Perfect Sense (2011)

[SPOILER ALERT]

Director: David Mackenzie | Writer: Kim Fupz Aakeson (screenplay) | Stars: Ewan McGregor, Eva Green and Lauren Tempany

Fist of all, i wanna say thanks to @absurdaus and @mucidelocke who give reference about this movie. Ada beberapa film lain yang bertemakan sama, yaitu When The Band Played On kisah nyata sejarah munculnya Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), virus flue burung + babi + kelelawar Contagion by Steven Soderbergh, film-film bertemakan zombie seperti 28 Days Later by Donny Boyle, atau virus yg menyerang manusia mengakibatkan semua manusia fertil Children Of Men. Satu lagi film yang menceritakan sebuah epidemic virus yang tidak dikenal menyerang panca indera manusia, Perfect Sense, yang akan saya bahas disini.

Dari situs Internet Movie Database, ditemukan bahwa si sutradara, David Mackenzie adalah sutradara yang sama yang menyutradari film berjudul Mister Foe atau Hallam Foe. Akan tetapi saya tidak begitu mengenal si penulis naskah, Aakeson, saya belum akrab dg film-film yang pernah dia tulis naskahnya. Namun, Aakeson patut diacungi jempol bagaimana dia maramu naskah film Perfect Sense ini. Peramuan antara tema sci-fi khususnya dunia kedokteran yaitu virus baru yang menimbulkan epidemi, diramu dengan sebuah kisah cinta yang memang mendapatkan porsi yang lebih kental di film ini.

Ewan McGregor memang tepat memerankan sebagai tokoh di film drama romantis. Sebut saja Beginners. Peraduan aktingnya dengan Eva Green di film ini sangat kolaboratif-mengagumkan. Apalagi bagaimana interaksi percintaan mereka diperkuat oleh sebuah “situasi” dan “issue” utama, yaitu penyebaran virus epidemi yang menyerang indera manusia. Bagaimana bereka bercinta dengan indra yang tidak sempurna membuat adegan-adegan percintaan menjadi tidak biasa, karena seperti yang saya sebutkan, karena diperkuat oleh ‘situasi’ atau ‘;issue’ yang sedang mengancam di sekitar mereka.

Mari kita baca film ini. Film ini menceritakan tentang penyebaran virus yang tidak di kenal, mulai menyerang manusia yang mengakibatkan disfungsi indera manusia. Awalnya adalah virus yang menyerang indera penciuman. Virus awal hanya menyerang indra penciuman saja, bukan indera yang lain. Susan (Eva Green) merupakan ilmuwan yang meneliti tentang penyebaran epidemi itu. Dan ditemukan bahwa gejala awal bagaimana virus itu menyerang terdengar agak unusual. Yaitu sebuah keputusasaan mengenai penyesalan atau keputusasaan selama kita hidup. Gejala itu ditandai dengan bentuk kesedihan yang sangat mendalam dan menangis sendu. Setelah beberapa menit gejala itu terlihat, lalu hilanglah indera penciuman kita. Setelah indra penciuman, mulai berkembang virus lain yang menyerang indera perasa. Gejalanya adalah hampir mirip, penyesalan yang mendalam, lalu dilanjutkan dengan rasa lapar yang sangta berlebihan. Hingga apapun yang ada di sekitar kita rasanya ingin dimakan. Termasuk lipstik, kelinci, minyak zaitun, bahkan bunga. Itu adalah cerita tentang seperti apa virus epidemi itu menyerang manusia. Cukup filosofis juga, karena virus yang dapat menghilangkan indera itu memiliki gejala ‘dinamika-emosional’ yang cukup banyak berhubungan dengan indera tersebut. Seperti saat menyerang indera perasa, maka rasa lapar yang sangat berlebihan muncul dan kita memakan apapun. Saya tidak akan menceritakan lebih banyak spoiler, begitu juga saat virus menyerang indera pendengaran berhubungan dengan ‘dinamika-emosional’ yang berkaitan dengan suara. Dari cerita itu maka penulis mengangkat kisah cinta antara Susan (si peneliti) dengan Michael (sang koki). Michael sang koki dunia dimana dia berada sangat berhubungan dengan indera penciuman dan perasa. Sebagai koki dia tetap berusaha bagaimana tetap meingkatkan sebuah nilai/value ‘dinner’ atau ‘makan malam’ sebagai sebuah media untuk bagaimana manusia saling menginteraksikan cinta dan hal-hal yang bersifat pribadi satu sama lain. Inilah yang menjadi menarik. Jika indera kita mulai hilang satu persatu yang ditandai dengan dinamika emosional yang cukup tak terkendalikan, bagaimana dengan perasaan cinta dan kasih sayang kepad amanusia yang lain? hilangkah? masih perlu kah?

cienmaticorgasm rate 80/100

~ by imankurniadi on June 10, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: