupun saya berkendara sendirian, tapi itulah nikmatnya hidup pada tanggal 27 Juni hari itu. Tidak ada polusi, tidak ada klakson, tidak ada motor yang ngawur, tidak ada pengamen atau pengemis perempatan, tidak ada angkot yang berhenti seenaknya, tidak ada polisi yang mengincar para pelanggar rambu lalu lintas, bahkan rambu lalu lintas pun jarang.

dipinggir jalan aspal ada rumput, pohon, dan sawah


Ada momen saat saya berkendara di jalan beraspal sejajar dengan kali, dan saya bertemu dengan beberapa orang yang bergotong-royong membersihkan tikar di kali itu. pemandangan yang sangat tidak mungkin terjadi di kota Surabaya.

dan saya pun berucap 'monggo mas...' dan merka dengan ramah membalasnya 'monggo...'

Daerah itu belum pernah aku kunjungi, atas petunjuk rute dari Candra sepupunya, saya melanjutkan perjalanan ke Kulon Progo, sebuag desa di Kecamatan Bantul. Hampir tiba di lokasi, saya kesasar dan bertanya kepada tukang dawet. Peta yang ada di sampul undangan saya tunjukkan kepada tukang dawet itu, dan mungkin karena masalah pendidikan dia kurang bisa membaca peta. dan dia langusng berkata:

Tukang dawet: daleme sinten tho pak?
Iman: sekedap, pak eko
Tukang dawet: oooo pak eko, niku pak (mengarahkan rute yang akan ditempuh)
Tukang dawet: tidak menerima sumbangan biasane
Iman (agak terkejut): nggih pak, matur suwun

Jadi begitulah orang desa pikir saya. Sangat kekeluargaan., hebat !!! walaupun tidak bisa membaca peta. Setiba di lokasi pernikahan, ternyata yang dikatakan tukang dawet itu benar, tidak ada kotak untuk memasukkan amplop uang, tidak seperti di kota-kota. Jadi begitulah orang desa, sangat bersahaja.

Bertemu dg rekan kerja yang lain, dg bangga saya menjawab pertanaan mereka “sendirian pak, naik motor, tuh motor saya, hehehehe”. Sengaja saya berangkat tidak berberengan dg rekan kerja yang lain naik bis, agar bisa bebas melakukan perjalanan tanpa terikat. Tak disangka pula, saya bertemu dengan mbak kuntari, dulu pernah membimbing saya dimata kuliah psikodiagnostik 4.

tidak masalah memotong jalan depan rumah, toh tidak akan ada kemacetan dan memang suasana desa seperti itu, kekeluargaan

IMPULSIVE TRAVELING TO KALIURANG
Selama pagi dan siang itu, yang ku pikirkan adalah, “habis acara ini kemana ya”. Saya sms beberapa teman, dan menganjurkan mencoba untuk ke daerah Kaliurang dan mengunjungi yang namanya musium Ullen Sentanu.

Ada satu tips yang perlu dikuasai oleh traveller motorcycle, seni bertanya, khususnya seni bertanya di jalan, lebih khususnya lagi seni bertanya di perempatan. Tips pertama, carilah orang yang kira2 tidak terlalu tua, usia matang, dan orang lokal yang mnengenal daerah itu. Cirinya adalah mukanya sangat bernuansa lokal. Tips kedua, saat berada di perempatan, jgn lupa membuka kaca helem sebelum bertanya, lalu pilihlah ciri2 orang pada tips pertama. Pilihlah sepeda motor plat lokal, yaitu AB, usahakan yang berboncengan, sehingga memungkinkan kita untuk multi informasi. Dalam sebuah persimpangan dimana kita akan kebingungan, maka kita bertanya untuk menuju persimpangan berikutnya, dan jika bingung, bertanya kembali. Yang terpenting adalah, kita harus yakin bahwa kita masih di Indonesia, masyarakatnya berkomunikasi dg bahasa yg sama, bahasa Indoensia.

Pertama kali ke lokasi ini, rute menuju Kaliurang membuat saya kagum, tidak hanya jalan berkelok kelok naik turun dg suhu yg dingin dan sejuk, tetapi jg ditemani oleh pemandangan alam yg memang ini yang memang saya cari dalam perjalanan ini.

patung udang, gerbang menuju kaliurang


Tiba di pintu gerbang, dengan membayar 3500 memasuki wilayah wisata Kaliurang, di loket langsung bertanya dimanakah letak musium Ullen Sentanu, dan mbak-mbak itu menjawab, “Ullen Sentalu mas, ada bertigaan yang belok kiri ke bawah, trus ada petunjuk, belom kanan dan ikuti jalan”. Oo.. ternyata namanya Ullen Sentalu, bukan Ullen Sentanu, dan ternyata ada arti sendiri yang sangat mengsipirasi dari nama musium ini, nanti saya jelaskan.

Sebenarnya sebelum tiba diloket Kaliurang ini, saya telah bertanya ke beberapa orang, di perempatan-perempatan, di Circle-K, dan di persimpangan dekat Kaliurang, menanyakan dimanakah musium Ullen Sentanu itu dan mereka tidak tahu. Sepertinya musium ini tidak begitu populer. Kemudian pertanyaan saya ganti dengan apakah jalan yang saya tempuh ini benar ke arah Kaliurang. So, mengapa musium ini tidak populer????

ULATING BLENCONG SEJATINE TATARANING LUMAKU
Ullen Sentalu adalah singkatan dari “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”
. Musium swasta yang mulai dirintis tahun 1994 ini diresmikan pada tahun 1997 ini dimiliki oleh keluarga Haryono dari Yogyakarta. Berikut artikel penting yang saya kutip:

Dalam perkembangannya, Museum Ullen Sentalu berpijak pada paradigma baru yang cenderung memaknai warisan budaya berupa kisah atau peristiwa yang bersifat tak benda (intangible heritage). Kecenderungan ini berawal dari suatu kondisi dimana Dinasti Mataram Islam cenderung menghasilkan budaya yang sifatnya intangible dibanding warisan budaya tangible yang lebih pada kebendaan. Padahal intangible heritage yang mencakup semua ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek, ketrampilan yang dikenali sebagai bagian warisan budaya lebih rentan untuk pudar dan punah, apalagi dengan perkembangan arus globalisasi yang semakin tak terelakkan.
Bertolak dari kondisi tersebut, maka Museum Ullen Sentalu berupaya mengembangkan paradigma baru sebagai suatu terobosan yaitu dengan pemilihan lokasi yang berada di daerah pegunungan (resort), dan bukan di downtown; tidak menempati bangunan cagar budaya, tapi bangunan baru pada landscape kosong; dikelola sebagai private corporation dan bukan state institution; bersifat eclectic (carefully selected) collection dan tidak mengandalkan jumlah koleksi massive; lebih banyak memaknai warisan budaya berupa kisah atau peristiwa yang bersifat tak benda (intangible heritage) dan tidak selalu mengandalkan warisan budaya kebendaan (tangible heritage); tidak semua koleksi terdiri dari artefak dan benda memorabilia tetapi sebagian terdiri dari ambiance kebudayaan materi masa kini; tidak menggunakan label pada koleksi yang dipamerkan tetapi mengandalkan tour guide; berifat movement dan bukan monument; sebagai a-muse-ment dan bukan muse-um dan saat ini tengah dikembangkan untuk menjadi living museum dan bukan “dead” museum. [sumber klik disini]

Jadi….ya, musium ini sangat hidup, akan saya ceritakandi paragraf berikutnya. Dengan membayar 25.000, saya menunggu di pintu masuk yang masih tertutup, menunggu rombongan sebelum kami selesai, dan saya akhirnya terbagung dalam rombongan orang-orang yang mengguakan keplek “PESERTA, Diklat Kepala Sekolah….”, ya, saya yang datang sendirian ke musium ini akhirnya bergabung dengan para calon Kepala Sekolah mungkin.

pintu depan ullen sentalu, bersama para guru-guru calon kepala sekolah


Ya, akhirnya pintu dibuka, dan kami mulai masuk melawati jalan setapak dari semen dengan di-iup-i oleh pepohonan yang rindang. Ruangan pertama maki masuki, dan mbak Dewi sang pemandu — kalau saya tidak salah mengingat namanya–, mulai mengucapkan selamat datang kepada saya dan para pengunjung. Seperti artikel yang telah saya post diatas, Ullen Sentalu merupakan musium yang “mengoleksi” bukti-bukti sejarah, peristiwa, warisan budaya dan nilai-nilai kerajaan Mataram Islam, Keraton, dan sebagainya yang bersifat tak benda atau intangible heritage.

jalan setapak di musim ullen sentalu yang membuat musium ini bukan musium


Nah, lalu bangaimana cara mengoleksi sebuah warisan bidaya yang tidak berwujud?? Ullen Sentalu dapat melakukan hal ini dengan cara yang luar biasa. Mudahnya seperti perumpamaan seperti ini: saya adalah penggemar komik, saya mengetahui cerita komik dari melihat gambarnya. Sama juag dengan musium ini. Benda-benda yang ada di musium ini sebagian besar, mungkin 90% terdiri dari banyak lukisan, nah mbak Dewi sang pemandu — kalau saya tidak salah mengingat namanya– bertugas untuk menceritakaan cerita tentang lukisan-lukisan itu. Contohnya, saat dia menceritakan sebuah lukisan yang menggambarkan beberpaa wanita yang sedang menari dan terdapat raja Mataram Islam di belakangnya, dia mengatakan bahwa dahulu setiap raja Mataram Islam harus mampu menciptakan tarian baru, hal ini melambangkan bahwa seorang raja harus memeliki kreatifitas dan berdaya cipta layaknya seorang pemimpin yang dibanggakan oleh rakyatnya. Contoh lain, saat terdapat lukisan yang menggambarkan raja dengan beberapa abdi dalem (pengawal) yang membawa beberpaa benda yang berbeda, mbak Dewi sang pemandu — kalau saya tidak salah mengingat namanya– menceritakan bahwa benda-benda tersbut merupakan sifat-sifat yang harus dimiliki raja, seperti “godam” melambangkan raja harus tegas dalam memimpin, “pari” yang melembangkan raja harus mensejahterakan rakyatnya, dan lain-lain.

Akhirnya tour musium ini diakhiri dengan suguhan minuman hangat yang sangat nikmat, konon minuman ini adlaah minuman yang diminum raja-raja Mataram Islam terdahulu. Dari ruangan yang satu dan ruangan yang lain saya terpukai dengan intangible heritageini yang diterjemahkan oleh mbak Dewi sang pemandu — kalau saya tidak salah mengingat namanya. Jadi jika sudah menuju ruangan yang lain, saya langusng mendekati mbak Dewi sang pemandu — kalau saya tidak salah mengingat namanya–agar bisa mendengarkan dia ber-story telling.

pintu keluar ullen sentalu



MUSIUM GUNUNG MERAPI DAN PULANG

Sudah sore dan memutuskan untuk pulang, sekitar jam 16.00, di persimpangan saya melihat sebuah mobil Jeep dimana terdapat stiker yang bertuliskan “Musium Gunung Merapi, Kaliurang”. Langsung saat itu juga di perempatan saya abertanya kepada bapak-bapak dimanakah letak musium itu berada, dan bapak-bapak berkata saya harus memutar balik dan sekitar 6 km dari persimpangan sebelum Kaliurang. Langsunglah saya menuju ke lokasi itu.

Jalannya cukup sempit untuk dilalui, ternyata saya dilewatkan bukan melewati jalan utamanya. Tjuan ketiga ini benar-benar tidak direncanakan, saya hanya berfikir “mumpung nangkene” dan juga berfikir, “ibuku ke puncak Garuda saat dia 21 tahun, saya juga sudah ke puncak itu di usia 24 tahun, tapi puncaknya sudah patah” [baca disini]. Setelah sampai ternyata musium ini tutup, sehingga saya tidak bisa bercerita kecuali bangunannya yang sangat megah.

di depan musium gunung merapi


Lalu saya pulang, dan ingin sedikit beristirahat saya mampir ke warung sederhana, melihat pembeli di sebelah saya yang memesan menuman di poci, lalu syaa berkata ke pelayan warung itu “pesen yang itu mas”, ternyata itu adalah teh dalam poci tanah liat, disajikan dengan cangkir tanah liat dengan gula batu yang cukup besar.

lebih nikmat minum ini daripada minum di starbucks


Jadi…..apakah ada yang lebih nikmat merayakan ulang tahun ke 25 di Yogyakarta dengan naik sepeda motor yang tidak tau cara membuka jok belakang, bersepedamotor melawati jalanan desa, datang di resepsi teman kerja di pedesaan Kulon Progo, tanpa rencana menuju Kaliurang tanpa tahu jalan dan bertanya sana-sini di perempatan, mengunjungi musium Ullen Sentalu sebuah intangible heritage bersama pemandu bernama Dewi, mendatangi musium Gunung Merapi yang sudah tutup, dan minum teh poci degan gula batu yang sangat nikmat ??? ada tentunya…. silahkan tebak sendiri, sudah ada cluenya diatas…

have an awesome day

Advertisements

~ by imankurniadi on July 12, 2010.

2 Responses to “i’m 25 years old, thanks GOD you’ve created time and space”

  1. Nice story man

    Dirimu masih tetap hangat dan ceria

    Happy milad, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lalu
    Dan memberkahi usiamu yang tersisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: