Tendangan Dari Langit

IMG_8302-copy

Film bertema olah raga sepak bola muncul kembali setelah Garuda Di Dadaku (2009). Sejauh yang saya tonton, film dalam negeri bertemakan sepak bola (yg sudah saya tonton The Conductor, Romeo dan Julian; The Viking vs The Jack, garuda Di Dadaku) menurut saya hanya ada dua yang saya acungi jempol. Pertama adalah “Si Jago Merah” (sebuah film FTV yang pernah ditayangkan di FTV beberapa tahun lalu) diperankan oleh Ayushita saat dia masih SMP. Kedua adalah Tendangan Dari Langit.

Opening pertama, sebuah anak-anak yang sedang bermain sepak bola dengan bola butut di sebuah padang pasir pegunungan Bromo. Kemudian saya pun langsung terkejut dengan kemunculan si “Zaskia Nurmala*” di film Tendangan Dari Langit ini. Pertamakali yang saya tahu si “zaskia Nurmala” atau Maudy Ayunda di film “Untuk Rena”, dan dia juga bermain sangat bagus di film yang membuat Arai jatuh cinta dan melantunkan lagu melayu di depan kamarnya. The best local-romantic-scene I ever seen Smile.

“Tendangan Dari Langit: (TDL) adalah film ke 20 sutradara @hanungbramantyo. Saya sendiri cukup mengikuti film-film hanung, terutama sejak dia membuat “Sang Pencerah” dan “Questionmark”. Kesan saya setelah menonton TDL, sangat berbeda saat menonton “Questionmark”. Jika “Questionmark” adalah film yang cukup serius, dan membuat saya mengerutkan dahi dan menganguk-angguk, TDL kebalikannya. Membuat dahi saya lebih rileks dan tertawa terpingkal. Saya merasa TDL dibuat agak terburu-buru, berbeda dg “Questionmark” yang masih terkesan lebih rapih. Metaforanya seperti ini: seperti sebuah tugas kuliah yang dikerjakan semalam suntuk karena dikumpulkan besok, tetapi tetap mempertimbangkan kualitas secara contentnya. Walaupun demikian, saya berpendapat film ini masih terkesan dibuat dengan sepenuh hati. Karena “pesan” yang disampaikan tersampaikan kepada penontonnya, terutama saya.

Mengenai penokohan, banyak dalam film ini dipakai aktor dan artis senior Yati Surachman, Agus Kuncoro), muda (Jordi Onsu, Joshua Suherman), budayawan (@sudjiwotedjo, presiden jancukers) dan pendatang baru bahkan non artis seperti olahragawan (Kim Kurniawan, Irfan Bachdim). Pendapat saya, Yosie Kristanto yang memerankan Wahyu, masih kurang tereksplor aktingnya. Berbeda dengan Maudy Ayunda saat memerankan Rena. Mungkin, penonton pun setuju, bahwa penokohan dan akting terbaik di film ini adalah pak Sudarto yang diperankan oleh sudjiwo Tedjo.

Tetapi lebih banyak apresiasi saya berikan untuk film TDL daripada kritikan saya tadi. Pertama, film ini mengambil latar belakang alam Gunung Bromo. Seingat saya hanya ada dua flm yang mengambil lokasi setting Gunung Bromo, pertama adalah Pasir Berbisik, dan TDL. Sinematografinya sangat bagus sekali, walaupun didominasi oleh padang pasir yang tidak berwarna. Kedua, saya juga mengapresiasi “joke detail” pada film ini. Misalnya ketika memperlihatkan penjual peci dan tasbih, dan kelakar si penjaga warung kopi. Jujur saja, sudah lama saya idak menyaksikan film dengan joke kedaerahan yang sangat kental dengan bahasa lokal. jarang ada film Indonesia seperti TDL, dengan jike-joke yang memang di sekitar kita, dan apa adanya. Ketiga, berbicara mengenai bahasa lokal, logat bahasa kedarahan yang sangat lokal membuat film ini semakin menarik untuk ditonton percakapanya, terutama oleh penonton yang berasal dari daerah yang sama (masyarakat surabaya, malang, probolinggo, atau secara umum masyarakat Jawa Timur). Saya sebagai masyarakat yang sudah lama berdomisili malang-Surabaya, film TDL ini adalah film penyegar. Terutama percakapannya. “misuh” atau omongan kotor mendapatkan tempat yang adil, sebagai pengungkapan rasa kesal sekaligus uangkapan apresiasi. Kalo boleh saya kumpulkan, kosa kata yang saya maksudkan: asu, jangkrik, jancuk, nggateli, taek, cangkemu.

Keempat, yang perlu saya aprisiasi adalah pesan-pesan yang dibawa di film ini. Pertama, pesan mengenai “never give up”, seperti yang dituliskan coach Timo kepada Wahyu di poster bergambar Irfan Bachdim. Membuat film ini dengan educationable. Pesan kedua, adalah pesan persahabatan, hal ini tampak dari persahabatan antara Mitro, Purnomo dan Wahyu, dan juga antara Indah dan Meli. Mengingatkan kepada saya persahabatan sejati bukanlah persahabatan lewat social network seperti Facebook atau Twitter, melainkan layaknya “boncengan sepeda bertiga, dan pergi ke kota malang dengan naik truk”. Pesan ketiga adalah pesan persatuan. Kurang lebih seperti percakapan berikut ini: Wahyu kepada pria 1: “mas mau ke malang? aku nunut oleh ora?” | pria 1: “aku Arema, koen opo?” | Wahyu: “Persema mas” | Pria 1 berbicara ke pria 2: “lek koen Persema tho? arek iki oleh melu gak?” | Pria 2 kepada Wahyu: “opo buktine koen Persema” | Wahyu : menunjukkan poster Irfan Bachdim. Lalu tampak Pria 1, Pria 2, dan Wahyu duduk bersama di atas pickup menuju kota Malang. Pesan kelima, yang menjadi kritikan orang-orang yang sering muncul di media saat ini. Kata Pak Darto: “susah jadi pemain sepakbola, banyak klub mendatangkan pemain asing, yang gampang di negri ini cuman jadi maling dan koruptor”.   

“kata almarhum gombloh, kalo cinta melekat, tai kucing terasa coklat” (Pak Darto-TDL)

~ by imankurniadi on August 27, 2011.

4 Responses to “Tendangan Dari Langit”

  1. filmnya ayushita bukan “si jago merah” mas, tapi “bekisar merah” soalnya dulu pernah liat (jaman2 ftv masih bagusnya) ^^

  2. Suka komentarnya… salam dari Malaysia.

  3. setuju banget mas aku sama paparan tentang film ini.
    aku juga langsung tersulut semangat ku waktu abis liat film ini. ngeliat semangat yang dimiliki ‘si wahyu’ kayak nya kok semangat ku slama ini masih belum ada apa-apanya. dan jujur essensi dr film ini setelah nonton itu gag ilang-ilang.
    sharing pengalaman juga, temen ku yg memang pengen jadi pemain bola begitu liat film ini dia langsung menjadi semangat untuk terus melatih kemampuannya.
    tapi mas..soal Yosie Kristanto yang memerankan Wahyu, yang mas bilang masih kurang tereksplor aktingnya, saya justru kurang setuju. karena menurut saya, dengan akting wahyu yang masih polos seperti itu malah melihatkan bahwa film ini berjalan natural tanpa di buat-buat.
    kesan pedesaan yang polos dan lugu masih sangat kental pada wahyu dan saya justru suka :)

    oh iya ! ada 1 pesan lagi mas yang belum…yaitu pesan pengorbanan :”)
    ini ada di adegan waktu dia bermain sepak bola melawan dusun tetangga dengan perjanjian kalo dia bisa memenangkan pertandingan itu dia minta di bayar dengan kuda dari juragannya itu *lupa sapa namanya.pokoknya org nya suka ngopi di warung tapi bukan agus kuncoro*
    dia minta kuda itu untuk ayahnya agar kalo jualan kopi enggak jalan kaki lagi dan biar ayahnya terlihat gagah.
    dan uang dari pertandingan* bola yang dia menangkan di gunakan untuk membelikan ayahnya baju koko dan peci untuk mengingatkan ayahnya agar ‘kembali’ menjadi imam untuk dia dan ibu nya.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers