The Artist (2011)
Doris: I’m unhappy. | George Valentin: So are millions of us.
Director: Michel Hazanavicius | Writer: Michel Hazanavicius (scenario and dialogue) | Stars: Jean Dujardin, Bérénice Bejo and John Goodman
The Artist menceritakan aktor terkenal di masanya (menurut film itu) benama George Valentin. Dia telah membintangi banyak film bisu dan menjadi aktor yang sangat terkenal, begitu pula sahabatnya seekor anjing. Hingga suatu hari produser film ingin melakukan sebuah perubahan besar, yaitu film yang ada percakapan, walaupun masih belum berwarna. George Valentin masih teguh dengan pendiriannya, bahwa film bisu masih banyak diminati. Hingga dia membuat film sendiri film bisu itu….
Jika ada ungkapan kehidupan itu seperti roda yang berputar, hal ini juga terjadi di dunia perfilman. Roda yang berputar bukan dalam sebuah makna kadang kita pada posisi yang atas (kesuksessan) atau posisi di bawah (kegagalan), akan tetapi berputar seperti sebuah repetisi atau pengulangan sebuah hal yang pernah terjadi dan ada sebelumnya kini terjadi kembali. Film The Artist yang disutradari oleh Michel Hazanavicus seorang warga Prancis ini memang membahas ttg itu. (maaf agak spoiler) Selain seperti apa nampak film itu terlihat di mata penontonnya, film itu memang sedikit menyinggung mengenai ‘bagaimana si roda mulai berputar”. Akan saya jelaskan di dua paragraf berikut.
Film ini adalah film BW (black and wahite), dengan amat minim sekali percakapan, hanya musik latar yang mengiringinya. Keuntungan bagi movie download geek seperti saya adalah tidak perlu menunggu hingga file blue ray rip atau DVD rip untuk didownload, TS sepertinya sudah cukup, bahkan makin memperkuat nuansa oldie film ini. Generasi seperti saya tumbuh dan berkembang dengan TV cembung bewarna, sehingga wajar agak terasa aneh jika (beberapa bulan lalu) menonton Charlie Chaplin yang berdudul The Great Ditactor dan In Modern Times. Sebagai pecinta film, hallo effect atau prejudice memang harus dihilangkan, tidak boleh ada sama sekali judgement yang menyiksa film itu walaupun kamu sudah tau film itu dibintangi oleh siapa, trailernya seperti apa, sutradaranya siapa, seperti apa ceritanya, dan pendapat teman-temanmu yang sudah menontonnya. Sebuah keadaan ‘kosong’ sebelum menonton film dibutuhkan untuk memberikan penilaian yang sangat objektif bersifat subjektif kepada sebuah film.
Ok, perhatikan kata-kata kunci berikut ini: sebuah film hitam putih, bisu tanpa percakapan, hanya musik, text yang minim untuk menjelaskan maksud perilaku sebuah adegan, humor yang ketinggalan jaman, retro. Apa pendapatmu ? >> membosankan ? / misterius ? / penasaran ? / seru ?
Silahkan tonton The Artist, degan keadaan ‘kosong’ tentunya.
Film ini tidak memiliki alur/ploy cerita yang memukau, sangat terasa konvensional, namun nuansa retro yang sangat bisa diterima oleh penontonnya masa kini. Dengan warna hitam putih, klimaksnya tidak terlalu menampar, walaupun scoringnya terlihat sangat pas menggiring emosi penonton mau dibawa kemana: tertawa, tersenyum, mengerutkan dahi, atau terharu. Sang artist, Dujardin, dan para artist lainlah yang menjadi soul film ini, bagaimana mereka saling beradu akting menjadi salah satu kelebihan yang menarik untuk terus ditonton. akan teapi saya tidak bisa menilai bagian-demi-bagian film ini, secara holistic krn film ini memang terkesan sangat FRESH !!! <<< inilah alasan kenapa film ini sangat bagus !
cinematicorgasm rate : 88/100


aku suka music scoring nya, bagus bgt. mengendalikan emosi lewat music. itu luar biasa.