Watch and Learn : The Soloist

Tidak seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya yang cenderung terlalu bertele-tele dalam menceritakan sesuatu, atau dengan gambar dan quotes-quotes atau frase dan kalimat yang yang menarik untuk dibaca dan dikutip. Kali ini saya akan akan langsung menulis referensi film yang baru saja semenit yang lalu selesai ku tonton (dan saat ini saya mendengarkan lagu klasik penutup film tersebut hingga benar-benar selesai sambil menulis paragraf pertama ini).

The Solosit bercerita tentang seorang tunawisma di negara bagian Los Angeles dan wartawan/kolumnis LA Times yag cukup terkenal dengan tulisannya di koran tersebut. Film ini dimulai dari perkenalan yang tidak sengaja antara wartawan (Lopez) yg tidak sengaja mendengar suara biola, dan ternyata biola yang hanya bersenar-dua itu dimainkan oleh seorang tuna wisma ras afrika-amerika (negro) yang bernama Nathaniel.Terkesima dengan permainannya dan statusnya sebagai tuna wisma, akhirnya si wartawan menulis cerita-kolom di LA Times dan membuat warga Los Angeles bersimpati. Persahabatan terus berlanjut, si wartawan memperoleh penghargaan dari si walikota karena ceritanya, dan si pemain biola tetap menjadi tuna wisma dan tinggal di tempat ‘penampungan-berkebutuhan-khusus” yang bernama LAMP.

Film yang menurutku ber-genre drama ini jika ada kumpulan tag yang sangat sesuai dengan film ini maka saya akan menuliskan : friendship, anger-management, music-classic, cello, journalist, newspaper, tuna-wisma, psychology, withdrawal, schizophrenia. Sepuluh hal yang ku tuliskan ini kesemuanya ada dalam film ini. Jadi jika pembaca menyukai film musik yang berbau persahabatan, anda layak menonton ini, jika pembaca menyukai film ttg psycho-pathology anda juga pasti berminat dengan film ini. apa yang bisa kita pelajari, minimal contoh symtomps dari schizophrenia, minimal, karena setelah menonton film ini, entah knowledge atau experience, saya takjub (i’m astonished).

The Soloist dibintangi oleh pemenang piala Academy Awards Jamie Foxx dan Robert Downey Jr. saya akan memberikan satu tips sebelum anda menonton film ini, jangan bayangkan The Kingdom saat Foxx berperan menjadi agen FBI dan jangan pula pikirkan Iron Man saat Downey memerankan Tony Stark berkostum robot. Karena akting mereka benar-benar berbeda. Bayangkanlah John Nash si jenius matematika di film A Beautiful Mind, bayangkanlah tokoh jurnalis yang diperankan oleh Al Pacino di film The Insider, dan bayangkanlah Ray saat bermain musik di film Ray (Ray pemanin musik buta ini ternyata juag dibintangi oleh Jamie Foxx). The Soloist membuktikan bahwa Jamie Foxx benar adanya, dia bisa akting. Jangan bayangkan alur cerita film ini sangat drama adanya seperti The Secret Life of Bees atau film-film romantis Hugh Grant. Malah, alurnya terkesan cukup lambat dan aku pun tidak menemukan klimaks cerita di bagian yang mana. Malah aku teringat satu judul yang alurnya hampir mirip, yaitu No Reservations yg dibintangi oleh si cantik-sexy Zeta Zones (i’m your biggest fan mam..). Satu hal lagi, alur dan jenis ceritanya sangat mirip dengan film yang berjudul Resturecting The Champ, tentang wartawan yang mencari cerita ttg mantan juara tinju, yang akhirnya menjadi tunawisma jua (dibintangi oleh Aston Krucher).

The Soloits, benar, memberikan kesan yang berbeda. Kesan yang hampir mirip setelah menonton Pursuit of Happyness, Seven Ponds, My Life Without Me, The Bucket List, dan One Million dollar Baby.

Dua fakta:
Pertama, based-on-true-story, yang berarti karakter Lopez dan Nathaniel benar-benar ada, dan mereka masih hidup hingga sekarang.
Kedua, aku membeli VCD original ini seharga 39ribu, dan saya tidak menyesal (lebih menyesal membeli tiket New Moon seharga 25rb)

watch-and-learn
have an awesome day

~ by imankurniadi on February 28, 2010.

2 Responses to “Watch and Learn : The Soloist”

  1. [...] Julliard (nama sekolah ini sudah familiar di telinga saya ketika saya menonton The Soloist, klik disini untuk melihat reviewku). Bayangkan seorang ayah retardasi mental membesarkan soerang anak normal?? [...]

  2. [...] The Soloist (2009), directed by Joe Wright Silahkan baca artikel ini, karena saya pernah mereview film ini sebelumnya. Persamaan Shutter Island dan The Soloist adalah [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers