Kaki saya tidak sendiri di punggung Krakatoa
Pukul 11.30 saya tiba di rumah bude setelah melakukan sedikit pekerjaan di Menteng di jumat pagi itu. Apa yang akan saya lakukan sabtu-minggu 26-27 mei ini? Dengan impulsive, kubuka Google di HPku dan mengetik dengan kata kunci “trip 26-27 mei 2012″. banyak link-link yang bermunculan, namun dalam bahasa inggris. Lalu saya spesifikkan untuk melakukan pencarian lebih sempit. Ah, Krakatau. Saya belum dan sangat ingin kesana. Membalas penyesalan longweekend kemaren tidak ikut Adhi, Alex, Qotot, dan Kermit mendaki Semeru, setidaknye terwakili oleh nasteng dan tas carrierku Thalus 45. Dan kembali saya ketik ‘Krakatau 26-27 Mei’ dan muncul beberapa link, salah satu dari mereka adalah backpacker forum indonesia.
Krakatau? impulsive? sendiri? mengapa iya?
Sebetulnya masih ada keraguan, karena saya berjanji pada diri sendiri untuk menunda foya-foya.
Saya email kak Ipey, apakah masih ada tempat untuk trip ini, dan dia sepertinya membalas dengan terkejut karena saya memperkenalkan diri bahwa saya dari Surabaya. Yak, ternyata masih ada tempat, dan saya segera kirim sekian rupiah sebagai share cost ke rekeningnya. Saya rasa biaya itu termasuk murah dan sangat beratribut backpacker.
Kak Ipey merencanakan meeting point di Kampung Rambutan, sedangkan posisi saya di Rawasari. Meeting point untuk peserta dadakan (saya) berubah halauan di Pulo Gadung. Dessy Tan, adalah si koordinator keberangkatan di Pulo Gadung. Pukul 25 Mei 2012, 19.00, bismillah, saya telah sampai di Pulo Gadung dan menunggu kedatangan Dessy dkk. Sambil menunggu, saya rasa di jumat sore itu terminal Pulo Gadung merupakan terminal yang sangat memberikan suasana threatening atau mengancam, dibandingkan dengan kampung Rambutan, Rawamangun, Lebak Bulus, atau Blok M.
Akhirnya rombongan Dessy, yg terdiri dari Karel, Memi, dan Kak Aon tiba. Sekitar puul 20.30 kami berangkat dari Pulo Gadung menuju Pelabuhan Merak. Sama sekali tidak bisa membayangkan pelabuhan seperti apa itu, dimana nanti kita akan menaiki fery ke pulau Sumatra. Oh, ini bis Pulogadung-Merak. Selama jalan-jalan atau melakukan perjalanan saya mencoba tidak mengeluh jika transportasi yang saya naiki tidak nyaman. Misalnya ACnya terlau dingin atau terlalu sumuk, bis melaju kencang ugal-ugalan atau terlalu lambat, jalan yang berkelok atau berlubang dan berbatu. Akan tetapi kali ini saya cukup stress karena kami duduk di paling belakang dan saya duduk tepat di depan speaker besar dengan diamter kira-kira 50 cm. Keadaan bertambah parah saat lagu dan video yang diputar adalah sejenis dangdut koplo. Yah, itu cerita tersendiri, saya sudah mengalaminya hari itu dan saya bisa belajar. Itu yang menarik.
Itu yang seru untuk diceritakan kembali.
Mencoba untuk tetap lelap sepanjang perjalanan, tak kerasa, kami sudah tiba di Merak sekitar pukul 23.30, dan Dessy memimpin kami menuju meeting point: Indomart terdekat pelabuhan Merak. Ternyata disana sudah ada segerombolan cowok dan cewek yang sudah siap dengan daypack dan sandal gunung. Mereka adalah rombongan dari terminal Kali Deres. Saya tidka tahu itu dimana, yang pasti, leyeh-leyeh di depan Indomart sudah tak asing lagi buat saya, apalagi ditemani oleh kawan baru. Di depan Indomart saya berkenalan dengan Adit, backpacker muda, termuda diantara kita, masih seusia anak SMA tingkat akhir.
Sekitar pukul 01.00 rombongan terbanyak, rombongan Kampung Rambutan yang dikoordinir oleh Kak Ipey. dan berbegas kita menuju pelabuhan Merak untuk naik ke kapal fery yang akan membawa kita melintasi Selat Sunda. Pukul 02.00 kami sudah menaiki fery, bernama “Windu Karsa Dwitya“. Saya tidak mengerti, saya cari di google barusan, artinya adalah “Delapan Kehendak Kedua”. Di atas fery yang melintasi selat Sunda itu interaksi antar manusia prelu, sengaja, dan tidak sengaja terjadi. Saya berkenalan sekaligus saling mengenal satu sama lain dengan lebih banyak dengan beberapa orang di dalam rombongan, termasuk Afdol dari keluarga Padang, Agung dari Yogya, Mas Ano, Memi, Karel, Adit, Dessy, Kak Ipey, Mas Aon, Rezha dari Solo, dll. Interaksi itu memang wajar terjadi di kalangan ‘seperti kami’, mengerti kan maksud saya? Bisanya berkenalan mulai dari nama, asal daerah, masih kerja atau kuliah, dan biasanya yang menjadi topik utama adalah berbagi pengalaman tentang destinasi-destinasi traveling yang pernah kita kunjungi. Tidak bosan saya berada di suasana seperti itu walaupun kami harus klesetan di pinggir pagar dan tertepa angin laut.
Sekitar pukul 05.00 kami tiba di pelabuhan Bakauheni, pelabuhan di Pulau Sumatra, dan kaki saya akhirnya menginjak Pulau Sumatra untuk pertama kalinya. Lucu juga memperhatikan orang-orang yang berusaha mendapatkan opportunity mendapatkan penumpang dan mengais rupiah dari situ. Karena hal itu terjadi dimana-mana, dengan bahasa lokal yang berbeda tentunya. Perjalanan belum berakhir, karena sudah melebihi tenggat yang direncanakan, kami langusng menuju dermaga Canti menaiki angkutan umum berwarna kuning. Total rombongan ada 32 orang, sehingga kami membutuhkan 3 angkutan kota untuk ke dermaga Canti.
26 Mei 2012, pukul 06.30, kami sudah diba di Canti, dan tebak, kami bertemu laut kembali. Sudah siap kapal berukuran cukup besar yang akan kami gunakan selama 2 hari menyusuri Krakatu dan sekitarnya. Di warung makan dekat Canti, kami tidak menunda memenuhi kebutuhan biologis, makan. Dan saya? pub dulu, baru makan. Semua sudah bersiap untuk melakukan perjalanan laut kambali, dan naiklah kami ke atas kapal. Beberpaa di bawah, beberapa di bagian ats/atap kapal. Termasuk saya. Foto dibawah adalah suasana dermaga Canti yang cukup sepi, dan kami bersiap untuk berangkat. [foto diambil oleh Karel, link]

Berlabuhlah kami menuju destinasi pertama: Sebuku. Sebuku adalah pulau, dengan spor snorkling yang cukup menarik. Perjalanan kurang lebih 1 jam, dan akhirnya saatnya seluruh tubuh basah oleh air asin, nyemplung, dan berenang. Puas dan lelah nyemplung berenang dengan ombak yg cukup kuat, apalagi saya tanpa menggunakan fin, perjalanan kami lanjutkan ke Sebesi. Pulau dimana kitaakan menginap di malama hari. Kami tiba pukul 11.30 dan mulai memasukkan barang-barang ke dalam villa yang sangat sederhana. Tidak masalah, tetapi suasananya itu loh, suara ombak, bisikan semilir angin, dan pohon yang sangat rindang, menjadikan sebuah tempat peristirahatan yang sangat layak untuk malas dan hore!. Ini fotonya: {diambil oleh mas Ary link]

Makan, ngobrol, leyeh-leyeh, hari sekamin sore, dan beberapa diantara kami berniat untuk menjelajahi pantai-pantai di Sebesi ini. Kloter pertama, saya, rezha, agung, yola, dan mas didik. Kami menuju arah timur. Kami temukan banyak pohon bakau/mangrove. Uniknya, pohon mangrove ini memang sangat alami, tumbuh sangat alami. Kloter kedua, misi memburu sunset, kami harus berjalan ke arah barat. Kloter kedua adalah para laki-laki berjumlah 8 orang: saya, mas ary, mas didik, adit, agung, asep, afdol, rezha (CMIIW). Kita berjalan hampir dua jam ke arah barat demi mendapatkan landsacpe matahari terbenam. Sudah seperti menjadi tontonan orang-orang lokal saja, karena kami berjalan kaki, sedangkan penduduk lokal, 99% menggunakan sepeda motor melintasi jalan yang sama. Lelah betis kami berjalan hampir 2 jam terbayarkan saat kami tiba di spot sunset yang dengan pesona yang tidak sembarangan, kami duduk di sekeliling batu krast dengan ombak kecil dan matahari yang mulai terbenam walau sedikit tertutup awan. ini fotonya: [diambil oleh saya sendiri menggunakan HP Samsung Galaxy Mini]

Cerita babak ini belum berakhir. Hari mulai gelap, dan saatnya kita kembali ke villa. Kami pun kembali berjalan, dan memutuskan menempul jalan setapak yang berbeda, “pikir kami, nanti juga tembus kok di jalan sekitar villa. Ternyata perkiraan kita salah. Kami sedikit tersesat, hingga harus berjalan melintasi lapangan sepakbola yang cukup luas, bertanya kepada anak kecil yang kaget melihat segerombolan pemuda yang tak dikenal. dan akhirnya kami tiba, dan hari sudah benar-benar gelap. Malam minggu, setelah makan malam, Kak Ipey dkk sudah mempersiapkan acara bakar ikan. Setelah mandi dan makan malam, sepertinya sangat bijak saya memutuskan untuk beristirahat melemaskan betis, agar besok pagi lutut bagian kanan yang pernah dioperasi tidak bermasalah untuk mendaki Krakatau. Dan tidurlah saya melewatkan acara bakar-bakaran. Malam hari terbangun, ngobrol sebentar ngalur ngidul, dan hampir tengah malam saya pun kembali tidur.
Pukul 02.30 kami sudah bangun dan bersiap-siap. Pagi dini hari kala itu, bintangnya sangat menakjubkan, tak ada secuilpun awan yang menutupi langit. Teman-teman bersiap-siap sambil melawan rasa kantuk yang masih memberatkan mata. Sekitar pukul 03.30 kamu sudah berangkat, dan berlayar di tengah-tengah laut yang masuh gelap. Kurang lebih 2 jam kami terombang ambing di atas kapal, pukul 05.30 kami tiba di Krakatau. Disambut oleh dua bapak-bapak yang bertugas menjaga pulau tersebut. Sebelum mendaki, kita briefing sejenak, untuk mendapatkan pengarahan mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Ternyata, kondisi Krakatau cukup dirasa tidak aman untuk didaki hingga puncak. Pendakian dimulai dari tepi pantai, melewati pepohonan selama beberapa menit, dan akhirnya tanjakan 45 derajat yang cukup dijangkau mata. Kondisi mendaki dengan sedikit bebatuan dan dominan pasir yang berwarna hitam. Tak jarang angin selalu bertiup mengiringi langkah demi langkah. Ini fotonya: [oleh saya (lagi)]

Kurang lebih 30 menit mendaki, kami sudah sampai batas paling atas. Bukan puncak, melainkan punggung Krakatau. Akhirnya, saya mencapai titik ini juga. Krakatu tidak hanya menjadi legenda di Indonesia, namun sudah sangat termasyur namanya di seluruh dunia karena letusan th 1883 yang sangat menggemparkan bumi. No pic hoax? hahaha, ini fotonya: [foto oleh Memi, link]

Setelah puas menikmati Krakatau dan pemandangan yang bisa dilihat dari sana, kami turun, dan dibawah sudah siap sarapan. Lelah melangkah, sarapan pagi itu saya makan dengan porsi cukup banyak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Lagoon Cabe untuk menikmati pemandangan bawha laut, kembali nyemplung dan bersnorkling. Kali ini saya melewatkan karena saya sudah mengalami sea sick. Pulang dari Lagoon Cabe kembali menuju Sebesi, untuk pertamakalinya saya muntah, hoek, byor, di belakang kapal, langsung saya muntahkan ke laut. Lega rasanya kalo sudah muntah, sayangnya, saya jadi lapar lagi :p .
Demikian perjalanan saya dan teman-teman baru ke Krakatau dan sekitarnya. saya kembali merasakan sensasi menjadi martian, dimana mengikuti grup traveling antah berantah tanpa mengenal siapapun, impulsive, dan akhirnya oleh-oleh yang paling berharga adalah teman baru. kaki saya tidak sendiri di punggung Krakatoa.


hiks..hiks..hiks..
sangat menyentuh hati..
mantaff mas broo..
thank you mas bro….
Bagus bgt bro tulisan’y, aku jadi terharu membaca’y hihihi *lebay*.
)
A lot of memories on this trip. Nice to know you Iman and all of my friends on this Krakatoa Trip. Hope I still can meet you all
Jangan kapok ya bro Iman nge-trip bareng akuh
sampai ketemu di perjalanan selanjutnya
[eh, aku baca lagi, bagian mana sih yang bikin terharu, kak ipey dan mas ary jg berkata demikian...]
kata2nya bagus, kereeeeennn,,,
jadi bikin kangen euy backpacker-an kaya di KARAKATAU..
yoi, ada yg jadi hobi, ada yang menjadi candu, ada yang menjadi terapi | backpacker
baru sempet buka..wahh emang gaya tulisannya baguss.. bisa di puji trinity traveller nihh…mantappp
thanks
silahkan baca catatan perjalanan yg lain di kategori “pembelajar di atas aspal”
[...] teman, mereka berencana akan ‘bereuni’ ke Gunung Gede. Mereka adalah teman-teman baru yang saya jumpai saat trip ke Krakatau. Ikut? mengapa tidak? Sesegra saya menghubungi Agung agar nama saya didaftarkan. Seminggu sebelum [...]