Holgalogy #2: it’s about the man behind viewfinder

Caution: Tulisan ini bukan dibuat oleh fotografer proffesional, penulis hanya berfikir, don’t think it’s right or wrong, at least you can think.

can you see my head off??. nokia 3750, f 2.8 1/20s, iso 400


Sejak lulus SMA, saya sangat tertarik dengan dunia desain grafis. Saya mengikuti kursus komputer mengenai graphic-design, dan ketertarikan saya lebih terpipat pada desain grafis vektor, bukan pixel. Desain grafis vektor menggunakan konsep “titik dan garis” dan biasanya menggunakan program yang populer adalah Corel Draw. Saya tidak begitu menyukai mengolah foto atau desain grafis pixel, akan tetapi saya tertarik bangaimana mendapatkan sebuah foto atau gambar yang bagus dalam sebuah momen yang tidak dapat terulang kembali. Dan tertariklah saya dalam dunia fotografi.
Ketertarikan dan keseriusan saya akan photography dimulai saat saya menjadi kordinator Dokumentasi Psycho Camp 2004 “Together Everyone Achieve More” aka TEAM. saat ini saya adalah satu-satunya koordinator yang berasal dari angkatan 2003 dalam kepanitiaan acara itu. Kemudian saya mendapatkan teman satu tim bernama mbak Shinta, dimana dia memperlihatkan dan memperkenalkan apa itu “SLR” atau disebut sebagai “single-lens reflex”. Cukup mudah dia menjelaskan, jadi SLR itu mata kita yang kita taruh di viefinder akan melihat sama persis apa yang akan dilihat lensa, fokus atau tidak fokus, focal-lenght, dsb. Sebenarnya saya tahu istilah-istilah itu beberapa tahun terakhir, pd tahun 2004 saya tidak mengetahuinya. Yang pasti saya menjadi ngerh, “oo…jadi itu to bedanya SLR dengan tustel atau pocket-camera”.

Pada tahun 2004, kamera digital belum populer, kamera digital adalah barang yang sangat wah, dan sepertinya Digital-SLR pun belum banyak dimiliki umat manusia. Sekarang? DSLR beredar dimana-mana. Ok, akhirnya tahun 2004 kebetulan saat itu kakakku menjadi atlet pencak silat main di PON di Kaltim, akhirnya kami membeli digital kamera pertama, yaitu Canon-Power Shot A310. Bentuknya sangat balok. Kebodohan pertama menggunakan kamera digital itu adalah: saya belum tahu, ternyata harus menggunakan baterai jenis Alkaline untuk dapat mengoperasikan kamera itu. Kamera itu saya bawa dalam kegiatan survey area, dan saya bisa mengatakan, inilah debut karya fotografi pertama saya.

above and beyond. model: mas gaguk. meta data: canon-powershot A310, F 3.6 1/202s

Tahun 2004 adalah permulannya, 3 tahun kemudian, tahun 2007, saya masuk kepanitian Psycho Fest 2007 “What Psychology Can Do” dalam tim dokumentasi yang bernama “BLITZ”.

Kegemaran dan ketrampilan saya dalam vector-graphic-design

Tim yang dikoordinir oleh Titis Rahardjo (seorang cewek yang memiliki sense fotografi yang mengagumkan), dia melihat kemampuan kami dalam dunia dokumentasi dan pemotrettan perlu dilatih. Kemudian BLITZ dan para anggotanya sepakat untuk mengadakan pelatihan photography dan dokumentasi. Materinya terdiri dari 2 materi utama, menggunakan handycam dan camera. Pemateri yang memberikan materi kamera adalah mas Imam dan mas Dimas Aryo. Mereka menjelaskan pronsip-prinsip dasar kamera, mulai dari bagaiman pronsip kamera itu bekerja. Seperti diafragma, film atau sensor dalam kamera digital, shutter, dsb. Saya menjadi lebih mengerti dasar-dasar kamera dan inti dari bagaimana cara kamera bekerja.

BLITZ member, pas hari H Psycho Fest 2007, saya malah opname demam berdarah dan thypus....

Sekitar tahun 2007 itu teman-teman dekat saya mulai membeli SLR, dan saya juga ingin membelinya. Bulan oktober 2007 saya wisuda, kami tidak memiliki Digicam, dan akhirnya ayah saya membeli Nikon CoolPix L10. Saya sendiri cukup puas memiliki kamera ini, karena sangat compact. Kemudian setelahs aya lulus, saya pergi ke Bali untuk kerja kontrak di acara United Nations Framework of Climate Change Conference atau lebih dikenal dengan Konferensi Global Warming. Dengan kamera itu saya menghasilkan beberapa karya :

my yellow companions. meta data: NIKON COOLPIX L10, 10/300s F/2.8 ISO 200


am i foreign?. photographer: TC, meta data: NIKON COOLPIX L10 10/600 F/5.2

Foto diatas yang memotret bukan saya, tapi teman saya TC.

Tahun 2008 saya officially be a working man, dan berniat untuk menabung gaji-gaji pertama untuk membeli sesuatu yang akan mengingatkan atas pencapaian saya ini. Bulan juli dari jakarta saya kembali ke surabaya, dan pada bulan agustus saya dan kakak saya urunan 50-50 untuk membeli DSLR canon Kiss-F. Saat itu canon 1000D belum keluar, tetapi Kiss-F (setara dg 1000D) merupakan merek Canon 1000D yang sudah beredar di Korea dan Jepang, dieksport ke Indonesia, dan kami membelinya. Canon Kiss-F merupakan DSLR pertama saya, dengan lensa standar 18 – 55 mm. Saya masih ingat foto-foto percobaan saya pertamakali menggunakan kamera ini.

6th floor. Canon EOS Kiss F 13/10s F/7.1 ISo 400

Pertama-tama memiliki DSLR, mode saya set di “auto” terus. Hingga saat Psycho camp 2008, saya diajarkan mode “manual” oleh Ella. Bagaimana menyesuaikan shutter speed dan aperture (F) dengan gambar yang akan kita capture, dan kita ngin mendapatkan gambar yang kita inginkan, pencahayaan yang lebih, kurang, siluet, blub, dll. Berikut karya-karya saya saat Psychocamp 2008:

blown away. Canon EOS Kiss F shutter speed 15/1s F/4.5 ISO 100


psycho rally. Canon EOS Kiss F 1/128s F/8.0 ISO 400

setelah memiliki DSLR itu, setiap minggu pagi dini hari saya rajin hunting, ke dusut-sudut kota surabaya, hingga saya mengikuti lomba foto Suramadu, tetapi kalah. Ya, setidaknya sudah mencoba dan berusaha, dan sebagai rookie saya pun cukup puas dengan hasil foto saya, walaupun mungkin jika disajikan di depan para fotografer professional atau aku upload di fotografer dot net, pasti banyak sekali cercaan dan kritikan ttg fotoku itu, no probs !!

antara jaring dan jembatan. Canon EOS Kiss F 1/4096s F/6.3. Saya lombakan berharap mendapatkan hadia 75 juta, tapi kalah bo'

Dan berikut beberapa hasil hunting lainnya menggunakan DSLR ku yang pertama.

anak-anak candi. Canon EOS Kiss-F 1/49s F/8.0. Lokasi pemotrettan: komplek candi boko sekitar jam 6 pagi saat saya camping kesana


noodle master. Canon EOS Kiss F 1/2 second F/3.5. foto ini cukup sulit saya ambil, dengan shutter 1/2s, saya tidak membawa TRIPOD


sparkling basuki rahmat. Canon EOS Kiss F 13/1 F/22 ISO 200. Kalo ini harus menggunakan tripod untuk menghasilkan gambar menangkap garis cahaya

Kemudian tahun 2009 saat saya mendapatkan bonus THR, saya langusng membeli lensa tele, 75-300 mm, yang awalnya saya tidak mengetahui bahwa lensa itu untuk memotret objek yang sempit, dari kejauhan. Sehingga cakupan gambarnya tidak seluas lensa standar yang saya gunakan sebelumnya. Jadi awalnya cukup kesulitan juga…

waiting. Canon EOS Kiss F 1/256 F/4.0 Focal Length: 77 mm ISO 100

saya pribadi beranggapan, seberapa besar kemampuanmu dalan ketrampilan fotografi, yang membuat fotografi bagus adalah momennya. Saya sendiri terkadang menciptakan foto diluar aturan-aturan yang biasanya dipakai. Misalnya aturan exposure, seharusnya normal, aku buat over atau under, aturan fikus, aku buat menjadi tidak fokus. Lucu juga jadinya…

and i said i love you. Canon EOS Kiss F 5/1s F/14.0 ISO Speed: 400. NO FOCUS NO CRY

Pada bulan november 2009 bukan hari kiamat, walaupun mobilku dijebol oleh maling dan satu tas berisi laptop dan DSLR Canon EOS Kiss-F lenyap.

Akhirnya saya kembali menggunakan Nikon Cool Pix, dan mencoba menghipnotis kepada diriku sendiri bahwa taking a good picture its not ablut the camera, its about the man behind the viewfinder.

si bander. Nikon Coolpix L10 10/7385s F/5.6 ISO 64. Aku memotrat ini pake pocket di Pulau Sempu, di sebuah pantai yang tersembunyi

Tertarik dengan dunia analog, beberapa bulan yang lalu saya membeli Toy Camera dg merk Octopus.

overload. Shutter speed dan F ndak tau, lha wong kamera analog.

Lalu saya membeli HOLGA, Lomo camera. Lebih mahal, dengan flash harganya 744 ribu. Beda dg octopus yang hanay 35 ribu. Berbeda dg kamera lomo “yang seharusnya”, HOLGA 135 BC yang aku punya menggunakan film negatif 35mm, bukan 120 mm. Yang aku suka dg Lomo yang satu ini adalah warna vintagenya dan bisa melakukan multi capture. Ini hasilnya:

pangandaran morning sunrise

combi !!!

Dengan tidak memiliki DSLR saya menggunakan kamrea yang saya punyai yang saya bawa kemana-mana, yaitu kamera HP Nikia 3750 Xpress music milik saya, dan saya pun cukup puas, selain menghasilkan gambar bagus, kamera ini pun bisa untuk SMS, GPRS, Telepon, dan mendenagrakan musik !!! hahahahaha

flying ??. f 2,8 1/1000s. aku mabil di parkiran belakang kantorku

Ya demikian holgalogy part 2, ingat seperti yang saya katakan sebelumnya, saya bukan profesional, penulis hanya berfikir, don’t think it’s right or wrong, at least you can think.

Advertisements

~ by imankurniadi on June 1, 2010.

One Response to “Holgalogy #2: it’s about the man behind viewfinder”

  1. cara aktifin flashnya tuh gimana yah utk holga 135bc nya? tempatku enggak bisa nyalah flashnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: