merapi adalah gunung

Dalam perjalanan pulang kami ber tiga yang sedang duduk di pickup memandang gunung merapi yang sedang mengeluarkan asap diatasnya seolah-olah mengucapkan selamat tinggal kepada kami. Dan salah satu dari kami berkata ” aku masih belum percaya tadi siang kita di puncak itu” (diterjemahkan). Saat kita takjub, terdapat batas tipis antara imajinasi dan nyata, itulah yang membuat manusia semakin manusia” (kurniadi, 1-3 April 2010).

…………………

Kebatalan saya ke greencanyon dan kawah putih tidak meluluhkan niat saya untuk tetap berpetualang. Petualangan bagi saya bukan mengenai tujuan kemanakah kita akan pergi, tetapi pengalaman apa yang akan kita peroleh, dan pengalaman itu once for a life time, itulah petualangan.

Kami bertiga, saya, Kin, dan Adhi, akan menuju Jawa Tengah berencana untuk mendaki Gunung Merapi. Tujuan utama: tidak ada hal lain kecuali pulang dengan selamat.

Perjalanan dimulai pukul 00.30, suasana Bungurasih sangat ramai, banyak orang yang akan liburan atau pulang kampung akhir pekan ini. Dan akhirnya kami berlarian saling berebutan bis Sumber Kencono.

Petualangan pertama: rebutan kursi dengan semacam siswa berseragam, entah polisi atau TNI di jok belakang sumber Kencono.

Perjalanan ditempuh selama 5 jam, dg ciri khas perjalanan ala Sumber Kencono, karcis Rp. 30.000, dan kebetulan kita dapet yang berAC.

Petualangan kedua: cara mengemudi Sumber Kencono yang sangat khas, bus ini sangat terkenal di Jawa Timur

Sekitar pukul 05.00 kami sudah tiba di Tirtonadi Solo, dan kami berhenti sejenak untuk menunggu Adhi BAB, salah satu efek samping dari cara mengemudi bis Sumber Kencono, mengocok perut. Saya pun BAB di terminal itu, karena memang ingin. Tiket kamar mandi untuk buang air besar Rp. 1000
Rasa kantuk yang tidak tertahankan, kami lalu mencari bis tujuan semarang.Karena bus ekonomi masih akan beroperasi pukul 08.00, maka terpaksa kami naik bus eksekutif Rajawali, Rp.10.000, perjalanan hingga perempatan Surewedanan tidak sampai 1/2 jam.

Di depan rumah sakit, kami makan pagi, di warung lupa aku namanya. Sangat direkomendasikan. Makanan yang masih hangat disajikan, kami masuk ke warung itu, dan kebingungan mana pelayannya? tiba-tiba ada suara “ngambil sendiri mas…”, haha, ternyata prasmanan. Saya makan hanya habis Rp. 7000 sudah termasuk kerupuk 5 buah dan teh hangat, karena memang saya suka kerupuk. kenyang !!!

Kemudian dari perempatan Surowedanan kami nak bis kecil ke Pasar Cempogo. Turun di pasar Cempogo, oper bis menuju pasar Selo. Tiga tas carrier kami yang besar2 dileempar ke atas bis, dan bis sudah sangat penuh dengan banyak penumpang, didominasi oleh ibu-ibu yang membawa belanjaan sayuran dan jajanan. Tarif bis Surowedanan-Pasar Cempogo Rp. 3000, tarif bis Pasar Cempogo-Pasar Selo Rp. 3000.

Petualangan ketiga: melihat seorang mbok-mbok yang membawa belanjaan 3 dus entah berisi apa, banyak jajanan, dan 3 karung tepung, dan dia sendirian. Dan selama perjalanan kami berdiri, bersama penumpang gadis desa yang sangat cantik…

Sesampainya turun di pertigaan yang akan ke basecamp, sekitar pukul 09.00, lalu kami berjalan menuju basecamp. Di basecamp dengan hawa yg sangat sejut, akhirnya kami bisa beristirahat, sambil memesan kopi.

Setelah bangun, kami kembali me-re-pack carrier kami, dan saya berniat untuk ultralight mendaki merapi. Akhirnya tas carier saya dibawa oleh yoyok. Tal lama setelah kami packing, satu-persatu tim kami berkumpul, mereka adalah yoyok, taufik, dimas, aripin, dan bayu. Mereka berempat adalah orang-orang asli boyolali, yoyok adalah juniorku, taufik adalah temannya yoyok, bayu dan aripin adalah adik kelas yoyok, dan mereka berdua masih sma kelas 3, baru saja selesai mengikuti ujuan akhir nasional.
Dimas adalah lulusan MIPA Unair, temennya yoyok juga.

Petualangan keempat: gunung menyatukan kita semua, semakin mudah mendapatkan sahabat baru seperti dimas, aripin, dan bayu (aripin/aleng dan bayu seperti ipin dan upin, mereka masih 18 tahun)

Jam 6 sore kami ber delapan menuju shelter new selo, untuk istirahat sejenak, dan masak makan malam, target keberangkatan kita adalah pukul 20.00. Udara terasa sangat dingin, gelap karena banyak kabut, dan fisik serta mental kita sudah mulai diuji di shelter ini. Tebalnya kabut dan dinginnya hawa suasana malam itu membuat mentalku agak kendor, bertanya-tanya: apa yang akan terjadi pada diriku malam ini?

Petualangan kelima: “ragu-ragu kembali”. Teripirasi dari papan di pusat pelatihan tempur purboyo saat psychocamp 2007.

Pendakian lebih berat dari perkiraaanku. Misalnya, saat saya bertanya, apakah kita sudah setengah jalan, mereka menjawab: “sepertinya 1/3nya belum mas”. Aku:*diam….
Saya tidak bisa memungkiri bahwa keadaan fisik saya yang paling lemah diantara kami berdepalan, mulai dari postur tubuhku yang sangat tidak ergonomis sebagai seorang pendaki, dan stamina maupuan nafasku yang terkuras karena tipisnya oksigen. Saya lebih mengandalkan mental saya daripada fisik.

selama perjalanan kami ditemani oleh berbagai bentuk cucaca, sepertinya mereka semua sedang menyambut kami. Mulai dari kabut yang tipis, tebal, dan sangat tebal, lalu terang, ditemani cahaya bulan yang “halo”-nya sangat luas, dditemani angin lirih, agak kencang, dan kencang, dan hawa udara dingin selalu menemai kami mulai dari bawah dan selama pendakian. Satu yang tidak menyapa adalah : hujan.

Pemandangat terlihat sangat menakjubkan saat kami sudah berjalan diatas awan dan saat kabut tidak menemani kami. Kami melihat gunung merbabu, kota boyolali, kota yogyakarta, dan kota solo dari ketinggian itu. Seperti ini ilustrasinya:

Rombongan terpisah menjadi dua, aku rombongan yang paling belakang. Di sebuah tempat yang agak landai kami menyalakan api unggun, karena angin terus bertiup, adhi mulai masuk angin, aripin mulai lapar, dan aku mulai sangat berkeringat yang membuat pakaianku benar-benar basah. Sambil bercand akami memakan biskuit dan mie yang diremuk di depan api unggun kecil yang kami bakar memakai parafin. Setelah beberapa menit istirahat, kami memulai perjalanan kembali, dan saya memutuskan untuk memakai jaket. Setelah memakai jaket, mungkin dikarenakan perubahan suhu yang drastis dari hangat ke dingin, tiba-tiba tubuhkau sangat menggigil dan berditi gemetaran, tidak bisa bergerak selangkahpun. Dan aku pun berkata “doom….doom…doom…..”, yang satinya ayo kita mendirikan tenda di sini dan beristirahat.
Akhirnya Kin menawarkan jaket tebalnya yang masih dia taruh di carier, dan aku pakai jaket yang tebal itu. Dan teman-teman memaksa agar saya terus mencoba untuk bergerak dan berjalan agar panas keluar dari tubuh.

Petualangan ke-enam: belajar untuk menyerah, belajar untuk tidak menyerah, dan belajar untuk tahu dimana batas diri kita.

Kami melanjutkan perjalanan, dan benar, aktivitas berjalan menghangatkan saya kembali. Rintangan jalan yang menajak perpaduan antara batu dan tanah, angin berhenbus dingin, dan lututku mulai kesakitan karena medan yang berat ini. setiap 10 langkah aku berhenti, menghambat perjalanan rombongan ini.

Petualangan ke-tujuh: Mendaki bukanlah aktivitas individu, tetapi kerjasama tim. Yang kuat membantu yang lemah, yang lemah harus pantang menyerah.

Akhirnya sebagian bawaanku dibawakan oleh Kin dan Arifin, dan aku hanya bisa berjalan dengan wajah yang kehilangan raut semangatnya.

Sesampainya di Pasar bubrah, sudah terlihat beberpa tenda doom berdiri, dan kami mulai memanggil teman kami. karena tidak ada jawaban, kami putuskan untuk mendirikan tenda doom, dan aku pun langusng beristirahat. Saking nyenyaknya tidurku dengan udara yg sangat dingin, aku terbangun sekitar jam 5 pagi dan terlihat matahari sudah terbit. Subhanallah..

Jam 8 pagi kami mulai pendakian, dua tenda yang berdiri dijaga oleh Taufik, dan kami bertujuh mulai “Summit Attack”. tidak ada jalur yang pasti, mungkin ada beberapa tanda panah, tetapi jalur yang bagus adalah jalur yang ditarik tegak lulus, tetapi itu tidak mungkin. Karena selama perjalanan kita akan melaui campuran dari pasir, kerikil, batu berbagai macam ukuran, dari mulai kelerang, hingga kijang innova.

Ternyata yang mulai mendaki jam delapan ada dua kelompok, dan kami berkenalan ditengah2 jalan.
.

Pendakian summit attack perpaduan antara berjalan, merayap, berpegangan dg batu, ancang-ancang, dan menahan asap belerang yang sangat berbau keluar dari lobang sela-sela bebatuan.Akhirnya selama satu jam kami mendaki, sampai juga di puncak gunung merapi.

Petualangan ke delapan: puncak pertamaku. Pada usia 21 tahun, ibuku sudah ke tempat ini, dan aku menyusulnya saat usiaku 24 tahun.

Setelah melakukan banyak aktivitas di puncak, mulai dari nge-teh, bercanda, ngobrol dengan kelompok lain, foto-foto, dan lain-lain, akhirnya pukul 10.30 kamu mulai turun. engkel dan lutut sangat terasa sakit, tetapi kami haurs ekstra hati-hati.

Packing, jam 12 siang kamu mulai turun gunung, karena bis terakhir di pasar Selo adalah jam 5 sore.
Sekitar pukul 4 sore kamu sudah sampai shelter New Selo, dan saya mengahbiskan dua gelas teh hangat dan 7 tempe gembus, harga: lupa. Tetapi itu adalah minuman dan makan ternikmat yang saya makan hari itu.

Setelah packing dan ganti baju, kami didrop di pasar Selo sekitar pukul 5, dan ternyata memang bis sudah habis. lalu kami mencoba mengacungkan jari jempol untuk menyegat kendaraan yang lewat dan mungkin bisa memberikan tumpangan, minimal ke pasar cempogo yang lebih ramai. akhirnya kami mendapatkan tumpangan pickup warna hitam, dan kami membayar Rp 3000,hingga sampai di pasar Cempogo. Di pasar Cempogo pun kami sudah kehabisa bis, dan akhirnya ada mas-mas memabwa pickup putih yang katanya akan ke surakarta, beruntunglah, kami ber 4, plus Dimas, naik pickup itu hingga Surakarta. Biaya tidak tahu pasti, pokoknya saya mengeluarkan Rp. 10.000, dan sepetinya pria itu tidak bersedia dibayar. terimakasih orang Solo yang kami tidka tahu namanya. Kemudian kami naik bis menuju terminal tirtonadi, Rp. 2000, dan di terminal kami mandi dulu sebelum pulang ke surabaya. akhirnya kami memilih Mira bukan Sumber Kencono, agar kami bisa tidur nyenak…..

Thanks To:
Arifin (ABT, anak buah taufik), yang udah menjadi guide dan berbahasa kromo ke kita yang tua-tua
Bayu (ABT, anak buah taufik), yang sudah bagi-bagi minum dan menjadi tukang foto
Mas Taufik (temennya yoyok), yang udah jadi guide dan penyemangat
Dimas (temennya yoyok), sudah beliin aku teh hangat dan membayar pickup ke surakarta
Yoyok, yang sudah mau bawa carierku saat mendaki
Keen, yang udah minjemin aku jaket saat aku hipothermia
Adhi, teman yang tidak hanya sekedar membagi permen tolak anginnya

Advertisements

~ by imankurniadi on April 6, 2010.

4 Responses to “merapi adalah gunung”

  1. hahaha seneng aku sampeyan saiki wis gak kapok lak munggah gunung

  2. jangan kapok pokoe yo lak munggah gunung

  3. […] dia 21 tahun, saya juga sudah ke puncak itu di usia 24 tahun, tapi puncaknya sudah patah” [baca disini]. Setelah sampai ternyata musium ini tutup, sehingga saya tidak bisa bercerita kecuali bangunannya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: