Grizzly Man (Documentary – 2005)

•May 20, 2012 • Leave a Comment

Director: Werner Herzog | Writer: Werner Herzog | Casts: Timothy Treadwell, Amie Huguenard dan Werner Herzog

And what haunts me, is that in all the faces of all the bears that Treadwell ever filmed, I discover no kinship, no understanding, no mercy. I see only the overwhelming indifference of nature. To me, there is no such thing as a secret world of the bears. And this blank stare speaks only of a half-bored interest in food. But for Timothy Treadwell, this bear was a friend, a savior. [Werner Herzog, Grizzly Man]
I’m in love with my animal friends. I’m in love with my animal friends! In love with my animal friends. I’m very, very troubled. It’s very emotional. It’s probably not cool even looking like this. I’m so in love with them, and they’re so f-ed over, which so sucks. [Timothy Treadwell, Grizzly Man]

Sejatinya, film ini pun sangat pantas diberi judul “A Life of Timothy Treadwell, A Film By Timothy Treadwell”, karena 100% film ini menceritakan kisah Timothy Treadwell, 70% film ini dibuat oleh Timothy Treadwell, dan Werner Herzog hanya sebagai chef ahli membuat sebuah masakan yang ingredients-nya merupakan kisah kehidupan Timothy yang telah meninggal diterkam oleh makhluk yang paling dia kagumi, beruang.

Sebuah khas film-film dokumenter yang digarap oleh Werner Herzorg, di Grizzly Man, Herzog tetap melakukan sebuah narasi dengan suaranya sendiri menceritakan kehidupan Timothy Treadwell. tetapi Grizzly Man ini sangat berbeda dengan film-film Herzog lainnya. Seperti yang saya katakan, ingredients utama film ini adlaah si Treawell sendiri. Mungkin sekitar 60-70% gambar yang ditayangkan di Grizzly Man adalah scene-scene yang diambil oleh Tomothy sendiri, menggunakan tangannya maupun menggunakan tripod untuk men-shot gambar Treadwell dan beriang di alaska. Treadwell merupakan sebuah aktivis pecinta binatang, terutama beruang. Dia berkemah selama berbulan-bulan di Alaska untuk mempelajari dan hidup dekat dengan beruang Grizzly. Dia tinggal seorang diri, dan setiap hari yang dilakukan adalah mengamati kehidupan beruang-beruang Grizzly disana. Akhirnya diapun mendapatkan teman yang bersedia untuk menemaninya di Alaska. sebuah kisah yang tragis bagi taman-teman Treadwell bahwa Treadwell meninggal dunia di Alaska, dan film ini lebih dari sekedar legacy-nya.

Inilah yang membuat saya tertegun menonton Grizzly Man. Dari banyak film Herzog yang sudah saya tonton, film ini saya katakan film yang memiliki komposisi dan peramuan yang sangat outstanding. Jika di-jlentrehkan: scene-scene original yang dibuat Treadwell selama di Alaska + scene-scene yg diambil oleh Herzog di Alaska + scene-scene wawancara Herzog kepada rekan & keluarga Treadwell + narasi “khas” dokumenter ala Herzog. Jafi, Grizzly Man dapat dibilang sebuah film dokumenter dengan “gaya” yang agak berbeda, namun masih dalam lingkup “gaya” ala Herzog. Sebuah self documentary oleh Treadwell sendiri pun dipilih oleh Herzog scene-scene yang sangat menyampaikan hasrat dan passion Treadwell apa adanya, stunning!!

cinematicorgasm rate 80/100

Bunny Drop (aka Usagi Doroppu – 2011)

•May 17, 2012 • 3 Comments

Director: Hiroyuki Tanaka | Writers: Yumi Unita (manga), Hiroyuki Tanaka (screenplay) | Casts: Ken’ichi Matsuyama, Karina and Mana Ashida

Selain hobi nonton film, saya memiliki 2 lemari khusus menyimpan koleksi-koleksi komik pribadi saya yang cukup lengkap namun sayangnya tidak tersusun rapih. Menonton film Usagi Doroppu selama 114 menit, film ini mengingatkan kepada saya koleksi komik yang paling sering saya berulang kali baca karena memiliki humor yang murni tentang kelakuan bocah usia 5 tahun, yaitu Yotsuba & !. Dari sumber yang saya temukan, ternyata film layar lebar Usagi Doroppu merupakan film yang diangkat dari sebuah manga (istilah ‘komik’ di Jepang) yang berjudul sama, Usagi Drop. Yotsuba dan Usagi Drop memiliki kisah yang sama, yakni tentang anak kecil tanpa orang tua, kemudian terdapat pria-paruhbaya-mapan-single-berusia30tahunan memutuskan untuk menjadi orang tua angkat sang anak. Di sinilah yang menarik mengenai komik ini untuk dibaca dan diikuti, bagaimana dinamika sang pria-mapan-single menjadi orang tua angkat. Sebenarnya cukup banyak film Jepang layar lebar maupun serial yang diangkat dari sebuah komik. Film yang saya maksud bukan film animasi, namun film dengan manggunakan aktor dan artis manusia seperti biasa. Misalnya karya komikus Urasawa Naoki 20th Century Boys atau karya Adichi Mitsuru H2.

Kembali membahas Usagi Doroppu, saya belum membaca komiknya, namun saya menduga walaupun mirip dengan kisah Yotsuba, Usagi Doroppu memiliki perbedaan yang mencolok. Film ini lebih dominan pada bagaimana dinamika komunikasi maupun interaksi emosional antara Daikichi sang ayah angkat dengan Rin si anak kecil perempuan yang masih berusia 6 tahun tanpa orang tua. Saya menyukai bagaimana interaksi emosi itu disampaikan di film ini. Rin adalah anak kecil yang memang sangat polos sebagaimana mestinya anak kecil pada umumnya. Rin dapat dikatakan yatim piatu, dia cukup lama diasuh oleh kakek Daikichi yang baru saja meninggal. Sehingga sepeninggal kakek daikichi, rin tidak memiliki siapa-siapa hingga Daikichi menawarkannya untuk tinggal bersamanya. Begitu pula dengan Daikichi pria muda mapan, dengan segala pengalaman yang belum ada dan keterbatasannya, tiba-tiba harus menjadi sosok seorang ayah. Daikichi merupakan tipikal pria yang sudah nyaman dengan zona kenyamanannya. Memiliki rutinitas hidup sebagai pria single yang nyaman hingga hal itu semua berubah sejak dia memberanikan diri menjadi ayah angkat Rin yang sebatang kara. Konflik dan klimaks plot film yang disajikan pun cukup dikatakan sederhana. Justru, yang sering saya katakan tadi, bagaimana seorang anak yang tidak punya siapa-siapa dan seroang pria-sigle yang berada di zona kenyamanan, mereka saling bertemu dan mereka mengalami perubahan hidup yang signifikan melelahkan sekaligus membahagiakan. Rasa-rasanya, karena bagaimana interaksi emosi yang disampaikan begitu jujur, film ini sangat menarik untuk ditonton.

Cinematicorgasm rate 80/100

Departures (Okuribito – 2008)

•May 15, 2012 • Leave a Comment

Director: Yôjirô Takita | Writer: Kundô Koyama | Casts : Masahiro Motoki, Ryôko Hirosue and Tsutomu Yamazaki

Tulisan ini saya buat setelah berturut-turut menonton tiga film Indonesia istimewa di bulan April-Mei, yaitu Sanubari Jakarta, Modus Anomali, dan Lovely Man. Saya menjadi teringat film ini, karena film ini bisa menjadi sebuah contoh, sebuah ide cerita yang sangat movie-minded dipadukan oleh “resiliensi budaya” yang cukup teguh dalam sebuah film. Yang saya maksudkan adalah, film ini adalah sebuah contoh, bahwa sebuah peraduan ide cerita/skenario/screenplay/naskah film yang masih berpijak pada budaya asli (ie budaya tata cara rias jasad yg baru meninggal atau Nokanshi/encoffineer di Jepang) namun dunia tetap bisa menerima apa maksud dan pesan film ini yang tidak terlepas dari nilai inti dari budaya tersebut. Bukti bahwa penonton dunia menerima dengan baik film ini karena film ini mendapatkan penghargaan Academy Awards (piala Oscar) pada kategori Best Foreign Language Film of the Year. Saya yakin beberapa sutradara Indonesia telah melakukan hal ini, membuat film dg “resiliensi budaya asli pada sebuah film”, akan tetapi rekognisi dunia (contohnya piala Oscar) juga perlu, sebagai sebuah lecutan maupun viagra agar perfilman Indonesia semakin maju. Sebagai contoh, Ifa Isfansyah di filmnya Sang Penari, Garin Nugroho dg filmnya Opera Jawa, Drupadi oleh Riri Riza, dan lain-lain.

Departures menceritakan seorang pria dengan idealis yang cukup tinggi dengan profesinya sebagai pemain cello professional, bernama Daigo Kobayashi. Suatu hari grup orchestranya bubar dan terpaksa akhirnya dia kehilangan pekerjaan. Ibunya baru meninggal, dan dia bersama istrinya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman sang suami dan menetap di rumah ibunya dulu. sebagai pengangguran dia tidak menemukan pekerjaan yang sasuai di kampung halamannya sebagai pemain cello. Pada akhirnya dia tertarik pada sebuah iklan bertuliskan “perusahaan departure/keberangkatan”, “gaji besar”, dan “tidak membutuhkan keahlian khusus”. Ternyata itu adalah sebuah perusahaan yang mengurusi riasan orang yang baru saja meninggal untuk upacara pemakaman. Film ini sangat menarik, karena periasan jasad tersebut dilakukan dengan tehnik yang sangat tinggi, artistik, memiliki nilai seni, karena akan mempengaruhi bagaimana suasana pada upacara pemakaman yang dilakukan oleh keluarga yang ditinggalkan.

Saya sangat menyukai bagaimana dinamika emosi pada konflik-konflik yang disajikan di film ini. Sang perias jasad diwajibkan untuk tetap stabil saat di tengah-tengah anggota keluarga yang menangis sedu. Periasan harus dilakukan dengan sangat khidmat, tanpa kesalahan, dan dengan tata cara yang mengandung nilai budaya yang tinggi. Film ini tidak hanya menceritakan “profesi menakjubkan” di dunia, namun lebih dari itu. Film ini juga mengandung nilai baik dari sebuah forgiveness, belajar dari sebuah kesalahan dalam hidup, dan bagaimana penerimaan diri kita bahwa kita harus menjalani hidup jauh dari passion yang sudah ada di dalam diri kita. Film ini tergolong film yang memberikan kesan sangat slow, dialog yang cukup minim, dengan scoring yang cukup minim pula. Penggambaran emosi ditampilkan tidak muluk-muluk namun tetap sejalan dengan plot cerita dengan sedikit maju dan mundur.

Cinematicorgasm rate 85/100

selamat menonton

Intouchables (2011)

•May 15, 2012 • Leave a Comment

Directors: Olivier Nakache, Eric Toledano | Writers: Olivier Nakache, Eric Toledano | Casts: François Cluzet, Omar Sy and Anne Le Ny

Sebetulnya tidak menyangka film ini termasuk dalam 250 film terbaik sepanjang masa, menuurt IMDb, dan menempati urutan 98. Karena itulah, saya semakin bersemangat melanjutkan review saya mengenai film ini, setelah bbrp minggu hanya menjadi draft di blog saya.

Lagi-lagi film yang diangkat dari kisah nyata merupakan sebuah ide cerita yang sangat mudah untuk dieksplor, entah ada penambahan atau pengurangan di sana dan di sini. Sebenarnya saya mencoba untuk memberikan penilaian yang utuh, mencoba untuk tidak terbawa emosi ‘terinspirasi’ karena tujuan dari film itu adlaah demikian, menginspirasi para penontonnya dengan sebuah event nyata yang pernah terjadi. Saya mencoba memahami secara holistik — walaupun saya pun mengakui sebagai movie reader yang masih terlalu dangkal — film Prancis ini, karena kekuatan film drama Prancis adalah di storyline-nya. Film drama Prancis tidak membutuhkan biaya yang banyak, tidak membutuhkan set yang merepotkan untuk dibuat, teknologi yang canggih untuk special effect, atau hal lain yang diluar Hollywood-minded.

Saya akui, saya juga masih dalam wilayah distribusi normal bagian tengah dalam menonton sebuah film. Hal yang membuat mood penonton bagus atau tidak juga dipengaruhi bagaimana opening film ini diberikan. Nah, Intouchables, dari judul atau poster filmnya saja tidak memberikan daya tarik untuk ditonton, atau tidak menjual. Hanyada dua pria, bapak-orang muda, yang stau kulit putih, yang satunya lagi kulit hitam. Itu. Tetapi saya harus berlau adil sejak dalam pikiran, dan mulailah menonton film ini dengan perhatian yang penuh. Kembali lagi dalam hal opening, film ini termausk yang memberikan alur “opening – flashback – kemudian sebagai ending kembali ke opening”. Cukup menggelitik bagaimana film ini dibuka, dengan scene seorang pria kulit hitam bersama kulit putih menyetir mobil dengan ngebut, dikejar polisi, lalu taruhan, mereka akan ditilang atau tidak. Dan opening film itu belum memberikan alur cerita yang sebenarnya. Beberapa menit setelah opening baru saya ngeh, bahwa si kulit hitam, bernama Driss, adalah seorang pelayan pribadi orang kulit putih kaya raya bernama Philippe. Philippe merupakan penderita Tetraplegia atau quadriplegia.

Tetraplegia, also known as quadriplegia, is paralysis caused by illness or injury to a human that results in the partial or total loss of use of all their limbs and torso; paraplegia is similar but does not affect the arms. The loss is usually sensory and motor, which means that both sensation and control are lost [sumber]

[spoiler, sebaiknya paragraf ini jangan dibaca atau anda akan kehilangan faktor surprise sbg daya tarik film ini] Ternyata Phillipe memiliki kepribadian yang sangat menarik. Dia telah berganti-ganti dan sering memecat banyak pelayan pribadi yang memiliki tugas utama sebagai “tangan dan kaki”nya karena mereka (ie para pelayan itu) menganggap Phillipe sebagai orang sakit yang butuh banyak perhatian. Phillipe tidak mau diperlakukan seperti itu. Kemudian muncullah Driss mantan narapidana, bernadalan, kasar, dan kurang empati, melamar sebagai pelayan pribadi Phillipe dan mereka menemukan kecocokan satu sama lain sebagai sahabat. “Kecocokan” satu sama lain sebagai sebuah persahabtan inilah yang membuat film ini sangat layak untuk ditonton dan mendapatkan beberapa apresiasi di beberpa penghargaan film internasional.

Cinematicorgasm rate 86/100

Selamat menonton

Lovely Man (2011)

•May 14, 2012 • 2 Comments

Director: Teddy Soeriaatmadja | Screenplay: Teddy Soeriaatmadja | Casts: Donny Damara and Raihaanun

Cukup unik ketika saya berniat menontonnya pada momen yang unik. Sembari menunggu kereta Gumarang gerbong bisnis pukul 6 sore tanggal 10 mei kemaren, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di Plaza Atrium Senen untuk menonton premiere perdana Lovely Man. Rasa penasaran memang sudah cukup menggunung untuk film ini, karena kabar-kabar positif yang tersebar di linimasa saya mengenai film Indonesia. Dan setelah menontonnya, kabar-kabar positif itu benar. Film ini luar biasa. Jika terus ada fil seperti ini, idenya, sinematografinya, plot ceritanya, dialognya, konfliknya, premisnya, maka saya yakin bakal muncul sutradara-sutradara yang akan membuat sinetron sekelas Games of Throne, Lost, CSI, Glee, X-Files, Millenium, atau serial masa kecilku Space: Above and Beyond.

Lovely Man, merupakan film ke-6 dari sutradara muda Teddy Soeriaatmadja (Ruma Maida, My Name Is Dick, Badai Pasti Berlalu, Ruang, Banyu Biru). Selain Loevly Man, dari beberapa film yang telah ia garap, saya paling suka Banyu Biru. Karena film-film seperti banyu Biru atau Lovely Man merupakan film dengan karakteistik yang sangat mengunggulkan authenticity. Film-film yang authenticity/otentik merupakan film yang tidak sekedar keluar dari mainstream, melainkan film yang benar-benar membuat penontonnya (saya) tidak akan pernah melupakan keindahan dari film ini. Saya ambil contoh, Banyu Biru, ceritanya sederhana, yaitu pemuda bernama Banyu (Tora Sudiro) yang melakukan perjalanan mencari ayahnya (Slamet Raharjo). Akan tetapi bagaimana perjalanan itu divisualisasikan di film ini terkesan sangat absurd sekaligus indah berjalan beriringan. Yang saya suka dari film-film Teddy, selain sinematografi yang sangat cantik, adalah bagaimana plot cerita disajikan. Terkadang terkesan konsisten datar, klimaks bahkan berada di tengah-tengah, atau klimaks yang agak keluar dari mainstream. Mungkin bagi yang tidak suka film drama akan merasa bosan untuk menonton film Teddy seperti Ruang dan Ruma Maida. Tapi untuk yang satu ini, Lovely Man, tidak salah anda mencoba menontonnya, karena kesan yang saya dapatkan serupa dengan saat saya menonton Banyu Biru, authenticity!!!

Film ini didominasi oleh dua aktor, yang stau cukup berpengalaman melanglang buana di dunia perfilman Indonesia, yang stau lagi sepertinya masih rookie namun tetap patas untuk mendapat acungan jempol, Donny Damara dan Raihaanun. Dari sumber yang telah saya baca, Donny Damara memperoleh Best Actor dalam ajang penghargaan Asian Film Awards. Artinya dia mendapatkan pengakuan oleh Asia. Sedangkan Raihaanun merupakan istri dari sang sutradara, dan bodohnya saya baru menyadari hal ini padahal dia sudah mendapatkan peran kecil di film Badai Pasti Berlalu. Duet kedua aktor ini membuat saya speechless. Donny Damara memerankan sang ayah yang ‘menyimpang’, dan Raihaanun memerankan sang anak kandung yang juga ‘agak meyimpang’. Apa yang akan mereka bicarakan setelah lebih dari 10 tahun tidak bertemu? Bagaimana mereka bereaksi dan berkomunikasi tanpa melepaskan penyimpangan’ mereka masing-masing?

Sekali lagi, Lovely Man ini adalah tipikal film authenticity, dan akan saya jelaskan lebih spesifik mengapa saya berkata seperti itu. Pertama, adalah yang bersifat permukaan, yaitu cinematografi. Sangat indah. Menggambarkan malam kota Jakarta yang tak pernah mati. Ada beberapa scene sederhana namun divisualisasikan dengan komposisi sangat indah. [maaf spoiler] Terutama scene saat Ipuy (Donny Damara) menaiki sepeda motor membonceng ojek. Kedua, dialog antara anak-ayah yang telah saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Inti dari dialog tersebut yang sangat menarik antara lain, apa yang ayah-anak bicarakan setelah mereka baru bertemu setelah lebih dari 10 tahun berpisah, bagaimana anak menghadapi ayahnya yang dianggap ‘menyimpang’, bagaimana keyakinan dan nilai pribadi si ayah terhadap ‘penyimpangannya’, bagaimana si ayah mulai perperan sebagai ayah dalam waktu beberapa jam, dan bagaimana dinamika hubungan dan komunikasi antara si anak dan si ayah dalam semalam yang akan mengubah persepasi mereka tentang banar-salah menjalani hidup. Ketiga, pesan yang mungkin ingin disampaikan di film ini. Untuk bagian ini saya sangat subjektif. Teman saya mengatakan, pesan yang sangat terasa adalah ‘the power of forgiveness‘, saya pun harus setuju karena hal itu memang mencolok di ending film ini. Namun, ada hal lain yang saya tangkap dari film ini. Film ini mendefinisikan ulang mengenai hal benar dan hal salah bagaimana orang memandang jalan kehidupannya. Saya agak lupa, quote yang mengganjal di ingatan saya, diucapkan oleh Ipuy si waria. Hanya saja, setiap orang memang memiliki jalan hidupnya masing-masing, dia harus memilih dan memutuskan. Urusan benar salah, terkadang itu hanya norma.

Cinematicorgasm rate: 88/100

We Bought A Zoo (2011)

•May 14, 2012 • Leave a Comment

Director: Cameron Crowe | Writers: Aline Brosh McKenna (screenplay), Cameron Crowe (screenplay) | Casts: Matt Damon, Scarlett Johansson and Thomas Haden Church

Untuk membuat sebuah film yang bagus tidak perlu ide cerita yang terlalu rumit, menegangkan, ada plot twist-nya, atau sangat original. Terkadang sebuah ide cerita dari film diangkat dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Misalnya saja “makan”. Sebuah perilaku makan dialkukan oleh semua orang di pagi hari, itu bukan ide cerita yang menarik. Akan menjadi menarik jika cerita “makan” dilakukan oleh seseorang yang menderita obsessive compulsive di film As Good As It Gets, “makan” harus dengan menu yang sama, di tempat yang sama, susunan piring sendok garpu yang sama, dan juga pelayan yang sama. Hal yang sama berlaku dengan ide cerita “single-parent”, “membeli rumah”, dan “kebun binatang”. Tiga hal ide sederhana ini disampaikan dengan sangat menarik, sederhana, namun indah di film “We Bought A Zoo”. Satu hal ide sederhana lagi yang membuat dim ini menarik adalah, berdasarkan kisah nyata.

We Bought a Zoo menceritakan sebuah keluarga, dimana sang ibu telah pergi meninggal dunia, menyisakan seorang ayah, anak laki-laki sulung, dan anak perempuang bungsu. Benjamin Mee sang ayah, mulai merasa gelisah dan bingung harus berperan ganda menjadi seorang ayah sekaligus ibu kepada dua anaknya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pindah dan membeli rumah baru, agar dapat merasakan gairah hidup yang baru. Akhirnya Bejamin Mee meninggalkan pekerjaannya, kehidupan yang lama, bersama keluarganya pindah ke sebuah rumah yang memiliki pekarangan sebuah kebun binatang, kebun binatang sungguhan.

Sebagai sebuah film keluarga yang cukup mainstream (menurut saya) We Bought A Zoo menyajikan sebuah humor-humor orisinal, klasik, dan sangat menghibur. Bagaimana ide cerita dari kisah nyata ini sangat menginspirasi dan membuat penontonnya akan merasakan betapa “sumingrah” plot cerita ini. Konflik tidak disajikan terlalu dramatisir, namun tetap konsisten pada alur emosi dimana anak-anak masih perlu didampingi orang tua untuk menonton ini. Kepolosan si anak bungsu, dan bagaimana interaksi orang-orang yang mengelola kebun binatang itu, ditambah dengan interaksi dengan hewan-hewan di sekitarnya. Mulai dari film Contagion, Matt Damon terlihat sangat nyaman memerankan seorang ayah yang baik namun ling-lung. Begitu pula akting dia di film ini. Dan cukup suprise, Scarlett Johansson memerankan seorag “foreman” dan kebun binatang, akting tomboy+maskulin-pun cukup disajikan dengan baik olehnya.

Cinematicorgasm rate 78/100

Perjalanan yang Normal

•April 10, 2012 • Leave a Comment

#hari pertama, rabu, 21 Maret 2012

Pukul 9 kurang saya telah tiba di stasiun Gubeng lama, dengan tas berisi pakaian, laptop, dan benda-benda lain, plus juga tas selempang kecil pemberian dari kak Ecki dan Kak Afni. Saya pun sangat siap untuk long weekend ini, destinasi Yogyakarta dan sekitarnya. Kereta Logawa telah tiba, jam 9.20 tepat kereta dari Jember ini berangkat menuju pemberhentian terakhirnya, Purwokerto. Logawa, gerbong 1 bangku 7C, adalah dimana saya akan menghabiskan kurang lebih 7 jam kedepan. Sudah ada seorang ibu-ibu dari Surabaya dan Ibu-ibu berkacamata bersama anak kecilnya berusia 3 tahun yang membawa cukup banyak barang. Yang satu menuju Kroya, yang satu menuju Ngawi. Yang satu adalah guru yang sedang menempuh pendidikan S2 di Unesa Surabaya, yang satu hanyalah ibu rumah tangga dengan hobi menanam pohon. Kereta berhenti di stasiun Sepanjang, dan rombongan ibu-bapak-bayi-si nenek-si kakek pun memenuhi bangku kami. Mereka menuju Solo, untuk pindahan. Tak jarang pembicaraan secara sengaja terjadi, dimulai dari pertanyaan: “badhe teng pundi mas..?“, dan dilanjutkan dengan jawaban dan pertanyaan pula: “badhe teng Yogyo, njenengan teng pundi..?“. Wajar memang seperti itulah tipikal penumpang kereta ekonomi, sebuah interaksi pasti terjadi, karena para penghuninya akan merasa sederajat. Dan pembicaraan pun dilanjtkan dengan hal-hal yang tidak lazim, seperti si ibu dengan anaknya berusia 3 tahun membawa sebuah bibit pohon akan menjadi sebuah oembicaraan tentang pohon. “Wit nopo niku bu?“. Ternyata dia membawa pohon matoa atau kelengkeng Irian yang didapatkan dari kerabatnya yang menjadi TNI di sana. Dia akan tanam di kampung halamannya di ngawi karena menurut dia Ngawi adalah tanah yang cocok untuk pohon sejenis itu. Begitu pula dengan rombongan keluarga besar yang cukup ramai saling berbincang dan menyantap bekal mereka. Tak urung saya ditawarkan dan saya langsung dibagi makanan kecil yang mereka bawa.

Rasa ngantuk pun tidak menghinggap di mata saya, apalagi memperhatikan oerang-orang yang berlalu-lalang mengais rejeki halal di atas Logawa. Mulai yang berjualan kopi-pop-mie, berjualan segala jenis makanan berat hingga ringan, berjualan suara (ngamen), berjualan mainan, buku, asesoris, hingga pengemis yang meminta tetapi tetap memberi, yaitu doa. Satu pengemis tua yang buta saya letakkan kepingan 500 rupiah di tangannya, dan dia sigap beterimakasih dan mendoakan saya agar saya panjang umur. Amin.

Pukul 15.30 Logawa tiba di Lempuyangan, sebuah stasiun yang wajib disinggahi oleh kereta ekonomi dari manapun. Turun dari kereta, segera saya mengirim pesan kepada Erwin sepupu saya dari Kalasan untuk menjemput. Sambil meunggu, syaa nikmati bakso gerobak di depan stasiun dan hanya saya habiskan 5000 rupiah lumayan untuk mengganjal perut.

Sengaja saya berpergian sendirian untuk perjalanan saya kali ini, karena mengunjungi sebuah ‘point-of-interest‘ bukan destinasi utama, melainkan hal-hal lain yang ingin saya temukan, salah satunya bersilaturahmi, dan, menemukan kembali diri saya yang dulu. Setiba di Kalasan, sebuah kecamatan kecil di kabupaten Sleman-Yogyakarta, di rumah adik dari ibu saya, bulek Sri, yang akan menjadi base-camp perjalanan saya 4 hari kedepan. Tentunya, aktivitas obrolan dan perbincangan tentang kabar baik keluarga saya di Malang (dan sebaliknya di Kalasan) menjadi topik utama. Malam itu juga setelah santap malam, naik motor pinjaman paman saya segera mengunjungi sepupu saya yang juga tinggal di wilayah Kalasan, keluarga mbak Erry dan Mas Yanto. Rasa kangen terbayarkan ketika saya bertemu dengan trio Ilham, Fariz, dan Tama, 3 putra mbak Erry yang masih kelas 1 SD, TK, dan playgroup. Walau usia mereka sudah bertambah banyak sejak terakhir kali bertemu, namun perilaku mereka sebagai anak kecil tetap menyenangkan apa-adanya. Kembali perbincangan bagaimana kabar baik dan kabar lain antara keluargaku dan keluarga Mbak Erry tetap menjadi topik utama, terlebih lagi dipenuhi suasana yang menyenagkan tentang tingkah laku 3 bersaudara itu saat menonton “Tendangan si Midun”. Filmnya dipenuhi dengan humor-humor garing seperti tendangan ‘kamehameha’, tapi terasa sangat menyenangkan ketika menontonnya dan tertawa bersama mereka bertiga.

#hari kedua, kamis, 22 Maret 2012

Pukul 6.30 saya sudah bersiap dan berangkat menuju Solo, hotel Wisata Indah, naik sepeda motor Skywave matic ber plat AB. Jalanan Yogya-Solo pagi hari yang cukup ramai dengan bisa maupun kendaraan pribadi, merupakan sebuah sensasi bersepeda motor yang layak dinikmati. baru pertama kali say amelakukan ini. Sebetulnya saya menghubungi mbak Mey, panitia acara seminar ini, detik-detik terakhir sebelum saya berangkat ke Yogya. Bahwa, ya, say bisa menghadiri acara seminar ini dan pembayaran tidak akan saya lakukan via transfer, namun saya bayarkan penuh di lokasi acara. Seminar ini memang saya incar jauh hari dan dan sangat berminat untuk mengikutinya, karena iming-iming “overhaul sistem pengupahan menggunakan berbagai global grading system (HAY, MERCER, FES, dll)”. Hay dan Mercer, itulah ilmu yang ingin saya dapatkan pada seminar ini. Cukup luar biasa ilmu praktis tentang payroll saya dapatkan satu hari ini, bersama pak Bima sebagai fasilitator yang memiliki pengalaman outstanding tentang sistem pengupahan. Berikut saya lampirkan salah satu slide sabgai pengantar seminar ini :

#hari ketiga, Jumat, 23 Maret 2012

Serupa seperti hari kedua, setiap subuh anjing Erwin bernama Omponk selalu menyapa saya dengan gonggongannya yang beda tipis antara mengancam/menakuti dengan ungkapan rasa takut, bahwa terdpaat orang asing hitam gendut sedang berada di wilayahnya. Selamat merayakan hari raya Nyepi untuk umat Hindu. Hari kedua, adalah jalan-jalan mengunjungi beberapa point-of-interest dimana tujuan utama saya kali ini adalah wilayah Gunung kidul atau Wonosari, salah satu kabupaten yang cukup luas di wilayah selatan dan timur Yogyakarta. Kita berempat (Iman, Erwin, Esti, Ervan) sudha bersiap, dan berangkat pukul 7.30 untuk #destinasi pertama: cave-tubing di gua Pindul. Perjalanan Kalasan-Pindul cukup memakan waktu, sekitar 1 jam kami tempuh, melintasi pedesaan dengan aspal yang mulus dan lalu lintas yang snagat fresh. Biaya perorang adalah Rp. 30.000, sudah termasuk sepatu karet (yg membutuhkan), ban, pelampung, dan pemandu. Wisata ini baru 1 tahun berdiri resmi, dan point-of-interest-nya adalah petualangan menyusuri sungai di dalam gua dengan media ban. Air sungai terlihat keruh, dan kami memasuki gua dengan penjelasan dari pemandu mengenai asal mula gua ini dan apa saya yang ada di gua ini. Kami mulai menyaksikan banyak stalaktit dan stalakmit yang sudah mati maupun yang masih ‘tumbuh’. di tengah perjalanan, di spot tertentu si pemandu mematikan lampu mereka dan membimbing kita untuk merenung atas segala anugrah dari Dia yang telah memberikan indra yang sempurna. Sensasi ‘kegelapan abadi’ benar-benar sensasional. Ada spot lain dimana kita bisa main air sepuasnya, dan melakukan lompatan dari ketinggian 2 meter. Sayangnya ada yang kurang dari caving Pindul ini, yaitu kurang lama, kami di dalam hanya sekitar 35 menit.

Setelah mengeringkan badan dan nyemil bakso, kami menuju destinasi berikutnya, yang lumayan dkat dr Pindul. Air terjun Sri Gethuk. Plng menunjukkan air terjun Sri Gethu dan Pantai Ngomaran mengharuskan kami belok kiri (dari arah Pindul). Lalu berkendaralah selama kurang lebih 30 menit dan sampailah kita pintu loket air terjut. Tiket masuk hanya 2000 dan parkir motor hanya 1000. Sayangnya, saya tidak tahu ada plang “lewat darat”, sehingga kami terlanjut beli tiket kapal 7500 each. Dan mengantrilah kami untuk menunggu kapal. Setibanya di spot air terjun, wow. Air terjun ini terdiri dari sekumpulan air terjun, saya hitung ada 3 air terjun besar dan beberapa air terjun kecil. Mungkin karena musim hujan dan debit air tinggi, maka terbentuk pula air terjun kecil-kecil. Puas sekali, menjelajah air terjun satu ke air terjun yg lainnya. Sensasi memanjat-manjat batu yg licin dengan guyuran air itu sangat seru sekali. Tak lupa sensasi pijat alami, dimana punggung saya hadapkan langusng pada air terjun.

#hari keempat, Sabtu, 24 Maret 2012

Pantai Banyunibo : Purwodadi, Tepus
Pantai Baron : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Busung : Purwodadi, Tepus
Pantai Butuh : Karambilsawit, Saptosari
Pantai Drini : Banjarejo, Tanjungsari
Pantai Gesing : Girikarto, Panggang
Pantai Grigak : Giriwungu, Panggang
Pantai Jagang Kulon : Purwodadi, Tepus
Pantai Jogan Wetan : Purwodadi, Tepus
Pantai Karangtelu : Girikarto, Panggang
Pantai Kelosirat : Purwodadi, Tepus
Pantai Kesirat : Girikarto, Panggang
Pantai Klampok : Girijati, Purwosari
Pantai Klumpit : Purwodadi, Tepus
Pantai Krakal : Ngestirejo, Tanjungsari
Pantai Krokoh : Songbanyu, Girisubo
Pantai Kukup : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Lambor : Purwodadi, Tepus
Pantai Langkap : Karambilsawit, Saptosari
Pantai Muncar : Purwodadi, Tepus
Pantai Nampu : Giriwungu, Panggang
Pantai Ngandong : Sidoharjo, Tepus
Pantai Ngetun : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngobaran : Kanigoro, Saptosari
Pantai Ngondo : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngrenehan : Kanigoro, Saptosari
Pantai Nguluran : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngungap : Purwodadi, Tepus
Pantai Ngunggah : Giriwungu, Panggang
Pantai Nguyahan : Kanigoro, Saptosari
Pantai Pakundon : Purwodadi, Tepus
Pantai Parangedong : Girijati, Purwosari
Pantai Parangracuk : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Sadeng : Pucung, Girisubo
Pantai Sawahan : Purwodadi, Tepus
Pantai Sepanjang : Kemadang, Tanjungsari
Pantai Siung : Purwodadi, Tepus
Pantai Slili : Sidoharjo, Tepus
Pantai Songlibeg : Purwodadi, Tepus
Pantai Sundak : Sidoharjo, Tepus
Pantai Timang : Purwodadi, Tepus
Pantai Torohudan : Kanigoro, Saptosari
Pantai Watugupit : Giricahyo , Purwosari
Pantai Watutogok : Purwodadi, Tepus
Pantai Wediombo : Jepitu, Girisubo
Pantai Weru : Purwodadi, Tepus
[sumber]

Yap, hari keempat adalah target-target pantai di atas. Ternyata — yang telah berhasil di daftar — terdapat 46 pantai di Kabupaten Gn Kidul. Sebelumnya saya telah mengetahui, bahwa memang banyak sekali pantai bagus di gn Kidul. Ada yang bilang 10, ada yang bilang belasan, ada yang bilang dua-puluhan, dll. Yg syaa tahu, akses untuk kesana cukup sulit, sehingga akan lebih cerdas jika membawa kendaraan sendiri. Tentunya kendaraan bermotor roda dua tetap pilihan yang paling bijak. Dari sumber yang telah saya cantumkan di atas ternyata terdapat lebih dari 46 pantai di Gn Kidul. Tepatnya 46 pantai. Yak, target hari keempat adalah ke pantai-pantai tersebut.

Pukul 04.30 saya sudah terbangun dan si Omponk tetap menggonggong saya, padahal ini hari keempat saya di Kalasan, pagi dianggap musuh, malam bersahabat, hehehe. Pukul 05.30 saya sudah berangkat, mengendarai sepeda motor roda dua milik om kris. Memang tujuan utama adalah keliling pantai, tetapi mumpung, terdapat rekan-rekan traveler yg mengabarkan bahwa mereka mendaki dan camping di Gunung Api Purba Nglanggeran. Maka tidak ada salahnya untuk berencana untuk mampir dan say hallo. Mereka adalah Mas Dwi, Bunda Ranting, pak Dady, tiga teman traveler dimana pertama kali syaa traveling bersama mereka saat ke Pulau Sempu. Plus rekan mereka Erwin dan Mas Kiting. Tiba di pos pendakian Nglanggeran pukul 6.15, hanya membayar 2000 untuk parkir motor dan 5000 untuk perijinan, saya mulai mendaki. Berbekal hanya 1 botol aqua dan permen Hexos saya pun mulai mendaki Nglaggeran seorang diri. Tidak khawatir, karena saya sebelumnya sudah pernah mendaki gunung ini bersama Pandu dan Yudi pada tahun 2010an. Ini foto 2 tahun lalu saya mendaki Nganggeran, foto diambil di puncak tertinggi :

Kurang lebih satu jam saya mendaki, dan tibalah di puncak tertinggi. Pukul 7 puncak masih diselimuti kabut tebal, dan kulihat kawan-kawan di sana yang sedang membereskan tenda. Dan kami pun saling menyapa. Belum sempat melihat pemandangan di atas, kami turun menuju spot camping yang cukup nyaman, dimana Dwi dan ibunda Ranting menderikan tenda. Kami gelar jas hujan sebagai alas, dan mulai memasak sesuatu untuk mengganjal perut yang lapar. Di spot yang lebih rendah itu pun pemandangan tak kalah indahnya:

Ok, gini aja, saya sudha malas mengetik….
Sebelum saya lanjutkan cerita saya, tidak seperti perjalanan-perjalanan lain yang pernah saya lakukan, perjalanan kali ini sangat bernuansa individual. Apakah saya sendiri nyaman dengan hal ini?, YA dan TIDAK. Tidak: Yang menjadi masalah adalah perkembangan jaman yang sangat cepat dengan dirasakannya perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat pula. Ada satu kawan yang menginginkan live report perjalanan saya, ya, dengan sedikit kesombongan dan ego yang tinggi aku berfikir “mengapa tidak? mengapa tidak aku melakukan sebuah live tweet?”. Ya, kuputuskan untuk melakukan live tweet pada malam hari sepulang perjalanan (karena live tweet tdk dpt dilakukan secara live krn buruknya sinyal) selain alasan untuk memenuhi permintaan kawan saya itu, juga untuk menunjukkan siapa saya dan seberapa besar kesombongan saya hingga ada yang menyadarkan saya bahwa live tweet seperti itu juga mengganggu kenyamanan orang lain, khususnya kenyamanan timeline orang lain. TIDAK: banyak prasangka yang muncul di kepala saya mengenai teman-teman saya. Mengapa saya tidak diajak traveling oleh mereka, cukup kesal, jengkel, dan sakit hati ketika mengetahui mereka pergi entah kapan dan saya tidak diajak tidak tahu. Apalagi di sebuah komentar, menyindir sikap saya yang terlalu perhatian dan saya akui saya melakukan kesalahan untuk bersikap yang berlebihan, pada waktu itu, waktu itu sudah lama. Seperti yang sedang saya lakukan di wordpress ini. Saya salah, sekaligus saya bingung. Mengungkit kesalahan masa lalu utk lelucon itu sangat lucu sekali. Saking lucunya sukses membuat orang tersinggung. Saya salah dan saya tersinggung. Cuih!

YA : saya menjadi merasa normal, dan itu terdengar seperti kabar buruk. YA : sebuah perjalanan saya jadikan sebagai bentuk “coping”. Seperti ke karimun jawa sebagai bentuk coping atas stressnya saya di tempat kerja. Atau bereuni bersama teman2 Gebrakers sebagai bentuk coping bahwa saya sedang merasa kesepian. Nah, coping kali ini adalah untuk bentuk perilaku pecundang yang saya tunjukkan dan mengatasi sebuah argumentasi pada diri saya bahwa ada kalanya saya membenci diri saya sendiri. setidaknya melakukan traveling adalah sebuah bentuk coping yang positif. Tetapi saya tau yang lebih positif, yaitu share/berbagi/curhat egan teman atau sahabat. Tapi saya malas sekali begitu, dan itu terdengar seperti kabar buruk.

Maaf tidak saya lanjutkan ceritanya, intinya aku singgah di 7 pantai, liat aja foto2ku di FB, sekian.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,358 other followers