god is director, god is an architect

Dear god
In your majesty, you create differences
In my arrogance, i question your wisdom
In your mistery, you create temptation
In my inferiority, you make me more than I am

so here I am*

Saat siang itu, sepulang ujian tulis Manajemen Lintas Budaya, saya mampir sejenak tempat persewaan VCD. Saya menyadari saya tampil agak dekil siang itu, dikarenakan semalam setiap 3 jam saya hanya tidur 15 menit, untuk mengerjakan ujian take home, dan saya mengerjakan tugas ini di rumah kontrakan teman saya adhi karena printer saya bermasalah, terimakasih saya ucapkan sekali lagi kepada temanku, semoga balasan yang kamu dapatkan akan sangat dirasakan manfaatnya. dengan tubuh gemuk, kulit hitam, wajah berminyak, rambut acak-acakan, jaket lusuh, dan tas besar, saya masuk tempat itu, saya langusng mencari film di rak “new release”. Melihat film ini, saya masih benar-benar ingat saya menonton film ini bersama adhi dengan tiket yang telah dipesankan nobo, dan menontonnya di Fakultas Kedokteran di sebuang ruang kuliah yang sangat disayangkan dg audio yang sangat jelek sehingga percakapan film ini tidak terdengar jelas.

Dunia perfilman Indonesia dirasa mulai kembali bangkit setelah film yang diproduksi oleh Miles dg produser Mira Lesmana dan disutradari oleh Riri Riza ditayangkan, dan saya sangat ingat jaman SMA ketika film itu beredar, teman saya rela membolos untuk bisa mengantri tiket, dan menjadi calo tiket bersama-sama temannya, dan saya juga masih ingat adik saya sendiri karena tidak dapat tiket tempat duduk, maka dia menonton di tangga. Dan saya berfoto bersama dengan kedua orang itu di Ranu Kumbolo, saya rasa tidak ada yang namanya kebetulan.

Sebenarnya saya agak meng-underesti-masi film-film yang beredar di Indonesia, karena kebanyakan betema: pergaulan anak muda, hantu/horor. tetapi ternyata banyak juga sineas muda yang membuat film berdasarkan hasrat/passion yang mereka miliki di dalam hati maupun otak kiri dan kanan mereka, bukan membuat film berdasarkan perintah produser karena motivasi u a n g.

Sangat terlihat pada reaksi saya saat saya menonton film seperti ini, “hmmmm” (sambil menekuk muka mengenyiritkan dahi, “bagus !!”, lalu saya menganguk-angguk, “gendeng !!!” lalu saya menggelang-geleng, ini reaksi saya ketika menonton film yang benar-benar berkualitas menurut definisi subjektif saya sendiri).

Kalo boleh sekalian sahring film apa saja yang membuat saya seperti itu, pertama adalah Rindu Kami Padamu (2004) disutradarai oleh Garin Nugroho. Kemudian, film yang dibintangi oleh the gorgeous Dian Santrowardoyo, Ungu Violet. Tidak lupa, film yang membuat saya bennar-benar trenyuh tentang ibu yang kehilangan 3 anak laki-lakinya Daun Di Atas Bantal, dibintangi oleh Christine Hakim dan disutradarai oleh Garin Nugroho, memenangkan banyak penghargaan internasional. Kemudian, film buatan dalam negeri lainnya, yang tidak beredar di bioskop Surabaya dan saking sukanya, saya rela membuat movie verbatim-nya: Fiksi, ingin tahu seperti apa cuplikan ceritanya, klik disini. Film lain yang baru-baru ini saya tonton dan saya menemukan banyak kebenaran baru, film dokumnter At Stake, lihat link ini untuk membanca review saya tentang film ini. Kembali mengingat-ingat film dalam negri lainnya, saya teringat Jermal, yang bercerita tentang anak bernama Jaya yang baru bertemu ayahnya, dan ternyata ayahnya berada di tengah lautan, dimana air tawar lebih berharga daripada emas. Film lain yang tak kalah lucu dari Warkop DKI adalah Janji Joni, satu hal yang aku suka adalah original sountracknya The Adams yang berjudul Waiting “promise me that you never left me now, cause none of this gonna forever”. Film lain yang patut saya berikan acungan jempol: Perempuan Punya Cerita atau Chants of Lotus, salah satu artis favorit saya bermain di film ini, Kirana Larasari. Film lain yang tidak mudah dilupakan adalahn Gie, dari beberapa quotes Soe Hoe Gie, “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”, yang saya sukai “orang-oprang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur”, yang mengispirasi banyak pecinta alam karena Gie sendiri meninggal di gunung Semeru. Satu film lagi, Identitas, pemenang kategori film terbaik dalam piala FFI 2009. Film yang sangat bagus diputar di tengah-tengah situasi politik yang konyol seperti saat sekarang ini. Dari semua film yang saya sebutkan, saya masih penasaran dam belum menontonnya, film terakhir yang dibuat Garin Nugroho yang berjudul Under The Tree.

Kembali ke awal tulisan ini, begitu juga film yang saya tonton bersama adhi di FK akhir tahun lalu. Saya pribadi inti dari film ini berada di 20 menit terakhir, ketika ada peristiwa pembomman di beberapa gereja, dan saya ingat benar saat itu hari natal dan idul fitri berada dalam bulan yang sama. Inilah inti dari film ini, perbedaan…

Annisa: “kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalo Allah pengen disembah dengan satu cara”
Cina: “makannya allah menciptakan ………”
(silahkan lihat dilmnya, percakapan ini terjadi di disc 2 menit ke 03.40)

Sekali lagi saya katakan, secara saya pribadi berpendapat bahwa inti film ini adalah 20 menit terakhir, dan akan snagat wajar jika pendapat anda berbeda dengan saya. Salah satu film terbaik yang penrah saya tonton (saya menganguk-angguk, lalu menggeleng-gelenag, dan tidak berkata satu patah katapun)

*diambil dari film yang berjudul cin(T)a, menit 00.00 s/d 01.50
[trailer]
Sutradara: Sammaria Simanjuntak
Pemain : Sunny Soon, Saira Jihan
by Sembilan Matahari

Special thanks to : Nobo dan UKM Cinematografi Unair
“Newton’s firs law (cina version): BEAUTY IS IN INVERSE PROPORTION WITH BRAIN”

~ by imankurniadi on April 29, 2010.

8 Responses to “god is director, god is an architect”

  1. jadi inget tugas UTS filman deh. hehehe.
    aku juga membahas soal tuhan adalah sutradara kehidupan, terus manusia jadi aktor dan aktrisnya.

  2. filsafat manusia? aku dulu membahas definisi “aku”, setengah semester nggak selesai-selesai, lalu dialnjutkan sampai setengah semester berikutnya…dan sampai sekarnag juga masih bingung “aku” itu apa/siapa/bagaimana? kamu udah nonton filmnya kan di PMPM?

  3. film Cin(t)a? blm mas. aku blm nonton heheheh.

    iya tuh bener, karena pertanyaan baru selalu muncul setiap harinya jadi gak mungkin kalo filsafat pernah dibahas sampe selesai.

  4. hohohohoho….ngopi? ngopi? hehehehehe, bagus banget lho, sangat filsafat

  5. film terbaru nya dedy mizwar jg apik mas.. judulnya alangkah lucunya negeriku ini klo ndak salah.. bikin saya mikir.. dosa itu emang bukan manusia yg menentukan! hwehehhehee…

    mau donk mas pinjem vcd-vcd nya.. apalagi film fiksi itu.. pdhal aq nungguin diputar di bioskop..
    hiks hiks…

    • fiksi memang nggak diputer di bioskop lho… aku nontonnya pinjem vcd original… ternyata memang benar2 keren, udah baca reviewku ttg film itu?

  6. Saya baru post trailer Cin(T)a versi Inception! Coba cek deh di sini http://www.youtube.com/watch?v=DMJ3E6xopRM

    Salam kenal.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

  7. ya pesan sosialnya kenabanget…keren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers