Die Welle (2008)
Director: Dennis Gansel| Writers: Dennis Gansel, Todd Strasser (novel) | Stars: Jürgen Vogel, Frederick Lau and Max Riemelt
Berdasarkan kisah nyata, film ini dibukan dengan tulisan itu, kemudian scene menggambarkan pria dewasa yang bitak mengendarai mobil dengan serampangan, sambil mendenagrkan musik semacam musik garage dan musik punk. Tenryata pria itu adalah seorang guru, di sebuah sekolah menengah keatas, merangkap pelatih water-polo, dna juga guru yang memimpin sebuah mata pelajaran proyek khusus : autocracy. Kelas yang hanya di jalankan 7 hari ini mempelajari dan membuat sebuah eksperimen untuk mendemonstrasikan seperti apa rasanya dibawah sebuah autocracy atau dictatorship. Mereka mempraktekkan segalanya, mulai dari kepatuhan, kedisiplinan, uniformitas, brotherhood, dan juga identitas. Dan identitas kelompok mereka mereka namakan “the wave” atau dalam bahasa jerman “die welle”. Si guru tidak bisa mengontrol sejauh mana murid-muridnya merasakan pengalaman ttg kelas autocracy ini dan sejauh mana mereka bisa berkembang. Dan akhirnya kelompok itu menjadi di luar kontrol.
Film ini adalah film keempat di hari kedua yang saya tonton di #germancinema dengan gratis tentunya. Film pertama Baader meinhof Complex yang juag berdasarkan kisah nyata, hanya terfokus ada dua karakter Badeer dan Meinhoff Saja, John Rabe lebih memberikan kesan inspirasional, dan Alaamnya film tentang keluarga lebih menggelitik sekaligus mengharukan. Film keempat, Die Welle, yang akan dibahas disini, saya rasa kesan pertama yang diberikan adalah “ngeri” — memang di IMDb film ini bergenre drama-thriller — karena suatu alasan, bahwa di film ini memang untuk mempraktekkan praktek diktaktor itu mungkin, bisa, dan mudah. Saya yang berlata rbelakang S1 Psikologi khususnya Psikologi Industri & Organisasi merasa tidak capable untuk membahas film ini lebih jauh, mungkin ilmu terapan Psikologi Sosial dan Sosiologi lebih capable. Tetapi saya mengerti benar pesan yang dibawa dalam film ini.
Syaa suka bagaimana penyutradaraan film ini dilakukan, karena mungkin terdapat beberapa kesulitan. Pertama, film ini berdasarkan kisah nyata. Kedua kisah nyata ini melibatkan banyak karakter, mulai dari guru, istri si guru, guru yang lain, dan murid-murid satu kelas yang berjumlah lebih dari 30 orang. Alur ceritanya terus maju, dan bercampur untuk berfokus pada banyak karakter (yg saya maksudkan diatas). Plot tidak hanya berfokus pada si guru saja, tetapi juga diimbangi pada murud-murudnya. Konflik maupaun klimaks yang dibawa saya rasa tidak terlalu didramatisir. Dan yang paling saya sukai adalah ending dari film ini dimana antiklimaks dibuat dengan sangat silence tentunya dipadukan dengan geist/tatapan mata dan ekspresi wajah yang tentunya menceritakan banyak maksud dan kata hati.
cinematicorgasm rate: 78/100


mantap Man. Hal yang paling ngeri dari film ini justru disaat terakhir. Keputusan Tim yang tragis. Orang ternyata butuh memuja sesuatu.
“orang butuh memuja sesuatu”.. benar mas!!