1036.4 km, there are no short cuts to any place & journey worth going

Keluar dari bunderan ITS, ODO meter yang terdiri dari 3, ODO itu sendiri yang tidak bisa direset, Trip A dan Trip B, yang bisa direset, saya menekan selama 3 detik trip A untuk mereset menjadikan 0.0 Km, dan perjalanan kami dimulai.

aku bagaikan makhluk berwarna putih itu, bebas terbang kemanapun angin membawaku pergi (lebay tjuk, hahahahaha)


Hidayat duduk di bangku depan samping saya saat kita sedang berkendara menuju Magelang dan ke Dieng. Lalu dia bertanya, “sejak kapan man kamu suka traveling”, kalau tidak salah begitulah katanya. Cukup menguras pikiran saya pun menjawab, “sepertinya sejak Desember 2009, waktu itu aku habis kehilangan laptop, kehilangan kemare DSLR, opname di RS 3 hari, dan kehilangan kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman”, kira-kira seperti itulah aku menjawab, walau ada sedikit bumbu tambahan sana dan sini. Saya masih ingat travelling coping stress yang saya lakukan di bulan Desember itu, selama 3 minggu berturut-turut setiap akhir pekan. Silahkan lihat di kalender Desember 2009 dan pasti anda mengerti mengapa saya melakukannya, [klik disini], [disini] dan [disini juga] tentang perjalanan selama Desember 2009.

Traveling, jalan-jalan, uklam-uklam, bagi saya bukan sebuah hobi, tapi mungkin hal ini yang membuat saya being, semakin ada “ada”, maka semakin “berada”lah saya, apalah artinya aktualisasi jika kita tidak pernah mencoba untuk mencapainya, for the record, saya lebih suka Carl Rogers dan Bandura daripada Abraham Maslow.

Tujuan sebenarnya membuat tulisan-tulisan, catatan perjalanan yang saya lakukan bukan untuk konsumsi umum, atau di share agar orag lain memperoleh informasi yang diperlukan, akan merupakan sebuah dokumentasi tentang sesuatu yang bersifat “intangible” seperti kesan apa ketika di tempat itu, sehingga tidak hanya foto saja, tetapi juga kata-kata yang terrus bergejolak dan berbicara di kepala saya. Saya butuh media untuk menyalurkan hal ini, dan terimakasih kepada peradapan manusia human being yang semakin ke depan semakin menciptakan teknologi yang benar-benar dapat memahami.

hahaha, lebay tju*, uklam-uklam iku pokok’e siji, uklam-uklam mesthi odum !!!, hahahahahaha

STARTING POINT
Pukul 18.30 kami berangkat, dan obstacles pertama adalah kemacetan, penyiar suara surabaya menyatakan “sore ini adalah KLB”, atau kondisi luar biasa. Kemacetan dimana-mana, termasuk perempatan yang kami lalui, yaitu perempatan jembatan nginden intan. Hanya sekitar 4 meter sebelum lampu merah, kami berempat melihat lampu tersebut mati, dari 4 arah sekaligus. Sehingga sifat dasar manusia pada sore hari dan hari jumat yang artinya besok libur, keluar semua, tidak mau mengalah, dan chaos terjadi. hampir selama 30 menit kami terjebak di perempatan itu akhirnya lepas. Obstacle kedua terjadi di persimpangan sekitar pintu masuk tol gempol-gresik, medaeng, dan persimpangan arah ke mojokerto. Lebih seram lagi, di sekitar kami tidak hanya mobil kecil dan motor, tetapi juga truk, truk gandeng kontainer, bis, bis restu, bis sumber kencono, dan pengamen-pengamen cilik yang opportunis, kalau benda yang terakhir tidak menyeramkan.

Awal dari perjalanan ini tidak lepas dari sebuah sedikit kekecewaan karena rekan-rekan seperjalanan yang seharusnya bisa berangkat tidak jadi bergabung. Seharusnya kami berdelapan yang berangkat, akhirnya hingga H-3 dua orang membatalkan, H-2 satu orang membatalkan, H-2 ada 2 orang yang akan menggantikan, H-1 ada 1 orang yang menggantikan, H-1 ada 3 orang yang membatalkan, H-0 ada 1 orang yang membatalkan, H-0 ada 1 orang yang menggantikan.

Jadi kesimpulannya seperti ini, 8 orang sudah sepakat akan jalan-jalan bersama, akhirnya 8-2-1+2+1-3-1+1 = 5 orang. Kelima orang ini adalah Yudi, saya mengenalnya ketika di Pulau Sempu, Pandu rekan kuliah saya di MM, Athma rekan kuliah Pandu di ITS dulu, dan Hidayat rekan kantor saya dulu. Berangkat dari surabaya 4 orang, sampai di jogja menjempaut Dayat di UGM, sehingga total perjalanan ini hanya 5 orang, padahal kapasitas APV Pavlov’s dog adalah 8 orang.

Saya tidak habis pikir, habis deh pikiran saya sebenanrnya. Jika aktivitas seperti ini, harus benar-benar independen. Saya yang merencanakan akan kemana, dengan apa, dan kapan, terserah kita, sehingga tidak perlu dipengaruhi oleh banyak orang, tidak perlu mengatur jadwal, jadi kepuasan dan segala konsekuensi negatif akan kita rasakan diri juga. Memang mungkin lebih menyenangkan jika kita melakukan bersama-sama, toh budaya Indonesia memang budaya yang sangat KOLEKTIF !!! terlalu kolektif….. Ingin melihat buktinya? yaitu penelitian yang dilakukan oleh Hosfade, klik aja [www.geert-hofstede.com], baca baik-baik, dan coba bandingkan Indonesia dg negara yang lain, asik kok…

So, listen to me carefully (read carefully), FYI, just FYI* nothing more and nothing less, trip yang akan saya tuju selanjutnya adalah Karimun Jawa, Pantai Sedang Yogyakarta, Green Canyon, Coban Rois, Coban Pelangi, Ciwidey, Curug Malela, dll waktu belum ditentukan, bagaimana cara kesana juga belum ditentukan, kalo mau ikut monggo sekecakaken lah….

Ok, kembali ke topik utama. Kami mampir sebentar untuk makan malam, lalu perjalanan kami lanjutkan menuju Yogyakarta. Karena saya yang memutuskan bahwa saya adalah satu-satunya pengemudi yang akan mengendarai mobil keluarga saya sendiri, kelelahan terutama mengantuk tidak bisa dihindarkan. Pengemudi professional harus tahu batasan dirinya, akhirnya di sebuah pom bensin setelah alas ngawi saya memutuskan untuk tidur sejenak. Sekitar 1 jam saya tertidur, perjalanan kamiu lanjutkan hingga Solo. Di Pom bensin kota Solo setelah sholat subuh, saya tidur kembali sejenak. Lalu sekitar pukul 6 pagi, kami sudah tiba di UGM dan menunggu Dayat di poin penjemputan.

TANTE GARMIN, AN APPLICATION FOR GLOBAL POSITIONING SYSTEM
Terimakasih buat Erlangga Bayu Permata yang telah menginstall aplikasi ini, its tottally help….

Teringat kata-kata guru saya sewaktu SMA, “hormatilah peradaban manusia”, dia menyuruh kami mengerjakan tugas dengan mengetik dengan komputer. Maksudnya adalah, teknologi diciptakan manusia ada di sekitar kita, kita harus menghormati teknologi itu dengan menggunakannya untuk mempermudah aktivitas kita. Setelah mengisi bensin biologis, kami langsung menuju Wonosono dimana Dieng Plateu, yang disebut-sebut sebagai dataran tinggi terluas kedua setelah yang ada di Di India, berada. Yang saya tahu, untuk pergi ke kota Wonosobo, kita harus melewati Magelang, dan untuk mencapai kota itu, saya cukup mengerti jalurnya. Salah satu kehebatan Nokia 5370 XPM adl terdapat hardwere GPS didalamnya. Sekitar seminggu sebelum hari ini dibantu oleh Ella, aplikasi GPS bernamakan Garmin diinstall di Hpku. Aku buka POI**, dan aku ketik: “dieng”. Ternyata yang keluar adalah Terminal Dieng, PT. Dieng bla bla bla, Dieng Plaza Malang, Dieng View Malang, dll. Aku pilih Terminal Dieng dan suara si tante-tante girang mulai memandu kami kilometer-demi-kilometer. Anda harus terbiasa menggunakan aplikasi ini, karena jika anda salah belok, mada tante-tante ini akan berbicara “recalculating” yang artinya kita salah jalur dan Garmin akan mencari jalur yang lain.

Jalanan muai ruwet ketika memasuki kota Wonosobo, saat itu pukul 11.00 siang. Banyak perempatan, tante Garmin juga membuat saya kebingungan. Jalan menuju kota Wonosobo sangat mengasikkan, berkelok-kelok, agak menajak, dan suejuk !! Akan tetapi jalur yang menuju kawasan Dieng Plateu yang lebih mmengasyikkan, tidak hanya kabut tebal dan jalan berkalk-kelok menanjak curam, tapi juga pemandangan alam yang luar biasa.

Akhirnya setelah bertanya ke penduduk lokal dan juga memastikan jalur yang benar dengan tante garmin, kami berhasil sampai di pintu masuk Dieng, kami membayar Rp. 12.000 per orang dan untuk mobil Rp. 5000 per mobil. Karena APV tidak punya uang akhirnya saya yang membayarnya. Kata orang di loket tersebut, 12 ribu itu sudah termasuk masuk ke Telawa Warna, Dieng Teater, Komplek Candi Arjuna, dan Kawah Sikadang.

Teman saya dari semarang berkata kepada teman saya dari kediri, dan teman dari kediri itu berkata kepada saya bahwa Dieng Plateu sudah tidak menarik lagi. Ya, kata-katanya ada benarnya, silahkan ikuti cerita saya, nanti anda mengerti. Tetapi sama sekali tidak ada penyesalan saat saya kesana, seperti yang telah dibilang oleh Trinity, “its not about the destination, its about the journey”.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Telaga Warna. Di temapt itu terdapat beberapa spot yang menjadi POI**, mulai dari telaga itu sendiri, telaga yang lain, dan beberapa gua. Sekilas melihat Telaga Warna ini saya langsung teringat dengan Green Canyon, apakah yang membuat warna air di kedua tempat ini menjadi warna hijau???

model: pandu pradana


Kemudian kami menaikki anak tangga yang lumayan banyak ke Dieng Theater, dan saya sebenarnya tidak begitu tertarik untuk melihat filmnya dan juga teman-teman. Lalu kami kembali turun melawati jalan yang bebrbeda dan tujuan kedua adalah komplek Candi Arjuna.

Hari sabtu tanggl 10 Juli ssat itu terdapat festival di Dieng, dan saya berfikir festival yang mungkin erat kaitannya dengan kebudayaan setempat. Setelah sampai di komplek Candi Arjuna ternyata kawasan sudah sangat ramai dan terdengat suara nyanyian dangdut. Sesuai informasi yang saya dengar, teryata memang akan diadakan sebuah acara ritual upacara pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng yang akan dilaksanakan hari minggu tanggal 11 Juli 2010, dan pada saat itu mungkin kami sudah ada di Jogja untuk ke tujuan lainnya.

Komplek Candi Arjuna terdiri dari beberap candi. Saya kita kunjungan ini akan lebih mengasikkan jika tidak terlalu banyak orang, apalagi di ketinggian ini kamei menikmati pemandangan candi sambil mendengar musik dangdut….

kawasan Candi Arjuna, coba tidak ada taman rumput dan jalan batu yang sudah tertata dg rapih


Tujuan kawasan keempat adaah Kawah Sikadang. Menurutku ini adalah POI terbaik di Dieng Plateu. Kawahnya masih sangat aktif, jalan bebatuan yang kami lewati terasa hangat padahal angin yang bertiup cukup dingin, dan juga sangat terbau bau belerang di asap-asap kecil yang keluar diantara bebatuan. Di kawah utamanya juga demikian, terdapat bau belerag yang sangat menyengat, asap yang tebal keluar dari kawah, dan di dalam kawah terdapat entar air atau lumpur yang mendidih. Ingin tantangan yang lebih berat, kami mendaki bukit di samping kawah itu untuk memperoleh pemandangan lebih luas. Sekitar pukul 3 kami mulai menuruni bukit dan kembali ke tempat parkir.

foto kawah Sikadang dari atas

Karena kami belum makan siang, kami memutuskan untuk makan siang dengan memakan perbekalan yang kami bawa sebelumnya. Memang perjalanan dengan budget yang tipis, akhirnya kami memasak mie dan sarden di sebuah pondok di kawah Sikadang.

menu: mie instant, mie instant, mie instant, dan telor sepasang

Sekitar pukul 4 sore, kembali menggunakan fasilitas GPS di Hpku, kami kembali menuju Yogyakarta. Keempat penumpang lain tertidur dan saya mengemudi sendiri hanya ditemani oleh radio dan tante Garmin yang sedang asyik memberikan navigasi. Seperti yang saya bilang sebelumnya, pemandangan di jalur ini sangat luar biasa, terlebih lagi saat sore ini kabut sudah hilang dan saya melihat pemandangan gunung Sindoro dan puncaknya terlihat jelas. Untuk perjalaan pulang menuju Magelang dan Yogaykarta saya sepenuhnya mengandalkan tante garmin, dan dia membawa saya melewati jalan-jalan kecil, jalan tembusan, yang menurut tante ini mungkin jalan dengan rute terdekat untuk menuju Magelang.

Jadi, jika saya disuruh kembali Ke dieng tanpa mengajak tante grmain, mungkin saya tidak mampu.

MASTER BURGER DAN APV BERUBAH MENJADI CARAVAN NONTON PIALA DUNIA
Masih kelelahan hanya tidur 2 jam semalam, sore itu saya berhenti di Pom bensin untuk tidur sejenak. Pemberhentian kedua di pom bensin lagi untuk mandi karena sejak tanggal 9 juli sore saya belum mandi. Melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, tiba di kota itu sekitar pukul 11 malam, dan saya bersma Dayat mulai mencari spot yang cozy untuk 3 fungsi sekaligus : memarkir mobil, beristirahat di dalam mobil, dan juga menonton perebutan juara ke 3 piala dunia Jerman vs Uruguay.

Saya dan dayat berdiskusi akhirnya memutuskan untuk ke McD 24 jam. Tetapi perjalanan menuju retoran itu saya melihat warung Master Burger dimana dia sudah memasang TV dan lokasi restoran itu terbuka di parkiran. Nah, inilah tempat yang sangat ideal. Sambil makan malam dan menonton piala dunia, mobil tetap bisa terlihat, dan juga saya bisa men-charge baterai HP yang mulai habis.

harga 1 porsi McD, mungkin bisa = harga 3 porsi di restoran ini, bukan promosi, tapi memang memuaskan pelayananya, suka !!

Malam itu setelah makan Cheese Burger dan segelas Lemon Ice Tea, mata dan tubuh saya suah benar-benar kelelahan dan memutuskan untuk tidur sesaat sebelum pertandingan dimulai. Sementara saya tertidur, sering kali terjaga dan terbagun karena orang-orang berteriak, entah ada gol atau ada pelanggaran atau ada pemain yang memukul wasit (sayang tidak terjadi di piala dunia kali ini), membuat saya terbangun dan melihat dari jendela mobil apa yang terjadi. Inilah enaknya tempat ini, nonton piala dunia bisa dari mobil langsung.

Hari sudah berganti menjadi hari minggu tanggal 11 juli 1010, pukul 4.30 pertandingan sudah usai dan tentunya seperti dikatakan oleh Paul Octopus of the year, dimenangkan oleh Jerman, dan perut saya mengatakan harus ke WC.

kocak !!!! diambil dari FBnya mas Benny

Setelah setor dan sikat gigi kami bersiap untuk mencari masjid, dan kami putuskan untuk ke alun-alun kraton dan sholat subuh di masjud agung kraton. Setelah mengantarkan Dayat ke stasiun Tugu karena dia harus pulang ke jakarta, kami menuju tujuan berikutnya yaitu ke kawasan Gunung Kidul. Saya mengetik Nglanggeran di POI tante Grmain, dan dia kembali memberi navigasi kepada kami.

tetep, nggak mirip sama sekali dg backstreetboys, kecuali yang ngangkattangan itu



NGLANGGERAN DARI KATA PLANGGARAN

Sekitar pukul 08.00 kami telah sampai di pos Gung api Purba Nglanggeran Patuk gunung kidul. Tiket masuk hanya 2000 per orang dan parkir mobil 3000, karena APV tidak bisa membayar, maka saya bayari kembali. Anak muda si penjaga loket mengatakan sekitar 1 jam untuk dpat mencapai puncak, dan dia mengatakan ada 3 puncak yang dapat memberikan pemandangan yang bagus di gunung ini. Setelah bersiap, kami pun mulai mendaki. Jalur pendakian yang lumayan berat sekaligus enteng, melewati celah sempit bebatuan raksasa, jalan yang becek, tanjakan yang lumayan curam, dan di-iup-i oleh pepohonan sepanjang perjalanan. Seru !!!
itu yang berdiri temenku loh, jangan berfikir yang lain

Ok, sedikit bercerita tentang gunung api purba ini, dan say a masih belum mengerti kenapa dinamakan “Gunung Api Purba”, dan sayangnya saya lupa bertanay kepada anak muda itu.

Nama Nglanggeran berasal dari kata Planggaran yang mempunyai makna setiap ada perilaku jahat pasti tertangkap/ketahuan. Ada juga yang menuturkan Gunung Nglanggeran berasal dari kata Langgeng artinya desa yang Aman dan Tentram.
Selain sebutan Gunung Nglanggeran gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini disebut Gunung Wayang karena terdapat Gunung/bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Selain itu menurut kepercayaan adat jawa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyi Ongko Wijoyo dan Punokawan. Punokawan dalam tokoh pewayangan tersebut diantaranya: Semar, Nolo Gareng, Petruk, dan Bagong. [sumber]

Mungkin tempat ini menjadi tempat terbaik yang saya kunjungi dua hari itu, pemandangannya luar biasa, tidak banyak orang, dan tentunya tidak mendengar musik dangdut. Pemandangan puncaknya juga luar biasa, dan suara kita akan bergema jika berteriak. Tidak butuh keahlian khsuus untuk mendaki, yang penting kuat jalan menajak selama 1 s/d 2 jam saja.

salah satu spot dalam jalur pendakian


Mendapat kapar dari salah satu teman, Pak Dady, bahwa teman kita juga ada disini, Dwi. Saya bertemu dengannya saat perjalanan pulang, sengaja mengambil jalur yang berbeda dan akhirnya tidak sengaja bertemu dg Dwi dan temannya yang memelihara ikan nila bernama Fauzi, maksudnya yang memelihara yg namanya Fauzi, bukan ikan nilanya yang namanya Fauzi.

peandangan di puncak gunung api purba nglanggeran

SUKUH TEMPLE

Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhannya Majapahit, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah. [sumbernya adi disini, biasa lah wikipedia]

Tempat terkahir yang kami kunjungi adalah Candi Sukuh yang cukup dekat dengan daerah Tawangmangu Magetan. Alhamdulillah tidak ada masalah dg mobil kami yang kami terus ajak berkeja keras karena jalanan di Tawangmangu ini juga sama dengan jalan di Dieng yang terus menanjak dan menanjak. Sperti yang saya katakan artikel diatas, candi ini cukup unik, karena mirip dnegan kuil yang dibangun oleh bangsa Maya di meksiko.

Pas kita kesana, pas juga ada dua orang foreigner yang sedag dipandu oleh pemandu wisata. Pemandu wisata itu sangat atraktif dalam menjelaskan patung, relief, dan hal-hal lain yang bersifat intangible yang hanya bisa kiat tahu lewat cerita. Dan pemandu itu saya akui, dia memeiliki seni bercerita yang sangat luar biasa bagus !!!! . walaupuan si pemandu menjelaskan degan bahasa inggris, bukan menjadi masalah buat saya.

lihat jarinya, dia sedang menjelaskan tentang Buto atau apa ya aku lupa


Salah satunya, puncak candi sukuh yang berbentuk segiempat melambangkan 4 elemen dengan 1 elemen sebagai pusatnya. Yaitu: water, ground, fire, and air, and the center of the 4 elements is heart. Ternyata Candi Sukuh juga menjelaskan tentang sunat, kelahiran, dan bilamana seorang pria dan wanita dikatakan dewasa.

luar biasa kan patungnya


candi sukuh tampak samping

Ya, akhirnya perjalanan kita berakhir, kami lanjutkan perjalanan pulang, dan alhamdulillah sampai di surabaya pukul 12 malam, dan saya pun langsung tertidur tidak nonton piala dunia karena Paul sudah meramalkan siapa yang menang.

Special thanks to:
Andyna, catpermu menjadi panduan saya
APV Pavlov’s Dog
Dwi yang memberikan tujuan next trip: Pantai Sedang

have an awesome journey, because there are no short cuts to any place & journey worth going

*FYI = for your information
**POI = Point Of Interest

~ by imankurniadi on July 13, 2010.

5 Responses to “1036.4 km, there are no short cuts to any place & journey worth going”

  1. teknologi diciptakan manusia ada di sekitar kita, kita harus menghormati teknologi itu dengan menggunakannya untuk mempermudah aktivitas kita.

    setuju banget, tapi seringnya kita dibilang terlalu tergantung juga sih sama teknologi jaman sekarang–sampai muncul istilah back to nature. jadi serba salah.

    Mas Iman ngerti cara ngikutin cerita yang candi-candi gitu? aku masih bingung sampe sekarang hehehe awalnya dimana, terus itu ceritanya apa, dan akhirnya gimana.

    • kan ada guidenya vis, kita tinggal mendengarkan aja mereka…nggak asik kalo hanya lihat kanan kiri saja..
      ngerti sih, walaupun dia pake bahasa inggris

  2. Nice journey and nice blog. Informasi dan ispirasi kadang dapat muncul dari mana saja termasuk dari blog yang tersembunyi ini. :)

  3. Makasih banget maz Iman atas artikel ttg Candi Sukuh tsb,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers