Indonesia Kirana (2016) by Embara Film

•May 7, 2016 • Leave a Comment

Semalam saya berkesempatan menonton film dokumenter berjudul Indonesia Kirana. Motivasi yang menggerakkan saya menoton film ini tidak lain adalah reputasi Embara Films: Febian, Galih, Denny dan kawan-kawan atas film mereka sebelumnya: Epic Java. Menyinggung sedikit Epic Java sebelum Indonesia Kirana, Epic Java tentu tidak bisa dibandingkan secara apple to apple dengan film-film(dokumenter)nya Ron Fricke, Yann Arthus-Bertrand, atau bahkan Wim Wenders dan atau juga Werner Herzog. Akan tetapi setidaknya membantu saya memberikan banyak referensi mengenai film-film dokumenter, untuk apa mereka dibuat, bagaimana mereka menyampaikannya, apa statement mereka tenteng objek dokumenter tersebut. Tentu pemahaman saya masih di permukaan, namun akan saya coba menggunakan referensi tersebut untuk membahas film ini.

Indonesia Kirana merupakan sebuah film dokumenter berdurasi 90 menit, menceritakan perjalanan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Padjajaran (PSM Unpad) yang mendapatkan undangan berkompetisi di International Choir Competition Gallus–Maribor di Slovenia. Kompetisi ini merupakan satu dari beberapa rangkaian kompetisi European Gran Prix for Choral Singing, “ini panggung gran prix, olimpiadenya paduan suara”, mengutip salah satu dari yang mereka katakan. Di kompetisi tersebut PSM Unpad adalah satu-satunya wakil dari benua Asia. Mereka harus berkompetisi dengan grup-grup choir yang sangat ‘kuat’.

Kali ini Embara mencoba hal baru…… hm….tapi mungkin ‘mencoba’ bukan istilah yang tepat. ‘Menantang’. Mereka ‘menantang’ diri mereka dengan melakukan hal baru. Jika kalian menonton semua video yang ada di youtube mereka, semua video yang ada di situ didominasi oleh gambar-gambar ‘tanpa-ada-interkasi’. Gambar yang mereka rekam mereka sangat bagus, epic, gorgeous. Dikuatkan dengan tata/latar suara/musik yang membantu menggiring emosi dan mood penonton akan di-adjust ke arah mana. Untuk Indonesia Kirana, Embara melakukan hal baru dengan ‘ayo-kita-pakai-interkasi-dengan-apa/siapa yang-kita-rekam’. Mereka mencoba ‘menantang’ diri mereka dengan hal itu, namun akhirnya kesan yang saya peroleh, ternyata mereka masih ‘mencoba’.

Dari menonton film-film dokumener lokal maupun luar luar, saya berpendapat ada sebuah usaha dan kerja keras yang tidak biasa, aktivitas fisik dan otak yang tidak biasa, brainstorming terhadap struktur dan alur cerita, dan juga ‘kepekaan’ terhadap sebuah objek yang tidak biasa juga. Menurut saya ‘kepekaan’ filmmaker terhadap objek yang ingin dieksplorasi adalah krusial dan sangat penting. Membuat film dokumenter seperti membuat penelitian kualitatif. Penelitian diawali dengan membuat proposal, bab 1 sampai dengan dengan 3. Kemudian data diambil di lapangan terhadap objek/subjek penelitian. Kemudian diolah dengan cermat. Dan bisa jadi apa yang diperoleh/ditemukan dari pengambilan dan pengolahan data merubah bab 1 sampai dengan 3 (atau 4) yang telah ditulis sebelumnya. Saya buat perumpaan seperti ini. Saya buat perumpaan seperti ini : Judul penelitian adalah Indonesia Kirana. Kirana (sansekerta) artinya terang, bercahanya. Umumnya digunakan untuk nama seorang anak perempuan. Jika Indonesia adalah ibu pertiwim maka ‘Kirana’ adlaah kata yang tepat untuk membentuk phrase judul film ini. Subjek atau ojek penelitian nya adalah : PSM Unpad dan International Choir Competition Gallus-Maribor. Tehnik pengambilan data: observasi dan wawancara. Dari beberapa perumpaan ini saya bisa membedakan antara : film dokumenter mana yang hanya sekedar membuat saya tahu, atau film dokumeter mana yang bisa membuat saya mengerti dan paham.

Dalam melakukan pengambilan data menggunakan observasi dan wawancara butuh kepekaan yang tinggi si pengambil data. Masih banyak ruang yang bisa di-efisienkan-kan untuk menyampaikan pesan Indoensia Kirana dalam jangka waktu durasi di 90 menit film ini. Mengulang kata kata ‘kepekaan’, kepekaan filmmaker penting agar statement yang ingin disampaikan diterima oleh penonton dengan baik. Dari kepekaan yang dimiliki akan berpengaruh pada panduan observasi dan struktur pertanyaan wawancara yang akan disampaikan. Panduan observasi dan struktur wawancara ini memang tidak selalu harus tertulis, namun ini harus ada ‘di kapala’ filmmaker, merupakan sebuah kemampuan untuk meng-inquiry tentang “kirana”-nya PSM Unpad di Belanda, Slovakia, dan negara Eropa lainnya. Hasil dari inquiry ini akan memberikan seberapa terang intensitas cahaya PSM Unpad di film Indoensia Kirana ini.

Saya mendapatkan kesan struktur observasi dan wawancara kurang di-inquire dengan cermat. Menonton film ini seprti menonton 3 bagian besar yang tidak seimbang. 70 % memberikan tentang sebuah proses, usaha, kerja keras PSM Unpad mempersiapkan kompetisi, 20 % tentang momen-momen sebelum-saat-sesudah kompetisi (saya anggap sebagai klimaks). Dan 10 persen tentang aktivitas misi kebudayaan di Eropa (anti-klimkas). Bagaimana jika, beberapa rangkaian beberapa detik lanskap statis di eropa dikurangi? Diganti dengan lebih banyak gambar manusia dan wawancara? saya sendiri ingin melihat lebih banyak observasi tentang itu, tentang PSM Unpad di sana, sekelompok anak muda Indonesia yang sedang berada di  negara orang, berjuang untuk sesuatu. Sudah disajikan scene-scene yang membuat saya tersenyum lepas : scene ‘seblak goes to Europe, scene ‘Lisoi” di ruang makan saat PSM Unpad memberikan peforma di meja makannya kemudian grup chor lain mengabadikan lewat hp, scene ‘Rambe Yamko’ saat latihan di ruang publik dan ada beberapa anak dan orang tua mengikuti gerakan mereka, itu keren banget kontennya!! dan saya ingin melihat lebih!. Observasi lainnya yang bertolak belakang dengan kesenangan juga dibutuhkan. Sebagai contoh observasi menunjukkan galaknya sikap kang Arvin Zaenullah kepada anak didiknya. Atau observasi perilaku covert (tidak kasat mata) maupun overt (kasat mata) para anggota PSM Unpad menjalani latihan, menghadapi tekanan, adaptasi, stress dan juga stressor-nya. Untuk mendapatkan scene-scene itu sangat butuh usaha yang keras dan kepekaan tinggi, kerena momen tidak bisa diulang dua kali, dan film dokumenter adalah seni/kemampuan merangkai obervasi tingkat tinggi terhadap sebuah genuine moment(s) yang hanya terjadi satu kali.

Selain observasi, Indonesia Kirana juga menyajikan sebuah hasil wawancara dengan subjek film ini, para anggota PSM Unpad. Wawancara juga sama sulitnya dengan observasi. Persamaan lain dari dua tehnik ini adalah dibutuhkannya rapport. Dalam istilah psikodiagnostik, rapport merupakan sebuah usaha dalam menciptakan kondisi di mana komunikasi antara dua pihak bisa berlangsung dengan baik. Jika diartikan komunikasi adalah sebuah penyampaian ide oleh satu komunikan dan penerimaan ide dengan komunikan yang lain. Dalam Indonesia Kirana, rapport dan proses komunikasi sudah berjalan dengan baik, ide tersampaikan. Namuan bagaimana dengan kedalaman ide/pesan/informasi yang diberikan? Saya rasa juga masih banyak ruang yang bisa di isi di bagian ini. Stuktur pertanyaan harus dibuat sedemikian rupa, agar dapat meng-inqury lebih dalam. Mulai dari pertanyaan ringan sampai dengan pertanyaan yang sangat menggali. Kedalaman wawancara lagi-lagi dipengarhui oleh kepekaan pewawancaranya (dalam hal ini adalah filmmaker). Memang melakukan hal ini sulit, tapi bisa dilatih. Embara bisa belajar banyak dari subjek/objek filmnya sendiri. Khususnya bagaimana mereka “nggethu” latihan untuk menghadapi Gran Prix.

Saya ambil satu contoh, saat ada salah satu anggota PSM Unpad (senior) berkata, “rasanya saya ingin berontak!”, saya udah bereaksi “nah ini ni, menarik”. Tapi akhirnya tidak berlanjut. Saya berharap ada jawaban selanjutnya dari dia, sebelum dia mengatakan “sebagai senior saya bertanggung jawab untuk membantu adik-adik saya lebih kuat dari saya” (kurang lebih seperti itu yang saya ingat). Saya merasakan apa yang harus disampaikan belum benar-benar holistik. Referensi saya yang agak mirip dengan desain Indoensia Kirana (untuk bagian-bagian wawancaranya) adalah Human sutradara Yann-Atrhus Bertrand. Formatnya agak sama, latar bekanag hitam dan close up wajah, mata melihat kamera dan sekaran subjek berbicara dengan kita lewat layar lebar. Wawancara-wawancara di Human dan jawaban-jawabannya adalah salah satu contoh depth interview. Saya tidak tahu bagaimana rapport struktur pertanyaan, dan proses wawancara dilakukan. Di film Human orang biasa bisa bercerita dengan sangat jujur, hingga keluar jawaban-jawaban yang sangat susah digali. Sebuah struktur wawancara yang baik bisa dilakukan dengan cara yang cukup mudah. Pertama-tama pertanyaan-pertanyaan mengenai kejadian, sebuah pertanyaan untuk mendapatkan jawaban ‘menceritakan kembali’. Kemudian dilanjutkan pertanyaan mengkonfirmasi dengan disusupi pertanyaan yang lebih menggali emosi. Nah, saat subjek memberikan jawaban dengan kondisi emosi – tertawa, menagis, senym sambil meneteskan air mata- dimana kondisi emosi itu adalah replica dari kejadian nyata apa yang mereka rasakan, maka buat saya film dokumenter akan menjadi sangat menarik ditonoton. Me-recall memory yang sudah berlalu dan meng-inquiry lebih dalam, ini yang sulit. Jikapun sebuah wawancara dilakukan dengan snagat mendalam, dan mendapatkan puluhan jam rekaman, untuk memampatkan menjadi 1,5 jam juga menjadi tantangan buat Embara. Stok video kalian yg 80an jam itu dibuat menjadi 1,5 jam saja saya sudah sangat apresiasi.

Salah satu subjek wawancara yang sangat kurang di film ini adalah kang Arvin Zaenulllah. Maaf jika saya menyampaikan bahwa ini agak menganggu saya. Saya rela tidak menonton rangkaian-rangkaian time lapse lanskap kota-kota di eropa tsb digantikan dengan apa yang kang Arvin utarakan, ceritakan, sharing-kan, tentang PSM Unpad dan kompentisi tersebut. Rasanya kok saya nggak terima film ini selesai jika belum ada satu pun scene pun yang menampakkan wajah kang Arvin mengutarakan idenya kepada saya (penonton). Padahal sebelumnya embara sudah bisa men-capture jawaban dan wajahnya dengan sangat baik tentang Indonesia Kirana. Dia berkata “Bagi saya paduan suara adalah kerja keras. Kerja keras, dan kerja sama. Saya sebetulnya senang melihat proses. Proses yang dialami oleh orang yang tidak bisa, menjadi bisa. Tidak semangat menjadi semangat. Tidak memiliki tujuan, kemudian mereka mencipatakan tujuan dan cita-cita masing-masing. Itu bisa terlihat di paduan suara”. Wow, Kang Arvin mengatakan ‘kerja keras dua kali. Dua kali. Apa yang dikatakan Kang Arvin ini masih sebuah prototype simulasi keren tentang apa film dokumenter Indonesia kirana. Dan sisi egois saya menginginkan lebih. Lebih banyak.  Embara sudah punya potensi ini sebetulnya, mereka tahu bagaimana cara menggali dengan baik, dengan menciptakan situasi yang mendukung. Jika memang ada, wawancara terhadap Kang Arvin memang harus dilakukan di ruang dan waktu yang terpisah antar dia dengan para anggota PSM Unpad, agar rapport bisa berjalan baik dan jawaban yang mereka utarakan adalah jujur bukan faking good.

Saya tidak bohong, tidak sekedar lip service. Indonesia Kirana adalah film dokumenter yang bagus. Tata suara dan musik Indonesia Kirana sangat standout. Honestly the sounds made me overwhelmed. Tapi saya sedang menulis tentang film dokumenter dan saya akan tetap pada jalur tsb, konten. Dari desain produksinya film ini bisa ditonton oleh siapa saja, oleh yang tidak pernah menonton film dokumenter, atau yang tidak pernah menonton sekalipun. Segmentasinya bisa luas, untuk penonton yang heterogen  khususnya dari usia atau generasi yang berbeda. Semoga apa yang saya sampaikan di paragraph atas bisa memberikan manfaat walau hanya sedikit. Saya masih berharap Embara masih rajin membuat film khususnya dokumenter. Dan saya pasti juga bersemangat untuk menontonnya.

Untuk paragraph terakhir ini saya persembahkan khusus untuk Kang Arvin dan PSM Unpad. Kalian hebat!. Mungkin kita berbeda kohort, tapi tema ‘human-interest’ memang tidak pernah membosankan untuk ditonton. Dari menonton Indonesia Kirana saya menjadi tahu, bahwa PSM Unpad itu ada, mereka bernyanyi bersama-sama, mereka pergi ke Eropa untuk berkompetisi di Gran Prix, mereke berlatih keras, keluar dari zona nyaman daripada anak muda lain kebanyakan, dan akhirnya mereka tidak berhasil memenangkan kompetisi tersebut. Namun bukankah itu adalah sebuah cerita yang kalian alami sendiri, a story that can be great to be retold? Jangan hanya terbatas dari dokumenter ini. Terus ceritakan kisah kalian ini, dan buat juga cerita-cerita kalian yang lain that can be great to be retold.

Tabik.

7/5/2016

@cinematicorgasm

Pasangan Baru – Short (2008)

•April 15, 2016 • Leave a Comment

New Couples (Pasangan Baru) by – Indonesia Drama Short Film | Viddsee via

bkn hal yg baru, film panjang/feature film yg berangkat dari film pendek. Misalnya District 9 mrpk film panjang dr Alive in Joburg

atau, Saw film pendek james wan yang akhirnya mjd film panjang yang berjudul sama

Salman Aristo dikenal sbg penulis skrip bbrp film Indonesia, film pertama yg dia sutradarai adl film pendek. Pasangan Baru.

feature film pertama Salman Aristo adl Jakarta Magrib. sebuah film omnibus yg terdiri dr bbrp cerita pendek. ada 6 cerita di film ini :

Iman Cuma Ingin Nur; Adzan; Menunggu Aki; Jalan Pintas; Cerita Si Ivan; Ba’da

Jakarta Magrib menceritakan hal yg sama: kehidupan masyaraat urban di Jakarta, saat Magrib. Sedangkan Pasangan Baru jg demikian….

ciri mayarakat kota (besar/urban) : individualis, acuh, interaksi utk kepentingan pribadi, sinis.
dan kemudian saya cek di hp saya, “bener juga ya… saya ga punya nomer telepon tetangga sebelah kontrakan saya…” (iman, masyarakat urban)

10 Cloverfield Lane (2016)

•April 7, 2016 • Leave a Comment

Jujur aja, sebetulnya hr ini saya berniat untuk ngelembur sampai malam. 10CL sdh menjadi target nonton Weekend ini, tapi gara2 mas udin @salahcetak ngetweet ini, maka motivasiku untuk menyelesaikan pekerjaan dg tuntas sebelum jam 8 malam semakin membara..
Tapi akhirnya tidak tuntas.

Karena ini adalah celoteh film terakhir oleh saya di sini, maka saya akan mencoba melihat film ini dari beberapa sisi yang berbeda.

1. Dari sisi penononton awam.
Rumor bahwa film ini adalah bukan sekuel dari Cloverfiled adl: benar. Jadi kalian tidak perlu menonton film yang berjudul Cloverfiled. Film ini bergenre thriller-scifi dg prosentase 80%-20%. Sedangkan, pendahulunya Cloverfield bergenre thriller-drama-scifi, dg prosentase 55%-15%-30%. Kedua film ini sangat menegangkan. Perbedaan nyata antara 10CL dg Cloverfield adalah gaya editingnga. Cloverfiled lebih menggunakan konsep hand held camera Handycam. Sedangkan 10CL banyak shot efektif karena dilakukan di ruang sempit. Musik dan suaranya membuat intense ketegangannya. Namun kalian akan merasa “aneh——-sampai dengan——-kecewa” karena perubahan plot yang agak menyimpang. Gimana, cukup awamkah kalian?

2. Dari sisi thrilled-junkies.
Musik dan suaranya membuat intense ketegangannya. Film dibukan dengan gimmick yg sangat ‘nampol’. Ceritanya juga demikian. Penggabungan antara ketakutan dan rasa ingin tahu yg di re-press membuat karakter utama (yg protagonis) sangat membuat kita (para penggemar ketegangan) menikmati film ini. Di sebuah rumah beralamat 10 Cloverfiled Lane inilah sebuah perang antara 2 manusia dengan ego masing-masing. Ini yg baru, di 10CL. Ini yg bikin beda antara 10CL dg pendahulunya. Mereka mengemas konflik antara manusia ini dengan ketegangan yang tidak terlalu masif, namuan dg sebuah asesoris stimulus ketakutan yg simpel: larutan asam, lorong, api, foto, anting, kaos, dan intimidasi (?), dan Black belt of conspiracy theory (duh, susah rasanya menahan nggak sampe spoiler).

3. Dari sisi yang sebelah sini, agak ke kiri dikit.
Mereka mengemas konflik antara manusia ini dengan ketegangan yang tidak terlalu masif, namuan babak dan levelnya bertingkat anjing!!! Awalnya saya mencoba menyingkirkan “oke, ini beda, oke ini beda, oke ini beda” (dg film Cloverfiled. Wah tapi dengan klimaks beberapa babak yang terus meningkat maka curiosity saya berkicau di kepala, “bagaimana selanjutnya dan bagaimana akan berakhir, ah ga usah berakhir deh…”
Gitu.
Karena polanya sama dg Cloverfiled. Saat mereka melarikan diri dari serangan alien, setelah klimaks, intense diturunkan dg scene sebuah adegan romantis saat liburan. Di 10CL juga sama, eh nggak, kecuali 2 babak terakhir: saat Flintstone bercukur dan saat di ladang.

4. Dari sisi penontom seperti saya yang belum menonton.
(oke ini ceritanya aku blm nonton).
Akhirnya setelah 8 tahun Cloverfiled akan dibuat sekuel nya, 10CL. Setelah nonton trailernya kok agak aneh ya? 3 org semacam tinggal di bunker di bawah tanah, kemudian mereka semacam mengjabiskan waktu di bawah situ, apakah yg terjadi di atas? Apakah ini adalah film pasca ending dari Cloverfiled? Sebuah film tentang invasi alien, di mana ada alien raksasa mendarat di New York lalu menghancurkan segalanya? Dan alien itu juga mengeluarkan alieb2 kecil yang memangsa manusia? Lalu manusia menembakkan senjata nuklir ke alien raksasa itu dan tidak mati. Kemudian alien itu memperluas jajahannya hingga ke Texas, akhirnya ada beberapa manusia yg selamat lalu memilih bersembunyi di bunker?

Eh ternyata trailernya menipu.
Btw, imo, trailernya ini yg bikin filmnya berlipat sangat bagus. Great trailer, great movie. 1 catatan: lagunya asik! Bgw lagi, imo lagi, justru posternya yg jelek. Poster yg ada cewek di belakangnya ada pesawat alien. Ini jelek banget.

Sebagai sebuah “sequel-side-project”, 10CL benar-benar sukses. Alih-alih melanjutkan yang pertama, mereka membuat cerita yang baru, thrilling yang baru pula. Saya sangat berharap Bad Robots dan kawan-kawan masih akan melanjutkan side-project ini dg yg ke tiga. Dg 1 syarat: tidak menceritakan sebuah kisah di Houston. Atau di New York (set kota Cloverfiled).

90/100

View on Path

KOMPAS (Hesri Setiawan)

•April 7, 2016 • Leave a Comment

KOMPAS
In Memoriam Munajid
(oleh Hesri Setiawan)

dia yang kemudian terbaring
dengan tangan terikat
dan geraham terkunci
tidak lebih dari seorang bandit

ketika ia diseret
ke depan penguasa di bumi
dengan dada telanjang
tidak lebih dari bertaruh mati

karena dia anak dewasa
anak dewasa

di depan altar peradilan
ia disiksa bukan diperiksa
ia diperkosa bukan ditanya
bisa apa dia
selain bertahan

di dalam mulut
terkatup
sobekan koran
dia telan

maka duri-duri ekor pari
melecut merobek tubuh
darah mengucur
bisa apa dia
selain bertahan
dan berkata sepatah

aku anak dewasa
yang berjanji berani
mengangkat sumpah

ekor ikan pari
gagang karaben
cincin listrik
gilir berganti
dan ia rebah

ujung telunjukmu bergetar

————–
Perhatikan penggambarannya yg impressionis atas peristiwa pembantaian sahabatnya di Pulau Buru tahun 1976 dalam puisi ‘Kompas’. Peristiwa yang sangat menusuk perasaannya ini pulalah yg menjadi pemicu kreativitas kepenyairan Hersri. Puisi ini diberi pengantar yang menjelaskan secara mendetail proses kematian Munajid (28), seorang tapol unit Xv indrapura Pulau Buru. Munajid tertangkap basah pada saat istirahat siang menyelinap ke belakang gudang hanya untuk membaca sobekan harian Kompas.
(Yosep Yapi Taum)

View on Path

4th XXI Short Film Festival: Semakin Nikmat di Tahun Ke-Empat

•April 2, 2016 • Leave a Comment

Tiga tahun lalu sejak 2013, saya tidak pernah absen berkunjung ke XXI Short Film Festival. Dua ribu enam belas, tahun keempat XXI Short Film Festival kembali diselenggarakan tanggal 16 s/d 20 Maret masih di venue yang sama dengan 3 tahun berturut-turut yang lalu: XXI Epicentrum. Di tahun ini mereka memutar 46 film pendek yang terbagi menjadi beberapa program sebagai berikut:

  1. Enam film pendek program Focus On Joko Anwar,
  2. Tujuh film pendek program International Shorts,
  3. Lima film pendek program Out Of Competition,
  4. Tiga film pendek program Pitching Forum Premiere
  5. Enam film pendek program Short Animation
  6. Enam film pendek program Short Documentary
  7. Tujuh film pendek program Short Fiction Action/Thriller/Fantasy
  8. Enam film pendek program Short Drama/Comedy

Tahun keempat ini ada yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelunya, di mana saya berniat untuk cuti untuk dapat menonton smeua film yang diputar di XXI Short Film Festival. Bahkan pemutaran di weekdays saya sengaja pulang cepet dari waktu yang seharusnya demi mengejar waktu tiba di XXI Epicentrum dari slaah satu gedung di TB Simatupang.

XXI Short Film Festival sementara adalah satu-satunya : festival memberikan ‘panggung’ yang hebat untuk film pendek, khususnya film pendek fiksi & dokumenter Indonesia. Di acara penutupan, karya-karya mereka diputar dengan studio yang megah, berkapasitas 502 kursi, di mana studio 1 XXI Epicentrum merupakan salah satu studio terbesar di Indonesia (selain IMAX tentu). Tidak hanya teknologi sound system Dobly Atmos terkini, Barco Flagship 6P Laser Projector membuat indera penonton menerima ‘stimulus-stimulus sinema’ memberikan impresi yang berlipat ganda. Saya sendiri cukup puas dengan para pemenang XXI Short Film Festival, dan berkesempatan menonton mereka lagi kemarin di studio 1 itu. Nikmat bukan?!

Dari berkunjung ke sebuah festival saya bisa langusng berinterasi orang-orang pembuat film-film pendek itu. interaksi sengaja saya lakukan, tidak hanya memberikan apresiasi, namun sekalian mengkonfirmasi. Mengkonfirmasi apakah ide yang mereka komunikasikan sama dengan yang saya tangkap. Seperti Sandekala yang sangat ‘wow’ tata suara filmnya, sebuah film pendek yang menempatkan kasta film horor di tempat yang tinggi. Berangkat dari sebuah ide sederhana ‘urban legend’ kepercayaan masyarakat lokal – khususnya masyarakat Indoensia – mengenai  mitos keluar rumah saat jam-jam magrib. Kemudian Sugih yang berangkat dari sebuah ide nakal ‘ritual aneh’ penyiksaan diri untuk mendapatkan uang yang jatuh dari langit. Sebuah film pendek yang menyajikan humor satire dengan ironi dan parodi yang membuat saya ketawa sambil cemberut. Atau ide yang berangkat dari rumus “what if” / bagaimana-jika, seperti Tunai, salah satu favoritku. Sebuah proses olah pikir saya lakukan sendiri, bahwa ide Tunai berangkat dari “bagaimana jika kita masuk ke dalam ATM kemudian kita dimanipulasi oleh uang dan mesin ATM tersebut sekaligus?”. Sebuah film pednek dengan rumus what-if dengan ide yang agak nakal membuat .

Dokumenternya juga tidka kalah menarik. Film Kesan Pertama adalah film yang membuat saya tergerak untuk konfirmasi ke orang tua saya “bu, dulu aku juga dipaksa minum jamu cekok pas masih kecil?” ibuku menjawab “iya, kamu sampe nangis”. Nah, artinya film dokumenter ini valid! bahkan di generasi yang berbeda (saya anak 90an kelahiran 80an). Film dokumenter tidak hanay sekedar memberi tahu, tidak hanya sekedar mencekoki informasi. Ada sebuat pernyataan.statement yang diutarakan oleh sutradara dalam film dokumenter mereka yang membuat film ini terasa personal. Wasis dan Pak Tjipto Sang Desainer Tipografi Vernakuler memberikan kesan ini. Saya menerima kesan yang sama dari menonton dua film dokumenter pendek ini: perubahan jaman tidak ada urusannya dengan passion. Pak Tjipto masih bertahan pada proses kerja manual dalam sebuah desain grafis yang saat ini sudah didominasi teknologi terbaru. Begitu pula dengan Pak Wasis seorang pencetus Jam Belajar Masyarakat beberapa puluh tahun lalu, setelah dicetuskannya kembali (JBM) oleh pemerintah, dengan semangat yang sama Pak Wasis mensosialisasikan JBM kepada masyarakat maka sini yang sudah terlalu majemuk tingah lakunya.

Independen, bebas, dan ekspresi yang snagat luas bisa diwijudkan oleh filmaker dalam membuat animasi. Favorit saya adalah Kapur Ade. Film ini sangat dekat dengan apa yang saya rasakan sehari-hari: bergelut dengan kemacetan ibukota. Kapur Ade merupakan animasi yang sangat menyentuh (cie). Memberikan pesan yang dalam dan sindiran terhadap sebuah masalah sosial di ibukota. Ruang publik yang semakin berkurang sebagai lahan bermain untuk anak-anak, kesenjangan sosial dari kelas sosial yang terbentuk secara alamiah, dan lainnya.  

Mood menonton XXI Short Film Festival juga disegarkan oleh Focus On Joko Anwar dan juga International Short. Sebetulnya semua film Joko Anwar sudah khatam kutonton, namun hype penonton kemaren itu gila banget. baru kali ini studio yang dipakai di XXI Short Film Festival benar-benar full hingga penonton rela duduk di tangga untuk menonton film-film pendek Joko Anwar. Diskusi seusai nonton juga tidak kalah seru. Yang sangat menyegarkan juga adalah film-film yang diputar di International Shorts. Di Program ini XXI Short Film Festival membawa film-film pendek Oscar (Ave Maria, Stutterer) dan juga beberapa film pendek lainnya. Dan tidak ada satu pun yang mengecewakan. Animasi The Orchestra dengan kedalam cerita yang sangat menyentuh, serta film pendek berkonsep experimental Ten Meter Tower yang juga jenaka.

Menonton film pendek sudah menjadi special-pleasure buat saya sendiri. Hype festival film yang sangat membuat semakin bersemangat. Bertemu, bersapa, dan berbincang orang-orang sesama penikmat film pendek spontan tanpa direncanakan, atau juga berbagi pengalaman dengan para ‘penonton baru’ .

Silampukau di Cikini, saya berceloteh.

•March 31, 2016 • Leave a Comment

Dua ribu empat belas saya menghadiri 2 pagelaran berkelas. Di atas rata-rata dan Ariah. Bukan film, hanya musik asik dan pertunjukan teater di monas. Atau dua ribu tiga belas? Entahlah memori saya mulai terbatas.

Dua ribu lima belas. Saya habiskan tenaga dan biaya mendaki 2 puncak tertinggi di dua pulau di luar Jawa. Menyelam yang dalam. Dan berkelana di luar negara.

Dua ribu enam belas. Sepertinya saya sudah malas. Awal tahun menonton twilite orchestra yang brilian. Baru menghadiri perhelatan Silampukau sendirian. Bertajuk “Bermain di Cikini: Silampukau Dan Kawan-Kawan”. Atas dasar pelampiasan hijrah kota dan waktu yang jahanam. Sebagai pelarian. Rutinitas pekerjaan linier yang membunuh ‘roso’ perlahan-lahan.

Mereka semua berdendang. Dengan suara manusia dalam dan alat musik beriringan. Gitar, bass, terompet, trombon dan drum. Suling, biola, cello, ukulele, dan klentingan. Mereka bersahutan. Membentuk irama folk yang nyaman. Tak ragu seluruh jenis senyuman saya tampilkan. Dan berulang tepuk tangan.

Kejutan. Banyak kejutan. Mereka bergantian. Memainkan musik dengan asih. Membentuk komposisi yang berbeda tiap babaknya. Ada yang hanya akustik. Ada dangdut yang membuat hati saya berdeyut kiyut. Komposisi yang berbeda tiap babaknya. Tidak seperti yang saya dengarkan di youtube atau empetiga entah dari mana.

Aksi panggung yang menggoda untuk terus menggoyangkan kepala. Ke atas ke bawah ke kiri dan ke kanan. Sambil menggoyangkan telor berisi beras. Tata lampu sederhana yang kreatif tidak berbatas. Membantu mereka di panggung menciptakan suasana penuh otentisitas.

Sebuah celoteh iman yang terjebak di linieritas tanggal tiga puluh satu maret dia ribu enam belas

——————–

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, anggur sama memabukkannya,
entah Merlot entah Cap Orang Tua
(Silampukau-Puan Kelana, 2014)

View on Path

Vampire – Short (2014)

•March 29, 2016 • Leave a Comment

Yg saya suka dari film pendek adl sepertinya naskah ditulis dg sangat amat padat, produksi yg hemat, & akurat utk menyindir’ tema tertentu

alhamdulillah akhir2 ini mengupload banyak film pendek indonesia (fiksi), & bbrp diantaranya sangat padat, hemat, akurat itu tadi.

bbrp film tsb telah sy tonton di sebuah festival / pemutaran alternatif. & sy berkesempatan mendengar diskusi ttg film tsb seusai pemutaran

film pendek akan sangat menarik sekali jk cerita yg diberikan sangat dekat di sekitar kita. ini contohnya: VAMPIRE

anak kos, malam2 kelaparan, cari warung, makan bareng. trus ‘ngriwik’/bergunjing di sambil makan. yo kui, aku yo ngelakoni pas kuliah biyen

riset akurat & tim ttg film ini jg penting. contoh: bgmn cara cak iwan memperlakukan lele yg masih segar utk digoreng

& sinar lewat di langit adl santet, bersiul manggil setan, pelihara tuyul biar laris, drpd anonton film horor indonesia mending nonton bokep

plus gimmick/guyonan orisinil ygentahlah….idenya dtg dr mana… “koen tenang ae, nang HPku wes onok playlist ayat kursi”. wasyuu😀

a kinda funny-scary-story of friendship between Kecap and Kipli, VAMPIRE dir via

 

 
%d bloggers like this: