ke sana di ruangan dg bau yg enak

•November 22, 2017 • Leave a Comment

saya pernah ke sana, ke sebuah ruangan dg bau yang enak. 2 sesi saja. klinik terpadu fakultas psikologi UI.

ya, i was fucked up. every noun is an adjective on my mind.

Advertisements

“Sayang, Sayangilah Jiwamu” Film Festival: Sebuah Catatan Waras

•October 27, 2017 • Leave a Comment

“Sayang, Sayangilah Jiwamu” Film Festival: Sebuah Catatan Waras

Oleh: Iman Kurniadi

Saat saya kebingungan mulai dari mana saya mengetik tulisan ini, saya teringat kelakar jawaban template beberapa tahun lalu atas pertanyaan yang sering terlontar “kenapa kok milih manajemen? Apa nggak eman dengan gelar sarjana S1 psikologi-mu?”. Jawaban template tersebut adalah, “saya merasa lebih cocok jadi klien daripada menjadi terapis atau psikolog”. Awamnya para lulusan S1 Jurusan Psikologi yang melanjutkan jenjang sekolah lebih tinggi akan memilih jurusan magister psikologi sekaligus profesi psikolog-nya. Sebetulnya saya cukup serius dengan jawaban template tersebut. Seseorang yang memiliki gelar psikolog dan atau M.Psi., dianggap telah mempelajari ilmu psikologi dan perilaku covert/overt manusia lebih banyak daripada orang lain, dan kuliah selama empat tahun saya masih merasa terlalu dangkal untuk menjadi orang ‘itu’, atau mungkin saya terlalu rapuh. Untuk menjadi seseorang yang dipercaya memberikan opini terhadap kondisi mental/psikis mereka, menurut pendapat saya pribadi, hal itu sangat membebani.

Saya mencoba membaca-baca kambali buku kuliah-nya anak psikologi, Psychology Applied to Modern Life (Wayne Weiten), untung saya memiliki e-book buku itu kemudian ctrl+F dan mengetik “mental health”. Saya menemukan di dalam buku ini disebutkan bahwa, menurut Daniel Goleman (seorang psikolog dan jurnalis yang menulis tentang behaviour science) emotional intelligence lebih penting daripada intellectual intelligence. Kualitas EQ seorang individu lebih penting karena EQ yang menentukan arah motivasi hidup, penerimaan diri di dalam lingkungan sosial, pengalaman dan emosi positif, pengembangan diri yang baik, dan mental yang sehat. Emosi yang cerdas dan mental yang sehat (menurut saya) seperti ayam dan telur, susah menjelaskan mana yang duluan. Keduanya saling berhubungan, saling mempengaruhi secara timbal balik.

Berdiskusi topik kesehatan mental tidak akan pernah habis dan puas untuk dibicarakan. Tidak ada manusia yang memiliki 100% mental yang sehat. Setiap individu pasti mempunyai kapasitas atau potensi untuk mengalami keadaan mental yang tidak sehat. Kapasitas ini berbeda porsinya antara individu. Tidak ada alat ukur dengan validitas dan reliabilitas kuat untuk mengukur secara kuntitatif kapatitas-tidak-sehat-mental tiap individu tersebut. Tidak ada alat yang bisa memotret secara cepat, bagaimana kondisi kesehatan mental seseorang. Yang sehari-hari tampak sanguine, mungkin menyimpan pemikirn suicide attempt. Yang sehari-hari tampak sangat introvert dan withdrawal, mungkin sedang nyaman tenggelam pada imajinasi-imajinasi untuk membuat sebuah kreativitas karya hebat. Butuh waktu yang lama dan banyak metode dilakukan untuk mendiagnosa keadaan mental seseorang dan memutuskan apakah orang tersebut dinyataan bermental sehat atau tidak. Diagnosa tidak dilakukan satu pihak, tidak hanya dilakukan pada seseorag yang terkait, namun diagnosa dilakukan juga kepada lingkungan sosialnya (keluarga, lingkungan kerja, dll). Yang ingin saya sampaikan adalah, bukan proses yang mudah untuk mengambil kesimpulan tentang keadaan kesehatan mental seseorang. Kamudian, apakah kita cukup pantas dengan spontan memberikan label dan atau menunjukkan sikap yang discouraging?

22140837_143292252954509_6850563120535442783_n

(sumber : facebook page festival film saying sayangilah jiwamu)

Festival film Sayang, Sayangilah Jiwamu

Di awal Oktober, Kolektif Sayang Jiwa bersama Kineforum membuat sebuah program pemutaran film/festival film yang bertajuk “Sayang, Sayangilah Jiwamu”. Festival film ini diselenggarkan tangal 6-8 Oktober 2017 dan memutar beberapa film fiksi dan dokumenter yang mengeksplorasi manusia dengan kondisi kejiwaan yang berbeda. Menariknya, film-film yang diputar tidak terbatas pada jenis fiksi dan dokumenter saja, namun juga eksperimantal dan mockumentary. Terdapat 6 (enam) film yang diputar di festival ini, antara lain: At The Very Bottom Of Everything (Paul Agusta, 2010), Saia (Djenar Maesa Ayu, 2009), hUSh (Djenar Maesa Ayu & Ken Lume, 2016), Breaking The Chains (Erminia Coluci, 2013), Heaven for Insanity (Dria Soetomo, 2008), dan Pintu Terlarang (Joko Anwar, 2009). Saya berkesempatan menonton 4 film dari 6 film, 2 film yang lain tidak saya tonton karena sudah pernah menonton di pemutaran lain.

Kolaborasi film-film yang diputar dalam festival ini sangat menarik. Dikarenakan tema dari film ini adalah tentang kesehatan mental dan jiwa, maka cerita dalam film-film festival ini memberikan informasi dan ide terkait kesehatan mental secara eksplisit, yang sangat informatif untuk penonton awam. Singgah di festival film ini memberikan gambaran kepada penonton seperti apa sebuah perilaku mental yang tidak sehat dari sudut pandang dokumenter maupun sudut pandang orang pertama. Film-film yang mewakili kesimpulan ini adalah Pintu Terlarang, di mana tokoh Gambir adalah penderita schizophrenia dan mengalami delusi-delusi sensori dan visual oleh asosiasi ingatan dalam kognitifnya. Penonton akan termanipulasi dengan semua informasi yang ditampilkan di bagian awal-sampai-dengan-sebelum-akhir film ini, karena semua informasi tersebut adalah sebuah delusi dan halusinasi Gambir. Dokumenter Heaven For Insanity memperlihatkan perilaku-perilaku gangguan mental yang perilaku-perilaku beranekaragam. Mulai dari gangguan kecemasan/anxiety, ADHD, catatonia, depression, schizophrenia, psychosis, dll. Heaven for Insanity mengambil subjek kisah Wanto yang dipaksa tinggal di Panti Rehabilitasi Yayasan Galuh di Bekasi, sebuah tempat penampungan para penderita gangguan jiwa. Panti ini merupakan alternatif problem solving untuk menempatkan anggota keluarga atau anggota masyarakat yang memiliki gangguan jiwa dan berperilaku maladaptive (meresahkan, mengganggu), mungkin karena secara ekonomi mereka tidak mampu memberikan perawatan (medis) yang ideal kepada penderita gangguan jiwa itu. Panti ini sebetulnya sangat jauh dari kondisi yang ideal dalam memperlakukan para penderita gangguan jiwa. Satu ruang aula mencampur pasien menjadi satu, beberapa pasien dikekang oleh rantai, tidur tanpa alas, sanitasi sangat tidak layak, perlakukan para petugas yang tidak terdidik secara medis, dan lain sebagainya. Heaven for Insanity menyampaikan dokumentasi nyata bahwa masyarakat masih belum paham tentang gangguan mental dan bagaimana cara menghadapi anggota masyarakat yang mengidap gangguan mental tersebut.

Terdapat kemiripan antara dokumenter Heaven for Insanity dan Breaking The Chains (Erminia Coluci, 2013). Masyarakat kota maupun di perkampungan juga sama-sama masih belum empati kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Mungkin di kota masih ada tampat sepeti Panti Galuh atau yang lebih layak seperti Rumah Sakit Jiwa. Namun keadaannya sangat berebda dengan di daerah pedesaan di mana akses masyakarat untuk mendapatkan pelayanan yang berhubungan dengan kesehatan mental masih minim. Breaking The Chains lebih menampilkan kasus pasung terhadap anggota keluarga yang mentalnya terganggu. Pemasungan ini dilakukan karena kondisi ekonomi dan juga kurangnya akses masyarakat terhadap pengobatan medis maupun psikoterapi lainnnya. Alasan lainnya masyarakat masih kurang mempercayai perawatan psikiatris. Film ini mengambil tembat di desa-desa kawasan Cianjur. Di sana terdapat sebuah komunitas bernama Komunitas Sehat Jiwa yang secara aktif dan sukarela mengkampanyekan “anti-pemasungan” bagi penderita gangguan mental. Jumlah kasus pasung penderita gangguan mental di Cianjur dapat dikatakan sangat mengkhawatirkan. Sang Sutradara, Erminia Coluci bersama beberapa orang dari Komunitas tersbut, mendatangi ke rumah satu ke rumah lain — di mana terdapat keluarga yang salah satu anggotanya menderita gangguan mental — memberikan penyuluhan tentang perawatan yang lebih humanis. Mereka bergereliya untuk memberikan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran kepada masyarakat bahwa pemasungan bukan jalan keluar yang tepat untuk memperlakukan penderita gangguan mental. Setlah lepas dari pemasungan, mereka juga secara rutin kembali untuk melihat perkembangan pasien. Komunitas Sehat Jiwa ini merupakan contoh brilian sebuah komunitas bahwa para penderita gangguan mental juga memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik.

IMG_20171008_181756

(dokumentasi pribadi saat menghadiri sesi diskusi setelah sesi pemutaran kompilasi dokumenter)

Film as a Catharsis  

Festival film Sayang, Sayangilah Jiwamu juga memutar sebuah karya film yang dibuat oleh seseorang yang (pada saat pembuatan film tersebut) baru saja bangkit dari kondisi ‘terbawah’ mental yang sedang tidak sehat. At The Very Bottom Of Everything (2010) disutradarai oleh Paul Agusta, merupakan film yang dibuat berdasarkan pengalaman pribadi ang sutradara saat menderita gangguan mental bipolar. Bipolar disorder adalah gangguan mental atau psikis yang ditandai perubahan suasana hati yang ekstrim. Sebuah mood swings akan berganti secara tiba-tiba tanpa peringatan, tanpa pola waktu, atau stimulus yang pasti/konsisten. Suasana hati penderita bipolar suatu saat bisa terlihat sangat senang, bersemangat, dan antusias, namun juga bisa berubah menjadi sangat depresi bahkan dapat muncul suicide attempts. At The Very Bottom Of Everything adalah film monolog, ada satu tokoh yang berdialog dengan diri sendiri. Seperti sebuah puisi, ada narasi dengan interpretasi makna bebas, namun tidak bebas-bebas amat karena scene-scene visualnya seakan memberitahu ada sebuah permasalahan di dalam diri yang signifikan depresif. Sebelum pemutaran, terdapat pengantar yang disampaikan oleh penyelenggara dan mereka sudah mewanti-wanti bahwa At The Very Bottom Of Everything akan menyajikan visual-visual yang sangat membuat tidak nyaman. Dan iya terbukti, satu orang keluar pada saat pemutaran itu (namun akhirnya kembali saat sesi diskusi), dan penonton di sebelah saya menutup-nutup matanya sesekali. Walaupun bahasa visual yang disampaikan film ini benar-benar sangat tidak nyaman,saya sadar bahwa film ini merupakan sebuah penerjemahan dari penderita bipolar tentang kondisinya. IMHO, At The Very Bottom Of Everything bukan hanya sekedar karya film yang ingin menyampaikan seperti apa rasa, kondisi, ketidaknyamanan dan diri seorang penderita gangguan bipolar, film ini bisa diapresiasi lebih dari itu. Film ini merupakan sebuah mental cartasis seorang Paul Agusta, bahwa ia masih fully functioning as human being, as director, as an artist. Tabik.  

Festival Film yang Empati

Satu hal yang hampir terlupa, Festival Film Sayang Sayangilah Jiwamu, tidak hanya sekedar melakukan aktivitas menonton. Ada sebuah diskusi seusai menonton, yang dihadiri oleh para ahli maupun filmmaker yang terlibat dalam pembuatan film itu. Sebuah diskusi merupakan sarana untuk mendapatkan informasi dengan lebih utuh tentang film dan topik yang disampaikan, i.e. kesehatan mental. Lewat sesi Q&A, maka terjadi asosiasi informasi antara pengetahuan antara sebelum dan sesudah menonton, dengan dikonfirmasi pada jalur yang tepat oleh moderator dan nara sumber. Yang terbaik dari Film Festival Sayang Sayangilah Jiwamu adalah hadirnya psikolog di setiap sesi menonton. Penyelengara mengundang psikolog, untuk ikut menonton, dan setiap awal pemutaran, pasti ada sebuah pengantar kurang lebih demikian “film ini akan menyajikan gambar-gambar yang cukup mengganggu, apabila tidak nyaman kami persilahkan keluar, dan apabila dibutuhkan psikolog kami telah menghadirkan psikolog di sini untuk membantu”.

Sebelumnya saya telah menulis, bahwa tidak ada alat ukur dengan validitas dan reliabilitas kuat untuk mengukur secara kuntitatif kapatitas-tidak-sehat-mental tiap individu tersebut. Bezita dari Planet Seiya memiliki kacamata untuk mengukur kekuatan sang lawan, belum ditemukan kacamata semacam itu untuk mengukur kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental bukan berat badan yang mudah dikuantifikasi dan mudah untuk “dikendalikan”. Mengendalikan mental tidak semudah mengendalikan berat badan. Sebesar apa mental kita tidak sehat dan sebesar apa mental kita sehat. Apakah mungkin ada titik nisbi dalam kesehetan mental? Walau tidak ada alat ukur itu, walaupun juga tidak semua orang kuliah jurusan psikologi, setidaknya kita bisa lebih aware, lebih empati dan simpati kepada orang-orang di sekitar kita yang kondisi jiwanya memiliki kebutuhan yang lebih disayang, tidak mudah me-judge sembarangan, dan memperlakukan mereka dengan tidak baik. Tulisan ini dibuat bukan untuk mencoba melakukan diagnosa kepada diri sendiri. Saya merasakan.

Jakarta, 27 Oktober 2017

100% Manusia Film Festival : Merayakan Manusia

•October 23, 2017 • Leave a Comment

tulisan ini pertama kali dimuat di : https://infoscreening.co/100-manusia-film-festival-merayakan-manusia/

100% Manusia Film Festival : Merayakan Manusia

Oleh Iman Kurniadi

 

100% Manusia Film Festival merupakan film festival internasional yang memutar beberapa jenis genre film dari beberapa negara. Festival film ini fokus pada pembahasan mengenai topik hak asasi manusia, gender, diversity / keberagaman, dan isu-isu minoritas. Pemutaran film diselenggarakan di beberapa lokasi pemutaran dan bioskop alternatif antara lain Goethe-Institut Indoesien, Kineforum, Paviliun 28, Erasmus Huis, IFI, Ke:Kini, kantor LBH Jakarta dan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Tidak hanya pemutaran film, 100% Manusia Film Festival juga menyelenggarakan beberapa aktivitas lainnnya, seperti peluncuran buku dan diskusi, talkshow, bazar, ekshibisi seni, dan juga “movie experience walking tour”, jalan-jalan untuk menggunjungi beberapa tempat set film di sudut-sudut Jakarta. 100% Manusia Film Festival diselenggarakan mulai 22 September sampai dengan 1 Oktober 2017, dan saya sangat exited bisa mampir dan menyambangi beberapa acara pemutaran pada beberapa program yang berbeda, menonton film, berdiskusi, kemudian, tercerahkan. Untuk informasi lebih lengkap mengenai program-program 100% Manusia Filam Festival, dapat membuka website di [link ini], atau mendownload membaca katalog di [link ini].

 

Film-film yang dipilih dan diputar mewakili manusia dari beberapa aspek berbeda bahkan aspek-aspek yang belum saya ketahui secara mendalam karena keterbatahan pengetahuan saya. Program-program festival film ini memutar film-film yang menceritakan manusia tanpa batasan, dan tidak terbatas pada definisi ideal dari jawaban “what makes us human?”. Saya ambil beberapa contoh: Program 100% Pure Love memutar Die Beautiful (2016, Jun Robles Lana) yang menceritakan tentang kehidupan seorang transgender yang berperan sebagai sahabat dan ibu, memberikan cinta kepada orang-orang di sekitarnya dan juga cinta kepada diri sendiri. Program 100% in Motion memutar film “mockumentary” hUSh (2016, Djenar Maesa Ayu & Kan Lume) bercerita tentang Cinta Ramlan yang bergerak bebas mendobrak stereotype dan prejudice tentang perempuan. 100% non-conforming memutar Pria (2017, Yudho Aditya) tentang seorang remaja bernama Aris yang struggling dengan konformitas sosial di dalam keluarga dan lingkungan masyarakatnya. Dan film-film lain seperti Vessel (2014, Diana Whitten), Train To Heaven (2017, Mahesa Desaga), A Mother and Her Daughter (2017, Happy Salma & Gatot Subroto), Rising form Silence (2016, Salahuddin Siregar), Lamtiur (2017, Tiar Simorangkir) menceritakan perjuangan, inspirasi, keyakinan, aspek unik manusia dan interaksinya dengan mansuai lain. Untuk penonton yang seperti saya, dibutuhkan keterbukaan pikiran untuk bisa paham dan merasakan apa yang disampaikan oleh film-film tersebut.

 

Program-program yang ditawarkan di 100% Manusia Film Festival sangat “holistic”. 100% Manusia Festival film menyelenggarakan pemutaran film dilengkapi dengan sesi Q&A dan diskusi seusai menonton. Dari diskusi tersebut penonton akan mendapatkan insight tentang maksud apa yang ingin disampaikan dalam film terkait. Dari sebuah diskusi, programmer festival juga bisa mendapatkan timbal balik dari apa yang dipahami atau diketahui oleh penonton. Diskusi tidak hanya menghadirkan para sutradara film, namun juga beberapa narasumber dari LBH Jakarta, Komunitas Jemari Tangan, Women On Web, Angsamerah, Lentera dan organisasi dan komunitas lainnya yang fokus pada grakan hak asasi manusia. Diskusi-diskusi dan Q&A ini adalah value added 100% Manusia Film Festival. Diskusi adalah sebuah “hidangan penutup” yang melengkapi menu utamanya: nonton film.

 

Salah satu pemutaran yang saya hadiri adalah pemutaran Die Beautiful (2016, sutradara Jun Robles Lana) di Kineforum pada tanggal 29 September 2017.  Film ini bercerita tentang kehidupan seorang transgender bernama Trisha mulai dari anak-anak hingga dewasa. Walaupun mendapatkan penolakan dari keluarganya atas keputusan menjadi seorang transgender, Trisha mencoba menjalani hidup dengan baik sebagai masyarakat, sahabat, dan dan sebagai seorang ibu tiri. Hingga pada suatu hari Trisha meninggal secara tiba-tiba setelah dinobatkan menjadi ratu dalam kontes kecantikan, dan keinginan terakhirnya adalah memiliki riasan wajah beberapa selebriti terkenal yang berbeda setiap malam sebelum dimakamkan. Kemudian Trisha menjadi viral, dan akhirnya Trisha dikenal lebih luas dibandingkan sebelumnya.

 

Film ini bercerita tentang self-determination seorang Trisha atas pilihannya sebagai seorang transgender. Dia bertahan pada keputusan yang diambil untuk menjadi transgender walaupun mendapatkan penolakan dari keluarganya sendiri dan mengalami pengalaman sangat tidak menyenangkan bahkan traumatis. Die Beautiful menyampaikan bahwa seorang transgerder juga memiliki aktualisasi diri. Dalam kondisi keterbatasan akses, mereka tetap berusaha mendapatkan tempat di lingkungan masyakarat, seperti menjadi perias wajah atau bekerja di salon. Serta aktualisasi dengan mengikuti berbagai macam kontes kecantikan. Film ini dikemas simbang, antara drama dan komedi. Tidak jarang penonton dibuat tertawa dan secara bersamaan memberikan simpati kepada Trisha.

 

Setelah menonton, telah hadir beberapa narasumber ibu Merlyn Sopjan sebagai aktivis transgender dan Gilbert Lianto dari LBHM. Diskusi dibuka oleh mbak Merlyn seorang aktivis transgender yang menceritakan tentang kondisi penerimaan sosial terhadap transgerder di Indonesia. Banyak kemiripan apa yang dialami oleh Trisha dan juga para transgender di Indonesia. Misalnya diskriminasi terhadap transgender pada akses pekerjaan, rumah sakit, sekolah, atau hal-hal lainnya. Tidak sedikit penonton yang antusias untuk bertanya, memberikan pendapat, dan juga bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan transgender. Diskusi ini merefkesikan kembali bahwa transgender adalah 100% manusia.

 

Terminologi “festival” identik dengan perayaan dan atau hari/pekan gembira dalam memperingati peristiwa. 100% Manusia Film Festival merupakan perayaan “manusia” itu sendiri, lewat media film. “Manusia” dirayakan dengan cara mengenalkan mereka lebih dalam, dengan pikiran terbuka, dengan saling empati dan simpati, saling menerima dan memberi. Tidak hanya melulu tentang hak asasi, 100% Manusia Film Festival merupakan perayaan terhadap aspek individual differences, menghormati manusia dengan karakteristik unik dan otentik yang melekat pada pribadi yang berbeda-beda, serta merayakan identitas minoritas walaupun definisinya terkadang tidak diterima oleh sosial (pada umumnya). Festival ini tidak hanya tuntas pada “memberi tahu” lewat pemutaran-pemutaran film fiksi, based on true story, dan dokumenter, festival ini telah mencapai level affection, yang, bisa jadi, mempengaruhi penontonnya untuk memberikan attitude yang lebih positif kepada manusia lain yang berbeda dari dirinya, yang berbeda pada umumnya. Dapat merayakan dan menerima manusia secara utuh tanpa judgement identitas yang telah dipillih, inilah kesan baik yang saya peroleh setelah menghadiri festival film ini.

Sampai ketemu tahun depan.

 

Posesif (2017)

•October 23, 2017 • Leave a Comment

Photo_20171017_000742[1]

Posesif (2017, Edwin), bergidik bulu roma saya seusai menonton film ini. Posesif merupakan sedikit film Indonesia yang membuat saya merasakan dan berfikir keras secara bersamaan. Rasa-rasanya saya ingin memuntahkan apa saja yang lewat di kepala saya setelah menonton film ini. Beruntung pada malam itu ada Saad dan Deddy yang bisa diajak ngobrol sambil mengunyah kolesterol di sebuah restoran fast food. Kami berbincang banyak tentang film ini, salig mengutarakan pendapat pribadi kenapa film sangat layak untuk diperbincangkan hingga tengah malam. Sudah lama tidak merasakan cinematicorgasm menonton film local genre remaja percintaan, dan Posesif membuat saya multi-orgasme.

Bagi saya, Posesif film yang sangat bagus, dan memberikan kesan yang otentik dibandingkan dengan film drama-romantis-percintaan remaja kebanyakan. Sejauh yang saya ingat, film bergenre yang sama yg saya tonton itu adalah Dear Nathan, itupun tidak tuntas karena dialog-dialog yang terlalu ajaib. Saya cukup lama mengikuti karya-karya Edwin, film panjang maupun film pendek. Posesif adl film Edwin pertama yang masuk jaringan bioskop, artinya (mungkin) Edwin akan melakukan sesuatu yang “berbeda” agar filmnya bisa diterima (dan dimengerti) oleh mata penonton bioskop “umum”. Apa maksud dari “berbeda”? Saya jadi teringat film dokumenter yang disutradarai Ilun (Chairunnisa) yang berjudul Potongan. Sebuah dokumenter yang salah satu topik besarnya mengangkat proses sensor film oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Salah satu subjek Potongan adalah proses pendaftaran film Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008, Edwin) ke lembaga sensor film. Proses pendaftraan yang berbelit-belit, dan akhirnya film Babi Buta yang Ingin Terbang mendapatkan sensor durasi lumayan panjang. Dan akhirnya Edwin dan Meiske tidak memperoleh Surat Lulus Sensor karena durasi yang dipotong cukup penajng dan konyol. Film Babi Buta hanya didistribusikan ke festival-festival film dan bioskop-bioskop alternatif (mohon koreksi jika saya salah). Film panjang kedua Edwin, Postcard Form Zoo / Kebun Binatang (2012, Edwin) kalo tidak salah juga didistribusikan dengan cara yang sama. Edwin belum pernah membuat film panjang yang diputar di bioskop hingga Posesif selesai diproduksi. Posesif tidak hanya mendapatkan surat lulus sensor dan sah diputar di jaringan bioskop gede (XXI, CGV), Posesif juga memperoleh banyak nominasi Festival Film Indonesia 2017.

[Spoiler alert, stop di sini jika belum menonton filmnya]

Berbeda. Saya hanya/mencoba membandingkan Posesif dengan film panjang Edwin yang lain. Menurut pendapat saya Posesif dalah film Edwin yang paling linier. Babi Buta yang Ingin Terbang merupakan dengan plot “subdivided”, sangat terasa pengalaman/nilai personal Edwin sebagai sutradara. Post Card From Zoo, berjalan lebih pelan. Banyak dialog minim, dan shot-shot kebun binatang yang bernuansa muram. Tidak aneh jika menonton setelah 2 film ini penonton mengerutkan dahi. Kesamaan dari 2 film Edwin sebelum Posesif adalah sebuah perilaku tidak wajar, di dalam keluarga dan di dalam kebun binatang yang dianggap sebagai rumah. Posesif adalah film Edwin yang linier, walaupun dalam eksekusinya di menit keseluruhan film ada semacam 3 babak yang berbeda, ditandai oleh scene lari pagi subuh-subuh di taman. Film ini memiliki babak-babak yang jelas, awal mula-konflik-resolusi. Dan saya masih merasakan taste dan signature Edwin walaupun plotnya cenderung linier. Padahal, awalnya saya sangat was-was dengan Posesif ini, karena saya mengekspektasikan “keluar ruangan, setelah nonton film Edwin, saya ingin tidak tersenyum”. Tetapi faktanya berbeda. Saya menonton credit title dengan terseyum, dan senyuman saya diperkuat dengan letupan-letupan kembang api selama credit title berjalan. Cinematicorgasm !

Posesif tidak seperti film drama-romantis-percintaan remaja kebanyakan. Film ini tidak hanya mengangkan pola umum “cewek cantik pasti dapet cowok ganteng”, atau sebaliknya. Film ini memberikan sisi terang, sisi abu-abu, sisi gelap (hubungan Lala dan Yudhis), dan juga sisi lainya yang juga berkontribusi terhadap cerita (kisah orang tua Lala dan Yudhis). Kata “Posesif” sudah terdengar negatif, namun posternya berkata berbeda. Ini memancing! Ada banyak kelucuan dan kebahagiaan di awal film ini, dan juga ada banyak kegelisahan-sampai-dengan depresi mulai di pertengahan dan sebelum film ini berakhir. Ada beberapa scene-scene yang diam namun instens bercerita dengan bebas (saya bebas menginterpretasi). Shot loncat Indah dengan slo-mo, shot-shot close up merekan senyum kedua pribadi yang sedang dimabuk cinta. Saya pikir, hal-hal ini membuat Posesif dapat menaikkan level penonton segmentasi Remaja di Indonesia. Apabila Pengabdi Setan, menaikkan standard film horror bagaimana harus dikemas, maka saya berharap Posesif bisa laris manis (amin) sesuai dengan segmentasinya (13+) sehingga dapat menaikkan level penonton segmentasi Remaja. Karena, apabila Posesif berhasil mendapatkan banyak penonton, maka film ini berhasil menanamkan sebuah ide ke penonton (esp Remaja dan seusianya) bahwa film drama-romantis-percintaan-remaja bisa dikemas dengan tidak hanya memunculkan reaksi “ohh…so sweettttt” tapi juga “what the heck…!”. Penonton tidak hanya diajak bereaksi dan bersimpati kepada tokoh Yudhis dan Lala, namun pola penyampaian cerita yang agak-agak “teasing” saat konflik-konflik Timbul dan diselesaikan. Mungkin apresiasi ini lebih tepat saya berikan kepada Gina S. Noer sebagai penulis naskah. Sebetulnya saya berfikir, jangan-jangan keseluruhan cerita film ini adalah sebuah intepretasi dari lagu Dan – Sheila On 7.

“Dan…bukan maksudku, bukan inginku, melukaimu, sadarkan kau di sini kupun terluka, melupakanmu, menepikanmu, maafkan aku, lupakan saja diriku, bila itu bisa membuatmu, kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala…”

Tidak selesai pada paragraph di atas, film drama-romantis-percintaan-remaja ini juga punya kelebihan-kelebihan lainnya. Pertama, treatment kamera yang menyegarkan. Penonton dibuat masuk ke dalam film dan membuat saya tidak mempedulikan keadaan sekitar.  Tidak hanya slo-mo maupun scene di dalam air, shot-shot dinamis merekam Lala dan & Yudhis bergandengan tangan, beromansa, dan berdialog. Tidak heran jika film ini juga mendapatkan nominasi sinematografi terbaik dan editing terbaik FFI tahun ini. Kedua, wardrobe dan tata rias sangat realistis. Rambut Lala yang lepek kering karena kebanyakan nyemplung di air kolam mengandung kaporit, tata rias Lala yang sangat natural hingga kelihatan bekas cacar (??) di pipinya, piaya Lala yang dipakai setelah bangun tidur ya memang menggambarkan seperti itu pakaian sehari-hari di rumah. Intinya, film ini tidak menjual kemegahan dan kemewahan yang berpotensi membuat penonton ‘eager’ meniru tokohnya, emnjadikan tokohnya sebagai panutan atau trend setter. Ketiga, tidak hanya para pemeran utama Adipati Dolken dan Putri Marino, para pemeran pendukungpun memberikan kesan akting yang sangat bagus. Saya sangat setuju Pak Unru memperoleh nominasi pemeran pendukung pria terbaik, namuan untuk Cut Mini, saya kurang setuju. Aktingnya sebagai ibu bagus, namun emosi kemarahan dia saat memukuli Yudhis menurut saya kurang beringas. Saya menantikan Chicco Kurniawan mendapatkan pemeran utama dalam sebuah film panjang, karena dia memainkan peran dengan bagus di Posesif dan film pendek Pria. Selain itu, kemunculan Ismail Basbeth sebagai guru olahraga killer sanat mengejutkan saya. Iso ae wong iki rek.

Musikal Petualangan Sherina (17 September, 2017)

•September 19, 2017 • Leave a Comment

Why movie is so damn magical?!
Perasaan menyesal masih sedikit membekas saat saya tidak terlalu “nggethu” nonton drama musikal (adaptasi) laskar pelangi beberapa tahun lalu. Berbeda dengan drama musikal Laskar Pelangi yang langsung diproduseri oleh Mira Lesmana, Musikal Petualangan Sherina diproduksi oleh Jakarta Movement of Inspiration (Jktmovein). Jktmovein adalah organisasi yang terdiri dari sekumpulan anak muda yang bergerak di bidang edukasi, seni, dan kreativitas. Ya. Anak-anak muda. Yang masa kecilnya, ya! nonton film. Petualangan Sherina. .

Petualangan Sherina diproduksi tahun 2000. Saat itu saya kelas 3 SMP/1 SMA. Saat itu sedang ‘anget-anget’nya produksi film Indonesia, dimulai dari rilisnya Kuldesak (1998), kemudian diikuti Petualangan Sherina (2000) dan AADC (2001). Correct me if I wrong, film-film ini yang membangkitkan kembali gairah produksi film dalam negeri dan juga gairah “ayo ke bioskop nonton film Indonesia!!”. Saat itu Petualangan Sherina ditonton oleh banyak orang dengan berbagai lintas usia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Dan anak-anak yg nonton film ini 17 tahun lalu, akhirnya sekarang telah menjadi dewasa, dan mereka bersama-sama menggelar pementasan ini. Gila! Mind blown!!

Kemasan pementasan Musikal Petualangan Sherina ini sangat amat memuaskan. Sangat amat memuaskan. Literally I was cry, smile, laugh, and clap my hand at the same time. Those sherina-mother scene sang together “lihat lebih dekat” was so incredibly stunning 😭😭😭!! (Yeah, I was crying, smiling either). Pertunjukkan ini sudah dikemas sangat menyenangkan dari awal. 90% adegan bahkan sebagian besar dialog mengadaptasi dari film aslinya, dan beberapa lelucon menggunakan joke kekinian agar juga mudah membuat tertawa. Menurut saya masih banyak yg masih bisa diimprove di bagian set, desain panggung, background, esp scene di Boscha, they must made the sky full of stars more fascinating.
What a day. What a lovely day.

drama musikal.jpg

Best Comics & Mangas

•August 21, 2017 • Leave a Comment

Bulan Agustus belum berakhir. Di bulan ini, entah kenapa, bermunculan komik-komik favorit dan saya tidak bisa menahan untuk membelinya. Berikut adalah #komik yg saya baca, ikuti, dan baca lagi.
1. H2O reborn.
Ini adalah salah satu yg terbaik, karya #komikus Indinesia, Sweta Kartika. Saya baru ngeh, ketika membaca yg vol 3, tyt H2O menyadur kisah ‘rahwana nggawe geger nyolong Dewi sita”. Nama-nama tokoh di #komik ini, Hans (Hanoman), Sita, Arjuna, Ravana, saya kira hanya sekedar meniru nama tokoh pewayangan. Saat saya membaca vol 3 hingga ke halaman “Hanoman naik jet canggih benama Jatayu”, pada saat itu saya sadar ini kisah pewayangan yg rutin dimainkan sendratari di candi Prambanan itu. +++ Futuristik + Action + dengan adaptasi kisah pewayangan yg epic.

2. Kowaiya.
Berbeda dengan goresan-goresan komik lokal lainnya, Kowaiya punya desain yg cukup otentik. Detailnya sengaja dibuat agak berantakan, namun (imo) mendukung gaya penceritaan komik ini: tentang hantu, mistis, dan toko buku yg sering dilanda kekacauan. +++ Desain gambar yg spesial, mendukung gaya cerita

3. The Little World of Liz Climo ( by @lizclimo)
Panel-panel singkat karya Liz Climo pertama kali saya lihat di Twitter. Hanya 1 panel, tentang hewan, tapi punchline nya kena sekali. +++ Kesederhanaan cerita, gambar, namun membuat senyum kita kaya.

4. Arigato Macaroni
Tadi saya mengatakan H2O adalah salah satu komik lokal terbaik, Arigato Macaroni, selain salah satu terbaik, komik ini juga sangat spesial. Komik ini bertipe omnibus, tersusun atas cerita-cerita pendek tentang keluarga, pekerjaan seorang komikus, dan kisah-kisah seputaran. Yang membuat spesial adl, komik ini sangat dekat dengan keseharian dan kebiasaan kita. +++ Komik yang memberikan kesan sangat jujur.

5. Yowamushi Pedal Go!
Mungkin karena saking amat banyaknya judul komik #Jepang dengan amat banyak tema, maka yang paling aman adalah membuat komik tentang $olahraga yang agak berbeda. Misalnya #sepeda / #cycling. Sebetulnya komik ini punya plot umum: seorang yg lemah/pecundang ytg ternyata menyimpan kekuatan besar. +++ Komik ini memberikan informasi sangat detail ttg dunia #balapsepeda, hingga ajang paling terkenal tour de France. Baca komik ini pasti pengetahuan akan bertambah.

6. Ajin, demi human
Beberapa manusia, sangat langka, diberikan bakat/kutukan: tidak bisa mati. Ini manga tipikal main-#villain sangat jahat dan kuat, bahkan tokoh utama masih belum bisa mengimbangi walau dg otaknya yg sangat cerdas. Saya sangat suka dg panel-panel yg menunjukkan “kalo mati seperti ini, kira-kira bisa hidup lagi ga ya”. +++ #Brutal, sadis, tapi masih seru!!

7. Sometimes I draw shit.
Komik #random yg saya beli di PopCon Asia 2017 Minggu lalu. Itu has a purest sarcasm.

8. Rin.
Yg pernah baca #Beck pasti akrab dg alur cerita #HaroldSakuishi. Jika Beck adl tentang band dan inspirasi membuat musik, maka #Rin adalah tentang komik dan inspirasi membuat cerita. Ada 1 #signature antara Beck dan Rin: #mimpi. Kelihatan sekali Harold Sakuishi adalah penganut aliran psikoanalisa dan panel-panel komik yg dia buat merupakan gambaran perilaku karakter yg dipengaruhi oleh alam bawah sadar. +++ Goresan dan desain konvensional keluar dari pakem ‘pada umumnya’, tema sangat ringan, tapi bikin penasaran.

Konser Tunggal SENYAWA (Desember 2016)

•December 31, 2016 • Leave a Comment

Wukir

Menurut http://kbbi.web.id/jembut jembut adalah Bahasa Indonesia yang artinya rambut kemaluan. Saya nggak peduli mas Wukir Suryadi mau pake kaos bertuliskan Aku Anak Soleh atau My Trip My Adventure, yang penting adalah totalitas dia memainkan alat musik dengan sangat membuat saya berdebar, dan juga totalitas beliau mendesain dan menciptakan alat musik itu.

Bahkan mas Wukir juga menggunakan sutil kayu sebagai instrumen musiknya. Digesek dan dipetik. Mungkin inspirasi ini dia dapatkan saat memasak oseng-oseng tempe di dapur belakang. Ada sutil kayu dan dia menggunakannya utk mengaduk dia mencampur bahan-bahan makanan di wajah. Sambil mendengarkan lagu Nirvana dan menggunakan sutil tersebut untuk melakukan atraksi imagery air-guitar~~ entahlah~~ suara yg dihasilkan bagus dan unik~~

Wukir bahkan menggunakan alat bajak tradisional atau garu sbg alat musik. Alat ini ditarik oleh kerbau untuk membajak sawah. Didesain, dimodif, dan dipermak sedemikian rupa, sehingga lagi-lagi mas Wukir menciptakan alat musik gesekan yang juga memberikan bunyi yang berbeda. Kreativitas yang orisinal adalah yang susah untuk dibajak. Saya akan selalu mengingat ini. Selain alat musik petik dan gesekan, mas Wukir juga cakap memainkan alat musik sebul~~  Musik yang sangat dalam dan artistik sangat menggerakkan jiwa dan raga (kepala, rambut)~~

mas rully shabara juga sama kerennya, thanks senyawa menutup tahun 2016 dengan epic.

Saya tidak tahu siapa @senyawa_musik. Sampai pada bulan september lalu saya menghadiri #recccfestdan bertemu dengan mas Rully (vokalis) yang memimpin workshop “sapu jagat”. Scroll ke bawah apa itu sapu jagat, ada sedikit penjelasan dan klip tentang apa yang sedang kami lakukan. Pada saat #majalahcobra mempost tentang akan ada konser tunggal #senyawa saya langsung bersemangat. Dan saya membeli tiket tanpa ekspektasi apapun. Saya hanya tahu sedikit dari youtube dan sudah mulai membayangkan seperti apa nanti konsernya. Ternyata, bagian awal saat mereka pentas, mereka semacam menggunakan konsep pentasan wayang. Di mana mereka bermain musik di belakang layar, kemudian ada lampu yang menyorot ke arah mereka saat mereka bermain musik. Keren sekali! Perhatikan di detik ke 25, lampu2 teraebut juga dikonsep untuk berubah-rubah arah cahayanya, sesuai dengan intonasi emosi dan mood yang disajikan mereka berdua. Keren.

 

 

 
%d bloggers like this: