Almanya – Willkommen in Deutschland (2011)

[08:00, melihat ke truk dan ptgs pemungut sampah] “when i grow up, i wannbe a binman” (Fatma-Almanya)

Director: Yasemin Samdereli | Writers: Yasemin Samdereli, Nesrin Samdereli | Stars: Vedat Erincin, Fahri Ögün Yardim and Lilay Huser

Setelah menonton Baader Meinhof Complex yang sangat melelahkan (ini artinya positif maksud saya sebenarnya), dan John Rabe yang menginspirasi, hari jumat tgl 20 januari 2011, jam 21.00 film terakhir yang saya tonton berjudul Almanya – Willkommen in Deutschland (Alamanya, selamat dtaang di Jerman). Dan menjadi penutup yang sempurna malam itu, krn sepanjang jalan naik sepeda motor saya senyum-senyum sendiri. Sudah lama tdk menonton film yang bergenre seerti ini. sebuah film yang bertemakan drama keluarga mixed with komedi sepanjang film. Dari dua film sebelumnya, saya sudah men-judge untuk menonton film jerman itu butuh banyak energi, sedangkan film Almanya ini energi saya dihabiskan untuk tertawa lepas.

Film ini bercerita ttg Hussein warga Turki yang menjadi buruh di Jerman. Akhirnya dia mengajak seluruh keluarganya ke Jerman, dan hingga anak-anak tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki cucu, mereka tetap menetap di Jerman. Film ini punya tiga kekuatan, pertama adalah, beberapa scene menggunakan “story-telling” untuk menceritakan masa lalu, dan scene memperlihatkan masa lalu saat. Canan (cucu Hussein yg melakukan story telling kepada Cenk, cucu terbungsu) bercerita dg narasi yang sungguh imajinatif bagi anak yang mendengarkannya. Teringat dulu sewaktu kuliah ttg Appreciative Inquiry, sebuah kata-kata hanya sekedar menjadi kata-kata, kecuali menjadi cerita/story, lebih memiliki kekuatan imajinatif dan menggerakkan/motives. Hal ini terlihat jelas pada diri Cenk si kecil. Story-telling yang menyusun kombinasi alur masa kini – masa lalu membuat film ini sangat menyegarkan. Kedua, komedi yang ada di film ini, komedi seputaran orang Turki, budaya Turki, perilaku orang-orang Turki, dan terutama tingkah laku anak-anak Turki. Komedinya terlihat sangat jujur, polos, dan tidak kotor. Ketiga, inti cerita yang memiliki value-added yang absolutely valuable, benar-benar berharga. Sebagai film bergenre keluarga, film ini tidak cukup menghibur saja, tetapi menginspirasi. Nilai seperti apa pentingnya keluarga itu, seperti apa pentingnya kehadiran kita di keluarga kita sendiri, pentingnya sebuah pengertian dan saling memahami antar anggota keluarga, dan pentingnya saling menghargai dengan perbedaan yang ada. Misalnya, anak bungsu Hussein, (kalau tidak salah) bernama Veli, sebagai keturunan Turki dia memiliki istri asli berdarah Jerman. Tak lupa, value yang bisa diambil di film ini adalah agar selalu bangga dengan apa adanya diri kita sendiri, bangga di keluarga mana kita berada, bangga sebagai bangsa apa kita dilahirkan, dan bangga terhadap masa lalu kita dan keluarga kita.

cinematicorgasm rate : 85/100

Advertisement

~ by imankurniadi on January 22, 2012.

2 Responses to “Almanya – Willkommen in Deutschland (2011)”

  1. whaow, aku juga mau nulis review tapi malah keduluan. #alibi hihihihihi
    suka banget sama film ini dan yup aku setuju kalo baader meinhof itu bikin punggung sakit :P
    aku senang dengan culture shock yang ditampilkan dengan luwes dalam alamanya. ini tapi endingnya bikin nangis bombay, mengharukan ya. #mbiihik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.