3 Bolang, 3 Bodoh Petualang
Kamis pukul 3 siang, aku pulang dengan wajah tersenyum lebar, aku pulang menyiapkan tugas kuliah yang akan kita selesaikan malam ini, persentasi kelompok tentang bagaimana corporate good governance menjadi sebuah dasar etika dalam segala aktivitas bisnis perusahaan, aku pulang, packing.
Kuliah berakhir sekitar pukul 21.30, lalu kujemput teman seperjalannanku Nisa, di rumahnya yang ada permainan otak dengan banyak kelereng. Tiba di rumah, Adit akhirnya juga tiba diantarkan rekan-rekan\n sekantornya, dia baru pulang dari Jakarta.
Sebelum jam 12 malam bertiga tiba di Bungurasih yang telah penuh dengan orang-orang yang akan memafaatkan hari libur jumat hingga minggu, di kampung halamannya, di kota lain, di tempat wisata, atau seperti kami di daerah selatan propinsi Jawa barat. Cukup lama kami menunggu bis, “bis apapun yang akan kita dapatkan pertama menuju Solo, itulah yang akan kita naiki”. Ini ada soal kesempatan di depan mata, seperti seorang pemateri seminar yang mengajarkan bagaimana mengambil opportunity bisnis degan meletakkan uang 50.00 di mejanya, dan uang 100.000 saat seminar hampir selesai, kesempatan, ambil atau tidak, yang terpenting itu sudah ada di depan hidung kita.
Bis pertama lolos, bisa kedua, kami berlari, berdesak-desakan memasuki pintu depan bis. Ada bapak-bapak memakai pakaian warna merah hijau, dia berkata “sudah ada orangnya”, ternyata dia memsankan tempat untuk keluarganya. Aku mendapatkan tempat duduk, kedua temanku tidak, keluarga si bapak itu telah mendapatkan tempat duduk, lalu kedua temanku menduduki tempat duduk yang dijaga bapak-bapak berkaos hijau merah itu.
Mestakung, semesta mendukung, kami alami beberapa menit setelah pukul 12 malam, seorang bapak-bapak yang memang ditakdirkan untuk memberikan tempat duduk kepada kami, agar kami bisa tidur nyenak di bis Sumber Kencono ini, setidaknya kami mencoba untuk tidur.
Tiba di Solo sekitar pukul 05.30 pagi, satu hal yang kami cari adalah kamar mandi terminal. Nanti akan saya beritahu kamar mandi terminal memiliki fungsi yang lebih baik dan bermanfaat lebih dari sejedar tempat pembuangan kotoran manusia.
Ke-tahu-an saya hanya satu, dari Solo ke Banjar naik bus Budiman, dan nanti saya ceritakan betapa terkenalnya “brand Budiman”. Petugas loket peron maupun kernet yang mencari penumpang berkata hal yang sama, “keberadaan Budiman diatas jam 4 sore”, sekarang pukul 6 pagi. Dengan ke-tidak-tahu-an saya dan kami, kami naik Sri Mulyo ke Pueto Rico, dan dari terminal kota itu sistem informasi kernet berjanji mengoper kami naik bus langsung menuju Banjar. Maksud saya di oper di terminal Purwokerto, bukan Pueto Rico.
adalah harga yang harus kami keluarkan untuk membayar mereka. “Sense of travelling” indra ke 8 traveling saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, dan ternyata demikian. Yang beres adalah kami sarapan di bis memakan orem-orem dengan tahu asin. Duduk paling depan, memberikan sensasi tertentu untuk merasakan karakter pengemudi bus jawa tengah itu seperti apa, seperti “ini”.
Sembilanpuluhriburupiah

taken from window of the bus, it was rain
Bukan sebuah keberuntungan saat itu saya melakukan perjalanan degan kedua orang itu. Bukan sebuah kebetulan pula. Bukan sebuah hal yang direncanakan pula. Ini kali pertama saya berpetualang dengan kedua orang itu, bukan keberuntungan, kebetulan, atau direncanakan. Setidaknya saya memperoleh “pengalaman” dan “peng-alam-an” yang berbeda dalam perjalanan kali ini, bersama mereka. Terimakasih saya ucapkan kepada mereka yang tidak sekedar hanya membagi permen sugus dan kue sus-nya, tidak sekedar menjadi tripod dan menjaga tas saat ke WC, tidak sekedar sebagai teman bicara atau teman tidur di atas kursi berjalan diatas roda 6 itu.
Pukul 16.00 kami tiba di terminal Banjar, nah, akan saya kasih tau manfaat lain dari kamar mandai WC:
(ku taruh 1000 rupiah di kotak depan orang tua itu) “pak, numpang tanya, kalo bus budiman yang menuju yogya atau solo pagi-pagi biasanya ada jam berapa”
(diambilnya uang 1000 rupiah itu dan dia menjawab) “ada yang jam 9, jam 10, terakhir jam 11”.
(sambil mengangkat tas) “kalo menuju cijulang, pake bis yang sebelah mana ya pak?”
(sambil menunjuk) “jalur yang paling kiri kang, yang paling sana”
WC terminal tidak hanya sebagai tempat pembuangan kotoran manusia, tetapi sebagai sumber informasi yang murah dan terpercaya. “good people, attract other good people too”
Naik bus itu pun tidak lepas dari pungutan liar, atau opportunity yang diambil si kernet atas ketidak-tahuan para pelancong seperti kami, karcis yang hanya dibayar 15.000, kami payar 20.000 per orang. Untung saja ada ibu-ibu baik yang memberikan informasi ini dan lainnya ke pada Nisa. “good people, atrract other good people too”.
Tiba di Cijulang, tidak tahu jam berapa, Tuhan masih memberikan berkah berupa hujan kecil di kota itu. Naik ojek 10.000 per motor menggunakan jas hujan ponco kami menuju Greencanyon, tepatnya rumah pak Syarifudin, lantai rumah yang akan kami gunakan sebagai alas tidur malam ini, kamar mandi yang akan kami pakai untuk mandi, dan piring yang akan kami gunakan untuk makan malam dan sarapan lezat. Aarapan selalu lezat, tidak ada sarapan yang tidak lezat.
Sudah banyak orang yang berkumpul disana, “mbak Ikka ada?” aku tanya kepada salah satu orang berkacamata disana yang dengan lahap sedang menghabiskan nasi, udang, dan cumi-cumi di piringnya. “Kaaaa!!!”, dia memanggil.
Masuk ruang utama, kuturunkan tas, kulepas rain cover dan jaket ku dan lalu bersalaman. Salaman adalah aktivitas yang termudah untuk membuat kita “being”, bersalaman sambil tersenyum.
Makan malam, mandi, minum teh, lalu kami berkumpul di ruang utama untuk saling memperkenalkan diri kami masing-masing. Tidak perlu memperkenalkan diri pun kami sudah saling tahu bahwa tidak ada satupun diantara kami yang disebut sebagai “orang asing”.
Entah kenapa, tidur di atas tikar di antara bang Tigor dan tembok malam itu, sangat nyenyak sekali.
Bangun, beberap orang ke masjid, dan saya pun ikut. Dan banyak perbincangan terjadi usai sholat subuh di pagi itu. Bebrapa orang mulai ku kenal dengan baik, walau hanya sebatas nama.
Nasi kuning dan telur dadar, sarapan selalu lezat, tidak ada sarapan yang tidak lezat.

setelah sekian kali batal, akhirnya saya berhasil sampai disini, tidak sabar untuk trip selanjutnya di aspal yang sama di foto itu
Peristiwa kue sus basi dan kecut milik Adit bukan satu-satunya kabar buruk di pagi tanggal 29 itu. Menurut buku catatan saya mengenai kuliah etika dan hukum bisnis, apa yang diistilahkan force majure adalah sebuah kejadian yang tidak dapat diduga, dicegah, dan menghambat pelaksanaan “prestasi”. (jika ingin lebih memahami pengertian ini, tanyalah kepada para sarjana hukum, bukan sarjana psikologi). Jika bertanya kepada sarjana Psikologi, maka mungkin kami akan menjawab “extraneous variable” yang terjadi pada Greencanyon pagi itu.
Menu utama perjalananku kali itu tidak bisa aku lakukan, karena force majure itu. Tapi apalah gunanya kekecewaan setelah selama 20 jam melakukan perhalanan dengan 4 bis dan ojek??? Menu utama itu seharusnya sudah aku rasakan ketia seorang bapak-bapak berkaos hijau dan merah memberikan tempat duduk kepada kedua temanku. Dan kali ini aku bersama 59 orang yang saya yakin mereka tidak hanya sekedar memberikan jabatan tangan mereka dan berkenalan, tidak sekedar berteman, dan tidak sekedar duduk bersama-sama dalam satu bis.
Sebelumnya karena status yang saya update di Facebook, teman saya menghubungi saya karena dia akan berlibur ke tempat yang sama dimana saya akan berlibur. Aku kabarkan ke dia mengenai kondisi Greencanyon yang lebih buruk dari sekedar kondisi air yang berwarna coklat.
Menuju pantau Batu Karas, disana sudah banyak sekali manusia. Dan sebuah kebetulan keita bertemu Mbak Vidi senior kami. Menunggu kabar dari temanku itu yang katanya juga akan ke pantai yang, aktivitas foto-foto memang salah satu cara untuk mengakrabkan kami semua. “good people, attract other good people too”. Akhirnya saya bertemu dengan teman yang saya kenal pertamakali saat kita caving di gua cermai, dan kita mendaki merapi di tempat dan waktu yang nyaris sama, sayangnya kita tidak bertemu. Sampai ketemu di perjalanan berikutnya mbak enti….
Aktivitas di Batu karas diakhiri dengan memakan es krim yang saya campur dengan es doger yang saya beli dari dua penjual es yang berbeda. Siapa bilang orang Indonesia adalah pemalas? Selama perjalana ini saya bertemud dengan ibu-ibu tua yang menjual orem-orem dan tahu asin, bapak-bapak yang menjial aqua dan Mizone yang dieja Mison. Bertemu penjual siomay di terminal yang memeiliki peran dalam mengganjal perut kami di terminal banjar.
Tujuan selanjutnya adalah batu Hiu. Ini fotonya:
Perjalanan di hari sabtu itu tidak berakhir dengan menggunakan pelampung berwarna oranye di pinggir sungai, tetapi pelampung di kapal yang kamo sewa 100.000 per kapal di pantai Pangandaran. Ini kali pertama saya ke Pangandaran, dan sahabat saya Mas Hendra meng-sms saya “sampai mana nam? Ngapain rencana malam ini? Cari warung remang-remang? Hehehehehe”, sialan, gitu katanya. Hahahaha, walaupun sudah punya satu anak, gaya leluconnya tidak berubah.
Bukan di sebuah warung remang-remang malam itu kita habiskan, tetapi berjalan sejauh 45 menit menuju ATM terdekat, dan makan malam seafood yang eeeeeeeenak sekali bersama mas Rully dan mas Ageng. Ada hal sangat menggelitik di makan malam itu, saat kita bertanya berapakah harga kepiting, si pramusaji menjawab “mahal”, dengan suara perlahan dan gerak mulut yang jelas. “Memang dia pikir kita gembel apa”, salah satu dari kami berkata, dan kita tertawa. Senangnya makan malam dengan 2 orang itu, perut tidak hanya kenyang oleh nasi, cumi-cumi, dan ikan bawal, tapi juga canda dan tawa kita (walaupun saya bercanda tentang cerita orag madura vs surabaya yang gayus, gagal dan jayus).
“Good people, attract other good people too”, aktivitas malam belum berakhir, saya dan adit mengobrol banyak hal dengan teman kami yang lain, mulai dari cerita liburan di Thailand, jin di gunung lawu, makam Hitler yang ada di pemakaman Ngagel-Surabaya, hingga kelompok Illuminati dan kaum Pagan.
Hari minggu pagi kami pulang, tiba di jogja pukul 4 sore dan rute perjalanan kamu langsung ubah ke Malioboro untuk bertemu Christian yang sedang sekolah S2 di kota itu. Di pinggir jalan benteng Vredeburg, Iman, Adit, Nisa, dan Christ, makan siomay dan sate ayam, dan juga ronde, membuat keributan tartawa terbahak-bahak bercerita tentang balita perokok dan berkata omongan kotor, HAHAHAHAHAHA. Melanjutkan perjalanan menuju terminal giwangan menggunakan Trans Jogja, dan akhirnya kami tiba di Surabaya pukul 4 pagi, dan aku hanya tidur selama 1 jam untuk berangkat ke kantor hari senin itu, tidak sarapan, malah teringat sarapan di hari minggu, “sarapan selalu lezat, tidak ada sarapan yang tidak lezat”.
Tidak terlupakan sehari yang lalu, di minggu pagi kami bangun dan menuju Pangandaran timur untuk melihat sunrise. Aku mencoba menghabiskan roll di kamera lomoku. Sebagai rookie dan newbie, aku masih memperlakukan lomo sebagai kamera digital. Aku merasa di dalam lomo itu terdapat memory card 2GB, dan akhirnya asal jeprat-jepret selama perjalanan ini. Satu hal aku mendapatkan pelajaran, 36 exp tidak sama dengan 2GB.
Setelah, “sarapan selalu lezat, tidak ada sarapan yang tidak lezat”, kami berpamitan kepada para new companions, new “nakama” kami. Menuju terminal Banajr kami naik becak. Saya ucapkan terimakasih kepada semuanya, terimakasih atas perjalan yang lebih dari tidak hanya sekedar berjabat tangan, sarapan bersama, foto bersama, makan malam bersama, ngobrol bersama, dan hal-hal luar biasa lainnya. Because fun and mental is fundamental…
Perjalanan berangkat 20 jam menggunakan Taxi (Bungur)- Sumber Kencono (Solo) – Sri Mulyo (Purwokerto) – Budiman ekonomi (Banjar) – Budiman kecil (Cijulang) – Ojek (rumah ka Syarifuddin)
Perjalanan pulang jam 23 jam menggunakan becak (terminal pangandaran) – bus budiman kecil (Banjar) – Budiman besar eksekutif 38 ribu (Giwangan Jogja) – taxi borongan (Malioboro) – Jalan kaki (Mirota dan benteng Vredeburg) – Trans Jogja (Giwangan Jogja) – Mira AC tarif biasa (Surabaya) – taxi blue bird (rumah ketintang)
Saya masih menantikan tujuan berikutnya, tempat-tempat berikutnya, orang-orang yang akan ditemui berikutnya, dan pengalaman dan peng-alam-an berikutnya……
Siang, lambat laun telah menjadi malam
Dan kini telah gelas ke tiga
Jam 9 malam aku pulang (the Adams)
Special thanks to:
Ikka Wuwiwa
Backpacker Murah Community dan semua orang yang ikut dalam perjalanan ini
Bapak tua penjaga WC di terminal Banjar
Nisa, Adit, Holga, Ixus
Dan Greencanyon yang berhutang kepada saya !!! hahahahaha
Have an awesome day










