The Mirror Never Lies, but Human Does

D3QnWWFgsq

Starring: Atiqah Hasiholan (Tayung), Reza Rahardian (Tudo), Gita Lovalista (Pakis), Eko (Lumo), Inal
Director: Kamila Andini
Screenwriter: Kamila Andini, Dirmawan Hatta
Producer: Garin Nugroho, Nadine Chandrawinata
Studio: SET Film, WWF Indonesia

Movie Synopsis:

Di suatu kehidupan ,di laut Gypsies , kisahnya dimulai…..

Kekayaan kehidupan laut di Wakatobi dan kebijakan local suku Bajo direkam dan divisualisasikan lewat film drama tentang seorang gadis kecil bernama, Pakis (12) dalam usahanya menemukan sang ayah yang hilang ketika berada di lautan.Pakis dibesarkan di suku Bajo, suku yang terkenal sebagai pelaut yang handal dan menghabiskan hidup dan mati mereka untuk lautan. Pakis melakukan ritual suku Bajo di mana mereka percaya dengan menggunakan cermin, Pakis berharap dan terus menanti melihat bayangan ayahnya. Namun, apa yang diharapkannya tak kunjung terlihat. Harapan Pakis tersebut sering dihancurkan oleh ibunya, Tayung. Tayung mencoba untuk menutupi kejadian yang sebenarnya. Penyangkalan yang dilakukan Tayung ini, membuat Tayung memakai bedak putih di wajahnya, sebuah tradisi di suku Bajo.Meskipun coba untuk dihancurkan oleh ibunya, namun harapan Pakis tetap besar. Bersama sahabat karibnya, Lumo, Pakis terus mencari jawaban pertanyaanya di Laut Wakatobi.Persoalan dan konflik Pakis dengan ibunya semakin pelik, ketika suatu hari muncullah Tudo, seorang peneliti lumba-lumba ke dalam hidup mereka.Ke empat karakter ini kemudian saling berinteraksi di kehidupan sehari-hari dan mereka juga punya penafsiran masing-masing terhadap laut. Namun , mereka sepakat bahwa lautlah yang membantu mereka menemukan jati diri mereka. [link]

TMNL Publication Kit REV5

The Mirror Never Lies, disutradari oleh Kamila Andini. Pertama kali membaca artikel di koran Kompas mengenai akan segera ditayangkan film ini di awal Mei, langsung di otak saya teringat dangan pasangan ayah-putri yang sama-sama menjadi sutradara ternama, yaitu Coppola’s family. Francis Coppola merupakan sutradara Hollywood yang sangat senior. Karya-karnyata beberpaa memenangkan penghargaan terbaik dunia perfilaman, seperi The Godfather dan The Rainmaker. Saya pertama kali mengenal putrinya – Sofia Coppola – dari film yang disutradarinya yaitu Lost In Translation (diperankan oleh Bill Murray, dan si gorgeous Scarlet Johanson). Begitu pula di Kamila andini, ternyata dia adalah putri dari Garin Nugroho, salah satu sutradara yg ternama yang dimiliki Indonesia. Karya-karyanya antara lain Leaf on a Pillow a.k.a Daun di Atas Bantal (Cristine Hakim) yang memenangkan banyak pernghargaan di banyak festival film dalam dan luar negeri, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, Opera Jawa, Under The Tree, dan tentu saja Rindu Kami Padamu (ini favoritku, sampe pengen makan telor asin yang tattonya bentuk love).

Foto Kamila bersama sang ayah, Garin1848458620X310

Hari minggu, tanggal 7 Mei 2011, walaupun badan serasa kurang fit, saya sempatkan browsing untuk mencari bioskop mana di Surabaya yang memutar film ini. Setelah dicari-cari ternyata hanya dua bioskop yang memutar film ini yaitu Delta 21 dan Tunjungan 21 (bukan XXI). Ya sudahlah, dengan tiket cukup murah, saya pun nonton sendirian. Dan ternyata dari semua kursi yang ada di studio 1 sore itu, hanya terisi kurang dari 15%. Wow. Alurnya cukup lambat, datar, tidak ada klimaks-klimaks yang mengejutkan. Dialognya pun sangat sederhana, walaupun ada dua bahasa yang sering digunakan di dalam film itu: Indonesia dan bahasa suku asli Bajo. Sinematografinya sangat jempolan. Wakatobi memang salah satu surga laut yang bisa ditemukan di Indonesia ini. karakter-karakternya-pun menurut saya pribadi masih rata-rata, semua sama, tidak ada yang lebih menonjol. Saya kasih jempolan lagi untuk selera humor yang disajikan di film ini, sangat menyegarkan.  

Sebagai film perdana sang sutradara Kamila Andini, saya sangat mengapresiasi dengan karyanya ini. Film ini menggambarkan kehidupan asli suku Bajo dengan sangat detail, sehingga saya sebagai penonton seperti menonton film dokumenter yang dibuat oleh professional. Misalnya: kehidupan sehari-hari suku bajo, bagaimana mereka memasak makanan khas dari kelapa dan singkong bernama “kasuami”, bagaimana rumah dibangun di atas laut, alasan mengapa mereka hidup di atas laut, bagaimana anak-anak suku bajo sekolah yang juga sekolah mereka dibangun di atas laut, bagiamana anak-anak suku bajo memiliki hewan peliharaan burung camar, bagaimana nak-anak bernyanyi dan bermain pantun, bagaimana suku bajo mencari ikan, berburu teripang, bagaimana suku bajo bergotong royong, bagaimana suku bajo mengadakan upacara perjodohan, upacara kematian, dan juga di film ini ditayangkan budaya-budaya dan nilai-nilai yang masih dipegang sangat teguh oleh masyarakat asli suku itu.

lebih baik hidup di atas laut, biar bergoyang, tapi hidup(The Mirror Never Lies)

Mencoba mengingat-ingat ingatan saya sendiri, The Mirror Never Lies adalah sejenis film yang menggambarkan keindahan Indonesia dengan sangat exotic, seperti film: Whispering Sands, Laskar Pelangi, Denias, Ruang, dll. Sebagai manusia yang masih senang menghabiskan gajinya untuk travelling, lewat tulisan ini saya benar-benar berpesan, jangan sampai gara-gara film layar labar, keindahan alam Indonesia teksploitasi dan semakin rusak karena banyaknya wisatawan yang un-responsible terhadap tempat-tempat indah yang mereka kunjungi. Wakatobi atau Belitong jangan sampai mengalami hal yang sama dengan Pulau Sempu.

Saat tahun 2001, saat saya SMA dulu, pertama kali ke Pulau Sempu, saya masih ingat benar, ada satu pohon yang rindang, sangat cocok untuk mendirikan tenda di bawahnya. Perbukitannya pun masih terlihat sangat hijau. Sudah lima kali saya ke pulau itu, yang terakhir sebulan yang lalu bersama sahabat saya Sattar dari Iran, saya melihat tidak seindah dahulu lagi. Sepanjang jalur trakking menembus hutan belantara, banyak sekali sampah berserakan, mulai dari botol plastik air mineral, hingga bungkusan-bungkusan makanan kecil. Saya, eh, kita, sangat prihatin dg hal ini. Perjalanan ke Pulau Sempu yang ke 4, sekitar bulan agustus 2010, saya bersama Adhi Kurniawan, Erlangga Bayu, Rezki Wahyu, Akbar Nugroho, Erwin, Prio Pambudi, Tufail Muhammad, Yunnisa dan 2 adiknya, Ato’, Kinanda, dan Nurdin. Begitu pula di Segoro Anakan, banyak sekali botol agua, plastik, sampah yang membuat wajah Pulau Sempu terlihat tua, banyak jerawat, dan semakin keriput, kasihan. Kabarnya, Pulau Sempu semakin banyak dikunjungi oelah banyak orang setelah pulau ini diekspose di film Ruang karya Teddy Soeratmadja. Tanpa diminta, tanpa disuruh, kami mencoba mengembalikan wajah asli Sempu, walaupun hanya sebagian kecil, snagat amat kecil. Kami mencoba bertanggung jawab atas kebersihan spot tenda kami dan sekitarnya. Begitu pula saat perjalanan pulang, polybag uang kami siapkan untuk memungut sampah-sampah selama trekking pulang.

Perjalanan ke empat saya bersama teman-teman pencinta Sempu39347_1541704900687_1176892089_1541573_6640319_n

Jika Hollywood, atau dunia, ingin membuat film yang berlatar belakang hutan, gunung, bukit, pantai, maupun laut yang indah, semuanya ada di sini, di Indonesia. Seperti Eat Preay Love, memberikan gambaran indahnya Pulau Bali, Denias menggambarkan keindahan gunung-gunung di Papua, The Mirror Never Lies tentang Wakatobi, Pasir Berbisik tentang Gunung Bromo. Ingat berita mencengangkan tentang sampah di Pantai Kuta? Hal ini seperti pemerkosaan keindahan alam Indonesia. Ibu saya pernah bercerita, ketika dia berusia 21 tahun, ketika dia mendaki merapi, dia benar-benar takjub dengan pemandangan yang dapat dilihat dari puncak Merapi. Saat April 2010 pun saya melihatnya langsung pun masih demikian, masih takjub, dan semoga seterusnya demikian. Tetapi hal yang berbeda ketika saya mendengar kondisi alam Gede-Pangrango. Saya sendiri belum pernah kesana, kabarnya kondisinya seperti Pulau Sempu, sudah mulai banyak yang rusak, dan tentunya: kotor!

Semoga dengan adanya film The Mirror Never Lies, manusia akan semakin bersahabat dengan Wakatobi, bukan sebaliknya.

Banyak sekali kekayaan alam Indonesia yang akan membuat kita sejenak takjub, speechless, atau bersahut subhanallah. Jika kita ke tempat itu, menurut saya cukup “berkenalan”, dan “berkenalan”-lah dengan baik dan “bersahabat”lah. Seorangteman atau sahabat, tidak akan saling menyakiti. Sudah banyak alam kita sakiti dan alam juga yang akan kembali menyakiti kita. Human always lies to her/his nature.

~ by imankurniadi on May 9, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers