Vincent Will Meer (2010) (aka Vincent Wants to Sea)

Director: Ralf Huettner | Writer: Florian David Fitz (screenplay) | Stars: Florian David Fitz, Karoline Herfurth and Heino Ferch

Vincent Will Meer adalah film ketujuh dari film #germancinema yg saya tonton di hari ketiga. Selama tiga hari menonton 8 film, saya tidak akan menyebutkan film mana film terbaik diantara 8 film yang saya tonton secara gratis di #germancinema, tetapi film ini — film yang mengisahkan pemuda bernama Vincent — film ini yang paling memberikan kesan membahagiakan dengan sangat mendalam. Mengapa? karena, satu, film ini juga bisa dikatakan bertema traveling, kedua, sebagai pelaku traveler adalah orag-orang with psycho-pathology syndrome.

Sebelum membahas Vincent Will Meer lebih lanjut, mari kita berwikipedia dulu :

Tourette syndrome (also called Tourette’s syndrome, Tourette’s disorder, Gilles de la Tourette syndrome, GTS or, more commonly, simply Tourette’s or TS) is an inherited neuropsychiatric disorder with onset in childhood, characterized by multiple physical (motor) tics and at least one vocal (phonic) tic. These tics characteristically wax and wane, can be suppressed temporarily, and are preceded by a premonitory urge. Tourette’s is defined as part of a spectrum of tic disorders, which includes transient and chronic tics.
Tourette’s was once considered a rare and bizarre syndrome, most often associated with the exclamation of obscene words or socially inappropriate and derogatory remarks (coprolalia), but this symptom is present in only a small minority of people with Tourette’s.[1] Tourette’s is no longer considered a rare condition, but it is not always correctly identified because most cases are mild and the severity of tics decreases for most children as they pass through adolescence. Between .4% and 3.8% of children ages 5 to 18 may have Tourette’s;[2] the prevalence of transient and chronic tics in school-age children is higher, with the more common tics of eye blinking, coughing, throat clearing, sniffing, and facial movements. Extreme Tourette’s in adulthood is a rarity, and Tourette’s does not adversely affect intelligence or life expectancy. [sumber]

Tourette’s syndrome atau TS, adalah sebuah kelainan dengan menunjukkan gerakan motorik secara berulang ulang dengan tiba-tiba dan seringkali diiringi dengan vokal atau perkataan. TS adalah sebuah kelainan saraf yang mulai diderita dari anak-anak hingga dewasa. Grakan-gerakan itu dipacu oleh stress, kelelahan, dan kecemasan pada penderitanya. Inilah yang diderita oleh Vincent (diperankan oleh Florian David Fitz).

Vincent Will Meer menceritakan Vincent, penderita TS, Marie, penderita Anaroxia nevorsa, dan Alexander, penderita obsessive compulsive disorder/OCD, yang melarikan diri dari pusat rehabilitasi untuk pergi ke Italia untuk melihat laut, sebuah perjalanan untuk memenuhi keinginan terakhir ibu kandung Vincent untuk melihat laut. Sayangnya, ibu Vincent sudah meninggal ketika Vincent kecil. Inilah yang saya sukai dari film ini, setengah dari film ini menceritakan perjalanan yang dilakukan 3 orang “disable”, dan film-film ini dipenuhi dengan perilaku-perilaku lucu bagaimana 3 orang itu — terutama Vincent dg TS-nya dan Alxander dg OCDnya — menempuh perjalanan dan memaksa mereka untuk tetap merasa nyaman dengan yang mereka lakukan. Melakukan perjalanan German ke Italia, mereka menempuh jalur pegunungan dan membuat scene-scene di film ini dengan landscape luar biasa memunculkan pada otak saya, “saya pengen kesitu!”

Tertawa dan tersenyum lepas sepanjang film, buka karena adegan atau percakapan yang ‘sengaja’ dibuat lucu, tetapi bagaimana mereka, para penderita itu menunjukkan perilakunya. Contoh perilaku-perilaku penderita TS dan OCD inilah yang menjadi ‘plus-plus-ingredients’ disamping ‘main-ingredients’ yaitu konflik ayah-anak antara Vincent degan ayahnya. Percakapannya sederhana, plotnya tidak terlalu rumit, dan konflik yang dibawa di film ini juga tidak terlalu kompleks. Awal film dibanguan secara perlahan untuk membangun klimaks yang ringan, dengan bagian-bagian yang disampaikan di tengah-tengah film ini juga membangun klimaks dan ending film yang sangat mengsispirasi penontonnya, plus terharu. Ending film ini adalah ending yang benar-benar saya harapkan. Kesan saya, “renyah, menghubur, dan membahagiakan”.

Ada hal yang menarik yang saya temukan bahwa screenplay atau penulis naskah dari film ini adalah Florian David Fitz, dan dia tidak lain adalah aktor yang memerankan Vincent di tokoh utama. IMHO Florian David Fitz sangat brilian melakukan akting sebagai Vincnet, selaia sebagai penderita TS, sebagai anak yang selalu tidak sependapat dg ayahnya, dan juga sebagai teman seperjalanan Alex dan Marie.

Nilai atau value bisa saya peroleh di film ini. Terkadang traveler melakukan perjalanan dengan melakukan misi khusus atau tujuan hidup khusus. Terkadang soerang traveler membuat plan untuk melakukan perjalanan dan destinasi yang sudah ditentukan. Terkadang seorang traveler secara impulsive melakukan perjalanan tanpa plan, atau bahkan tanpa destinasi, pergi ke stasiun atau ke terminal bus, dan secara random naik kereta atau bus dan menggantungkan nasib kemana kereta atau bus itu membawanya pergi. Terkadang pula seorang traveler melakukan perjalanan untuk melanjutkan perjalanan orang lain yang belum tuntas. Alasan-alasan seperti itu ditemukan di film Teh Motorcycle Diaries, The Way, Into the Wild, The Art of travel, dll. Akan tetapi bagaimana jika kamu adalah sosok yang diluar distribusi normal, bahkan tidak normal. Dimana kamu adlaah penderita penyakit psikologis (secara kelainan saraf atau tidak) melakukan sebuah perjalanan, dimana ciri ini sering terlihat pada penderita psikopatologis, yaitu karakteristik “ketidakmampuan dalam beradaptasi dan bersosialisasi” atau un-adaptable dan un-sociable. Kamu akan menemukan hambatan pertama saat pertama kali membeli tiket di loket, atau masuk kereta dan duduk disamping orang lain yang tidak kamu kenal, atau bagaimana kamu mengatasi kecemasan ketika orang-orang menatap kamu, atau bagaimana stress nya paksaan untuk berkomunikasi dengan orang lokal. Disinilah benar-benar memberikan pengertian dari value : “keluar dari zona nyaman”.

cinematicorgasm rate : 85/100

Advertisement

~ by imankurniadi on January 24, 2012.

4 Responses to “Vincent Will Meer (2010) (aka Vincent Wants to Sea)”

  1. Great review. Semuanya bikin makin nantang aku untuk nonton film ini. Sayang banget nih kerjaan super menyita sehingga gak sempet nonton fest film german. Pdhl dr SMA dlu aku rajin lho nonton fest film gini.. :)

    Menarik banget juga, karena ketika orang “normal” saja bisa banyak nemu hambatan2 ketika traveling bareng, namun gemana jika mereka yg “disable” jalan bareng..? Wah wah.. Film ini hrs dibookmark biar kapan2 sempet aku tonton deh. Thanks untuk reviewnya. Kalo ada yg keren2 lg, colek2 aja ya.. ;)

  2. Love your review Bang, as always :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.